guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Rencana Rio part 2


__ADS_3

Suara Rio menghempas hembusan napas keluar dari hidung nya terdengar jelas. Rio pun menarik napas kembali sbelum bicara sama Fia.


''Bisa mamah ngomong sebentar sama kamu sayang?'' suara Fia terdengar cemas. Saat tahu anak nya sedang ngambek.


''Mmmm.'' respon Rio kepada Fia yang posisinya tertidur terungkap dengan kepala di tutup dengan bantal.


''Rio marah sama mamah?'' tanya Fia sambil membelai punggung Rio.


"Aku enggak ngambek.'' jawab Rio.


Fajar yang menguping pembicaraan Fia dengan anak nya di depan pintu kamar anaknya bercampur aduk perasaan cemas.


Begitu juga dengan Sri dan Herman yang ikutan menguping pembicaraan Fia saat membujuk Rio tepat di belakangnya Fajar dengan posisi berdempetan.


Pembujukan Fia menurut Fajar terasa amat lama, Sri mendengar suara


percakapan Fia dan Rio.


"Apaan sih yang mereka omongin?'' tanya Sri.


"Papih juga enggak denger jelas mih.'' nyambung Herman.


"Pada bisa diem gak mamih sama papih. Jadi tambah gak kedengaran nih mereka ngomongin apaan aja.'' protes Fajar yang sedikit terganggu dengan kelakuan orang tua nya.


''Bugh.'' pukul Sri yang tidak menerima ocehan Fajar anaknya sendiri.


''Kurang ajar kamu ngocehin mamih.'' Sri sebel.


''Maaf mih. Bukan gitu maksudnya Fajar, mamih kan tau tuh cucu nya ngomong nya masih belom lancar. Butuh ketenangan biar bisa denger mereka ngomong apaan.'' jelas Fajar.


''Bugh.'' pukulan ke dua pun mendarat di punggung Fajar oleh Herman.


''Kurang ajar kamu Jar. Biar gitu-gitu Rio anak kamu, cucu nya papih. Ngomong nya jangan asal dah.'' Herman pun marah.


''Yak, tapi jangan gebuk Fajar sih pih. Sakit tau.'' protes Fajar yang di lanjutkan pemukulan berikut nya oleh Sri.


''Kamu tuh keterlaluan tau Jar.'' ucap Sri.


''Bugh...bugh...bugh...bugh,...'' pukul Sri dan Herman ke pundak nya Fajar.


''Brakkkkkkk.'' suara pintu kebanting.


''Gedebuggggg.'' Fajar, Sri dan Herman pun jatuh bertumpuk.

__ADS_1


Ingin rasanya Fajar berkata kasar kalau bukan Sri dan Herman orang tua nya. Hanya saja Fajar sadar posisi nya sebagai anak dan enggan dia mencari masalah. Fajar menahan tubuh Sri dan Herman yang kini ada di atas tubuh nya.


''Sssssttttsssss. Mih, Pih mo sampe kapan niban badan aku?'' tanya Fajar.


''Papah, Oma sama Opa ngapain?'' tanya Rio begitu juga dengan Fia yang penasaran kenapa bisa mereka bertiga jatuh bersamaan di kamarnya Rio.


''Ya, enggak usah pake nanya. Emang gak liat kita jatuh.'' ucap Fajar yang sensi.


''Pletak.'' getokan pun mendarat di kepalanya Fajar yang diberikan oleh Herman.


''Oooopaaaa....'' Rio pun berteriak sambil loncat dari kasur menuju arahnya Fajar karena dirinya tidak terima papah nya di pukul oleh Herman sang kakek.


Butuh beberapa alasan sampai Herman menjelaskan kejadian karangan nya terhadap Rio.


''Rio masa papah di pukul sama Opa.'' Fajar pun bersikap seperti anak kecil yang sedang mengadu sama orang tua nya.


Herman lebih bingung saat anaknya bertingkah seperti cucu dan cucu nya bertingkah seperti orang tua.


''Kamu pake ngadu lagi.'' Herman pun mendorong tubuh Fajar pelan.


''Opa, nda oleh kayak ntu. Ini papah nya Lio nda oleh di jahatin.'' bela Rio sambil memeluk Fajar.


Fia pun menghampiri Rio menjelaskan bahwa kejadian tadi hanyalah sebuah candaan yang berujung kekerasan karena ayah nya nakal sama Opa dan Oma nya. Fia memberikan arahan bahwa kalau kita mau bercanda harus ada batasan nya. Kalau tidak nanti akan berakhir seperti Fajar.


''Kok papah yang di salahin.'' ucap Fajar yang sebetulnya ingin di bela sama anaknya sendiri.


Melihat kejadian tersebut membuat Fia, Sri dan Herman ingin tertawa dengan tingkah laku Rio yang seperti orang tua.


''Saya enggak nyangka kamu bisa memberikan penjelasan seperti itu sama Rio.'' ucap Sri kepada Fia.


Fia pun melanjutkan aksinya dengan Rio bernegosiasi dalam hal pengrujukan.


''So, kamu mau izin tidur sama Rio malem ini?'' tanya Fajar.


''Iya tapi kamu enggak bisa ikut karena ini waktu nya ibu dan anak.'' ucap Fia.


''Biar aku ngomong ke Rio?'' mendengar ucapan Fajar pun Fia langsung menghadang Fajar.


''Kalau kamu sampe ngomong sama Rio. Aku ngambek. Jatah kamu aku kurangin jadi dua minggu sekali aja.'' ancam Fia.


''Yak, enggak gitu sayang cara nya. Masa dua minggu sekali, seminggu sekali aja usulan dokter aku masih pikiran.''


Perdebatan pun terus menerus Fajar lakukan.

__ADS_1


'Serba salah kalo nggak kasih izin? Jatah batin berkurang. Tapi tidur enggak ada bini kurang sedep. Pelukan sama guling mah enggak enak.' batin Fajar.


''Gimana?'' tanya Fia.


''Okeh kamu aku ijinin. Cuma sehari doang mah gak masalah.'' ijin yang sudah Fajar berikan.


''Sapa bilang ay, tiga hari. Aku tidur di kamar Rio selama tiga hari.'' terdengar bagaikan petir di siang bolong dan panas yang menyengat menusuk ke dalam hati nya Fajar.


Seperti sedang menantang maut. Hati Fajar ingin berteriak ''Nggak mau tidur sendiri.''


Tapi apa daya istrinya lebih memilih untuk tidur bersama anak lelakinya. Hatinya luluh seketika.


''Ya mo gimana lagi coba kalo mang itu pilihan kamu.'' sambil memasang wajah sedihnya di hadapan Fia.


Cklek.


Suara pintu terbuka terdengar.


Kemunculan Rio dengan raut wajah yang sangat senang berkata ''Ayo mah, kita ke kamar aku.'' ucap Rio yang sudah menjemput Fia di kamar orang tua nya.


Saat itu juga Fajar langsung memainkan peran nya untuk merayu Rio.


''Sayang kita bobo nya bertiga ya. Kan papah juga kangen sama kamu. Masa kamu bobo nya cuma mo sama mamah aja.'' bujukan pun Fajar lakukan agar tidak tidur terpisah dengan Fia.


''Oh no. Nda bica Lio cuma mo belduaan aja sama mamah.'' tolak Rio sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuk kanan nya.


''Papah enggak bica ngelalang Lio.'' ucap Rio lagi memperingatkan Fajar.


Sejenak Fajar pun tidak bisa berkutik jika anak nya sudah bertolak pinggang sambil memanyunkan bibirnya. Keimutan Rio membuat Fajar sadar bahwa yang sedang dia hadapi hanya seorang bocah yang tidak lain adalah anak nya sendiri.


Fajar pun mengangkat tubuh Rio dan menggendong nya.


''Iiih papah apa-apaan cih gendong-gendong cegala.'' protes Rio.


''Yarin kan Rio anak papah.'' ucap Fajar sambil menciumi pipinya Rio kanan dan kiri.


Setelah Fia dan Rio masuk ke kamar. Fajar pun keluar dari kamar Rio dengan berat hati. Dan hati yang kesal di karenakan saat Fajar hendak menurunkan Rio dari gendongan nya anak nya berbisik di telinga ''Papah kacian deh bobo cendilian, enak kan Lio bobo nya cama mamah.'' lidah menjulur bagaikan meledeknya.


Tak lama kemudian Herman pun muncul tiba-tiba di hadapan Fajar sambil tersenyum dan berkata ''Ciat... ciat... bobo sendiri nih ye enggak ada yang nemenin ni ye.'' Ledekan sang ayah pun menambah kesal dan gondok yang sudah Fajar tahan dari tadi.


''Bay... bay... papih mo bobo sama mamih yang sudah menanti di kamar.'' ledek nya Herman kembali.


''Yak, papih.'' teriak Fajar yang sudah tidak bisa menahan emosi nya karena cemburu sama anak kandung nya sendiri yang kini sedang memonopoli istrinya.

__ADS_1


__ADS_2