guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Bertambah


__ADS_3

Kamar mandi di dalam kamar nya Fia sudah terisi penuh dengan air beraroma khas bebungaan di dalam bathtub. Terlihat jelas di sediakan oleh dirinya Fia sendiri untuk memanjakan dirinya.


Sudah apa yang Fia takutkan menjadi kenyataan, Fajar lebih posesif lebih dari pada saat masa pacaran di sekolah.


Awalnya dia masuk kuliah, Fajar sedikit memberikan kebebasan dalam hidupnya sedikit. Tapi itu berlangsung tidak lama.


Kemunculan Radi membuat hidup Fia terancam punah kebebasannya. Memikirkan bagaimana sikap dan cara Fajar akhir-akhir ini membuat dirinya stress tingkat dewa. Sifat dan sikap Fajar yang posesif meningkat drastis dari tiga ratus enam puluh derajat dibandingkan dengan Fajar yang dulu Fia kenal di sekolah.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


"Pasti dah video call again." ucap Fia yang melihat nama tunangannya dilayar kaca ponselnya.


"Kamu lagi mandi?" ucap Fajar yang melihat hanya ujung kakinya nongol dari air.


"Iya aku gy memanjakan diri. Abis tunangan aku pikirannya negatif terus sama aku." keluh Fia.


"Mama na, Lio angen." sambut Rio yang muncul dilayar kaca ponselnya Fia.


"Emmmm, mama juga kangen kamu sayang. Nginep dong disini." cara Fajar membujuk Fia agar tidak sensitif.


Gerakan langsung memutar arah kamera video call yang menatap kebelakang menjadi ke depan wajah Fia lakukan dengan cepat saat melihat calon anaknya memenuhi layar panggilan video call saat itu.


"Giliran Rio aja langsung kameranya di kemukain. Coba aku di kasih liat sikil." protes keras Fajar langsung dibelakang tubuh jagoan kecilnya.


"Rio sayang bisa kamu main sama para baby sitter dulu gak?" ucap Fajar kembali menyuruh anaknya pergi.

__ADS_1


"Api Lio macih angen Ama mama na." sahut Rio.


Di kepalanya Fia sudah terlihat jelas bertanduk runcing.


"Ganggu aja nih bapaknya." oceh Fia dengan ketus.


"Yarin abis kalo enggak gitu, kamu mana mau angkat telepon dari aku." tuai Fajar.


"Ya iyalah. Kamu tuh hampir lima menit sekali nelpon. Kupingku sampe panas kayak mo kebakar."


"Mo gimana lagi, di rumah kamu ada cowok asing yang tidak satu keluarga. Mana satu kampus, umur juga pasti enggak jauh beda kan sama kamu. Tar dia modus-modus, sok-sok-an inilah, itulah. Tar kamu baper, kamu tersentuh abis itu lupa deh kalo punya tunangan. Lupa punya anak satu. Puber ABG kamu keluar, entar mutusin aku ninggalin aku jadian deh kalian berdua karena terbiasa didalam satu rumah. Terrr....."


"STOP, cukup ya kamu ngomong gitu terus. Aku capek dengerinnya."


"Kamu capek dengerinnya? Kamu capek gimana aku yang terus-terusan kepikiran Fi?" balas Fajar.


"Pasti terjadi Fi."


"Terjadi gimana? emangnya aku kenal deket sama dia? kenal sama dia? Jangankan kenal sama deket ngobrol sama dia enggak pernah." jelas Fia.


Walaupun Radi tinggal di rumahnya mereka sama sekali tidak berkomunikasi satu sama lainnya. Menurut Fia bukan suatu kewajiban yang harus dilakukan.


"Ya tapi kan aku enggak tau? aku enggak liat." jawab Fajar.


"Ya kan udah aku suruh kamu tanya ke mama atau papa aku. Tanya gimana sikap aku ke Radi. Lagian nih ya hampir setiap pagi kamu dateng jemput ku kamu sarapan di sini. Kamu liat kan aku biasa aja sama dia."

__ADS_1


"Iya tapi...."


"Cukup Fajar Prasetyo. Radi tuh punya otak pasti dia juga punya pikiran. Ada cowok yang selalu jemput aku di rumah makan bareng sama keluarga aku. Kadang bawa anak laki-laki yang selalu manggil aku mama dia juga mikir kali. Kamu pacar aku bahkan dia bakalan mikir kalo kita tuh suami istri yang udah cerai. Mana mo dia sama janda yang masih di samperin mantan lakinya kali."


"Kalo janda modelan nya kayak kamu? mana ada cowok yang nolak." ketus Fajar.


"Ngaur, lagian ya pasti mama udah cerita tentang kita kali ke Radi."


"Cerita?"


"Ya kan mama sama Radi sering ngobrol bareng kayak anak sama ibunya."


"What's?" kaget Fajar saat mendengar ucapan Fia.


"Kenapa ada yang salah kalo mereka deket?"


"Salah lah kalo dia lagi mencoba pendekatan sama mama kamu terus mama kamu lebih suka sama Radi aku nasib nya gimana Fi?"


Fia pun malas menjelaskan secara berulang-ulang tentang hal yang tidak pernah akan terjadi menurut dirinya. Mematikan ponselnya lebih baik dari pada mendengar kata-kata yang tidak masuk akal bagi otaknya Fia.


Bagaimana tidak? Kedua orangtuanya aja sekarang lebih sayang sama Fajar di bandingkan dirinya makin hari. Mama nya selalu menanyakan makanan kesukaan Fajar dan selalu memasaknya disaat Fajar hendak berkunjung kerumahnya. Begitu juga dengan Diki sang papa yang sangat menyukai Fajar sampe-sampe disaat mereka berduaan di rumahnya. Diki selalu datang untuk mengganggu mereka. Entah yang ngebahas soal perusahaan begini lah begitu lah bahkan jika tidak ada nya bahan pembahasan Diki mengajar Fajar untuk main catur bersama.


"Sarap, cemburu nya gak logis Lo. Lagian juga mana mo gue sama senior yang begitu modelan nya." ocehan Fia terlontar ke ponsel yang sudah dia nonaktifkan.


Fia juga merasa sebal terhadap Fajar yang sudah di kasih tau bahwa Radi adalah senior yang dia benci dikampus. Tapi Fajar selalu mengenyampingkan hal itu. Menurutnya rasa benci bisa berubah menjadi benar-benar cinta. Sama dengan apa yang pernah terjadi pada dirinya dengan Fia. Fajar yang ilfil dengan sikap Fia kini malah cinta setengah mati.

__ADS_1


Jadi sekarang di isi kepalanya Fajar. Radi akan mengalami hal yang sama seperti dirinya.


__ADS_2