
Pintu bioskop pun telah terbuka begitu pula dengan lampu yang sudah menyinari seluruh ruangan, sebagai tanda pertunjukan film telah berakhir. Kini Fia mesti melihat kondisi yang sama sekali tidak menyenangkan.
"Bisa gak muka kamu selow aja jangan kayak bajaj lagi nge-track." kesal Fia yang sudah susah payah untuk melakukan kencan selayaknya orang lain lakukan kebanyakan.
"Aku gak suka kencan apaan ini, nonton bioskop..." seru Fajar yang kesal.
Tak banyak bicara Fia pun menyodorkan sedotan minuman ke mulutnya Fajar. Supaya minuman yang ia genggam bisa menenangkan diri Fajar. Fia pun langsung paham kenapa Fajar bersikap seperti itu.
"Pokoknya gak ada tuh namanya nonton nonton film bioskop di tempat kayak tadi. Perasaan aku pernah liat nonton bioskop tempat duduknya ada yang cuma berduaan terus ada selimut nya. Lah ini apaan rame-rame begitu." tingkat kekesalan Fajar meningkat.
"Ya ampun ay. Ini tuh biasa dilakuin sama orang-orang yang pacaran. Kamu mah gak so sweet banget dah. Kan aku juga pengen kayak orang-orang ay pacar ke bioskop nonton film. Terus pegangan tangan, suap-suapan pop corn terus gak sengaja tangan kita bentrok pas ambil pop corn. Kan so sweet ay kayak di film-film." rajuk Fia ala manja manisnya dan tahu yang Fajar bahas.
"Padahal pacar aku cuma kamu loh dulu. Dulu kita pacaran nonton film juga kamu gak so sweet. Flat pake banget. Sekarang kan kamu suami aku, ya bisa kali dikit aja romantis gitu sama istrinya." ucap Fia kembali sambil memasang wajah sedihnya.
"Iya iya maaf ya sayang. Abis aku gak suka aja kalo ada laki-laki lain yang duduk di sebelah kamu. Aku cemburu ay." ucap Fajar yang sering kali mengungkapkan perasaan yang ia rasakan saat itu juga.
'Wah sarap. Dia lupa ingatan kali dulu pernah maksa-maksa gue jadi pacarnya dia terus di ajak nonton bioskop, biasa aja tuh dulu. Ngapa sekarang jadi kecrot. Udah terlalu tuwir kali? sifat cemburuan nya muncul secara berlebihan.' batin Fia.
"Terus apa lagi rencana kencan yang udah kamu persiapkan buat kita hari ini, selain nonton?" tanya Fajar yang sudah sangat antusias.
"Jalan-jalan aja ke taman deket kompleks rumah kita." jawab Fia yang santai.
"Gak mau. Entar banyak cowok yang ngeliatin kamu. Enggak rela aku ay." sahut Fajar yang sudah terlalu cemburuan.
"Ya kita kan kencan sayang. Dimana-mana tuh ya kencan itu, jalan berduaan di taman terus nonton bioskop abis itu makan ditempat yang romantis. Lah ini apaan coba satu pun gak ada yang bisa kita lakuin bersama dengan mulus dari tadi." ocehan Fia yang sudah di ujung tanduk bercampur dengan emosi.
"Aku juga gak tau ay. Setelah kita menikah aku semakin takut kehilangan kamu. Aku semakin takut kamu ninggalin aku. Karena laki-laki yang lebih muda dan seumuran kayak kamu." ucap Fajar yang sudah memeluk tubuh Fia dengan erat.
__ADS_1
Fia paham akan apa yang Fajar rasakan. Dia amat sangat mengerti bahwa akan semua sifat dan sikap yang over cemburuan nya itu kalau sudah muncul pasti selalu berlebihan.
"Kita pulang ya." ucap Fia.
"Kok pulang sih? kencan kita belum sukses ay. Ogah aku pulang! masa aku kalah sama anak kecil kayak Rio. Dia aja bisa nge-date sama pacarnya. Ya kali aku nge-date sama istri sendiri enggak bisa." manyun Fajar.
'Capek deh masa bapak iri sama anak nya sendiri.' batin Fia.
Tanpa ada hirau-an Fajar mengekor di belakang Fia menuju parkiran mobil.
"EHM."
"EHM... EHM..."
"EHM.... EHM.... EHM...."
"Ets dah. Suami ku sayang yang ganteng yang blaem blaem, tadi kamu ngomong apa sebelumnya?" tegas Fia.
"Ngomong apaan mang?" ucap Fajar yang balik bertanya.
"Ya udah deh kalo lupa." ucap Fia yang sedikit kesal karena sikap Fajar yang tidak konsisten dengan ucapannya.
"Mang gue ngomong apaan barusan?" ocehan Fajar sendiri sambil masuk ke dalam mobil setelah dia sudah berada di dalam mobil.
"Sayang kita mau kemana dari sini." ucap Fajar yang bertanya kepada Fia sambil mengendarai mobil.
"Pulang." ketus Fia.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih sayang? kok raut wajahnya kayak bete gitu. Kan yang harusnya bete aku. Kita buat sayang-sayang berduaan kurang." ucap Fajar sambil mengelus wajah Fia dengan tangan kirinya.
'Tadi Lo bilang mo kencan nya sukses. Enggak mo kalah sama anak sendiri. Lah bukain pintu mobil buat gue kan termasuk hal yang romantis. Bukain pintu mobil gitu buat gue ala-ala sinetron di FTV siang siang yang sering gue tonton. Kan so sweet, abis gue duduk pasangin gitu sabuk pengaman nya. Terus cium gue seolah-olah gak sengaja muka kita ketemu. Ini boro-boro.' kesal Fia yang diluapkan dengan cara nge-gerundel.
"Sayang. Kita pulang beneran nih." tanya Fajar untuk memastikan keputusan Fia.
"Ye." singkat Fia yang sudah emosi.
Sesampainya di halaman rumah, Fia tidak memikirkan hal kencan dirinya bersama Fajar. Hanya kekesalan yang memenuhi isi hatinya.
"Wah. Bisa mati karena batin gue." ucap Fia yang sudah meneguk air minum yang dia ambil dari kulkas di dapur.
"Sayang kok kamu ninggalin aku sih di luar. Oh kamu haus beneran? kenapa gak ngomong kan bisa aku beliin kamu air minum dulu sebelum jalan pulang." ucap Fajar yang melihat Fia menghabiskan satu liter air minum ditangannya.
Fia hanya menjawab ucapan Fajar dengan tatapan mata sinisnya dan pergi meninggalkan Fajar kembali.
"Waduh ngapa nih istri gue? kok gue di kacangin kayak serbet kumel." oceh Fajar saat ditinggal Fia sendirian di dapur.
Di dalam kamar.
"Dasar laki plin-plan. Katanya mo romantis lah inilah itulah. Prepet. Emosi jiwa kan kalo gini mending tidur aja deh mimpi-in ke Korea ah kali aja ketemu Lee Minho." ucap Fia yang sudah menyiapkan dirinya untuk tidur.
Cklek.
"Yah calon gak bisa meluk bini ini mah. Dia udah bikin menara pake pondasi guling di area sekitarnya." ucap Fajar yang melihat Fia sudah terlentang di selimuti dengan bed cover motif garis-garis berwarna pink.
"Sayang kamu kenapa sih sayang? aku salah apa? sampe kamu bikin fondasi begini." tanya Fajar di atas kasur yang mengingatkan tentang kejadian sehabis malam pertama nya di hari-hari berikutnya Fia memasang fondasi yang sama persis dengan yang saat ini dia liat.
__ADS_1
"Jadi inget abis malam pertama. Gara-gara tiap nempel sama kamu aku hilang kendali. Kamu langsung bikin menara guling. Aku gak sanggup Fi, kamu giniin." oceh Fajar yang sudah berubah posisi menjadi ditepi kasur sambil jongkok menatap wajah Fia yang menghadap ke kanan.