
Fia berjalan menuju motor sportnya berjemur di halaman rumah. Kini dirinya merasakan hal yang paling indah bisa terbebas dari ruang lingkup kedekatannya dengan Radi.
Luka yang ada di tubuh Radi perlahan mengering. Begitu pula dengan jahitan di bagian perutnya akibat tusukan pisau yang terjadi saat mencoba menolong dia dari perampok kini sudah membaik.
"Nebeng dong gue." ucap Radi yang terlihat buru-buru.
"Ogah, kalo Lo mo nih Lo yang bonceng." ucap Fia sambil menyodorkan kunci motornya.
"Aish pelit banget Lo." yang berekspresi santai.
"Gue bukan pelit. Tapi cape bro, Lo pikir ngeboncengin orang gak pegel. Sekali-kali lah Lo yang bonceng gue." curhat Fia.
"Ya elah Fi, kali ini aja deh." pinta Radi yang sedikit memohon.
"Gak, Lo udah sembuh ini."
"Justru karena gue udah sembuh. Kapan lagi ye kan Lo boncengin gue. Kan besok gue udah balik ke rumah gue pas sore sehabis cek luka-luka gue. Itu juga kalo udah pulih bener." ucap Radi yang bernegosiasi.
__ADS_1
"Bacot dah. Ya udah naek. Kesannya biar gue sadar gitu. Lo begini gara-gara sapa." ucap Fia yang ngerasa gak enak ada hutang budi.
"Bagus deh kalo Lo sadar." sahut Radi sambil nyengir.
Di sisi lain.
Tok tok tok tok tok.
"Bentar." sahut Fajar yang mendengar suara ketukan di pintu kamar hotelnya.
"Ini pak semua berkas yang sudah cek ulang. Semua sudah beres." ucap Risa.
"Pulang?" tanya Risa yang sedikit kaget.
"Ya pulang. Kan semua kerjaan kita udah kelar kan. Kamu tenang aja, kamu masih bisa di sini sesuai tiket kepulangan kamu." ujar Fajar yang memberikan waktu untuk Risa menikmati keindahan Bali.
"Enhhh. Gak usah pak saya pulang bareng sama bapak aja." balas Risa.
__ADS_1
"Kamu yakin? masih ada tiga hari loh buat jalan-jalan di Bali." saran Fajar.
"Saya gak bisa pak jalan-jalan sendiri. Lagian juga saya ke sini kan buat urusan pekerjaan. Saya pesenin tiket pesawat bapak sekalian ya pak." ucap Risa yang menggunakan alibi agar bisa pulang bersama Fajar.
"Enggak usah, saya tadi udah lebih dulu pesan tiket pulang. Karena saya kangen sama tunangan saya di Jakarta." ucap Fajar sambil menutup pintu kamarnya.
"Sial kalah gercep nih gue." ucap Risa di balik pintu kamarnya Fajar.
°°°°°
"Di, turun Lo. Ngapain Lo meluk-meluk gue. Naksir Lo ya sama gue? Jangan nyari kesempatan dalam kesempitan dong. WOI RADI." ucap Fia sambil melepaskan pelukan Radi yang begitu erat.
Tubuh Radi pun bergetar, kedua tangannya dibasahi air keringat. Fia pun panik melihat dan merasakan hal yang dilakukan oleh Radi.
"RAD, Lo kenapa?" tanya Fia.
"Engh... gue gak pa-pa. Udah sampe ya?" sahut Radi yang seketika sadar dimana dirinya berada.
__ADS_1
"Udah dari tadi keles. Lo nya aja yang nyari kesempatan dalam kesempitan. Meluk-meluk gue segala." ucap Fia yang mengalihkan pikirannya yang bertanya-tanya apa yang Radi rasakan pas naik motor dibonceng oleh Fia. Baru kali ini ia memeluk tubuh nya dengan erat dan keringatan.
Radi pun tak menghiraukan ucapan Fia. Dia hanya fokus untuk pergi meninggalkan Fia. Sekuat tenaga Radi kerahkan untuk berdiri dan berjalan dengan normal. Sekuat tenaga Radi lakukan agar gemetar di seluruh tubuhnya hilang.