
Fajar sedikit kaget saat Fia datang ke kantor miliknya hampir setiap hari. Dengan alasan ingin makan siang bersama. Fajar ingin sekali moments seperti itu terulang setiap harinya. Fajar tahu apa yang sedang Fia lakukan itu untuk memberikan peringatan kepada semua perempuan yang kerja di kantornya, bahwa Fajar sudah ada yang punya. Seringkali ia senyum-senyum sendiri bila mengingat kembali moments Fia datang ke kantor miliknya. Sikap lembut dia dapatkan akhir-akhir ini.
Tok tok tok tok.
"Masuk."
"Pak ini udah lewat jam makan siang nya. Saya bawakan bapak makan siang." ucap Risa menyodorkan makanan yang sudah dia siapkan.
'Akhirnya bisa ngasih makanan yang udah gue masak juga. Sialan tuh bocah bau kencur pake dateng terus kesini mulu. Capek kan Lo tiap hari ke sini. Kalo w mah gak bakalan capek apa lagi buat pak Fajar yang gue suka.' batin Risa.
'Iya juga ya ini udah lewat ja makan siang. Tumben Fia lom dateng?' pikir Fajar.
"Pak."
"Pak."
"Pak..."
Cklek.
__ADS_1
"Tante Risa ngapain disini?" ucap Fia yang muncul tiba-tiba.
"Makan siang punya Tante? mau di kasih sama pak Fajar? Makasih banyak ya Tan." ucap Fia sambil mengambil makanan tersebut.
"Sayang maaf aku telat, tadi kelas aku lama banget. Aku juga bawain kamu nasi sama soto ayam. Tapi kayaknya Tante Risa udah bawain kamu makanan yang jauh lebih enak deh." ucap Fia sambil menghampiri Fajar.
Tujuan Fia berkata seperti tadi bagaikan kode agar Fajar peka terhadap kejadian yang saat ini terjadi. Fia ingin Risa mendengar ucapan Fajar yang memilih makanannya dibandingkan makanannya milik Risa.
"Aaaaaa...." ucap Fajar yang lupa bahwa Risa masih berdiri kokoh di depan meja kerjanya bagaikan paku bumi yang sudah ditancapkan ke tanah.
"Aaaaaa apa?" tanya Fia yang sedikit kesal Fajar kenapa gak peka.
"Katanya kamu bikin soto ayam. Suapin." ucap Fajar dengan raut wajah yang kekanak-kanakan ala manja.
"Tante kenapa masih di sini? Ada lagi yang mau di kasih? berkas? atau apa gitu?" tanya Fia yang melihat Risa masih berdiri didepan meja kerjanya Fajar melalui mata ekornya.
"Sa... sa... saya permisi keluar." pamit Risa dengan nada bicara yang gugup.
'Sialan tuh bocah. Udah gagal-in rencana gue lagi. Sekarang malah berkelanjutan manggil gue Tante kapan juga gue nikah sama Om nya.' batin Risa yang nge-gerundel dibalik pintu.
__ADS_1
"Aku pikir kamu nggak peka sama ucapan aku barusan." ucap Fia sambil menyiapkan makanan untuk Fajar makan.
"Emang kamu ngasih aku kode apa ay?" tanya Fajar.
"Ya tadi aku ngode kamu lebih milih masakan aku apa masakan tuh Tante gatel." kesal Fia.
"Aish, jangan ngomong gitu sayang. Gak baik, lagian emang dia ngasih aku makanan?" ucap Fajar yang tidak sadar bahwa dia telah ditawarkan makan siang oleh Risa.
"Ya ampun. Kamu enggak sadar apa buta tuh lihat makanan yang dikasih sama Risa." ucap Fia yang menunjuk kearah makanan dari Risa.
"Oh, kapan dia ngasih nya? ya udah lah aku juga gak mo makan makanan dari dia. Ayo suapin aku masakan kamu." pinta Fajar.
'Ini laki buta apa emang bodoh sih? Tuh perempuan udah ber-jengger dari tadi buat nge-goda dia. masih aja dia gak peka.' batin Fia yang tidak habis pikir.
"Sayang kok kamu malah diem." tanya Fajar yang menantikan suapan dari tangan manis milik tunangannya.
"Aaaauuuu. Ssshhhttt. Sakit sayang." keluh Fajar yang tangan kirinya di cubit kencang oleh Fia.
"Kamu tuh gak sadar ya tadi Risa ngasih kamu makanan ada maksud terselubung kayak udang dibalik bakwan." oceh Fia.
__ADS_1
"Bodo amat sayang. Mau dia bawain aku bakwan udang kek, nasi goreng kek atau apapun itu aku gak akan makan. Aku cuma mo makan makanan yang di masak sama kamu. Aaaaaa."
Fia yang sudah tidak tahu mesti ngomong apalagi sama Fajar, karena Fia tau di dalam isi kepalanya hanya ada Fia seorang. Entah mesti bahagia, senang atau harus khawatir karena dengan sikap Fajar yang seperti itu membuat dirinya jadi tidak bisa memperingatkan mereka yang mencoba nyempil di hubungannya itu.