
Tanpa aba-aba Fajar menepikan mobilnya dipinggir jalan.
"Kamu kok gitu sih, sayang," kesel Fajar karena pacarnya yang ketawa tanpa menyadari bahwa perasaannya sedang kecewa.
"Abis, kamu mah enggak bisa diajakin bercanda," ucap Fia sambil tersenyum.
"Bercanda?" tanya Fajar dengan tatapan mata yang serius dan raut wajahnya penuh dengan amarah.
Tidak pernah Fajar bayangkan kalau Fia akan membuat bercandaan yang sama sekali tidak ingin ia dengar. Candaan yang menurut Fajar bukan saat ini harus dia dengar. Dimana Fajar baru bisa memulai suatu hubungan yang berbeda dengan Fia sebelumnya, membuat ia ingin ucapan yang serius dari mulutnya Fia tentang bagaimana kedepannya hubungan mereka. Apa lagi dengan pernyataan Fia yang akan siap dinikahi oleh Fajar disaat dia sudah ada rasa kepadanya.
Fia menghela napas panjang sebelum menjelaskan maksud bercandaannya barusan.
"Kamu lucu ya kalau di bercandain soal masa depan aku, pasti muka kamu langsung berubah." ucap Fia dengan santai.
__ADS_1
Setelah mendengarkan penjelasan Fia yang bilang soal dia ingin kuliah, ingin kerja, sama ingin keliling dunia itu memang benar semua adalah keinginannya Fia. Tapi bukan bersama dengan laki-laki lain melainkan dengan dirinya yang kini berstatus sebagai pacarnya.
Namun rasa kekecewaannya pun tetap ada, karena keinginan Fajar bersama Fia adalah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis.
"Mickey..," panggil Fia.
"Em..," sahut Fajar yang masih diam tak bergeming.
"Aku mau tanya sama kamu." ucap Fajar serius.
Fia hanya diam menunggu Fajar menyebutkan pertanyaan kepadanya.
"Kamu gak serius ya sama hubungan kita?" tanya Fajar dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya balik Fia yang gak paham dengan apa yang Fajar pertanyaannya itu.
Apa maksud dari pertanyaannya Fajar? Bukankah harusnya Fajar senang bahwa ia kan adalah pacarnya, yang akan menemani dirinya untuk melakukan banyak hal berdua semasa pacaran. Bukannya malah mempertanyakan keseriusan Fia kepadanya. Menurut Fia itu sudah menunjukkan bahwa betapa seriusnya Fia kepada, hingga ingin menjalani kehidupan asmaranya hanya bersamanya layaknya anak muda sekarang.
"Aku enggak butuh itu, Fi." tolak Fajar.
"Oh jadi bapak gak mau ngejalanin hubungan sama aku? Bapak gak mau pacaran sama aku? Terus bapak juga enggak mau ngelakuin semua keinginan aku. Ya udah deh kita putus aja sekarang. Aku enggak mau ngejalanin hubungan yang terpaksa. Bye." sahut Fia yang sudah kesal dengan pernyataan bahwa Fajar seakan-akan enggak mau ngejalanin impiannya Fia bersama-sama.
"Fi, tunggu dulu bukan gitu maksudnya. Jangan ngambek gini sih sayang, kayak anak bocah dah kalo kamu ngambek begini." ucap Fajar sambil yang niatnya ingin mencegah Fia pergi dari mobilnya dengan candaan recehannya.
"Emang aku masih bocah. Kenapa enggak suka? Ya udah cari sana yang dewasa jangan suka sama aku yang masih bocah." meningkatkannya emosional Fia saat Fajar berbicara seperti itu. Tanpa pikir panjang Fia pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya Fajar dengan cepat.
'Gila ya tuh orang kan dia tau sendiri gue masih bocah. Lah orang gue muridnya dia sendiri. Dia juga yang maksa buat gue nikahin gue. Sampe jadiin gue pacarnya gara-gara gue asal nyeplos di kelas. Nyebelin banget dah, mana gue udah ada rasa sayang sama dia. Masa putus gini aja sih.' ucap Fia sambil jalan tanpa tau arah mana yang dituju.
__ADS_1