guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Sebuah Rencana


__ADS_3

Sekarang Fia sudah tampil seperti biasanya penampilan yang simpel ia kenakan. Celana jeans hitam dan kaos oblong polos berwarnakan biru muda serta sepatu kets hitam bertalikan putih bagaikan seragam kebangsaan hidupnya selama ini. Ia tengah duduk di bangku teras rumah, menunggu kedatangan Mira.


Pesan yang sudah masuk dari semalam yang menjelaskan bahwa hari ini Mira ingin mengajak jalan Fia karena sudah lama tidak bertemu.


Tiba-tiba ponsel Fia yang ada didalam saku celananya bergetar. Fia membuka kunci handphonenya dan kaget saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Kepanikan muncul, dilema tingkat tinggi saat mengetahui bahwa Fajar menghubungi dirinya. Fia mondar-mandir seperti setrikaan. Pesan pun muncul setelah beberapa saat panggilan teleponnya tidak terjawab oleh Fia.


Calon suami ku


Fi, kangen. Aku ke rumah kamu ya kita ngedate.


Nama pengirim pesan yang sudah Fia kenal bukan lain adalah Fajar, orang yang selalu menggonta-ganti namanya sendiri di handphone miliknya Fia.


"Mampus dah nih gue. Dia ngajakin ngedate? Mana gue udah janjian sama Mira lagi. Kalo dia tau gue jalan ke mall bisa dibilang gue mo cuci mata. Entar dia oceh-oceh yang gak jelas, yang bilang gue bosen cuma ngeliatin dia teruslah, yang cuma bisa jalan sama dia doang lah. Padahal mah gue enggak sedikit pun berpikir hal-hal yang kayak gitu. Bisa panjang urusannya kalo sampe dia tau nih. Gue alesan aja kali ya? alibinya apaan ya? biar dia percaya." ucap Fia sendirian sambil bolak-balik ke kanan dan kiri.


"Ah gue bilang aja kalo gue lagi gak enak badan. Pasti dia nyuruh gue istirahat." ucap Fia yang seakan otaknya pintar saat itu.


"WOY." Mira mengagetkan Fia.


"Dasar setan. Bikin jantung gue kabur aja Lo. Kalo gue kena serangan jantung gimana?" sewot Fia karena di kagetin sama Mira.


"Biarin aja, abis kerjaannya Lo bengong mele. Kayak ayam mo digoreng." sahut Mira sambil ketawa ngakak.

__ADS_1


"Soak Lo." sahut Fia.


"Ya udah ayo, kita cabut. Keburu matahari nongol yang ada kulit gue gosong. Kalo gosong tar tambah enggak laku-laku dah gue."


"Aish, mang Lo barang jual apa sampe gak laku-laku."


°°°°°


Sesampainya di mall Central Park Podomoro city Jakarta, Fia dan Mira silih berganti memasuki ke showroom pakaian wanita. Tidak hanya itu mereka juga menyempatkan diri untuk mampir ke tempat makeup wanita dijual seperti Sephora, Innisfree dan Lakme.


"Gila Mir, gue cape banget." keluh Fia yang sedang merasakan pegal di kedua kakinya.


"Ye. Tapi kan seru Fi. Nih liat belanjaan Lo banyak kan." sahut Mira sambil menunjukkan beberapa barang belanjaan yang khusus Mira beliin untuk Fia.


"Kata sapa ini gak bakalan Lo pake. Ini tuh ya barang-barang yang akan merubah masa muda kita di kampus Fi. Mencoba untuk menenangkan hati laki-laki yang the most wanted."


"Aduh Mir, kepikiran ngelirik cowok lain aja gue gak ada. Apalagi kalo sampe memenangkan hati cowok lain. Gak ada niat sedikit pun dah sumpah."


"Maksudnya Lo ngomong gitu apa? Mo pamer Lo? Mentang-mentang udah punya pacar guru dah. Sombongnya dihadapan mahkluk suci seperti gue ini yang udah hampir satu bulan tidak tersentuh oleh laki-laki, ya Tuhan."


"Mahkluk suci. Pala Lo peyang? Lagian ya sapa juga yang mo pamer? Nih ya Mira cantik gue tuh gak pernah sedikitpun ada niat untuk mencari laki-laki lain. Kalo mo mah gue pepet tuh Riki cinta pertama gue sekaligus cinta pandangan pertama gue juga. Tapi nyatanya apa? gue tetep stay on sama pak Fajar. Ya meski sempet ragu karena rasa cinta gue terbalaskan sama kak Riki. Tapi tetep kok gue tau sama status gue yang bukan lagi cewek jomblo." penjelasan Fia karena tidak terima dengan ucapannya Mira.

__ADS_1


Banyak hal yang Mira dan Fia perbincangkan, salah satu tentang hubungan asmara serta sahabatnya Adit. Tak sedikit pertanyaan yang Mira ucapkan seperti mengintrogasi Fia.


"Serius Fi?" ucap Mira yang sudah berulangkali bertanya kepada Fia tentang masalah yang sama.


"Gue sumpel ye mulut Lo pake botol." Fia yang kesal padanya Mira karena sudah membuat kuping nya panas mendengar pertanyaan yang sama berkali-kali.


"Ya elah Fi. Gue kan penasaran, masa iya Lo cuman ciuman doang pacaran sama pak Fajar."


"Lo tuh ya enggak percaya banget sama gue."


"Ya gimana mau percaya coba? secara pak Fajar itu sudah menduda cuy. Bukan duda baru melainkan sudah menduda cukup lama. Bohong kalo dia enggak pacaran sama Lo gak kebawa napsu sama sekali." ucap Mira.


"Iya dia mah napsu sama gue Mir. Tapi dia selalu nahan dia bilang kalo sampe dia kebablasan sama aja dia ngerusak gue. Dia gak mo ngerusak orang yang dia sayang Mir."


"Lah kok ngerusak? Fia jaman sekarang mah udah gak kaget soal begituan udah lumrah Fi. Anak SMP aja sekarang beh bukan main. Sugar Daddy maenan nya cuy buat style."


"Maksudnya Lo pak Fajar sugar Daddy gue gitu?"


"Ya bukan gitu maksudnya gue. Eh, tunggu dah Fi. Jangan-jangan pak Fajar important lagi. Makanya dia gak macem-macem sama lo. Bisa jadi dulu dia cere sama istrinya gara-gara gak bisa muasin hasratnya Fi." cerocos Mira.


"Terserah deh Lo mo mikir apa tentang pak Fajar. Gue tau kok pak Fajar gimana luar dalem nya dia. Justru gue beruntung bisa milikin dia yang sayang banget sama gue dan bisa ngejaga gue."

__ADS_1


"Sue Lo. Mimik muka Lo bikin orang cemburu aja. Jones gue berasa banget somplak." ucap Mira yang tidak terima saat Fia berucap seperti tadi dengan raut wajah yang bahagia dan senang bukan kepalang.


__ADS_2