
Langkah sepasang kaki menaiki anak tangga menuju lantai ke dua rumah besar bergaya modern klasik yang didominasi warna putih itu. Kaki itu berhenti tepat di depan pintu kayu besar berwarna coklat, ia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya secara berlahan.
Dor dor
"Kahi ayo bangun!!! " wanita yang masih mengenakan piyama berwarna maroon itu terus berteriak memanggil seseorang pemilik nama Kahi itu. Tangannya memutar gagang pintu, lalu membukanya.
Dia berjalan mendekat ke arah tirai besar, tangannya menarik kuat tirai itu. Menyibak tirai sampai terbuka semua. Hingga Cahaya matahari kini masuk, memberi cahaya pada kamar berukuran besar itu.
"dalam 15 menit lu belum bangun, ngga ada jatah sarapan" tangannya menarik ujung selimut yang menutupi seluruh tubuh adik iparnya.
"ayo bangun, bangun" Lia berteriak di depan telinga wanita yang memiliki usia sama dengan dirinya itu. "lima menit lagi, mba" kata Kahi dengan suara serak. Tangannya terangkat membuka seluruh jarinya. Lalu melambai meminta sang kakak ipar untuk keluar kamarnya.
"bangun dulu, perawan tua" teriaknya lagi kemudian ia meninggalkan kamar itu dan membiarkan pintunya tetap terbuka begitu saja. Kembali menuruni anak tangga menuju dapur yang masih berantakan ulah nya membuat sarapan untuk para penghuni rumah.
"sayang, dasiku mana" lelaki yang sudah mengenakan kemeja itu berteriak di ujung tangga.
"astaga abang adek bikin gue naik darah" begitu gerutunya sembari membereskan sisa sisa memasaknya.
"sayang, dariku mana" suara teriakan itu berasal dari sang suami yang lagi lagi membuat ia harus memijat keningnya.
"tunggu sebentar" usai mengatakannya ia mematikan kompor dan kembali menaiki anak tangga menuju kamar miliknya.
15 menit kemudian
Kursi meja makan hanya menyisakan satu yang kosong itu adalah milik sang adik ipar. Sudah sejak tadi mereka menunggu, tapi belum juga Kahi turun dari kamarnya.
"mamam" celoteh Juna putra pertama pasangan Juan dan Lia wanita yang sedari tadi tak habis habisnya menggerutu tentang sang adik ipar.
"udah kita makan aja dulu" ujar lia saat melihat jam dinding.
Direspon anggukan oleh sang suami, mereka makan dengan diiringi celotehan juna. Anak berusia 2 tahun itu, tidak berhenti membuat orang tuanya tertawa.
__ADS_1
"good morning boy" sapa kahi disusul mengecup pipi bakpau Juna. Dibalas gelak tawa dari si kecil Juna yang mulutnya penuh makanan itu
"no no, makan dulu, Juna. Ini lagi Kebo amat sih lu, perawan bangun kesiangan itu seret jodoh, Hi" ujar Lia sambil menyuapi sang anak.
"he he sorry mba cantik" Kahi mendudukan dirinya di samping Juan.
"semalam abang pulang, kamu belum pulang ya" tanya Juan. Dia sudah tak sabar ingin mendengar kabar baik jika sang adik memiliki kekasih seperti apa kata sang istri yang melihat Kahi pulang diantar pria.
"akhir tahun kafe rame, bang. Barengan anak anak ngerayain ulangtahun si Akbar, jadi ya gitu" jawab Kahi, kedua tangannya sibuk mengambil lauk pauk di atas meja.
Lama hening diantara mereka, Juna melirik sang istri di depannya. "lu semalam diantar sama siapa Hi" tanya Lia antusias.
Sepasang suami istri itu tengah menatap sang adik dengan serius, berharap ada sedikit harapan agar sang adik bisa segera memiliki kekasih.
"apa sih, kepo banget" jawaban itu justru semakin membuat mereka semakin penasaran. "pak Urip" kata Kahi singkat.
"hah" "semalem yang jemput terus nganter pulang ya pak Urip, Abang" Kata Kahi sembari melihat ke arah sang kakak. Juan menjatuhkan sendoknya di atas piring menyadari jika ia sendiri yang menyuruh sang supir keluarga rumah itu untuk menjemput adiknya di kafe.
Lantas ia menunjukan tatapan tak percaya pada sang istri. "hehehe maafin napa yank"
Juan hanya menggeleng tak percaya sudah berapa kali sang istri akan menggunakan kalimat itu jika sudah berbuat salah.
"kenapa Bang" tanya Kahi
"diem lu" kata Lia kesal.
"ish si mba, sensitif banget. Lagi ngisi ya" tanya kahi sembari membawa piring kotor ke tempat pencucian piring. Membersihkannya sebentar, kemudian meletakkan piring tadi ke rak piring. Kahi kembali ke meja makan untuk mengecup kedua pipi bakpau juna, yang sedang bermain dengan sendok makannya.
"eh iya ya, kayanya udah telat deh" ucapan Juan malah mendapatkan pelototan dari lia.
"sayang, ayo cek dulu" ajak juan sembari memegang tangan Lia lembut.
__ADS_1
"apaan sih, gk usah dipercaya mulut adik kamu itu" kata Lia. Kedua mata wanita itu melotot ke arah sang suami.
"tapi kamu belum datang bulan juga kan" tanya Juan, dia menghampiri sang istri yang sedang meletakkan piring di wastafel. Lia kembali ke meja makan, meraih tas milik suaminya.
"udah sana berangkat kerja, cari uang yang banyak buat nikahin adik mu itu sama onta arab" Ujar Lia sembari mengangsurkan tas kerja milik juan dan mengecup punggung tangan juan.
Primrose cafe
Kahi tengah berada di belakang meja pemesanan, menggantikan pelayan yang harus bekerja ekstra karena ini adalah malam akhir tahun. Sejak jam sebelas siang ia bergantian dengan karyawannya yang terlalu lelah. Bekerja di akhir tahun memang harus ekstra tenaga, banyaknya pelanggan yang datang untuk merayakan pergantian tahun di kafe ini adalah berkah berlimpah untuk kahi dan karyawannya.
*
Seorang lelaki turun dari mobil berwarna hitam dengan merk terkenal. Dia menggulung lengan kemejanya, lalu meraih tas kerja miliknya di kursi penumpang. Dia berjalan dengan cepat ke arah kafe yang sangat ramai.
Malam tahun baru kali ini, dia sengaja mengambil cuti jauh-jauh hari. Teman kuliahnya mengajaknya untuk datang ke reuni. Karena sering absen datang ke acara tahunan ini, akhirnya dia menyempatkan untuk datang sekarang.
Seorang wanita melambai dan tersenyum padanya, dia balik melambaikan tangannya. Lalu berjalan mendekat ke tempat wanita yang sedang menunggunya di depan pintu kafe.
"hai, gue kira lu nggak datang lagi" sapa wanita itu. Dia mengulurkan tangannya, menjabat tangan dengan jari lentik milik wanita cantik itu. "sengaja, gue ambil cuti sehari" jawabnya singkat.
"oke deh, ayo masuk. Yang lain udah pada kumpul di dalam" kata wanita itu lagi. Dia mengangguk, mengikuti langkah wanita di depannya.
Dia melewati meja-meja yang penuh oleh pengunjung kafe. Berjalan pelan saat melewati deretan antrian orang yang sedang memesan. Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dia kenali, membuatnya berhenti berjalan. Dia berbalik, melihat orang orang di belakangnya.
Tapi tidak ada yang dia kenali dari sekian banyak orang. Dia kembali melanjutkan jalannya, menyusul langakah wanita di depannya.
"pesanan atas nama, Kia"
Lagi suara yang sangat dia rindukan menghentikan langkahnya. Sekarang dia dapat melihat dengan jelas di mana pemilik suara itu. Cukup lama dia berdiri di tempatnya, memandang wajah seseorang yang sangat dia rindukan.
"Ki, ayo" panggil wanita yang datang bersamanya tadi. Dia menoleh sebentar pada temannya, lalu melihat lagi ke arah meja pemesanan.
__ADS_1