
Kahi menggeliat lalu membuka matanya perlahan, dia mengerjap beberapa kali. Tangannya menyentuh sesuatu yang berat di atas perutnya. Tangan Haki, dia menoleh5 untuk melihat wajah damai lelaki itu yang masih terlelap.
Ini seperti mimpi bisa bersamamu lagi, batinnya. Dia menyentuh keningnya, lalu menarik satu garis lurus ke bawah. Melewati hidung mancungnya, hingga berhenti di bibir tebal milik Haki.
Dia sangat terkejut saat kedua mata yang terpejam itu tiba-tiba terbuka. Dia yang sedang menatap Haki dengan terkejut, justru Haki balik menatapnya lembut. Haki mengangkat tangan menyentuh jarinya yang masih berada di atas bibir Haki.
Haki mengecup jarinya lama, membuatnya merasakan aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia menutup matanya, ikut terhanyut dalam kecupan lembut Haki.
"tidurmu nyenyak " tanya Haki yang sudah melepas jarinya dari bibir Haki. Dia menggerakkan kepalanya,"tidurmu nyenyak juga" tanyanya balik.
Haki tersenyum tipis lalu mengangguk, dia mengangkat kepala Kahi. Kemudian menyelipkan lengannya di bawah kepala Kahi. Menjadikannya sebagai bantal.
"nyaman juga hangat" kata Kahi lirih. "hmm, kau suka. Gimana kalau kamu tetap menginap di sini" Haki mengangkat kedua alisnya bersamaan.
Tangan Kahi mendarat dengan cepat di perut berototnya. Mencubit dengan keras, hingga membuat dirinya mengaduh. "aaaggggrrrh, maaf maaf" katanya dengan frustrasi.
"kalau mau aku terus tidur di sini, buruan nikahin aku" ujar Kahi dengan kesal. "oke siapa takut" ledek Haki.
Kahi bangkit dari posisinya tadi, lalu menghadap ke arahnya yang juga sedang melihat dirinya bingung. "serius nggak sih, jangan bercanda deh" kata Kahi.
Dia menarik pinggang Kahi, hingga tubuh mungil itu jatuh di atas tubuhnya. Wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa cm. "aku selalu serius kalau itu tentang kita" katanya dengan wajah serius.
Sementara Kahi menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah merona. "coba lihat aku" pinta Haki dengan nada lembut. Tangan Haki menyentuh dagunya, lalu mendongakan wajahnya perlahan.
Dengan wajah yang masih merona, Kahi memberanikan dirinya untuk menatap ke arah Haki. "tunggu sebentar lagi, aku akan memintamu dengan baik-baik pada bang Juan. Setelahnya, aku pasti akan menikahimu. Hidup bahagia bersamamu juga anak anak kita nanti" jelas Haki sambil mengelus pipi meronanya.
Dia sekarang sangatlah bahagia, tinggal sedikit lagi dia bisa bersama dengan wanita yang paling dia cintai. Tak apa dia pernah lama memendam perasaan rindunya pada Kahi. Tak apa dia harus melepas jabatannya di kepolisian, jika sekarang dia bisa bersama dengan Kahi.
Demi wanita yang sedang dia peluk ini, Haki rela melepas kariernya. Lalu memulai semuanya dari bawah, dengan semua yang dia miliki sekarang. Haki yakin Juan akan memberikan restu untuknya.
*
Mereka berdua sedang menikmati sarapan di meja makan. Saat tiba-tiba ponselnya bergetar berkali-kali. Haki merogoh saku jasnya, lalu melihat layar persegi itu.
__ADS_1
"ya hallo" sapanya langsung.
"meeting dengan pengusaha dari kota J di majukan, Ki. Lu bisa ke kantor sekarang, gue nggak bisa tangani meeting ini" kata Karin cepat.
Haki melihat ke arah Kahi yang masih menikmati sarapannya. "bisa, 10 menit lagi sampai kantor. Lu siapin bahan buat meetingnya saja"
"oke, sampai ketemu di kantor" Haki menekan tombol off di layar persegi itu, lalu kembali meletakkan ponselnya ke saku jas.
"ada apa" tanya Kahi yang melihat dirinya menyudahi panggilan telepon. "eh, aku harus ke kantor sekarang. Kamu mau pulang atau tetap di sini, pintu rumahmu juga sudah diperbaiki" jawabnya sambil merapihkan piring bekasnya makan ke wastafel.
"hmm, mungkin aku di sini dulu sebentar. Nanti aku langsung pulang" ujar Kahi dengan mulut penuh oleh sandwich. "ya sudah, jangan lupa bawa kunci rumahku. Nanti sore biar aku ambil ke rumahmu. Aku berangkat sekarang ya" Haki menghampirinya lalu mengecup keningnya singkat.
*
Seperti katanya tadi, Kahi hanya tinggal sebentar. Membereskan bekas makan mereka berdua tadi. Lalu kembali ke rumahnya.
Dia memeriksa pintu yang rusak, juga jendela kamarnya yang sekarang sudah dipasang tralis besi. Haki yang bilang mengantisipasi agar kejadian semalam tak terulang lagi katanya.
Drrrrtt Drrrrtt
"kamu gimana kabarnya, kok nggak kabari aku sih"
"aku baik mba, mba sendiri gimana kabarnya. Juna sama si cantik gimana kabarnya" tanyanya antusias. Kahi mendudukan dirinya di depan meja kerja.
"baik juga, Hi. Kita kangen aunty Hihi nih. Oh iya. Kamu sudah ketemu sama Haki"
"aku juga kangen kalian semua. Mba, aku sudah ketemu Haki. Bahkan sudah kembali bersama lagi, dia bilang mau ketemu dulu sama bang Juan"
"wah syukurlah. Kalau gitu biar aku yang urus abangmu. Kamu tenang saja. Sudah dulu ya, si cantik nangis nih"
"iya, salam buat abang. Bye" dia mematikan sambungan teleponnya, lalu beralih pada laptop yang sudah dia nyalakan. Kembali memeriksa laporan yang terlewat. Juga mengirim email balasan untuk Ria.
Tak terasa waktu berlalu sangat cepat, meski dia hanya berkerja di depan laptop. Kahi melihat jam di layar laptop. Sudah pukul 4 sore, harusnya lelaki itu sudah datang untuk mengambil kunci rumahnya.
__ADS_1
Kahi meraih ponsel di sebelah laptop, lalu memainkannya sebentar. Dia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Haki. "apa dia masih rapat, tapi kan ini sudah jam pulang kerja. Sudahlah, nanti juga dia ke sini" kata Kahi sendiri.
Tapi meski waktu terus berjalan, lelaki itu belum juga datang. Dia bahkan sudah selesai membersihkan dirinya. Juga sudah menyelesaikan pekerjaannya tadi.
"mungkin memang lagi sibuk" katanya menenangkan dirinya sendiri. Saat dia akan menuruni anak tangga, Kahi mendengar suara mesin mobil yang baru di matikan. Buru-buru dia mendekat ke arah jendela untuk memastikan jika itu mobil milik Haki.
Senyum mengembang di wajahnya, ketika melihat lelaki itu mendekat ke arah pintu. Sebelum Haki mengetuk pintu rumahnya, dia sudah lebih dulu membukakan pintu untuk Haki.
"loh, kok tahu aku sudah datang" tanya Haki saat melihatnya membuka pintu. "ya dong. Suara mobilnya sudah terdengar dari tadi. Wah bawa apa itu" jawabnya dengan riang, matanya tertuju pada bungkusan di tangan Haki .
"makan malam" ujar Haki sambil mengangkat kantong besar di tangannya. "pas banget, aku sudah lapar" Kahi merebut kantong besar dari tangan Haki. Kemudian membawanya masuk ke ruang makan yang menjadi satu dengan dapur.
"hmm, sumpah ini enak banget" Kahi terus memuji makanan yang sedang dia kunyah. "makananlah dengan benar. Nanti kamu bisa tersedak" Haki memberikan sudut bibirnya dengan ujung jari telunjuk Haki.
"terima kasih sudah membawakan aku makanan lezat ini. Rasanya aku sudah lama tak merasakan seperti ini" Haki mengulum bibirnya, menyadari jika Kahi kembali seperti dulu. Begitu menyukai makanan enak.
*
"apa pekerjaanmu lancar, kamu bahkan harus berangkat pagi sekali ke kantor" tanyanya sembari sibuk mencuci piring.
"lancar, apa kau sudah selesai mencuci piring. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu"
"sudah, mau bicara apa" Kahi berdiri di dekatnya sambil mengeringkan tangannya dengan tisue.
Haki bangkit dari duduknya, lalu dengan kedua tangannya mengangkat tubuh mungil Kahi ke atas meja makan. Tanpa suara dia menyibakkan rambut panjang Kahi ke salah satu pundak.
Kahi hanya melihat apa yang dilakukan lelaki itu dengan merona. Sampai pada kotak beludru berwarna biru ada di tangan Haki pun dia hanya diam. "aku ingin mengikatmu, tapi sebelum itu. Aku ingin mengikatmu dengan kalung cantik ini" Haki memasangkan kalung dengan design cantik ke lehernya.
Dia tak lagi bisa menahan rasa haru juga bahagianya. Kedua tangannya aterangkat, lalu memeluk leher Haki. "terima kasih, aku akan menunggu waktu itu datang" ucapnya dengan lirih di telinga Haki.
Tanpa melepas kedua tangan Kahi, Haki memundurkan tubuhnya. Menyisakan sedikit jarak diantara mereka. Dengan lembut dia menempelkan bibirnya di atas bibir Kahi.
Mengecupnya dengan perlahan dan lembut. Semakin lama gerakan bibirnya semakin menuntut. Begitu juga Kahi yang mengimbangi ciuman darinya. Tak ada lagi perlahan juga gerakan lembut. Semua berubah dengan cepat jadi ******* juga isapan dengan gairah.
__ADS_1
Haki mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Tanpa melepas bibir yang saling menyesap. Dia berjalan dengan pelan melewati pintu pembatas dapur, lalu menaiki anak tangga. Dan berakhir di sofa ruang keluarga di lantai dua.
Haki menurunkan tubuhnya dan Kahi dengan perlahan. Masih dengan bibir yang saling mencium dengan rakus. Tangannya juga ikut bermain, menyentuh titik titik sensitif pada tubuh wanita yang ada dalam kungkungannya. Saat terdengar lengguhan tertahan dari bibir Kahi, dia melepas ciumannya. Lantas mengecup kening Kahi lembut dan lama.