
Gemma tetap diam saat mengantar dirinya sampai ke kamar rawat. Kahi pun enggan bersuara, dia sedang berusaha mengingat lelaki tadi. Lelaki yang mengaku teman SMAnya.
Usai membantu Kahi naik ke tempat tidur, Gemma langsung pamit padanya. Dia tidak ingin Kahi mengajaknya untuk berbicara. Entah apa yang mengusik pikiran lelaki itu, yang pasti dia sedang diliputi oleh perasaan marah. Marah mengetahui lelaki yang masih menyimpan perasaan pada kekasihnya, masih berusaha untuk mendapatkan Kahi kembali.
Ceklek
"Gemma mana" Juan datang mengejutkan dirinya yang sedang melamun. Dia menggeleng lalu menatap sendu sang abang.
"kenapa, kamu diapain sama Gemma" dia menggeleng lagi. "apa benar aku sama polisi yang namanya Haki itu satu SMA dulu, bang" tanyanya pada Juan yang baru duduk di kursi sebelahnya.
Juan tampak terkejut, dia membuang muka ke sembarang arah agar Kahi tak melihat wajahnya. "abang jawab" katanya lagi. Kali ini dia merengut menyadari jika Juan enggan menjawab pertanyaan darinya.
"jadi ini yang bikin kamu sedih" tanya Juan menyelidik. Dia menunduk lalu mengangkat kepalanya lagi untuk melihat wajah sang kakak. "apa kami dekat. Soalnya aku ngerasa nggak asing sama dia" ia menghela nafas, rasanya tak mungkin dia melupakan teman sekolahnya.
"iya cuma teman satu sekolah. Nggak dekat seperti yang kamu kira" jawab Juan terbata sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"tapi kenapa aku nggak ingat dia ya" Kahi berusaha mengingat-ingat lelaki yang mengaku satu SMA dengannya. Tapi malah kepalanya yang berdenyut sakit.
Juan bangkit dari duduknya, lalu menahan tangannya yang bersiap memukul kepalanya. "kan abang sudah bilang, kamu jangan terlalu maksain buat ingat kejadian yang udah lewat. Tarik nafas dulu terus keluarin. Bikin tenang dulu" perintah Juan kemudian.
"sekarang minum obat kamu. Besok kalo kondisi kamu udah mendingan. Kamu mungkin boleh pulang" dia menerima obat yang Juan berikan. Tanpa menyanggah dia menelan obat itu, menyerahkan kembali gelas bekas dia meminum obat tadi.
"hah, aku kangen Juna. Bang. Juna ada di mana bang" tanya Kahi yang tiba-tiba semangatnya kembali setelah membicarakan tentang keponakannya. "di rumah mama, hari ini katanya mau pulang ke rumah" jawab Juan cepat.
"ooh. Oh iya abang, kenapa kepalaku di botakin sih. Aku kan jadi jelek. Mana ada cowok yang mau nikahin aku, kalau aku botak" tangan Kahi menunjuk kepalanya yang tertutup kain perban itu.
__ADS_1
Juan tertawa pelan, "harusnya kalau kamu cantik, udah dari dulu dapat jodoh. Hi" dia memajukan bibirnya, kesal pada Juan. "tenang aja, kamu adik abang yang paling cantik. Kalo Gemma nggak mau nikahin kamu. Abang potong anunya" Juan menggunakan jarinya seperti gunting yang sedang memotong sesuatu.
Sementara Kahi bergidik ngeri, meski dia tidak tahu apa maksud 'anunya' itu. "abang, mending ke sana deh. Aku mau tidur. Ngantuk" ujarnya mengusir sang kakak. Kahi dengan perlahan merebahkan tubuhnya. "hmm, tidur yang nyenyak adikku" kata Juan sambil membenarkan selimutnya.
*
Kantor Haki sore ini sedang sibuk, ada laporan pembunuhan di gudang kosong di pinggiran kota. Dan juga penemuan mayat di daerah lain yang tak jauh dari pusat kota.
"lakukan penyelidikan di tiga tempat itu segera. Setelah hasil dari forensik keluar segera laporkan" kata Haki tegas pada dua bawahannya. "siap dan" mereka berdua memberi sikap hormat padanya. Lalu keduanya mengundurkan diri dari ruangannya.
Haki memijat pangkal hidungnya, setelah mengetahui keadaan Kahi. Dia tidak bisa berpikir dengan tenang. Semua yang dia lihat akan berubah menjadi wajah Kahi. Siang tadi dia dengan sengaja keluar kantor saat makan siang. Untuk menemui Kahi, memastikan dugaannya kemarin salah.
Saat bertemu dengan Kahi, dia tahu ternyata wanita itu bukan hanya menghindar tapi juga melupakannya. Lebih tepatnya tidak mengingat dirinya dan juga masa lalunya.
"lu pusing" suara seseorang di ambang pintu mengejutkannya. "iiiisssh, ketuk pintu woi" dia mengelus dadanya. Mengurai rasa terkejutnya.
Lelaki ceking itu masih tertawa mengejeknya, melangkah mendekati kursi di depan mejanya. Lalu mendudukan diri di sana. "minggu nanti temenin gue ya, biasa kondangan" katanya setelah duduk.
Haki kembali menekuni berkas di meja kerjanya tanpa menghiraukan orang di depannya. "gue dicuekin nih" ujarnya. Haki masih sibuk dengan membaca lembaran di tangannya. "Ki, gue di sini" katanya lagi.
"apa" tanya Haki tanpa mengangkat kepalanya. "sinis amat lu, kaya cewek aja lu" dia berdecak menanggapi sahabatnya itu. "lu ada masalah apa sih, gue lihat lu akhir akhir ini suka ngelamun"
"bukan urusan lu, Kal. Kerja sana" mata tajamnya menghakimi lelaki yang dipanggil Ikal itu. "emang sih, bukan urusan gue. Tapi kalau gue yang ikut repot gara-gara kerjaan lu yang nggak beres. Gue juga yang kena" Ikal memutar figura di atas meja Haki hingga menghadap ke arahnya.
"wah, gue pengen ketemu cewek lu dong. Cantik ya. Cepat dinikahin Ki. Keburu diambil orang" figura yang sedang dipegang oleh ikal direbut paksa oleh Haki. Dia menarik laci di sampingnya, lalu menaruh figura itu di dalamnya. "dia alergi orang jelek kaya lu" katanya datar.
__ADS_1
"astaga, Ki. Lu kalo becanda jangan bawa-bawa jelek dong. Emang jelek sih gue." Haki menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. "tuh lihat, lu ngetawain gue kan. Jahat lu" kata ikal kesal. Lalu ikal menyilangkan kedua tangannya, menunjukkan wajah kesalnya pada Haki yang sama sekali tidak peduli padanya.
Drrrrtt Drrrrtt
Haki dengan cepat menerima panggilan masuk di ponselnya. Mendengar dengan serius suara di seberang sana.
"saya akan ke sana" usai mengatakannya dia bangkit dari duduknya. Meraih kunci dan jaketnya, setengah berlari meninggalkan ikal yang belum sempat bertanya.
"woi ke mana" Ikal ikut menyusul Haki yang bersiap masuk ke mobilnya. "TKP" jawabnya singkat sambil menutup pintu mobilnya. "ikut Haki" kata Ikal cepat. Dia ikut masuk dan duduk di mobil Haki.
"lupa lu, gue kan tim lu. Ki" Ikal terus mengomel di dalam mobil Haki. Tak membiarkan sahabatnya fokus pada jalanan di depannya. "Kal, lu diam dulu deh. Berisik" Haki memberikan tatapan tajam pada Ikal. Yang langsung membuat lelaki ceking itu menciut.
Dengan kesal Haki menekan pedal gas dengan kencang. Membawa mobilnya dengan kecepatan kencang. Ikal mencengkram pegangan di atas kepalanya. "Bae Haki Soeee" Ikal berteriak kencang saat dengan sengaja Haki menambah kecepatan mobilnya.
*
Mobil Haki berhenti di depan gedung lama yang terbengkalai. Di sana sudah ada beberapa mobil lain dari pihak kepolisian dan juga dari wartawan.
Beberapa polisi berjaga di depan garis polisi yang terpasang. Melarang siapapun yang masuk jika tidak berkepentingan. Haki di sambut oleh seorang polisi di ambang pintu masuk gedung.
Polisi itu melaporkan segala temuan di lokasi pada Haki. Mereka sampai di lantai 5 gedung, banyak petugas yang sedang melakukan tugasnya masing-masing. Kedatangan mereka bertiga tidak menghentikan pekerjaan mereka.
Setelah cukup lama berada di lokasi penemuan mayat, Haki kembali ke mobilnya. Kali ini mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sekarang dia benar-benar lelah. Pekerjaan yang tiada henti menambah lelah pikirannya saat ini.
Logika dan perasaannya hanya tertuju pada wanita yang tadi siang dia temui. Apalagi saat melihat wajah Kahi lebih dekat. Dia pucat dan kepalanya ditutup kain perban, ditambah salah satu kaki Kahi juga di gips. Haki sungguh ingin menariknya ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Haki membelokan setir mobilnya ke pinggir jalan di depannya. Dia menghentikan mobil itu, lalu mematikan mesin mobilnya. Kedua tangannya terlipat di atas setir, wajahnya diletakkan di atas tangan. Kedua mata itu semakin lama terpejam.
Setetes air jatuh dari matanya. Kedua bahunya bergetar, entah apa yang membuat lelaki berseragam ini menangis.