
Pagi harinya setelah kedatangan Juan, beberapa polisi pun datang. Mereka rekan dan juga petugas yang menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Haki.
Karena Kahi adalah salah satu saksi mata, dia di mintai keterangan perihal apa yang dia lihat di lokasi kejadian. Ditemani Juan yang sengaja ambil cuti untuk menemani dirinya, dia menjelaskan semua yang dia lihat pada petugas.
"terimakasih atas waktu dan informasinya, bu pak. Kalau begitu kami langsung undur diri. Selamat pagi" ujar dua orang polisi yang tsdi meminta keterangan dari Kahi.
"sama sama, pak. Selamat pagi juga" balas juan.
"kamu mau pulang dulu? Atau mau minta baju kamu di kirim ke sini. Sarapan dulu aja gimana? Atau mau minum? "Juan memberondong Kahi dengan pertanyaan
" abang, berapa lama orang bisa sadar"
"tergantung, Hi. Setiap orang beda beda kasus. Jadi jangan khawatir" jelas Juan sembari menepuk bahunya pelan.
"paling lama berapa hari? "Kahi menatap Juan murung
"kata dokter, dia baik-baik saja sekarang. Sebentar lagi juga sadar, jangan terlalu khawatir" Juan mengelus surai Kahi lembut.
Rombongan polisi yang menjenguk dan yang meminta keterangan dari Kahi, semuanya sudah kembai ke kantor polisi.
Menyisakan Kahi dan Juan, karena Haki tak memiliki sanak saudara. Jadilah mereka yang menemani Haki.
Tak lama setelah kepergian rombongan polisi, Haki sadarkan diri. Juan langsung sigap memanggil dokter jaga agar memeriksa kondisi Haki.
Selama dokter memeriksa, Kahi berdiri diujung ranjang di sebelah kaki kiri milik Haki yang di balut perban.
"kami permisi pak" pamit dokter jaga bernama Yuni.
"terimakasih dokter" Juan mengantar kepergian dokter sampai depan pintu, lalu kembali untuk melihat kondisi Haki.
"kamu istirahat saja, kami akan di sini" Juan mengelus bahu Haki.
Hanya anggukan dari Haki sebagai jawaban. Juan memutar pelan bahu Kahi untuk kembali duduk di sofa.
Drrrrt Drrrrt
"Gemma yang telepon? " tanya Juan pelan,
"kok nggak di jawab" kahi hanya menggeleng pelan.
***
Siang harinya, Haki meminta Juan untuk membawa pulang Kahi. Saat seorang polisi yang adalah teman Haki datang untuk menjenguk sekalian bergantian menjaga dengan Juan.
Karena tak bisa menolak, akhirnya Kahi menuruti kemauan sang kakak.
"istirahat aja, Hi. Kalo lu pengen makan tinggal panggil gue aja " Kata Lia saat hendak keluar kamar milik Kahi.
" gimana udah tidur" Juan menghampiri sang istri yang baru menuruni anak tangga.
Lia menggeleng, ada kekhawatiran di wajahnya. Sudah sejak mereka datang Lia menawarkan makanan untuk Kahi, tapi adik iparnya lebih memilih diam tak menanggapi.
"aku cuma bisa kira-kira, kalo Kahi shok abis lihat orang yang dia tolong itu ternyata Haki. Orang yang mati-matian dia hindari, malah dia sendiri yang nolong orang itu. Apalagi kondisi Haki cukup parah" kata Juan sembari mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga.
"Gemma, beberapa kali hubungi aku. Dia khawatir, tapi juga nggak bisa ninggalin acara keluarganya" tambah Juan.
Lia tahu adik iparnya itu, mungkin memang benar-benar shok akibat kejadian ini. Terakhir kali Kahi memilih untuk diam adalah saat dia di kecewa oleh Haki saat SMA. Tapi itu hanya berlangsung sebentar, tak sampai seharian.
***
Selama dua minggu, 2 hari sekali Kahi akan menyempatkan datang menengok Haki. Walau hanya sebentar tapi kedatangan Kahi, selalu dimanfaatkan baik oleh pria yang masih terbaring di atas brankar. Meminta menyuapinya, membacakan buku dan lainnya.
Setelah menjalani perawatan selama dua minggu, lebih lama diprediksi dokter. Akhirnya hari ini, dokter memberitahukan bahwa Haki sudah bisa pulang.
__ADS_1
Jadi di sinilah Kahi sekarang, di depan pintu ruang perawatan Haki. Sengaja datang pagi sekali untuk membatu pria itu berkemas.
Tok tok tok
"masuk" suara orang di balik pintu sempat menyurutkan niatnya untuk masuk, menghela nafas panjang memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Pertama kali yang Kahi lihat, adalah pemandangan seorang pria tampan mengenakan seragam rumah sakit sedang membaca buku. Pantulan cahaya dari sinar matahari yang menembus jendela di samping ranjang tempat pria itu duduk, membentuk siluet dari pria yang bahkan belum bisa merapihkan rambutnya yang berantakan itu.
"kau sudah datang " Haki menutup bukunya lalu meletakkan buku itu di atas nakas di samping ranjangnya.
" iya, kau sudah boleh pulang kan? " Kahi meletakkan rantang makanan berisi masakan Lia yang khusus dibuat untuk Haki di meja depan sofa.
"iya nanti siang, kau bawa pesananku?" Haki turun dari ranjangnya lalu berjalan tertatih ke arah Kahi yang sedang membongkar isi rantang.
"kau melupakan pesananku? " wajah Haki berubah murung saat melihat ke atas meja tak ada pesanan yang dia minta.
" Lia nggak bisa masak itu, dia benci baunya" ujar Kahi sambil mengangsurkan sendok ke arah Haki.
"kau kan bisa" bibir Haki merengut meski dia menyambar sendok yang di sodorkan Kahi.
"makan saja makanan yang ada, jangan menyusahkan orang lain"
"wah, aku seperti sedang kena omelan ibu" Haki tersenyum ke arah Kahi yang tampak salah tingkah.
"makanlah, jangan berisik" Kahi menyendok nasi lalu menyuapi Haki yang bersiap membuka mulutnya.
"iya ibu" Haki tertawa
Tuk
Sendok mendarat di kening milik Haki, dia mengaduh kesakitan yang sangat berlebihan.
"aaaaagggggh, sakit" reaksi kesakitan yang sangat berlebihan itu membuat Kahi panik.
Karena Haki tak membiarkan Kahi melihat keningnya, Kahi semakin meringsek maju ke arah Haki. Hingga punggung Haki mentok ke sandaran sofa Kahi masih belum menghentikan aksinya untuk melihat kening Haki. Sebelah kakinya sudah bertumpu pada sofa, sedang badanya condong mengikuti Haki. Posisi yang membuat Haki menahan nafasnya karena sangat dekat dengan Kahi.
"aku minta dokter periksa ya" kahi masih mencoba menyingkirkan tangan Haki, dan sekarang berhasil dia singkirkan.
Tapi sekarang kedua tangannya sudah di cengkram erat oleh kedua tangan Haki. Kahi yang belum mengerti apa yang terjadi menatap mata Haki lekat.
Dua manusia yang masih betah menikmati wajah masing-masing tak menyadari kedatangan perawat. Yang justru dibuat salah tingkah karena melihat tingkah mereka berdua.
"ehem, permisi" ujar perawat itu sembari membuang pandangannya ke arah lain.
Mereka berdua yang menyadari sedang saling menatap, tertangkap basah oleh perawat menjadi salah tingkah. Tingkah yang mengundang senyum tipis dari sang perawat yang justru merasa tak enak hati.
"maaf, apa wali pasien sudah datang" tanya perawat sopan.
Mereka berdua saling menatap, kemudian membuang pandangan ke arah lain.
"sudah, suster" Haki menunjuk ke arah Kahi yang berdiri di sebelahnya.
"mari bu, ambil obat dulu"
"iya sus, aku tinggal dulu" Haki hanya mengangguk disertai senyum di bibirnya.
**
Seorang perawat pria sedang mendorong kursi roda Haki, di sebelahnya Kahi sedang menggendong ransel besar milik Haki.
Sebuah mobil yang memang disiapkan Kahi sudah menunggu di pintu keluar, sopir pribadi Keluarga Juan langsung membuka kursi penumpang. Pak Urip menyongsong ransel besar di pundak Kahi lalu setengah berlari memasukan ranselnya ke bagasi mobil. Haki masukke mobil di bantu oleh perawat yang mendorong kursi rodanya tadi.
"kamu mau pulang ke mess atau ke mana? " pertanyaan itu dari Kahi setelah mobil keluar pelataran rumah sakit.
__ADS_1
" rumahku" balas Haki singkat.
Kahi menoleh ke arah samping tempat Haki duduk, "di mana?" tanyanya singkat.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Kahi, Haki malah hanya tersenyum sambil menunduk. Merasa di abaikan Kahi membuang muka ke luar jendela mobil, memandang lalu lalang kendaraan bermotor.
Hingga pandangannya terkunci oleh mobil yang sangat dia kenali, menyalip mobil yang disupiri pak Urip.
Mobil mas Gemma, katanya masih di luar kota-kahi
Selama tiga puluh menit mobil menyusuri jalanan yang semakin dikenali oleh Kahi, jalanan menuju perumahan milik kakaknya.
Dia menatap Haki yang sedang memberi instruksi pada pak Urip. "ini kan jalan mau ke rumah mas Juan" Kahi memicingkan matanya saat mendapati deretan rumah yang di kenalinya.
"berhenti di rumah cat krem, pak. Ya itu yang kanan jalan" perintah Haki.
"ini rumahmu" tanya Kahi bingung pasalnya rumah Haki hanya berjarak satu blok dengan rumah Juan.
"mbok Yah" teriak Haki di depan pagar sambil menekan bel.
Lalu tak lama wanita paruhbaya tergopoh-gopoh keluar dari pintu rumah, dan membuka pagar rumah.
"den Haki, gimana kondisinya" wanita bernama mbok Yah itu menyambut Haki dan Kahi hangat.
"baik mbok, ini temenku namanya Kahi. Hi, ini mbok yah" kedua wanita beda usia itu bersalaman sesaat, kemudian mbok yah meminta ransel yang dibawa Pak Urip..
"mau masuk dulu" tanya Haki yang sedang berjalan dibantu Kahi.
Hanya menggeleng tak tahu harus bagaimana merespon ajakan untuk masuk ke rumah pria itu.
"aku pulang aja ya" "iya, hati-hati"
***
"mba, ada yang nyariin" ujar ika dari arah meja pemesanan sambil melirik ke arah pria yang sedang berdiri di seberang mejanya.
Kahi mengembangkan senyumnya demi untuk melihat pria yang sudah dua minggu pergi keluar kota. Pria yang sekarang mengenakan setelan jas berwarna hitam, sepatu pantofel mengkilat juga rambut seperti baru dipotong tertata rapih.
"mas Gemma" Kahi menghambur ke dalam pelukan Gemma yang sudah merentangkan tangannya.
"kangen ya" Gemma mengelus pipi Kahi lembut, "iya, duduk dulu yuk" Kahi melepas pelukannya dan menyeret Gemma ke meja yang berada di sebelah dinding kaca.
*
Kahi meletakan dua minuman di atas meja di depan Gemma, senyum masih senantiasa di kedua anak manusia yang sedang melepas rindu.
"gimana acaranya?" tanya Kahi.
"hmm, acaranya berlangsung dengan baik" jawab Gemma singkat, dia masih tersenyum manis melihat wanita di depannya.
"aku ikut seneng dengernya, mas"
"dua minggu nggak ketemu kamu, makin cantik" pujian dari Gemma membuat pipi mulus Kahi berubah warna menjadi merah.
"iiissh, udah deh jangan di lihatin terus. Aku malu" Kahi menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang malah mengundang tawa tertahan dari Gemma.
Perlahan Gemma menarik kedua tangan Kahi, menyisakan rona merah di pipi mulus Kahi. Yang menurut Gemma, saat dengan malu Kahi terlihat semakin menggemaskan.
" eh, kapan mas pulangnya? Kok nggak kabarin aku"
"aku baru pulang, sampai apartemen aku mandi terus ke sini" jawab Gemma antusias.
Lalu kemarin itu siapa?
__ADS_1