Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
37.


__ADS_3

Haki benar-benar terkejut saat keluar dari gedung kantornya. Seseorang sedang berdiri di samping mobilnya, sudah pasti orang itu sedang menunggunya. Juan, memasang wajah paling galak yang pernah Haki lihat. Dengan hati-hati dia mendekat ke arah Juan.


"bang Juan" sapa Haki sopan. "kita harus bicara" kata Juan datar. Haki mengangguk menuruti kemauan Juan. Lalu memasuki mobilnya sendiri untuk mengikuti mobil Juan yang dikendarai oleh supirnya. Tak butuh waktu lama, mobil mewah itu berbelok tetap di pelataran parkir restoran mewah.


*


Mereka berdua sedang duduk di sebuah restoran di dekat kantor Haki. Tidak ada makanan yang mereka pesan, hanya dua gelas kopi di atas meja. Sejak mereka masuk ke restoran, tidak ada yang memulai untuk berbicara. Hening, hanya mata Juan yang menatap tajam ke arah Haki. Seolah sedang mengintimindasi orang yang sedang dia tatap.


"tinggalkan adik gue, kalau lu masih tetap mau bekerja di kepolisian" Juan bersuara untuk pertama kali sejak mereka di sana. Tapi justru seperti bom atom yang meledakkan kepercayaan diri Haki. Hancur menjadi serpihan.


"gue tahu lu semalam nginep di kafe. Ini jadi yang terakhir kalinya. Atau karier lu sebagai polisi berhenti sekarang juga" ancaman dari Juan tak membuat Haki terkejut.


"saya sangat mencintai Kahi, bang. Sangat. Apa susahnya abang kasih restu buat saya" ujar Haki dengan berhati-hati. Juan meraih gelas kopi miliknya, menyesapnya sedikit lalu kembali meletakkan gelas kopi di atas meja.


Mata Juan tak berhenti menatap ke arah Haki dengan tajam. "gue rasa lu tahu jawaban dari gue. Jauhi adik gue. Sudah cukup rasa sakit yang lu berikan buat Kahi" rahang Juan mengeras. Dia sudah sangat menahan untuk tidak menyerang lelaki di depannya.


"saya tidak akan meninggalkan Kahi, bang. Abang bisa melakukan apapun, tapi saya akan tetap bersama Kahi" Haki bangkit dari duduknya, mengangguk sopan. Lalu berbalik, berjalan menjauhi Juan yang sudah tak bisa menahan emosi lagi.


Bapak satu anak itu, meneguk habis kopi di gelas nya. Lalu melempar gelas itu sembarang ke arah lantai. Dia meraih ponsel di sakunya. Menekan tombol di layar persegi itu.


"lakukan itu sekarang" katanya dengan keras. Entah pada siapa Juan berbicara. Juan meremas ponsel ditangannya, kemudian memanggil pelayan untuk membayar tagihannya.

__ADS_1


*


Ikal dengan tergesa masuk ke ruangan kerja Haki. Membuatnya memberikan tatapan tajam. "jangan marah, lu harus lihat ini dulu" Ikal menyodorkan ponselnya, yang sedang menampilkan sebuah artikel.


Haki membulatkan kedua matanya, juga mengeraskan rahangnya kesal. Dia melempar ponsel Ikal dengan keras ke dinding ruang kerjanya. Mengakibatkan ponsel jadi hancur berhamburan. Sementara pemilik ponsel tampak terkejut. Ikal secara dramatis berjongkok di depan ponselnya yang sudah tak utuh lagi.


"ponsel gue, Ki. Ya ampun tega banget sih lu" gerutunya sembari tangannya mengumpulkan bagian ponselnya yang tersebar ke mana-mana.


Tiba-tiba seorang rekan kerja Haki mengetuk pintu. "sorry bang, komandan minta abang menghadap" katanya dengan sopan. Haki mengangguk, dia lalu mengikuti langkah rekannya tadi. Menuju lantai 4, tempat komandannya berada.


Dia menghela nafas di depan pintu bertuliskan nama orang yang menjadi komandanya. Tangannya terangkat mengetuk pintu itu. "masuk" suara berat dan tegas lelaki paruhbaya di dalam ruangan itu sedikit membuatnya ciut.


Haki menelan salivanya berat. Dengan berhati-hati dia memasuki ruangan dua kali besar ruangannya itu. Lalu memberi hormat pada orang yang sedang duduk di kursi. Tak ada kesan ramah di wajah lelaki paruhbaya itu. Yang dia tahu pasti karena berita yang sedang memberitakan tentang dia.


Lelaki paruhbaya itu berdiri, "kau memilih untuk tidak memberitahukan padaku. Maka bersiaplah, hukuman akan menjeratmu. Sekarang kau boleh keluar, kemasi barang-barangmu. Kau diskors sampai waktu yang akan menjawabnya. Dan tunggu sampai pemecatan secara tidak hormat untukmu akan dilakukan" kembali suara berat itu menggema di seluruh lantai.


Haki mengangkat tangannya, untuk memberikan hormat pada komandannya. Yang sekali lagi tak mendapat balasan dari lelaki paruhbaya itu. Dia berbalik, dan berjalan ke arah pintu.


"kau sudah kuanggap sebagai putraku sendiri, semua usaha kerasmu selalu menjadi kebanggaan untukku. Kenapa kau tidak membiarkan aku ikut andil dalam masalah yang menimpamu. Jika kau bersalah aku akan tetap mendukungmu sebagai seorang ayah. Kau hanya perlu berkata yang sebenarnya, Haki"


Haki terdiam di depan pintu yang sudah terbuka sedikit olehnya. Dia mencengkram gagang pintu sampai buku-buku jarinya memutih. "anda tidak perlu ikut campur urusan saya. Sejak saat anda mengaggap saya seperti anak anda sendiri. Saya berusaha untuk tidak membawa anda ke dalam masalah saya. Begitu juga sekarang, saya permisi" Haki melanjutkan langkahnya, lalu menutup pintu itu kembali dengan pelan.

__ADS_1


Lelaki paruhbaya itu menjatuhkan dirinya dengan keras di atas kursi kebesaran miliknya. Kedua tangannya mencengkram pegangan pada kursi itu. Sementara matanya memejam erat, menahan amarahnya agar tak meledak.


Sama halnya dengan Haki, lelaki itu dengan kuat menahan agar emosinya tak merugikan dia lagi. Dengan cepat dia membereskan barang-barangnya, lalu melempar pekerjaan yang masih dia tangani pada Ikal.


Haki keluar dari gedung kantornya tanpa membawa apapun selain tas kerja dan juga ponselnya. Dia berjalan pelan ke arah mobil miliknya yang terparkir apik di halaman kantornya. Setelah sampai di dekat mobilnya, dia menoleh untuk melihat bangunan besar yang menjadi kantornya sejak dua tahun lalu.


Haki mengendarai mobilnya menuju jalanan ke arah kafe milik Kahi. Tak butuh waktu lama, mobil itu berhenti di seberang jalan kafe. Haki tidak keluar dari mobilnya. Hanya memandang kafe yang sedang ramai dari kejauhan.


Lebih tepatnya pada seorang wanita yang sedang berada di balik meja pemesanan. Dari tempatnya berdiri, Haki bisa dengan jelas melihat Kahi. Dia bersandar pada sandaran kursi mobilnya. Haki meraup wajahnya dengan kasar, lalu menghela nafasnya dengan kasar.


Saat Haki sedang memejamkan kedua matanya, seseorang mengetuk kaca mobilnya. Dia membuka matanya, menoleh pada seseorang yang sedang menunduk. Untuk melihatnya, Haki menurunkan kaca mobilnya. Yang langsung disambut senyum cerah dari wanita yang sedang dia rindukan itu.


"kok nggak turun" tanya Kahi, Haki menggeleng dengan tersenyum pada Kahi. "cuma mau lihat kamu dari sini" Kahi mengernyitkan keningnya, menyadari ada yang tidak beres dengan wajah Haki.


"apa kamu masih demam" tangannya terulur untuk menyentuh kening Haki. Dia menarik kembali tangannya, "nggak demam, kamu baik-baik saja kan"


Senyum tak hilang di wajah Haki, dia mengangguk sekali. Haki menggerakkan tangannya, meminta agar wanita itu mendekatkan kepalanya. Tanpa menyanggah, Kahi semakin menunduk. Membuat sebagian tubuhnya masuk ke dalam mobil.


Haki tak menunggu lama, dia mengecup singkat bibir Kahi. Hingga membuat wanita itu membulatkan kedua matanya. Haki mengulum bibirnya karena melihat reaksi dari sang kekasih.


"aku mencintaimu, Kahi. Sangat mencintaimu" katanya pelan di telinga Kahi. Wanita itu buru-buru menarik kembali tubuhnya. Berdiri dengan canggung, tak tahu harus melakukan apa lagi.

__ADS_1


"aku pergi ya" dia hanya mengangguk saja. Sampai mobil itu menjauh pun, tubuhnya masih berdiri kaku di tempat itu. Sementara kedua tangannya menekan dada sebelah kirinya. Jantung yang berdetak dengan kencang meyakinkan dirinya, jika hatinya sudah tertarik pada lelaki itu.


__ADS_2