
"siapa sih lu, jangan ikut campur" teriak perempuan itu lagi, kali ini beberapa orang merekam dan mengambil foto keributan di sana.
Menyadari hal itu pria di depan Kahi melepas topi yang di kenakannya, lalu memasangkannya di kepala Kahi. Ukuran lingkar kepala yang lebih kecil membuat topi itu menutupi sebagian muka Kahi.
"minggir lu, gue nggak punya urusan sama lu" perempuan itu mencoba melewati pria yang masih berdiri di depan Kahi.
"maaf mba, anda sudah berlebihan " kali ini pria itu yang bersuara.
"di sini gue korbannya woi, gue cuma mau keadilan buat gue. So, dia juga harus rasain apa yang gue rasain dong. Apalagi dia udah ngerusak baju mahal gue." perempuan itu kembali berteriak.
"ada bisa kena pasal tentang penyerangan, mba."
"siapa sih lu? "
Pria itu meraih sesuatu di saku celana bagian belakang, itu sebuah dompet. Kemudian pria itu mengarahkan dompet yang sudah di buka menunjukkan kartu anggota kepolisian.
Perempuan itu tampak terkejut, dia mundur satu langkah dan menyambar tas jinjing miliknya kemudian menarik lengan rekan nya.
Perempuan itu pergi begitu saja, bahkan tanpa mengucapkan permintaan maaf atas ulah yang dia buat. Pengunjung yang lain juga kembali ke meja masing-masing untuk menikmati makanan mereka. Tinggallah dua anak manusia yang masih berdiri kaku di tempat tadi.
"kau tidak mau ganti pakaianmu dulu? "
"ikuti aku"
Kahi memutar tubuhnya kemudian menaiki anak tangga menuju ke ruang kerjanya di lantai tiga, di ikuti oleh Haki di belakangnya yag tampak sedang mengulum senyumnya.
Kahi membuka kasar pintu ruang kerjanya, mendahului Haki yang sibuk memperhatikan ornamen kafe di lantai tiga yang atapnya di biarkan terbuka.
"duduk"
Haki tanpa berbicara hanya mengikuti arahan Kahi, duduk di atas sofa tempat Kahi sering terbaring lelah.
"aku sudah melarangmu berada di dekatku dalam radius 100meter, kan? Kenapa kamu masih berada di dekatku? Aku sudah melupakanmu, belasan tahun bahkan jika bisa puluhan tahun aku tidak akan merubah apapun, Ki"
"sudah cukup, Ki. "
Kahi melepas jaket yang melekat di punggungnya kemudian topinya juga. Dia dengan marah mengembalikan kedua benda itu pada pemiliknya.
Berjalan dengan cepat ke arah pintu dan menahan pintu agar tetap terbuka lebar.
" silahkan anda bisa pergi " saat mengatakannya Kahi bahkan memberikan tatapan tajam pada Haki.
Dengan enggan Haki berdiri dari duduknya yang bahkan belum ada 5 menit berlalu, dia tersenyum tipis saat menyadari ada sesuatu yang sedikit mengganggu matanya. Maka tanpa melihat Kahi, Haki meletakkan jaketnya menutupi seluruh wajah dan sebagian dadanya.
"setidaknya gunakan ini, untuk menutupinya. Sedikit terlihat " Haki berlalu begitu saja meninggalkan Kahi yang sudah sangat marah dibuatnya.
"mesum, dasar mesum" teriakan Kahi masih terdengar meski Haki sudah berada di lantai satu. Sekali lagi hal itu membuat Haki tersenyum sangat lebar, membuat wanita itu marah adalah hal yang sering terjadi dulu. Jika sudah marah, Kahi akan terlihat menggemaskan baginya.
__ADS_1
*
" mba Lia, gimana caranya nyuci jaket ini" tanya Kahi saat Lia sedang menyuapi Juna di halaman belakang rumah mereka. Sedangkan Juan sedang menyirami tanaman di sebelah mereka berdua.
"jaket siapa, Hi? Gue baru lihat. Kayaknya bukan punya Mas Juan juga" ujar Lia,
"hmm, punyaku lah. Jadi gimana caranya " kilah Kahi
" ya tinggal cuci aja kok repot " kini Juan yang menjawab dia sudah selesai menyirami tanaman dan sedang memangku sang anak yang sedang makan.
"itu kayanya kulit asli deh, Hi. Coba lu liat di internet aja. Gue gk pernah nyuci jaket kulit" usul Lia
"oooh gitu, oke deh"
"jaket siapa? " tanya Juan pada Lia saat sang adik sudah masuk ke dalam rumah.
" ya nggak tahu mas, tapi kayaknya tadi malam itu jaket Kahi pake deh" menyadari hal yang sama sedang di pikirkan oleh sang istri, Juan dan Lia tersenyum penuh arti..
Dua jam sudah, Kahi di dalam kamar mandi hanya untuk mencuci jaket kulit dan mengeringkanya. Sekarang penampilannya bahkan sangat berantakan, celana trening yang di gulung tak beraturan, rambut yang diikat sudah berantakan juga keringat di dahinya sudah seperti biji jagung.
"akhirnya selesai juga, aahh pinggangku" Kahi merasakan sakit di bagian pinggangnya karena terlalu lama mencuci jaket.
Drrrrt drrrt drrrrt
Getaran panjang dari ponsel miliknya yang di atas nakas menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dengan terburu-buru Kahi meraih ponsel dan menekan tombol hijau.
"ya hallo, siapa ini"
"aku Gemma, kau tidak menyimpan nomerku"
"ah, kayaknya aku lupa" Kahi mengigit ujung kukunya demi untuk mengurangi perasaan bersalahnya.
"jadi, kenapa ya mas? "
" kau lupa ya, hari ini aku mau mengajakmu ke suatu tempat " ujar Gemma di seberang telepon.
" eh, sepertinya aku benar-benar lupa. Jadi kapan perginya? "
"aku sudah dalam perjalanan menuju rumahmu"
"apa "
"tunggu, aku saja belum mandi"
"aku akan menunggumu, sampai jum... " telepon sudah langsung di matikan oleh Kahi.
Aaaah, bagaimana ini
__ADS_1
Dengan tergesa dia berlari ke dalam kamar mandi, menggosok gigi dan membasuh mukanya. Tak ada waktu untuk mandi bagi Kahi, selesai memilih baju dan memakainya Kahi mengoleskan deodoran dan menyemprotkan parfum ke arah tangannya kemudian mengoleskan ke arah leher. Merasa belum cukup harum, dia menambahkan parfum dengan jumlah banyak ke arah bajunya.
Polesan makeup tipis membuat dia terlihat lebih segar meski tak mandi, usai menyisir rambutnya dan mengikat menggunakan gaya ekor kuda kahi melihat sekilas tampilan nya di cermin berukuran besar di atas meja riasnya.
Dress berwarna putih selutut berlengan panjang dipadukan dengan sepatu berwarna senada. Tak lupa tas selempang berwarna coklat favoritnya.
Ting!
Pesan masuk dengan cepat Kahi baca, itu dari Gemma yang memberitahukan dia sudah di depan rumahnya. Maka tak menunggu lama Kahi langsung menuruni anak tangga, menemui sang abang yang sedang berkerja di ruang kerjanya di lantai satu bermaksud ingin meminta izin darinya.
Dengan diantar sang abang, Kahi keluar menemui Gemma yang sedang berdiri di depan pintu mobilnya. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat wanita yang sedang berjalan ke arahnya, namin sekejap hilang saat sahabatnya langsung memotong jalan Kahi. Pria itu sedang memberikan tatapan mengejek untuk Gemma, bahkan senyum menyeringai terlihat di bibirnya.
"hei anak muda, kau harusnya meminta izin dulu padaku" ujar Juan bercanda.
"abang minggir deh, masuk sana"
"iya iya yang mau kencan"
Gemma tak menanggapi pria yang selalu membuat dia jadi bahan ejekan sejak jaman kuliah dulu. Dengan penuh perhatian Gemma membuka pintu mobil depan bagian penumpang untuk Kahi, ia kembali memutari mobil untuk masuk ke bagian pengemudi. Tak lupa ia melempar lambaian tangan untuk sang sahabat. Yang dibalas lambaian tangan juga.
"kita mau kemana, mas" tanya Kahi saat mobil sudah keluar perumahan.
Gemma melihat sekilas ke arahnya, kembali fokus dengan jalanan yang ramai.
"tempat yang ingin kamu datangi " kata Gemma singkat.
" hah, tempat apa? "
"theather"
Kahi mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil, dia tak suka ke tempat-tempat yang mengingatkan betapa sakit hatinya dulu. Tapi apa salahnya dia mencoba berdamai dengan hatinya. Sekarang semua sudah berubah maka dengan senyum merekah di wajahnya, dia menatap Gemma yang sibuk berkonsentrasi mengemudi.
"oke aku setuju "
Gemma membalas senyum Kahi dengan mengelus pucuk kepala Kahi. Mereka berdua hanyut dalam keheningan selama dalam perjalanan.
*
Dua jam menonton teather sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu, dua manusia yang sedang dalam masa pendekatan itu sedang duduk berdua di salah satu restoran cepat saji di dalam sebuah mall.
Tertawa mendengar cerita memalukan tentang Juan dengan tingkah konyolnya, atau mendengar masing-masing bercerita tentang pekerjaannya. Usai makan suasana berubah menjadi canggung, saat pelayan membawa buket bunga mawar merah.
"maaf kalau ini terlalu cepat, tapi jujur aku mau serius sama kamu. Sejak kita ketemu, aku sudah jatuh cinta sama kamu. Aku nggak bisa lihat kamu sakit, aku juga nggak bisa lihat kamu dilindungi orang lain"
"Kahi, aku cinta sama kamu" Gemma mengakhiri pengakuan cintanya dengan berlutut di depan Kahi, satu tangannya meraih tangan Kahi dan sebelahnya lagi menggenggam sebuah kotak kecil berbeludru berwarna merah.
Sontak pengakuan cinta dari Gemma menarik perhatian pengunjung restoran, banyak yang meneriaki kahi untuk menerima Gemma. Tapi Kahi sendiri sedang dalam keadaan dilema, apa yang harus dia lakukan. Menerima perasaan Gemma atau malah mengulur jawaban darinya.
__ADS_1
"maaf mas, tolong beri aku waktu"