
Kahi membuka gerbang secara perlahan, kemudian menutupnya lagi setelah dirinya berada di luar. Kahi yang mengenakan hodie menarik penutup kepalanya. Lalu berjalan dengan santai di jalanan depan rumah Juan.
Melewati beberapa rumah, termasuk rumah Haki. Lelaki yang sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya itu tengah berada di balkon kamarnya.
"mau ke mana dia" katanya saat melihat Kahi melewati depan rumahnya.
"kenapa pak"
"maaf besok saya hubungi lagi" kata Haki pada lawan bicara di ponselnya.
Dengan cepat dia menuruni anak tangga, lalu melewati ruang tamu menuju ke pintu rumah. Berjalan setengah berlari menyusul wanita yang sedang berjalan di depannya.
Kahi sampai ke tempat tujuannya yaitu taman. Dia berkeliling sebentar lalu duduk di taman kompleks perumahan. Dia memilih keluar rumah saat malam ini, karena tiba-tiba teringat Gemma. Dia sedang mencari kesibukan agar melupakan lelaki itu. Di bawah langit malam yang penuh bintang, Kahi terduduk diam di atas rumput taman.
Melihat beberapa pasang kekasih yang sedang menikmati malam penuh bintang ini. Dia mendongak, mengamati cahaya bintang paling terang. Lalu memejamkan kedua matanya. Kahi tidak sadar, jika dirinya sedang diawasi oleh seseorang.
Perlahan dia membuka kedua matanya. Mengedipkan beberapa kali. Saat menyadari seseorang sedang berdiri di depannya. Dengan posisi yang sangat membuatnya tak nyaman.
Haki tersenyum padanya, lalu menegakkan tubuhnya setelah beberapa menit lalu membungkuk. Dia berpindah ke sebelah kanan Kahi, lalu duduk di samping wanita itu.
"kenapa keluar malam-malam" tanya Haki. Kahi melirik lelaki di sampingnya sebentar. Dia menghela nafas panjang, kemudian meluruskan kedua kakinya.
"cuma pengen ke sini. Nggak punya alasan lain" Ujarnya malas. Dia meraih earphone di sakunya lalu memasangnya di ponsel. Menarik earphone sampai ke telinganya. Menutup kedua telinganya dengan lagu ballad kesukaan Kahi.
Tangan Haki terulur melewati depan Kahi, lantas melepas sebelah earphone. Memasang earphone itu di telinga kirinya. Tidak ada respon dari Kahi, setidaknya wanita itu membiarkannya untuk ikut menikmati lagu yang sedang diputar.
Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku
Meski waktu datang
Dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
__ADS_1
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Tak pernah kuduga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku
Meski waktu datang
Dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Meski waktu datang
Dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Kau tak akan terganti
Sepanjang lagu diputar Haki terus menatap ke arah Kahi. Dia mengerti kenapa wanita ini sangat sedih sekarang. Tapi Haki pun sedang merasakan hal yang sama. Dia tidak bisa menggantikan wanita di sampingnya dengan wanita lain.
"kenapa. Di wajahku ada yang aneh" ujar Kahi. Haki menggeleng senyum tergambar jelas di wajahnya. "cantik" katanya pelan.
"aku" Kahi menunjuk ke wajahnya. "apa" tanya Haki tergagap. "tadi kamu bilang, cantik. Yang cantik aku apa bukan" tanya Kahi. Kedua tangan Kahi menangkup pipinya sendiri. Bersikap lucu agar lelaki di depannya mengatakan jika dirinya cantik.
__ADS_1
Tapi yang terjadi malah Haki tertawa terbahak. Mendapati wajah menggemaskan Kahi. Sementara Kahi cemberut, dia memajukan bibirnya. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"kamu sangat menggemaskan. Aku cubit pipimu, ya" kedua tangan Haki terangkat di depan wajah Kahi. Saat melihat mata Kahi yang sedang menatapnya tajam. Dia mengurungkan niatnya untuk mencubit pipi Kahi.
"ah maaf" kata Haki pelan, kedua tangannya dia turunkan. Dia ikut meluruskan kedua kakinya, menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan.
Cukup lama hening, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai tiba-tiba Kahi teringat sesuatu. "kenapa kamu bisa ada di sini ya" kata Kahi penasaran.
"aku tinggal di sini" jawab Haki cepat. "di sini. Di taman"
"bukan, maksudnya aku tinggal di perumahan sini. Di dekat sini. Bukan di taman" jelas Haki.
"oh, begitu. Sudah berapa lama. Kenapa aku baru tahu ya" ujar Kahi, dia menggaruk rambut pendeknya.
"sudah lama, mungkin sekitar 2 tahunan. Masa selama itu kamu nggak pernah lihat. Padahal mantan pacar biasanya bakalan susah dilupain" kata Haki meledeknya.
"emangnya benar kamu mantan pacarku. Kok aku nggak ingat ya" Kahi menekuk kakinya, lalu kedua tangannya dia letakkan di atas lutut. "nggak apa-apa, nanti kamu pasti akan mengingat aku" kata Haki dengan lembut.
Kahi menempelkan keningnya di atas lipatan lengannya. Menyembunyikan wajahnya di balik kakinya. "kamu mengantuk" tanya Haki.
Kahi menggerakkan kepalanya pelan, "gara-gara kena meja kepalaku makin sakit" dia mendongak lalu menunjuk luka di keningnya yang masih tertutup plaster luka.
"sesakit apa, kenapa tidak bilang sejak tadi" wajah Haki berubah panik. "biar aku lihat lagi" tanyanya memaksa untuk mengangkat wajah Kahi. Kemudian menangkup wajah tanpa makeup itu. "nggak perlu"
"apa yang kamu lakukan" kata Kahi saat wajahnya terlalu dekat dengan wajah Haki. Lelaki itu membeku menyadari dia terlalu berlebihan. Tapi juga menikmati wajah cantik Kahi yang bebas dia lihat itu.
Jadinya mereka berdua saling pandang. Hanya mata mereka yang berbicara. Jika Haki terlalu mengagumi wajah Kahi sementara untuk Kahi, dia seperti terhipnotis manik mata milik lelaki di depannya.
"cantik, kamu selalu cantik" kata Haki lirih. "hah, kamu bilang apa ya" tanya Kahi. Karena fokus dengan mata indah Haki, Kahi tidak mendengar ucapan Haki.
"sudah malam, ayo aku antar pulang" Ujar Haki, dia melepas tangannya dari wajah Kahi. Lalu berdiri dari duduknya, tangannya terulur untuk membantu Kahi berdiri. Tidak lama tangan Kahi menyambut uluran dari tangannya.
*
Kahi menghentikan langkahnya, lalu menghadap ke arah Haki. "oh iya, terima kasih untuk sore tadi, karena sudah membantuku" kata Kahi dengan tulus.
"iya, sama-sama" balas Haki sembari tersenyum padanya. Kemudian menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.
Mereka kembali melanjutkan langkah mereka, berjalan beriringan sepanjang jalan menuju rumah Juan. Kahi melihat rumah berlantai dua yang terlihat sangat cantik dengan design idamannya.
"bukankah rumah ini sangat cantik, kenapa selama ini aku nggak tahu ya" katanya dengan senang. Haki ikut melihat ke arah yang sama dengan Kahi. Dia kembali tersenyum menyadari jika Kahi sedang melihat rumah miliknya.
"iya, sangat cantik" saat mengatakan itu Haki menatap ke arah Kahi. "apa kamu tahu siapa pemiliknya, siapa tahu dia ingin menjual rumah itu. Aku sangat menyukai rumah itu"
__ADS_1
"kalau begitu kau tidak perlu membelinya, menikahlah dengan pemilik rumah itu" celetuk Haki. "apa, bagaimana kalau pemiliknya pria tua bangka. Atau pemiliknya seorang wanita. Yang benar saja" kata Kahi dengan kesal, dia berjalan cepat meninggalkan Haki yang masih berusaha menahan tawanya.
"tunggu aku" teriak Haki, tetapi Kahi tak menghentikan langkahnya sama sekali. "Kahi, Hihi tunggu" teriak Haki lagi. Suara dan cara Haki memanggilnya terasa seperti dejavu untuk Kahi. Dia terdiam di tempatnya, merasakan sakit dibagian kepalanya.