
Kahi memutuskan untuk tidak keluar dari kamarnya sekarang. Dia benar-benar sangat terguncang. Dunianya seperti runtuh, hancur berantakan. Entah harus bagaimana dia akan menjelaskan pada Juan dan Lia.
Setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pernikahannya. Dia sekarang juga harus menerima kenyataan kalau dia berbadan dua. Mengandung anak dari lelaki yang sudah menyakiti dirinya.
Kahi terduduk di depan meja riasnya, dia berkaca pada cermin besar di depannya. Dia melihat dirinya yang sangat berantakan. Rambut yang tak terikat, mencuat ke mana mana. Piyama tidur yang kusut, juga kantung mata yang tebal. Benar-benar mengambarkan jika sekarang hidupnya juga berantakan.
Tok tok tok
"Kahi, ayo sarapan" teriakan Lia tak membuatnya beranjak dari sana. Dia masih saja melihat ke arah cermin dengan mata kosong.
*
Setelah mengetahui dirinya hamil, Kahi tak lagi terlihat ceria seperti sehari sebelumnya. Dia jadi pendiam, juga tertutup. Lebih hemat bicara, terkesan tak peduli. Di kafenya pun dia memilih untuk tetap berada di dalam ruangan kerjanya.
Membaca artikel tentang ibu hamil di internet. Juga mencari tahu tentang perkembangan janinnya. Dia memutuskan akan memberitahukan kabar kehamilannya pada Lia dan Juan. Dia tak peduli jika nanti Juan akan marah padanya.
Yang terpenting sekarang adalah janin di dalam kandungannya membutuhkan pengakuan dari keluarganya. Dia tidak ingin menyembunyikan anak tak berdosa dari keluarganya.
**
Sementara Haki yang masih belum bisa melupakan perbuatannya yang membuat Kahi kembali menjauh darinya. Sudah tahu fakta sebenarnya tentang kejadian malam itu. Saat pagi hari dia terbangun dalam kondisi tak mengenakan bajunya, di ranjang yang sama dengan Bianca.
Tapi kabar kehamilan Bianca justru semakin membuatnya tak yakin. Jika mereka hanya tidur biasa saja tanpa melakukan hal apapun. Bagaimana bisa wanita itu bisa hamil, bahkan dia menunjukkan surat keterangan dari rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan Bianca selalu mengatakan sebaliknya. Bahkan wanita itu berani bersumpah padanya.
Haki terduduk tak berdaya di meja kerjanya. Dia juga ingat dengan malam dan siang itu dengan Kahi. Bianca hamil, apa Kahi juga hamil. Pikiran itu terus menganggunya, membuat pekerjaannya jadi berantakan.
"lu kan sudah tahu tentang kejadian sebenarnya. Tapi kenapa masih percaya dengan wanita ular itu" suara keras dari Karin menambah pening di kepalanya.
"tolong jangan bahas ini lagi" katanya dengan dingin. Brakk, "dia itu cuma manfaatin lu, Ki. Siapa tahu ayah dari janinnya lelaki lain. Tapi dia selalu manfaatin elu" ujar Karin sambil menggebrak meja kerja Haki.
"Karin, gimana kalau ternyata Kahi juga hamil" ucapan dari Haki berhasil mengalihkan perhatian Karin kepadanya. "maksudnya, lu sama Kahi juga" Haki mengangguk pelan.
Karin membulatkan kedua matanya, bahkan mulutnya sampai ternganga. "lu emang brengsek, Ki" umpatnya dengan lantang, dia tak percaya adik sepupunya bisa menyakiti Kahi lagi.
"lu benar, gue memang lelaki brengsek" Haki meraup wajahnya kasar, lalu kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Matanya menerawang jauh ke tempat wanita yang dia cintai. Membayangkan hal buruk yang mungkin akan wanita itu lakukan.
Haki berdiri dengan cepat, kemudian menyambar ponsel dan kunci mobilnya. Meninggalkan Karin yang tercengang melihatnya pergi begitu saja. "Haki, lu mau ke mana. Astaga anak itu benar-benar bikin gue naik darah" teriak Karin.
*
Suasana ruang keluarga tiba-tiba jadi mencekam setelah dia memberitahukan kabar kehamilannya. Wajah Juan tampak menahan agar tak meluapkan emosinya di depan sang istri. Sementara Lia justru sudah memeluknya, memberinya dukungan sebagai seorang kakak.
"secepatnya cari tempat tinggal baru untukmu. Sudah cukup sampai di sini, abang tak lagi bertanggung jawab menjagamu. Kau bisa membesarkan anakmu sendiri, tanpa bantuan dari kami" ucapan dari Juan membuat dua wanita yang sedang berpelukan menatap tak percaya padanya.
"Lia masuk ke dalam kamar, sekarang. Tinggalkan dia sendiri" katanya lagi, kali ini dengan tajam. Lia menggeleng cepat, "nggak, aku mau di sini dulu" sanggah Lia dengan cepat.
__ADS_1
"mba, aku baik-baik saja kok. Naiklah" Kahi melepas kedua tangan Lia, agar wanita itu melepas pelukkannya.
*
Kembali dia termenung di balkon kamarnya, pada langit dia memandang dengan tatapan kosong. Tangannya menyentuh perutnya yang masih rata. Tak terasa ada bulir air mata yang jatuh ke pipinya. Tangannya yang lain mencengkram pagar pembatas balkon dengan kuat.
"bantu mama untuk tetap kuat menghadapi ini semua, nak. Sekarang kita beres-beres pakaian mama, kita akan pindah" katanya pelan pada janin di dalam perutnya.
*
Pagi sekali Kahi sudah membereskan semua barang barangnya ke dalam koper. Dua koper besar juga dua kotak karton sudah berada di depan pintu rumah. Hanya Lia yang mengantarnya sampai ke depan pintu. Juan sendiri memilih tak mengatakan apapun untuk melepas sang adik pergi.
"kamu yakin mau tidur di kafe, di sana cuma ada sofa. Pasti nggak akan nyaman buat kamu, Hi" Kahi tersenyum untuk meyakinkan Lia. "untuk sementara saja mba. Hari ini aku cari apartemen yang dekat, biar kita bisa terus ketemu" katanya dengan tersenyum.
Mobil taksi online yang Kahi pesan sudah sampai di depan gerbang rumah Juan. Dengan sigap pak Urip membantu Kahi memindahkan koper ke dalam mobil taksi.
"aku pamit, mba" Lia berjalan ke arahnya, lalu memeluk Kahi dengan erat. "kalau kamu butuh bantuanku. Bilang ya, jangan takut mas Juan akan marah" ujar Lia dengan berderai air mata.
"iya, aku pergi. Salam untuk abang" dengan terpaksa mereka harus menyudahi perpisahan yang menguras air mata bagi Lia. Kahi berjalan dengan pelan masuk ke dalam mobil taksi. Tangannya melambai pada Lia yang juga sedang melambai padanya.
Lalu mobil itu berjalan meninggalkan depan rumah Juan, terus hingga melewati gerbang kompleks perumahan tempatnya tinggal selama lebih dari 10 tahunan. Kahi menyeka kasar air mata yang jatuh ke atas pipinya. Dia tidak menyesali keputusannya keluar dari rumah itu.
Demi kehidupan yang sedang bergantung padanya, ia berusaha untuk menghindari rasa kecewa dan sakit. Dia ingin anaknya hidup dengan kasih sayang darinya. Tanpa tahu ibunya sudah menanggung semua rasa beban sakit di hatinya.
__ADS_1
Tak lama mobil berhenti di depan kafe yang masih tutup. Dia turun duluan untuk membuka pintu kafe, setelahnya ikut membantu membawa koper masuk ke dalam kafe. Kahi memandangi dua koper besar dan kotak karton berisi barang miliknya. Lalu tersenyum tipis sambil mengelus perut datarnya.
"kita mulai semuanya berdua, nak. Dari tempat ini mama akan memberi kebahagiaan sepenuhnya untuk kamu" katanya dengan senang.