
Dunianya seperti tak bernyawa. Haki terus saja mengurung dirinya. Menutup seluruh mata dan telinganya dari dunia luar. Siang malam hanya meringkuk di atas tempat tidur.
Karin memutuskan untuk pindah ke rumah Haki, merawat dan menjaga Haki. Dia selalu berdoa semoga Haki segera kembali seperti sebelumnya. Sebelum dia merasa bersalah terus menerus. Hanya satu nama yang dia sebut setiap saat. Hanya hujan yang membuatnya menangis.
Haki benar-benar sangat terpuruk. Sudah berbulan bulan dia melamun dengan memeluk foto Kahi. Ia hanya akan berbicara padanya sebulan sekali. Itu pun hanya memberitahu Karin, jika kandungan Kahi sudah semakin besar.
Masalah juga tak hanya sampai di situ. Bianca menjadi sumber masalah bagi Karin dan perusahaan Haki. Wanita itu dengan tak tahu malunya, mengaku ngaku istri dari Haki pada semua pegawai hotelnya. Lalu melarikan uang sebesar 1 miliar. Dan entah sekarang wanita itu ada di mana.
Karin menekan kuat pangkal hidungnya. Satu satunya jalan keluar dari masalah ini hanya menemui Kahi. Dia akan menerima hinaan atau apapun nantinya. Sekarang dia benar-benar membutuhkan wanita itu untuk menyembuhkan adik sepupunya ini.
Dengan tekad bulat, Karin datang ke tempat yang dia tak ingin datangi. Karin datang ke rumah sakit untuk menemui Juan. "maaf sudah menganggu waktu anda, dokter Juan. Saya Karina Wijaya" sapanya saat Juan baru saja datang.
"tidak masalah. Kebetulan saya sedang beristirahat. Sebaiknya kita ke restoran seberang rumah sakit saja" ujar Juan sopan. Karin mengikuti langkah lelaki yang masih mengenakan jas dokternya itu menuju restoran tepat di seberang rumah sakit.
"maaf, anda ingin memesan sesuatu" tanya Juan sambil memanggil seorang pelayan.
*
"sebenarnya saya ingin meminta tolong pada anda dokter" Karin memberanikan dirinya untuk langsung berbicara pada Juan. "silahkan, anda ingin pertolongan seperti apa dari saya" ujar Juan sambil meletakkan gelas dari tangannya ke atas meja.
"tolong beri kesempatan untuk Haki. Dia sangat membutuhkan adik anda, dia benar-benar sangat mencintai Kahi" kata Karin dengan serius.
Senyum yang sempat mengembang di wajah Juan, seketika memudar berganti dengan rahang yang mengeras. "jadi anda ingin saya memberi restu untuk lelaki brengsek itu" tanya Juan dengan nada tinggi.
"saya mohon dokter. Haki hanya membutuhkan adik anda. Saya bisa memberikan apapun asalkan mereka bisa bersatu" pinta Karin dengan tulus.
"saya tidak akan pernah memberikan restu saya untuk dia. Satu lagi, jangan pernah anda menemui saya hanya untuk membicarakan lelaki itu" katanya dengan keras sembari bangkit dari posisinya.
__ADS_1
"anda yakin, anda lupa satu hal. Akan ada bayi yang kehilangan ayahnya, akan ada seorang wanita yang sebentar lagi menjadi ibu. Dia tak memiliki siapa pun di sisi nya, bahkan anda sendiri sudah melepas dia"
Juan menghentikan langkahnya sebentar, kemudian kembali melangkah. Karin meneguk jus di gelas nya dengan cepat. Dia buru-buru membayar tagihan pesanannya. Lalu merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Karin menekan tombol panggil pada layar pipih itu. Tak lama terdengar suara di seberang panggilan. "kita ketemu di sana, sekarang" katanya singkat.
Setelah mematikan sambungan teleponnya. Karin berjalan menuju tepi jalan raya, untuk kemudian menghentikan taksi yang lewat.
*
Karin berjalan cepat memasuki kafe yang sudah ramai oleh pengunjung. Dia terus berjalan, matanya memindai seluruh orang yang ada di sana. Hingga matanya menangkap seorang lelaki tengah tersenyum lebar sedang melambai padanya.
"maaf telat. Anda sudah lama menunggu" sapanya sopan. "tidak apa apa, aku saja baru sampai. Duduklah" ujar lelaki itu sopan.
"apa dia sudah datang" tanya Karin sambil memutar kepalanya, melihat ke sekeliling kafe. Lelaki itu mengangguk. "sudah datang, sebentar aku akan meminta pelayan memanggil dia" lelaki itu melambai pada salah satu pelayan yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
"ah baik, mohon ditunggu sebentar tuan" Ika bergegas menaiki anak tangga.
*
Wanita yang sedang menuruni anak tangga, langsung mengalihkan perhatian dari beberapa pasang mata. Bagaimana bisa wanita dengan perut buncit terlihat semakin cantik. Jika para wanita iri karena kecantikan wanita itu, maka para lelaki sungguh menyayangkan dia sudah menjadi milik lelaki beruntung.
Kahi melambai sembari berjalan dengan pelan ke arah tempat Ikal dan Karin duduk. Dari tempatnya berjalan, Kahi tidak bisa melihat dengan jelas wajah Karin. Dia hanya bisa melihat punggung dari Karin.
"bang Ikal sudah lama kita nggak ketemu. Apa kabarnya" sapanya dengan ceria, tapi kemudian senyuman di wajahnya hilang saat Kahi melihat Karin yang sedang duduk di depan Ikal.
"mba Karin, kok bisa di sini" Karin tak langsung menjawab pertanyaan dari Kahi. Dia berdiri lalu memeluk Kahi yang masih bingung.
__ADS_1
"maaf, aku benar-benar minta maaf" kata Karin dengan lirih di dekat telinga Kahi. "sebaiknya kita bicarakan ini di ruangan saya" ujar Kahi sambil menatap lurus ke arah Ikal.
*
"Haki membutuhkan kamu, Hi. Saya sudah mencoba untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi hasilnya tetap sama. Dia terus saja melamun dengan memeluk fotomu. Dia terus memanggil namamu. Juga setiap pergantian bulan, Haki pasti memberitahuku jika perutmu akan semakin besar" jelas Karin sembari terisak.
"tolong maafkan kesalahan Haki. Dia tidak melakukan apapun malam itu bersama Bianca. Dia dijebak, Hi. Saya dan Ikal sudah menyelidiki masalah ini sejak dia mulai kehilangan semangat hidup. Bahkan sekarang Bianca pergi entah ke mana. Wanita itu juga telah membawa pergi uang perusahaan" lanjutnya.
"Haki benar-benar membutuhkan kamu. Tolong bantu saya untuk menyembuhkan dia, Hi. Tolong saya. Setidaknya temui dia. Dia keluarga saya satu satunya. Saya tidak tega melihat hidupnya yang sekarang" kata Karin lagi, kali ini dia meraih kedua tangan Kahi. Meremasnya pelan, kedua matanya yang berair berusaha untuk menatap langsung ke mata Kahi.
"mba, sejak aku memilih untuk tidak kembali padanya. Sejak itu juga aku melupakan Haki. Meski dia ayah dari janin yang sedang kukandung. Aku tidak ingin menemui dia lagi. Aku benar-benar sangat kecewa padanya"
"tapi dia dijebak, Hi. Saya bahkan punya buktinya" sanggah Karin cepat.
Kahi menggeleng pelan, "itu tidak bisa merubah apapun, mba. Bahkan bang Juan tidak bisa menerima Haki. Aku tidak ingin menyakiti perasaan kakakku sendiri dengan kembali pada Haki"
"kau yakin, sebentar lagi bayi itu akan lahir. Dia membutuhkan seorang ayah" sela Ikal. "aku bisa membesarkan dia seorang diri, bang" sanggahnya.
"baiklah kalau kamu tidak bisa membantu kami. Ayo Karin kita pulang. Haki lebih membutuhkan wanita yang dia cintai, tapi wanita itu sudah tidak ada" Ikal menarik paksa kedua tangan Karin. Lalu dia dan Karin keluar ruangan Kahi tanpa menoleh ke arahnya.
*
Malam harinya setelah pertemuan yang membuatnya kehilangan konsentrasi sejak siang hari. Dia justru sedang memikirkan Haki. Lelaki yang sudah menyakiti dirinya. Benarkah ucapan dari Karin. Kahi terus saja berpikir, haruskah membantu wanita itu.
Pukul delapan malam, dia memutuskan untuk pulang. Seperti biasanya dia selalu menaiki taksi di depan kafe, sampai berhenti tepat di depan lobby apartemennya.
Tapi saat dia akan memasuki lobby apartemennya. Sebuah tangan besar menyumpal mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi sesuatu. Hingga tubuhnya kehilangan kesadaran, kemudian terjatuh ke dalam pelukan orang itu.
__ADS_1