
Flashback part 2
Lapangan SMA X berubah seperti pasar dadakan, beraneka ragam tema stand milik setiap kelas dengan bermacam-macam produk. Ada saja yang menjual makanan ringan, minuman ringan sampai baju dan lainnya.
Semua yang datang nampak antusias membeli barang-barang yang di jual atau hanya untuk sekedar ingin melihat jajaran pengisi acara ulang tahun.
Deretan pengisi acara sudah memeriahkan hut SMA X, ada yang bermain alat musik, bernyanyi, menari juga atraksi bela diri. Atau gabungan dari itu semua ada di drama musikal yang menjadi puncak acara.
Panggung mementasan juga sudah di rias sedemikian rupa agar mendukung pementasan drama yang mengadaptasi dari kisah Romeo dan Juliet.
Pencahayaan yang mendukung membuat drama musikal terlihat semakin keren belum lagi akting dan bakat para pemain yang hebat juga tak ketinggalan pemain musik yang handal.
Hingga pertemuan Romeo dan Juliet menjadi kejutan bagi para penonton, pemeran utama wanita yang di harapkan kemunculannya sejak tadi. Menjawab rasa penasaran para penonton, pasalnya perihal pemain semua dirahasiakan dengan baik.
Juliet di perankan oleh seorang gadis berparas cantik blasteran Indonesia Inggris. Bianca William, gadis yang awal kemunculannya tak bisa untuk tak meragukan bakat bernyanyinya namun justru berbanding terbalik dengan bakat akting yang masih terlihat amatiran itu. Sedangkan pemeran Romeo sudah dipastikan diperankan oleh Baehaqi Subekti.
Hingga kemunculan ibu dari Romeo semakin membuat sebagian penonton tak mengira akan sangat mengenalnya, dia gadis cantik yang cerdas dan berbakat tertutupi makeup karakter bak wanita paruh baya yang mssih terlihat aura kecantikannya, dia yang digadang-gadang akan memerankan peran Juliet justru mendapat peran wanita paruhbaya. Lantas apa yang membuatnya membawakan peran itu, tak ada yang tau pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Pementasan drama musikal berlangsung dengan lancar menandakan berakhirnya juga acara ulang tahun SMA X tahun ini menyisakan stand-stand yang masih berjualan sampai malam hari.
Flashback off
Saat ini Kahi tengah berada dalam perjalanan pulang ke rumah, bertemu lagi dan menyisakan kekecewaan membuat harinya semakin buruk. Dia berharap cepat sampai rumah, dan segera naik ke atas ranjang.
Nyatanya sampai rumah dia harus dihadapkan dengan wajah menyelidik dari dua kakak dan kakak iparnya.
Ini masih pukul 22.30, bahkan Kahi pernah pulang sampai jam 02.00 saat malam pergantian tahun mereka tak menunjukkan kecurigaan.
"abang sama mba belum tidur"
Ujar kahi sebelum meraih tangan sang abang.
" gimana mau tidur, kalo anak perawan belum pulang" celoteh Lia sembari mendudukan Kahi secara paksa.
"bukan anak-anak ya, aku udah dewasa" bela Kahi, Ia kini diapit kedua orang itu.
"kan udah dewasa, jadi udah siap nikah, kan? " sang Abang menekankan kata nikah agar Kahi mengerti apa yang membuat mereka berdua menunggu ia pulang.
" Belum"
"umur lu udah 36, Hi. Mau sampe kapan? Gue sama abang elu itu peduli, kalo lu susah nyari calon. Serahin semua sama gue " cerocos Lia, dia selalu bersemangat soal mencarikan jodoh untuk Kahi.
" ya paling engga kamu udah ada yang jagain selain kita berdua, Hi" kali ini Juan yang berbicara.
"abang sama mba mau kemana? Jangan pake jurus lama deh, jujur ngga"
__ADS_1
"tuh kan, aku juga bilang jangan make alesan ini mas. Kahi itu gk akan mempan pake jurus ini. " Lia mencoba menyalahkan sang suami perihal ide yang datang dari Lia sendiri. Seoalah enggan di salahkan oleh sahabat dan juga adik iparnya itu.
"kan kamu yang ngasih ide,. Aduh"
Kalimat juan terpotong cubitan dari Lia yang saat itu langsung berpindah tempat duduk di sebelah suaminya.
" udah deh bilang sejujurnya aja mas, ngeri tau" ujar Lia saat melihat Kahi nampak curiga pada mereka.
" iya iya, jadi gini dek." ia melirik sebentar pada sang istri yang sedang pasang wajah meyakinkan.
"besok siang temen-temen abang mau makan siang disini, jadi abang mau kenalin kamu sama mereka "
" mereka, itu berapa bang. 2 atau 3"
Potong kahi langsung saat mendengar kata mengenalkan pada teman sang abang.
" eh, ada 5 Hi"
"Apa? Abang aku kan nggak mungkin kenalan sama mereka semua. Ya kali 5 orang demen sama adeknya abang semua nanti, gimana"
" ish ni anak yak, cuma satu yang mau dikenalin sisanya orang pada udah nikah lu mau juga. Iiii amit-amit dah"
"oke"
" engga gitu, tadi pagi kamukan kayanya marah-marah terus ke Juna. Jadi biar lupa aku suruh kamu yang mikirin hehehe" seketika raut wajah Lia berubah kelam.
"Mas Juanda Julie yang terhormat, anda mau makanan anda besok pagi berupa bongkahan batu" buru-buru Juan menggeleng.
" sorry nih, ada gadis perawan di sini. Tolong jangan disuguhkan dengan pertengkaran rumah tangga kalian" kata kahi mencoba menenangkan sang kakak ipar yang memiliki sensitivitas tinggi.
" anak perawan masuk ke kamar" perintah Lia yang langsung di jalankan oleh Kahi.
"jangan lupa kita belum kelar " kata Lia saat mendapati sang suami yang hendak berdiri.
" ampun sayang, kamu cantik deh manis juga,"
"enggak mempan ya"
"Besok akhir pekan kamu boleh beli tas yang kamu mau".
" yang bener,(juan mengangguk) ah, cinta deh"
*
Usai membersihkan diri Kahi duduk dimeja rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sedang mengalah pada sang kakak, ia juga sedang lari dari masalah yang kini datang lagi. Kahi berharap bertemu seseorang yang baru akan merubahnya menjadi pribadi yang baru juga.
__ADS_1
Siapapun itu Kahi juga berharap dia akan menerima semua kekurangan yang dimilikinya, untuk saat ini Kahi hanya ingin tidur dengan nyenyak.
Drrrrtt Drrrrtt**
Ponsel di atas nakas bergetar berkali-kali menandakan ada sebuah panggilan telepon masuk, kahi yang setengah matanya terbuka meraih ponsel itu. Menekan tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga sebelah kiri karena saat ini dia menghadap ke arah kanan.
"Halo" suara serak khas bangun tidur justru terdengar sangat lucu bagi orang di seberang sana.
"hallo Hihi, ini aku Kiki"
Suara diseberang sana menyadarkan Kahi, ia tak seharusnya menerima panggilan telepon itu.
" ada apa? " meski suaranya dia buat sedatar mungkin tapi nyatanya dia sekarang sedang panik.
" eh, hanya ingin menyapamu"
" kau pikir ini jam berapa, malam-malam telepon cuma buat say hello. Dasar Br*****k"
Dengan marah ia melempar sembarang ponselnya di atas kasur, lalu dia memutar kepala ke arah nakas berusaha melihat jam digital.
*Haaah, jam tujuh pagi. Aaaaaaa gimana nih
Dor dor dor*
" woi anak perawan jam segini belum bangun nanti jodohnya dipatuk ayam loh"
" Kahi bangun, temenin gue napa Hi"
*Dor dor dor
*aaiiih dasar ya kakak iparku ini
Dor dor dor**..
" Kahila Julie, anak perawan... "
" apa? ".
" temenin gue ke supermarket, neng"
Menghela nafas panjang kemudian mengeluarkan nya kasar di depan wajar Lia agar amarahnya di pagi ini lekas hilang.
" tunggu aku mandi dulu" setelah mengatakan itu, Kahi kembali menutup pintu kamar nya.
"oke Hi"
__ADS_1