
Ria menangis mendengar cerita yang sebenarnya tentang Kahi. Dia memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. "lu harusnya bilang sama gue, Hi. Gue rasanya nggak berguna" Ria terus menerus mengatakan hal itu.
"sshhhhtt, aku nggak mau kamu khawatir Ria. Sudah ya jangan menangis lagi" ujar Kahi berusaha menenangkan Ria. "tapi lu nggak bisa tinggal di sini, ini nggak akan nyaman buat lu. Apalagi buat anak lu, Hi" Katanya dengan suara terisak.
Kahi berusaha untuk tetap tenang, agar Ria tak terlalu khawatir padanya. Dia tersenyum agar Ria berhenti menangis. "apa mau gue carikan tempat tinggal buat lu" usul Ria sembari menyeka air matanya.
"hmmm, sepertinya iya. Tapi mungkin nanti aku cari sendiri saja dulu" ucapnya sembari meraih ponselnya di atas meja. "kasih tahu gue kalau lu butuh bantuan gue ya" Kahi mengangkat tangannya sampai ke depan wajahnya, posisi tangan hormat. "siap chef" dua wanita itu tergelak bersama.
Tok tok tok
"maaf mengganggu" mereka berdua menoleh bersamaan. "mba Lia, masuk mba" ujar Kahi berjalan ke arah Lia yang sedang berdiri di ambang pintu.
"kalau gitu, gue balik ke ruangan" Ria menepuk pelan pundak Kahi. "iya, makasih ya" katanya dengan tersenyum. Usai menutup kembali pintu ruang kerjanya, Kahi menyusul Lia yang sudah duduk di sofa.
"Rintan sama Juna mana, mba" tanyanya. "aku titip mama, Hi" jawab Lia singkat. "jadi, kenapa mba datang ke sini. Tanpa bilang ke aku dulu"
Lia menarik nafasnya lalu membuangnya lagi, "ayo kita ke dokter, Hi" Kahi mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan Lia.
"kita butuh tahu kondisi kandungan kamu, setidaknya aku mau nemenin kamu buat cek kandunganmu" jelas Lia.
Kahi menghela nafas lega, saat mendengar penjelasan dari Lia. Kahi sempat takut Lia mengajaknya melakukan hal buruk tadi. "ya sudah, kita berangkat sekarang saja mba. Kebetulan aku juga sudah punya rencana mau ke dokter" Kahi meraih lengan Lia dengan riang.
Sementara Lia sangat lega, melihat adik iparnya baik-baik saja. Mereka berdua langsung menuju rumah sakit terdekat. Tak memilih ke rumah sakit Juan, agar lelaki itu tidak mencegah Lia, atau menimbulkan kecurigaan rekan Juan.
*
__ADS_1
Dibantu Lia akhirnya dia menemukan apartemen yang cocok untuknya. Tempat yang sesuai dengan kepribadiannya. Kahi benar-benar sangat menyukai tempat itu. Dia kini lebih suka bermalas malasan di atas tempat tidur. Atau sekedar memasak makanan, juga menonton tv.
Dia juga bekerja dari rumah, memeriksa pekerjaan para pegawainya dari kamera cctv kafe di ponselnya. Atau sekedar memeriksa laporan keuangan harian dari Ria. Kahi tidak lagi datang ke kafe sejak dia menempati apartemen itu. Terkadang morning sickness juga menjadi alasannya, karena terlalu mengganggunya melakukan apapun.
*
Haki berdiri dengan bersembunyi di balik pohon besar, di seberang jalan rumah Juan. Dia sudah di sana sejak pagi hingga malam hari.
Tapi yang dia tunggu tak kunjung keluar rumah. Haki melihat jam di tangannya, sudah pukul sebelas malam. Dia juga sudah sangat lapar. Dengan terpaksa Haki meninggalkan tempat itu.
Haki memilih menuju mini market, lalu membeli mie cup juga air mineral sebagai pengganjal perutnya. Dia duduk di kursi depan mini market, sambil melihat ke sekeliling. Matanya menangkap seseorang yang dia kenal sedang berjalan di jalan depan mini market.
Dia buru buru menelan makanan di mulutnya, lalu berjalan cepat mengejar orang itu. "pak Urip" lelaki paruh baya itu berhenti, kemudian berbalik.
"pak polisi, bapak memanggil saya" tanya lelaki itu dengan sopan. "iya pak, saya mau tanya sebentar. Boleh minta waktu bapak" katanya dengan wajah serius.
*
"mba Kahi sudah tidak tinggal di rumah tuan Juan sejak seminggu yang lalu, pak. Saya kurang tahu apa sebabnya, tapi tiap hari tuan sama nyonya sering berantem. Nyonya tidak mau tuan mengusir mba Kahi, pak. Tapi saya tidak tahu alasan apa yang buat tuan mengusir mba Kahi, pak"
Dia menepikan mobilnya tepat di depan kafe milik Kahi yang sudah tutup. Haki melihat tak ada satu pun lampu yang menyala. Bertanda semua pegawai sudah pulang. Saat Haki hampir putus asa karena tak ada seorang pun yang bisa dia minta tolong. Pintu kafe di buka dari dalam, kemudian dua orang keluar.
"maaf mas sudah tutup" kata Ria saat Haki menghadangnya. "saya hanya ingin bertanya. Apa anda tahu di mana Kahi tinggal" Ria dan sang suami melempar pandangan, kemudian keduanya menatap Haki dengan bingung.
"maaf mas, saya nggak bisa kasih informasi apapun" ujar Ria cepat sembari menarik sang suami.
__ADS_1
"saya Haki, mungkin anda ingat siapa saya" katanya lagi agar Ria berhenti menghindar. Usahanya berhasil, terbukti Ria langsung berbalik.
"jadi lu yang sudah buat Kahi menderita" teriak wanita itu, sambil menyerang Haki dengan menendang perut lelaki itu kencang. Hingga membuat Haki terjengkang ke belakang. "sayang, jangan" suami Ria mencegah agar Ria tak lagi menyerang Haki yang sedang mengerang kesakitan.
"dasar brengsek, jangan harap lu bisa ketemu Kahi lagi" teriak Ria yang terus ditarik masuk ke dalam mobil oleh suaminya. Haki mengerang sakit saat dia berusaha untuk berdiri untuk mengejar Ria yang sudah menjauh.
"aku akan tetap di sini, sampai aku ketemu Kahi" katanya dengan menahan rasa sakit di perutnya. Dengan terseok-seok dia kembali masuk ke dalam mobilnya.
Seperti katanya semalam, Haki tak memindahkan mobilnya dari depan kafe Kahi. Menunggu dengan sabar sampai Kahi datang. Saat Ria datang, wanita itu langsung berlari masuk ke dalam kafe. Tidak membiarkan Haki mencegahnya lagi.
Lelaki itu benar-benar berubah menjadi hantu yang terlihat bagi Ria. Dia akan menjadi pelanggan kafe, dengan memesan makanan atau minuman jika pegawai kafe menegurnya.
Hal itu terjadi cukup lama, sudah seminggu Haki terus menerus berada di sana. Hanya sekedar berganti pakaian dia akan meninggalkan mobilnya, lalu mencari toilet umum.
"sebaiknya kamu kasih tahu dia, daripada kamu terus marah marah begini" nasihat dari sang suami membuatnya mendengus kesal. "terus kalau nanti dia sudah tahu Kahi di mana, apa dia nggak akan melukai Kahi lagi" katanya dengan emosi.
"mereka punya masalah yang harus diselesaikan. Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah mereka. Kahi justru lebih membutuhkan ayah dari janin yang dia kandung, meski dia terus mengatakan sebaliknya" Ria menatap suaminya dengan tajam.
"haruskah kita membiarkan lelaki itu tak bertanggung jawab, sayang. Lalu, saat lahir nanti bayi itu tidak memiliki ayah" Ria menggeleng cepat. "Kahi tidak akan marah padamu, percaya sama aku. Sekarang kamu temui lelaki itu, beritahu di mana Kahi tinggal" suami Ria kembali meyakinkan dirinya.
Ria melirik mobil yang masih terpakir di tempat yang sama. "aku tunggu di mobil ya, bicarakan dengan hati tenang" pamit sang suami. Ria menghela nafasnya, kemudian dia mengunci pintu kafe. Setelah itu berjalan ke arah mobil milik Haki.
Tok tok
Haki menurunkan kaca mobilnya, "Kahi ada di apartemen yasmin. Kamar nomor 2000. Kalau lu berani menyakiti Kahi lagi, gue yang akan menghajar lu sampai habis" kata Ria dengan cepat.
__ADS_1
Usai mengatakannya Ria langsung meninggalkan Haki yang masih bingung.