Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
18.


__ADS_3

Malamnya Kahi tak kunjung memejamkan kedua matanya, pikirannya melayang-layang pada seorang pria. Pria yang mendapat serangan dari Gemma, pria yang sama yang pernah melukai kepercayaannya.


Ia melihat jam dinding, sudah pukul 24.00 malam. Berarti sudah lebih dari 2 jam ia belum juga terlelap. Lalu meraih ponselnya di atas nakas, memeriksa pesan dari beberapa orang yang sudah sejak sore di abaikan oleh Kahi.


Ada panggilan tak terjawab 20 kali dan 16 pesan dari Gemma. Kebanyakan isi pesannya menanyakan keberadaan dirinya. Lalu sisa pesan lain berasal dari Lia, dan abangnya.


Ting


Pesan baru masuk, dan itu dari pria yang sejak tadi ada dalam pikirannya. Ia ragu untuk membuka pesan itu. Tapi kemudian jari tangannya sudah menekan lambang notifikasinya.


"kenapa belum tidur "


Ia mengetik balasannya, tapi kemudian menghapusnya lagi. Lama dia memandang layar 6 inci itu.


*Ting.


"aku merindukanmu*"


Orang ini kenapa nggak nyerah sih_kahi


Ia meletakkan ponselnya di sebelah bantal, lalu berbalik membelakangi ponsel yang layarnya masih menyala. Mencoba memejamkan matanya. Tapi yang terjadi malah ia tak bisa tidur, hanya karena pesan yang dikirim Haki tadi.


"harusnya dia nggak deketin aku lagi kan, ini kenapa malah kirim pesan begini. Apa jangan-jangan abis di pukul tadi, otaknya sedikit geser" dia mengangkat bahunya tak peduli.


Karena tak kunjung mengantuk, ia memilih mendekat ke jendela kamarnya. Bermaksud melihat kegelapan langit malam, tapi yang dia lihat justru pemandangan di depan gerbang rumah.


Di sana mobil milik Haki masih terparkir di tempat yang sama. Berikut pemiliknya yang masih berada di luar mobil. Terduduk di tempat yang sama juga, tengah memandang ke arah jendela kamarnya.


Mata mereka bertemu, jika Haki merasa sakit. Maka Kahi merasa jantungnya hampir terlepas dari tempatnya. Terkejut dan juga kasihan, apa lelaki itu tak kuat berdiri. Hanya untuk masuk mobilnya saja tak bisa, atau memang sengaja berdiam di sana.

__ADS_1


Entahlah, ia juga bingung. Tapi logika dan perasaannya tak sejalan. Dia berjalan menuruni tangga di dalam kegelapan rumah. Melewati ruang tamu, lalu memutar kunci pintu. Membukanya perlahan dan menutupnya lagi.


"kenapa belum pulang " katanya datar. Saat dia sudah berdiri di depan Haki sambil berkacak pinggang. Cahaya dari lampu di depan gerbang memudahkan Kahi untuk melihatnya. Dari dekat dia bisa melihat wajah pucat Haki, darah mengering di sudut bibirnya. Juga lebam di pipi dan matanya.


Reflek Kahi berjongkok di depan Haki, yang sedang terduduk dengan satu kakinya di tekuk satu laginya ia biarkan lurus menyentuh aspal. Sedangkan punggungnya bersandar pada sisi mobil.


"sakit banget ya" telunjuknya menyentuh sudut bibir milik Haki yang terluka. Ia meringis saat tak sengaja telunjuk Kahi menekan luka di bibirnya.


"maaf maaf" dengan cepat dia menarik telunjuknya, tapi dengan cepat juga Haki menahan tangan Kahi yang terulur tadi.


"kamu demam, Ki" ia mengulurkan tangan satunya lagi untuk menyentuh kening Haki, menyadari panas di tangannya memang panas karena demam.


"bisa tolong antar aku pulang" Haki menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengatakan itu, lalu tubuhnya ambruk ke arah Kahi. Ia memang sudah tak kuat berjalan, rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba datang. Membuat ia kehilangan keseimbangan saat berdiri. Tapi lama-lama rasa sakit di kepalanya tak membaik juga. Jadilah dia di sini sejak tadi, menunggu seseorang menghampirinya. Membantunya kembali ke rumah, untuk merebahkan tubuhnya yang rasanya mati rasa.


"Ki, Ki bangun Ki" sayup-sayup suara panik Kahi bisa di dengarnya, tapi semakin lama suara itu hilang.


**


"kamarnya di mana mbok" Kahi bertanya saat mereka sudah sampai di lantai dua rumah itu. "di sini non" Wanita paruhbaya itu mendahului mereka lalu membuka salah satu pintu di lantai dua.


"tolong di taruh di kasur pak" mbok Yah menyibakkan selimut di atas ranjang berukuran besar itu. Menata tumpukan bantal agar memudahkan Haki saat tidur.


"mbok bisa ambilkan air hangat dan handuk kecil" ujarnya saat Haki sudah di letakan di atas ranjang oleh sekuriti kompleks. "baik non" "mba saya undur diri dulu" kata sekuriti yang menggendong Haki tadi. "iya pak terima kasih banyak" sekuriti itu juga ikut ke luar bersama mbok yah yang berniat mengambilkan air hangat.


Kahi menarik selimut sampai menutupi dada Haki, lalu melihat kesekeliling kamar. Kamar yang lebih luas dua kali dari kamar milikknya itu. Kamar yang berkesan maskulin, dengan cat abu-abu yang mendominasi warna dindingnya.


"ini non, air hangat sama handuknya" wanita yang disapa mbok Yah itu meletakkan mangkuk besar berisi air hangat dan handuk di atas nakas. "makasih mbok" ia tersenyum padanya, lalu meraih handuk di atas nakas mencelupkan ke air hangat. Ia memerasnya dan meletakkan handuk itu ke dahi Haki.


Begitu beberapa kali, sampai air di dalam mangkuk besar menjadi dingin. Ia meletakkan punggung tangannya di dahi Haki, demamnya sudah turun.

__ADS_1


"syukurlah demamnya sudah turun"


Ia bangkit dari duduknya, membenarkan posisi selimut sampai menutupi dada Haki. Lalu berbalik bermaksud untuk pulang. Tapi sesuatu mencegahnya pergi, sebuah foto di balik pintu yang tadi belum ia lihat. Mencuri perhatiannya.


Foto dua orang yang mengenakan seragam SMA, sedang tersenyum menghadap ke arah kamera. Itu foto mereka berdua, saat berlatih drama di taman kompleks. Seminggu sebelum audisi yang menjadi awal kehancuran hubungan mereka.


Haki meraih bahunya lalu memutarnya ke arah Haki. Pria yang masih pucat itu menangkup wajah Kahi, lalu mendongakannya menghadap ke arahnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah kahi, sedikit memiringkan kepalanya. Terus mendekat, sampai bibirnya menempel di bibir mungil Kahi.


Ciuman yang lembut dari Haki membuatnya ikut terhanyut. Ia meremas ujung kemeja milik Haki, kedua matanya terpejam. Ikut mengimbangi ciuman yang semakin lama semakin menuntut.


Kedua lidah mereka saling bertautan, saling menyesap. Sama-sama saling mengabsen isi mulut mereka. Haki mendorongnya sampai punggungnya menempel dinding. Sebelah tangannya menarik pinggulnya, memintanya lebih dekat dengan tubuh bagian depan milik Haki.


Hik hik


Ciuman yang semakin lama semakin bergairah, harus berhenti karena Kahi cegukan. Dia menempalkan dahinya ke dahi Kahi, senyuman berkembang di bibirnya. Saat melihat pipi Kahi tampak merona.


"sorry" ia mengelus pipi merona Kahi, lalu menariknya ke dalam pelukkannya. Mengelus surainya mengecup pucuk kepala Kahi.


Sedang Kahi terlalu malu untuk mengangkat wajahnya, siapa yang tahu dia malah cegukan disaat sedang berciuman. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Haki. Mencium aroma musk yang menguar di seluruh tubuh Haki.


*


"kenapa belum tidur " saat ini mereka sedang tiduran di atas kasur milik Haki. Lengan kirinya digunakan sebagai bantal untuk wanita di sampingnya, sedangkan tangan sebelahnya sibuk menepuk punggung tangan Kahi yang berada di atas dadanya.


"ini salah kan" ia menarik dagu Kahi agar melihat ke arahnya, "apa yang salah" ia tersenyum pada Kahi. Lalu ngecup bibir ranum itu singkat.


Kahi bangun dari rebahannya lalu duduk "aku mengkhianati Gemma, kan" katanya sendu. Ia ikut bangun, lalu duduk di depannya. "hmm, iya juga ya. Ya udah putusin aja" katanya cepat, lalu ia menyeringai.


"iiiisssh, ya nggak langsung putusin. Emang kabel langsung diputus" kahi memukul lengannya pelan, lalu merebahkan tubuhnya kembali. Ia bergelung dengan selimut dan guling, tidur membelakangi Haki yang sedang menatapnya sedih.

__ADS_1


Ketika wanita di depannya sudah menerimanya lagi, tapi raganya masih menjadi milik orang lain. Ia hanya bisa menunggu, tak berani meminta lebih pada wanita yang pernah dikecewakan oleh dirinya.


Dia ikut merebahkan tubuhnya di sebelah tubuh Kahi, memeluk Kahi dari belakang. Mencoba untuk terpejam, karena paginya dia ada dinas pagi.


__ADS_2