
"perkenalkan dia Haki, polisi yang akan menyelidiki kasus kamu. Kebetulan ada dua kasus yang sama seperti kasus ini. Pak Haki juga yang menyelidikinya"
Dia masih tak habis pikir, usahanya tadi pagi saat keluar rumah Haki diam-diam. Malah sekarang harus bertemu dengan orangnya langsung. Bahkan sejak sore sampai malam, dia harus memberikan keterangan untuk melengkapi berkas laporan.
Jadilah dia dengan sukarela duduk di kursi penumpang, untuk kesekian kalinya Haki yang mengendarai mobilnya. Sejak masuk mobil dia tak mengeluarkan suara, juga tak berani menatap pria di sampingnya.
Haki sendiri sedang berperang dengan pikirannya, wanita yang dia cintai sejak dulu hingga sekarang sedang duduk di sisinya. Tapi sekarang dia tidak bisa meraihnya, seperti ada tembok tak terlihat yang membatasi mereka. Lebih tepatnya wanita itu yang membangun tembok tak kasat mata.
Krrrruuuuukkk
Suara yang berasal dari perut Kahi, membuat Haki harus menahan tawanya. "mau makan malam dulu" tanya Haki padanya yang sedang merutuki kebodohannya. Pantas saja perutnya berontak, dia melewatkan makan siang hari ini.
Haki membelokkan setirnya ke restoran di dekat jalan, restoran cepat saji yang terkenal dengan ayam goreng krispinya. Bahkan dia keluar sebelum Haki mematikan mesin mobilnya. Dia terlalu malu untuk menunggu dan berjalan masuk bersama Haki.
"tunggu aku" tapi kaki pendeknya bahkan kalah langkah dibandingkan kaki jenjang milik Haki.
"kau mau makan apa " tanya Haki, saat mereka sedang berdiri di bagian pemesanan. Dia melihat daftar menu yang berada di belakang petugasnya." hmm, terserah" jawabnya lalu pergi meninggalkan Haki yang masih berdiri di bagian pemesanan.
*
Mereka berdua sedang menikmati makanan, di saat tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tempat duduk mereka yang bersebelahan dengan dinding kaca, memudahkan mereka melihat air yang turun dengan bebas.
aku selalu menyukai hujan, tapi kali ini aku membencinya_kahi
Dia kembali menyantap sisa kulit dari ayam krispi di piringnya, tapi seseorang kembali mengisi piringnya dengan kulit ayam krispi. Dia sudah tahu siapa pelakunya, hanya dia dan kedua kakaknya yang tahu kesukaannya.
Tapi kali ini, ia enggan menghabiskan kulit ayam kesukaannya. Bukan karena siapa yang memberikannya, tapi karena masalah yang sedang menimpanya.
Kulit ayam yang biasanya enak, jadi hambar tak berasa. Dia mengangkat kepalanya, melihat pada pria di depannya yang juga sedang menatapnya bingung.
"kenapa, kamu nggak mau" Haki mengulurkan tangannya untuk mengambil kulit ayam di piring Kahi, tapi sebuah tangan dengan cepat memukul punggung tangannya. Lalu mengambil kulit ayam itu, dan buru-buru memasukkannya ke mulut.
"habis" katanya dengan mulut penuh. Haki menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum yang sejak tadi ia tahan. Kahi meraih botol air mineral miliknya, lalu meneguknya banyak.
"ayo pulang " katanya usai meletakkan botol kembali ke atas meja. Haki menatap hujan yang masih turun dengan deras, seperti tirai putih menutup semua pandangan "hujan, Hi. Jalanan juga pasti licin. Tunggu sebentar" katanya masih melihat ke luar.
Kahi menghela nafasnya, lalu menghembuskan sembarang. Ia melihat ke sekitar tempat mereka duduk, mencoba mencari sesuatu yang bisa menarik perhatiannya.
Tapi nihil tak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya dari pria di depannya. Bahkan semua wanita di restoran ini, juga melihat ke arah Haki. Ah, pria yang masih mengenakan setelan dinas memang sangat tampan. Dada bidangnya juga pelukeble, cocok di saat seperti ini.
__ADS_1
Apalagi hujan yang belum berhenti membuatnya sedikit kedinginan. Sedangkan di dalam ruang restoran, pendingin ruangan bahkan sudah membuatnya hampir mengigil kedinginan.
"ayo pulang" katanya sembari bangkit dari duduknya "sebentar aku ambil payung di mobil"
Kepalang tanggung, sudah berdiri jika dia harus kembali duduk. "nggak perlu, langsung aja" katanya mendahului langkah Haki.
Di bawah hujan yang masih deras, dia berlari sembari menutupi kepalanya dari air hujan. Siapa sangka pria di belakangnya, menyusul dan melindungi tubuh yang sebagian sudah basah dengan payung pinjaman dari ojek payung. Ah sialnya dia tak melihat keberadaan orang-orang itu tadi.
Usai membayar biaya ojek payung, Haki menyusulnya masuk ke dalam mobil. Saat dia tengah sibuk mengelap sisa air di rambut dan bajunya yang tak mungkin mudah mengering.
"pakai ini" Haki mengangsurkan jaket hodie padanya yang baru di ambil dari kursi belakang.
"pakai, bajumu basah. Ehem " dia tak melanjutkan kalimatnya lagi, mendadak matanya menangkap pemandangan yang tak boleh ia lihat."pakai saja" gemas karena Kahi belum juga menerima hodienya, dia melempar ke arah Kahi hingga menutup seluruh wajah Kahi.
"baju sudah basah, nanti yang ada. Hodiemu ikut basah " ujar Kahi pelan. Tapi sepertinya yang didengar olehnya sesuatu hal lain.
"apa yang basah" tanya kikuk.
Kahi melirik pria di sebelahnya itu, sedikit kesal karena harus memakai hodie pria ini. Sesuatu yang paling ia tak suka, tapi apa boleh buat. Kemeja putihnya pasti sudah berbayang pakaian dalamnya, yang sejak tadi coba ia tutupi dengan tas miliknya.
"iya aku pakai" kata Kahi datar. Mobil melaju meninggalkan pelataran parkir restoran, berjalan lambat untuk menghindari jalanan yang sulit terlihat di saat hujan lebat seperti ini.
Drrrrtt Drrrrtt
"hallo, mas" sapanya pada orang di seberang telepon.
"..."
"lagi jalan pulang, iya udah makan" katanya lagi dengan lembut.
"... "
"bye, see you" dia mengakhiri sambungan teleponnya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia tak menyadari mobil yang di kendarai oleh Haki berhenti di pinggir jalan di tempat yang sepi.
Sedang pemilik mobil tampak menahan amarahnya. Dia lebih memilih menghentikan laju mobilnya dari pada mereka dalam bahaya. Hanya karena mendengar wanita di sampingnya berbicara dengan pria lain.
"ada apa" tanya Kahi panik, wajah pria di sampingnya tampak merah. Dia tak berpikir Haki tengah emosi, dia berpikir sebaliknya. Pria yang semalam sakit itu sedang demam, seperti kemarin malam.
"kamu sakit" tangannya terulur ingin menyentuh kening Haki, tapi reflek Haki sangatlah cepat. Dia mengunci pergerakan Kahi, dengan tangan kanannya menempel pada kaca jendela. Sedangkan tangan kirinya berada di sisi tubuh Kahi
__ADS_1
Matanya mengunci manik mata coklat Kahi, tak ada penolakan dari wanita di hadapannya. Atau mungkin wanita di depannya juga menginginkan dirinya.
Dengan emosi yang sudah membuncah, dia mencium Kahi dengan rakus. Menarik tengkuk lehernya dengan sebelah tangan. Terus mencium dengan kasar, seperti tak ingin memberikan celah bagi Kahi untuk melawan.
Kedua tangan Kahi tak tinggal diam, yang sejak tadi memukul apa saja yang ada di depannya. Dia tak suka orang memaksa atau memperlakukannya dengan kasar. "ki, stop ki" bahkan teriakannya tak mengindahkan Haki yang sedang dikuasai oleh emosi itu.
Sebelah tangannya yang bebas ia gunakan untuk menangkap kedua tangan Kahi yang memukulnya tanpa ampun. Dia menarik kedua tangan itu sampai di atas kepala Kahi. Bibirnya tak berhenti ******* bibir ranum milik wanita di depannya.
Lidahnya memaksa menerobos masuk, menjelajahi seluruh isi mulutnya. Mengulum lidah Kahi dan menyesapnya kuat. Sampai wanita di depannya berteriak pun dia tak menghentikan aksinya.
Dia menggunakan kakinya untuk berpindah dari kursi pengemudi ke kursi di sebelahnya. Lebih tepatnya berada di depan tubuh Kahi. Setelah berhasil berpindah, satu tangan melepas tengkuk milik Kahi. Lalu menekan tombol pengatur kursi dalam mode tiduran.
Sekarang dia sudah berada di atas tubuh mungil wanita yang dia cintai, masih mencium Kahi dengan rakus. Tak memberinya celah untuk bernafas. Hawa nafsu atau karena cemburu semata bisa menguasai logika pria yang memiliki pembawaan tenang ini. Untuk melakukan hal keji seperti ini.
Dia melepas ciumannya, lalu dengan kasar menyibak hodie yang menutupi kemeja putih milik Kahi. "Ki, tolong berhenti" dia menggunakan sisa tenaganya untuk mendorong tangan Haki. Yang sedang berusaha melepas kancing bagian atas kemejanya.
Suara tangisan bahkan teriakan Kahi tak menghentikan pria yang sedang diliputi hawa nafsu itu. Tiga kancing kemeja bagian atas sudah terlepas, menyisakan Kain penutup dua bukit kembar di dalamnya.
Tak menyiakan kesempatan itu, dia dengan kasar meremas dua bukit kembar itu. Menyelipkan kemarinya untuk menggapai sesuatu yang kenyal terbungkus kain.
"ki, berenti ki. Jangan ki... " Kahi berteriak kencang saat dengan rakusnya lidah Haki memilin dan menyesap dua bukit kembarnya.
Kedua tangannya meraih kain yang membungkus tubuh bagian bawah wanita di depannya. Menariknya kasar, menyebabkan Kahi menjerit kesakitan.
Sialnya hujan deras di luar mobil, meredam suara teriakan di dalam mobil itu. Ditambah tak ada yang melewati jalanan itu saat hujan seperti ini. Kahi harus merelakan, mahkotanya di rebut paksa oleh pria depannya.
"aaarrrrgggh" kahi berteriak dengan pilu, saat Haki berhasil menyatukan mereka. Dia melakukan dengan kasar dan cepat, entah apa yang lelaki itu pikirkan. Semakin lama semakin cepat, saat tubuhnya menegang lalu tak lama ambruk di atas tubuh Kahi.
Malam ini dia melupakan suatu hal, wanita di depannya bisa saja tak ingin bertemu lagi dengannya. Atau hal paling tak diinginkan adalah wanita di depannya tidak mau menerimanya lagi.
*
Hujan menyisakan rintik-rintik, tapi dua orang di dalam mobil itu tenggelam dalam kesunyian. Air mata terus mengalir di kedua mata yang sudah sangat bengkak itu. Tak ada suara dari bibirnya, hanya air mata Yang tak kunjung berhenti sungguh menyedihkan.
Sedang pria di sebelahnya, sejak tadi mengatakan kata maaf tak berkesudahan. Dia yang dengan kasar memperlakukan wanita yang amat dicintainya. Wajahnya tak kalah berantakan dari pakaian yang dia kenakan asal. Kedua tangannya tak henti memukul kemudi atau memukul wajah dan tubunya.
"kamu jangan khawatir, aku akan tanggung jawab " katanya sembari menggenggam tangan Kahi. Kedua matanya menatap mata Kahi, yang seperti kosong.
Haki lalu memperbaiki pakaian yang di kenakan oleh Kahi, menyisir rambutnya dengan tangan agar rapih kembali.
__ADS_1
Setelahnya dia menarik Kahi dalam pelukkannya, menciumi pucuk kepala wanita yang sudah dia renggut kehormatannya.
"aku akan bertanggung jawab, Hi" katanya tegas