Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
66.


__ADS_3

Kahi berjalan dengan cepat sambil mendekap bayinya. Air matanya sudah membasahi pipinya. Sejak bayi Aka menangis dan tidak bisa ditenangkan olehnya. Haki yang tertinggal cukup jauh berlarian dibelakangnya. Setelah sampai di depan IGD dia di sambut seorang perawat yang menunjukkan tempat untuk membawa bayi Aka.


Cukup lama baginya dan Haki, menunggu dokter dan perawat memeriksa lalu memindahkan bayi Aka ke ruang perawatan. Mereka bahkan tidak menyadari hari sudah gelap.


Sekarang ini mereka berdua sedang berada di ruang rawat bayi Aka. Ruangan yang khusus Haki pesan, agar dia juga Kahi bisa menjaga bayi Aka. Kahi mengusap pipi gembul bayinya dengan lembut. Tak ada senyuman, terlihat jelas jika Kahi sangat sedih.


"aku tidak bisa melihat bayi kecilku seperti ini, Ki" katanya sembari melihat jarum tajam yang menancap di lengan bayi Aka.


"jangan khawatir, dia bayi yang kuat. Dia pasti bisa bertahan. Jangan sedih Hi, hmmm" Haki berusaha menenangkan Kahi yang sedang terisak lirih. Dia menarik tubuh mungil Kahi ke dalam pelukkannya.


"tenanglah, dokter bilang ini hanya demam biasa. Dokter juga menganjurkan supaya Aka menginap di sini, karena demamnya yang masih tinggi. Jangan khawatir, aku ada di sini bersama denganmu" ujarnya lirih.


Kahi mengangkat kedua tangannya, hingga berada di punggung Haki. Dia menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Haki. Lalu terisak dengan sangat pelan. Agar tak membangunkan bayi kecilnya yang sedang tertidur. Kahi menumpahkan semua rasa khawatirnya dengan menangis. Berharap Haki bisa menjadi tempatnya bersandar.


Seperti tak ingin menyianyiakan apa yang ada di depannya. Haki mengeratkan pelukannya pada Kahi. Mengelus surainya dengan lembut. Lalu mengecup pucuk kepala wanita itu lama.

__ADS_1


Dia boleh saja sedih karena bayi Aka yang sedang sakit. Tapi hatinya sedikit senang. Sebab wanita yang selalu memiliki tempat di hatinya saat ini berada dalam dekapannya. Dia berharap Kahi bisa kembali menerimanya. Agar mereka bisa kembali bersama, untuk membesarkan anak mereka berdua.


*


Drrrrtt Drrrrtt


Sebuah pesan masuk ke ponsel Karin. Yang langsung mengalihkan Karin yang sedang fokus mendengar ucapan dari Dewa. Jemari lentik wanita itu menekan tombol notifikasi pesan. Lalu muncul pesan singkat yang membuat Karin membulatkan kedua matanya.


"Karin, aku ingin" ucapan Dewa terpotong karena gerakan Karin yang tiba-tiba.


Belum sempat Dewa menunjukkan kotak kecil di tangannya. Karin sudah meninggalkan dia di sana, seorang diri. Dengan cepat wanita itu menghilang dari pandangannya. Wanita itu tiba-tiba saja mendapat pesan yang membuat Dewa harus kembali mengalah. Pesan entah dari siapa, pesan yang menghancurkan moment romantis mereka berdua.


Dewa memejamkan kedua matanya erat. Dia mencengkram kain penutup meja dengan sangat kuat. Kemudian menarik napas lalu menghembuskannya. Bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka.


Sementara Karin menuruni anak tangga dengan berlari. Lalu menyambar sepatu miliknya di atas rak sepatu. Dia bahkan tak berniat mengenakan sepatu miliknya hingga di halaman parkir rumah Dewa. Dengan cepat menekan kunci mobil di tangannya. Lalu menarik pintu mobil hingga terbuka.

__ADS_1


Dia menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas kursi kemudi. Seolah tak ingin menjeda nafasnya yang memburu. Karin menginjak pedal gas dengan kencang. Meninggalkan Dewa yang tampak sangat marah di atas rooftop. Yang melihat ke arah mobilnya dengan tajam.


*


Karin menghentikan mobilnya tepat di sisi sebuah mobil lain. Dia berlari dengan cepat setelah keluar dari mobilnya. Kedua tangannya mengangkat ujung gaun yang dia kenakan. Matanya memindai ke sekeliling pantai. Berusaha menemukan seseorang yang tadi mengirimi dia pesan.


"Kau gila" teriaknya saat sudah melihat orang yang dia cari. Orang itu berbalik. Lalu menatap Karin dengan senang. Bibirnya membentuk senyum yang lebar.


"terima kasih sudah memilihku" gumam lelaki itu sembari berjalan ke arah Karin, yang sedang mengatur nafasnya yang memburu. Lelaki itu terus berjalan, mengikis jarak diantara mereka berdua.


Hingga dia bisa merasakan aroma parfum yang selalu membuatnya ingin kembali. Pada wanita yang sama.


"Karina" panggil lelaki itu dengan lembut. "iya, aku di sini" jawab Karin.


"menikahlah denganku"

__ADS_1


__ADS_2