
Kahi menyandarkan punggungnya dengan perlahan pada kepala ranjang. Satu tangannya mengelus perut besarnya. Satu tangannya lagi memegang ponselnya, yang sedang menampilkan foto dirinya bersama Haki.
Dia menghela nafasnya panjang. Dia menatap foto itu dengan sendu. "aku tidak bisa kembali lagi padamu. Meski kamu bilang tidak mengkhianatiku. Aku sudah menyerah pada hubungan kita. Aku sudah mengingat betapa menyakitkan hampir 20 tahun yang sudah aku lalui" katanya lirih.
Flashback
"kenapa kamu memutuskan untuk tinggal di pintu depan"
Cukup lama hening. Mereka berdua sama-sama memandang satu sama lainnya. Dan akhirnya Haki memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan Kahi.
"aku akan tetap berusaha mendapatkan kamu lagi. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku juga ingin membesarkan anak kita bersama denganmu. Aku benar-benar menyesal tidak memperjuangkan kamu dulu"
"tolong beri aku kesempatan, Hi. Aku akan memberikan semua milikku untukmu. Aku akan memberikan semua duniaku untukmu. Percayalah padaku. Aku tidak pernah mengkhianatimu malam itu" katanya dengan suara bergetar.
Kahi melepas tangan Haki yang sedang menggenggam telapak tangannya. Dia menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja. Menyadari hal itu, tidak membuat Haki pantang menyerah.
"aku mohon. Beri aku kesempatan lagi. Kamu bisa meminta apapun untuk membuktikan semua yang kukatakan itu benar-benar tulus, Hi"
Kahi bangkit dari duduknya. Dia mencengkram erat sandaran kursi tempatnya duduk tadi. "kau tahu di mana letak pintu berada, keluar dari sini, sekarang. Aku benar-benar ingin istirahat" kata Kahi dingin. Dia beranjak menuju pintu kamar tidurnya. Membuka pintu, lalu menutupnya dengan keras setelah dia masuk.
Usai mendengar derap langkah dan suara pintu terbuka kemudian tertutup. Kahi terduduk ke lantai dengan pelan. Dia mengelus perut besarnya dengan bahu yang bergetar hebat.
Flashback off
"kamu akan tetap hidup dalam penyesalan selamanya" Kahi memejamkan matanya dengan erat. Air matanya jatuh bebas di atas pipinya.
*
Di dalam kamar yang sangat gelap. Haki terduduk di lantai. Punggungnya bersandar di samping ranjang. Bahunya terus bergerak naik dan turun.
Satu tangannya menggenggam pakaian bayi, dia juga memeluk foto USG janin Kahi yang dia dapat dari Lia. Suara isak tangisnya terdengar sangat pilu.
Setelah puas menangis, Haki menyuci wajahnya di wastafel. Kedua tangannya mencengkram tepian wastafel. "papa tidak akan menyerah sampai ibumu memberikan kesempatan untuk papa"
*
__ADS_1
Setiap pagi dan malam Haki akan menyapa, juga menyiapkan beberapa makanan untuk Kahi. Meski terkadang dia harus kecewa karena Kahi menolak makanan yang dia buatkan.
Atau jika siang hari, dia akan mengunjungi kafe. Membawa semua pekerjaan bersamanya di kafe hingga malam menjelang. Memeriksa laporan atau terkadang rapat dengan orang-orang penting di sana. Kahi tak bisa menghentikan dia, selama dia terus memesan makanan juga minuman.
Usahanya cukup berhasil, karena dia bisa mengawasi Kahi dengan jarak dekat. Meski terkadang dia harus lebih sabar menghadapi sikap dingin Kahi.
Waktu berjalan sangat cepat. Perut Kahi bertambah besar. Ini sudah memasuki bulan kesembilan. Pergerakan Kahi juga semakin lambat. Seakan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Kahi dan anaknya. Haki terus menempel kemana pun ibu hamil itu pergi.
Sementara Kahi yang sudah sangat terganggu dengan kehadiran lelaki itu. Sengaja memanggil Haki untuk masuk ke ruangan kerjanya siang ini. Saat dia tak lagi rapat dengan orang lain.
"tolong berhenti mengikutiku. Orang-orang akan berpikir aneh tentang kita. Aku bisa melakukan apapun sendiri" tegur Kahi dengan nada sedikit tinggi ketika Haki baru saja duduk.
"aku tidak mau mengambil resiko. Aku akan tetap mengikutimu. Ke mana pun. Tolong jangan melarangku. Aku juga ikut andil, jika itu menyangkut keselamatan kamu" tolak Haki tak kalah keras.
"tapi, mereka mengira kamu itu suami yang overprotective" sanggahnya.
"ya aku memang suami yang overprotective"
"tapi kamu bukan suamiku. Bukan juga kakakku. Bukan saudaraku. Apalagi pengawalku. Mulai detik ini juga, tolong berhenti mengikutiku. Tolong pergi dari hadapanku" teriaknya.
Ketika kakinya sudah menapak di lantai satu, tiba-tiba dia merasakan sakit yang teramat di bagian pinggulnya. Juga cairan bening yang keluar tanpa dia rasa, juga mengejutkannya. Kahi menahan rasa sakitnya hingga terduduk di lantai.
"aaaggggrrrh "
Beberapa pengunjung yang melihatnya mengerang kesakitan. Dengan cepat mengerumuninya, termasuk Ika yang langsung teringat dengan Haki. Dengan cepat dia menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Di mana Haki sekarang berada.
"pak, mba Kahi pak" teriak Ika di ambang pintu dengan wajah panik. Haki yang belum mengerti dengan ucapan Ika, dengan cepat menyusul pegawai Kahi itu.
*
Langkahnya terhenti karena suara beberapa orang. Lalu dia melanjutkan untuk menuruni anak tangga lagi. Dan dari ujung tangga Haki bisa melihat dengan jelas, beberapa orang yang sedang membantu Kahi berdiri. Dengan cepat dia menuruni tangga, lalu meraih tubuh kecil Kahi ke dalam gendongannya.
Dibantu Ika, Haki memasukkan Kahi yang sedang kesakitan di perutnya. "sabarlah sebentar, aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang" katanya dengan lembut, berusaha menenangkan Kahi yang masih menjerit kesakitan.
"kamu ikut" perintahnya pada Ika yang sedang panik di samping mobilnya. "baik pak" ujar Ika dengan patuh.
__ADS_1
Dia menjadi gila gara-gara jalanan yang macet di depannya. Terlebih karena melihat bagaimana Kahi menahan rasa sakitnya. Menjerit dengan kencang, bahkan sampai mencengkram lengan Ika.
"kenapa harus macet sih. Ayo cepat-cepat" katanya dengan gusar. Matanya melirik kaca spion tengah, untuk melihat kondisi Kahi. Masih sama seperti tadi, wanita itu masih mengerang kesakitan. Bahkan Ika sudah menjadi bahan untuk dicakar dan ditarik bagi tangan Kahi.
Tangannya menekan klakson mobilnya lama, sudah berkali-kali dia bunyikan. "aaaggggrrrh, cepat Ki" jeritan Kahi yang lagi-lagi membuatnya semakin panik.
"sabar Hi. Sebentar lagi ya"
*
Haki menghentikan mobilnya tepat di depan pintu IGD. Dia sendiri langsung mengangkat tubuh Kahi. Membawanya masuk ke ruang IGD. Membiarkan Ika menyusulnya dengan berlari.
"suster, dokter. Tolong selamatkan istri saya" teriaknya saat memasuki ruang IGD.
Dua orang perawat yang berada di tempat terdekat dengannya menghampiri Haki. Lalu mengarahkan Haki untuk membawa Kahi ke ranjang pasien, "tolong di sebelah sini pak" pinta salah seorang perawat.
Haki menjambak rambut pendeknya. Dia juga menggigit bibir bawahnya kuat. Otaknya benar-benar kacau sekarang. Perasaan cemas bercampur panik membuatnya gugup.
"aaaggggrrrh, sakit" jeritan Kahi semakin membuatnya kalut. "permisi, saya dokternya bu. Anda harus tetap tenang ya. Kami akan berusaha yang terbaik" ujar dokter yang baru datang. "tolong selamatkan dia dokter" mohonnya pada dokter itu. "pasti pak, anda bantu doa saja"
"anda bisa menunggu di luar, pak. Tolong beri ruang agar dokter bisa melakukan tugasnya" perawat mencegahnya yang ingin melihat Kahi.
Dengan berat hati Haki meninggalkan Kahi, bersama dengan dokter dan perawat yang sedang menanganinya. "gimana mba Kahi, pak" tanya Ika tak kalah cemas. Haki hanya bungkam, dia memilih untuk duduk di kursi tunggu.
*
"keluarga pasien Kahila Julie" panggil seorang perawat berdiri di ambang pintu ruang bersalin. "saya, suster" jawabnya sambil menghampiri perawat itu.
"kami sudah berusaha untuk membantu pasien melahirkan secara normal. Akan tetapi kondisi pasien menurun. Maka dari itu kami harus mengambil langkah pembedahan untuk mengeluarkan bayi anda" jelas perawat itu.
"tolong lakukan yang terbaik sus. Saya akan membayar berapa pun untuk itu. Saya mohon"
"kami pasti akan melakukan yang terbaik pak. Tapi ada satu masalah yang harus kami beritahu pada anda. Kemungkinan besar, hanya salah satu dari mereka yang bisa selamat"
Tiba-tiba kakinya mati rasa. Haki terduduk di lantai dengan berderai air mata. "tolong selamatkan istriku" katanya lirih.
__ADS_1