
Dia membanting pintu mobil dengan keras, membuat Lia sampai terkejut melihat tingkah Kahi. "kenapa sih" tanyanya pada Kahi yang terlihat kesal itu.
Kahi memutar tubuhnya menghadap Lia di depan kemudi. "aaaggggrrrh, dasar si kodok" Kahi berteriak di depan wajah Lia. "biasa aja dong, muncrat Hi" Lia berpura-pura mengelap wajahnya, "kenapa sih, cerita aja. Aku dengerin sambil nyetir nih. Tapi jangan teriak lagi nanti Juna bangun" ujar Lia.
Kahi memutar kembali tubuhnya, menatap keluar jendela. Sebenarnya yang terjadi tidaklah membuat dia marah. Dia hanya berusaha agar tidak kembali larut dengan ucapan Haki. Yang malah semakin membuat hatinya resah.
Flashback
Usai melakukan kesaksian untuk bukti yang bisa digunakan untuk memberatkan pelaku. Ikal keluar dari ruangan Haki, lantas pemilik ruangan itu dengan cepat bangkit dan mengunci pintu.
Sempat terkejut karena reaksi yang ditunjukkan oleh lelaki itu. Tapi kemudian dia berusaha untuk bersikap biasa. Sampai saat Haki tiba-tiba memutar kursi yang dia duduki.
"anda mau apa, saya bisa berteriak" katanya terbata. Tapi mata yang sangat susah dibaca olehnya, membuatnya ikut terhanyut oleh suasana yang sedang dibangun Haki.
Haki berlutut di depan kakinya, meraih tangan kanannya yang sejak tadi meremas ujung kemejanya. Mata sendu itu menatapnya penuh penyesalan. Dia tidak mengingat apapun tentang lelaki ini, tapi puluhan pesan yang dia tinggalkan di kolom chat itu berkata lain.
"kamu bisa menghukumku dengan cara lain. Aku akan terima itu, tapi tolong Hi. Jangan menghindar dariku, jangan melupakan aku. Aku masih di tempat yang sama, masih terjebak dengan perasaan yang sama. Seperti terakhir kali kamu memutuskan untuk meninggalkanku. Aku masih sangat mencintaimu" katanya diantara derai air mata.
Kahi masih terpaku dengan kenyataan yang baaru ia ketahui. Lelaki ini bukan hanya sebatas teman SMA, tapi juga mantan kekasihnya. Dia mencoba mengingat, menerawang masa lalu yang hilang dari ingatannya.
Haki meraih tangan kirinya juga, lalu meletakkan sebuah kotak kayu kecil di tangannya. Dia melihat kotak itu, tapi tidak berniat untuk membukanya.
"seperti terakhir aku bilang, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu. Menjadi seorang pelindung dan juga tempat terbaik untuk kembali. Seperti impian kita dulu" tambah Haki lagi. Kali ini Kahi mengembalikan kotak itu ke tangan Haki. Tapi meski kotak sudah di tangan Haki, lelaki itu dengan mudah meletakkannya ke dalam tas selempang miliknya.
"nanti saat kamu sudah mengingatku lagi, mengingat tentang tentang kita. Kamu bisa pakai cincin itu sebagai bukti kamu menerimaku kembali" Haki bangkit, melangkah dengan lunglai ke arah pintu. Membuka pintu dengan perlahan lalu keluar meninggalkan dirinya di ruang kerja Haki sendirian.
Cukup lama baginya untuk mengatur detak jantungnya, entah apa yang membuatnya begitu mudah tersentuh oleh perlakuan lelaki ini. Bahkan dengan Gemma dia tidak merasa seperti ini.
__ADS_1
Kahi keluar dengan hati-hati di bantu polisi wanita yang tadi membantunya juga. Mengatur nafasnya agar tidak menunjukkan perubahan perasaannya, supaya Lia tidak curiga. Dengan kasar dia membuka pintu mobil lalu membantingnya keras.
Flashback off
"jadi, kenapa malah diam sih" Lia geram melihat adik iparnya memilih untuk diam sejak terakhir bersuara.
"ah, topi ini panas" Kahi melepas lalu meremas topi ditangannya. "kok malah jadi topi, kamu tadi mau cerita apa. Jangan bikin tambah penasaran woi" protes Lia, kini mereka sudah dekat dengan komplek perumahan.
"turunin aku di taman kompleks aja, mba" ujar Kahi cepat. "hah, mau ngapain sih. Udah mau sore ini" sela Lia. "belok dulu lah, itu di depan belok kiri" tanpa menanggapi Lia, Kahi terus mengarahkan Lia untuk berbelok menuju taman.
"oke, aku turun. See you" katanya di ambang pintu. Tanpa menunggu Lia menjawab, Kahi sudah melenggang pergi ke tengah taman. Melewati anak anak yang sedang berlarian kesana kemari. Lalu berhenti di bawah pohon rindang.
Duduk di atas kursi besi di sana, menyandarkan punggungnya. Lalu memandang lurus ke depan, pada anak anak yang tertawa riang. Dia ikut tersenyum kecil, tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
Ponsel sudah di tangannya, dia pun sudah mengirim pesan pada Gemma. Tapi lagi-lagi hanya centang satu. Panggilannya pun selalu dialihkan. Dia menggeram kesal, memaki pacarnya dengan kata-kata kasar.
"loh, itu bukannya mba Kahi ya" samar-samar suara ibu-ibu tak jauh dari tempatnya duduk sedang membicarakan dirinya. Awalnya dia tidak peduli, tapi lama-lama omongan mereka mengusik dirinya.
"ya parahlah, dari lantai 2. Suamiku ikut nolongin kemarin, bilang kalau mba Kahi itu loncat dari balkon. Bunuh diri katanya"
"hah, bunuh diri. Bukannya dia jatuh dari tangga ya. Gitu yang mba Lia bilang"
"bukan tangga tapi balkon"
Dia berdiri lalu berbalik, menatap wajah terkejut dari ibu-ibu di sana. Dengan perlahan melangkah menjauh, tidak ingin mendengar omongan mereka lagi.
Jarak taman dan rumah Juan sekitar 300 meter. Dia juga harus berjalan dibantu oleh tongkat, memakan waktu yang lama untuk sampai di rumah. Saat sudah setengah mendekati rumah Juan, ada mobil yang menyalip langkahnya yang lamban.
__ADS_1
Mobil itu berhenti tepat di seberang jalan dari tempatnya berdiri sekarang. Dia nampak tidak asing dengan mobil dan juga rumah itu. Tiba-tiba orang yang membuatnya kesal tadi muncul di hadapannya.
"oh astaga" dia mengelus dadanya pelan, mengurai detak jantungnya yang cepat karena terkejut. "kenapa jalan sendirian, aku antar pulang ya" kata lelaki itu sambil berusaha meraih lengsn Kahi.
Dengan tertatih Kahi berusaha untuk mundur, menghindar agar Haki tidak menyentuh tangannya. Saat Haki bersiap ingin mendekat, dia mengangkat tongkat tinggi. Lalu mengarahkan ujung tongkat tepat di depan perut Haki.
"jangan bergerak" kata Kahi tinggi. Haki yang merasa seperti sedang di todong. Tersenyum lembut, lalu dia meraih ujung tongkat. "biasanya kalo mau jahat, penjahat selalu arahin senjata ke kepala. Bukan ke perut" ujarnya diiringi tawa kecil.
"awas, jangan di pegang tongkatku. Lepas ih" Kahi berusaha menggoyang-goyangkan tongkatnya. Tapi nihil, kekuatannya kalah kuat.
"kan kamu yang duluan. Nggak mau dipegang tapi kasih tongkat. Biar nggak bersentuhan ya, bisa romantis juga" sindir Haki pelan. Senyum masih mengembang di wajahnya, dia akan membuat wanita di depannya kesal. Karena menurut Haki, Kahi selalu terlihat cantik saat sedang kesal.
"lepas ih" dia menarik tongkatnya dengan kuat. Yang mengakibatkan Haki juga ikut tertarik, lalu terhuyung ke arahnya. Dia yang tak bersiap, melepas tongkat lalu menangkap Haki. Tapi bukannya dia yang menangkap Haki, justru Haki yang menangkap dirinya.
Lama mereka terdiam, menikmati keindahan di depan mata masing-masing. Lalu dia tersadar jika ini akal-akalan dari Haki.
"lepas dong, jangan nyari kesempatan deh" dia meronta agar tangan Haki melepas dirinya.
"sorry, nggak sengaja" dengan terpaksa Haki melepas kedua tangannya, yang malah membuat Kahi kehilangan keseimbangan. Tidak ingin wanita di depannya terjatuh, Haki kembali menangkap Kahi lalu menariknya ke dalam pelukkannya.
"lepas lepas" kata Kahi keras. Kedua tangannya sibuk memukul dada dan lengan Haki. Tanpa menghiraukan amukan darinya, Haki malah mengencangkan pelukannya.
Lalu sekali angkat tubuh mungilnya itu sudah di gendong oleh Haki. Gendong ala pengantin, yang membuat dia salah tingkah. Dia mengedipkan kedua matanya berkali-kali, agar dia kembali fokus. Tapi tetap saja wajah lelaki tampan itu, membuat dia ketagihan untuk terus menatapnya.
Saat tiba-tiba dia merasa akan terjatuh dari gendong Haki, kedua tangannya berpegangan pada tengkuk leher Haki. Tapi ternyata lelaki itu tidak menjatuhkan dirinya, tapi sedang mengambil tongkatnya yang terjatuh tadi.
Sepanjang perjalan dari depan rumah Haki sampai masuk ke gerbang rumah Juan. Lelaki itu tidak menurunkan tubuh kahi. Lelaki itu tetap fokus melihat ke jalan, berbeda dengan dirinya. Yang sibuk menatap wajah tampan Haki.
__ADS_1
"kita sudah sampai, kamu sudah cukup puas melihat ketampananku kan" ujar Haki di depan wajahnya.
Kahi membulatkan kedua matanya, menyadari jika dirinya sedang tertangkap basah menatap wajah Haki. Dengan perlahan Haki menurunkan dirinya, lalu meletakkan tongkatnya di bawah ketiaknya. Semua dilakukan Haki tanpa disanggah oleh dirinya.