Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
47.


__ADS_3

Haki tiba-tiba kembali menghilang, ponselnya tak bisa dihubungi juga. Setelah menikmati malam bersama dengan Haki. Pagi harinya lelaki itu sudah tidak ada di sebelahnya. Hanya aroma tubuhnya yang masih tercium di bantal juga tempat tidur.


Kahi menghela nafasnya, lalu mengunci pintu rumahnya. Dengan mengendarai motor maticnya, dia pergi mencari Haki ke seluruh tempat di sekitar pantai. Salahnya dia tak menanyakan di mana tempat lelaki itu berkerja.


Setelah lelah berkeliling seharian, dia memutuskan kembali pulang. Tapi sebelum itu dia singgah ke suatu tempat, bermaksud ingin menenangkan dirinya. Kahi kini berada di tepi pantai dekat rumahnya, berdiam diri di bawah pohon yang rindang. Menikmati angin pantai yang semilir mengenai tubuhnya.


"Kahi ya" suara seorang wanita membuatnya menoleh. "hai, gue Karin. Lu masih ingat gue kan" sapa wanita itu sembari mendekat ke tempatnya duduk.


"maaf buat tempo hari, lu sampai pingsan gara-gara gue" katanya dengan tulus.


"tidak apa apa, mba. Bukan sepenuhnya salah mba kok. Saya yang lupa sarapan. Jadi ya pingsan" ujar Kahi. Ia tersenyum tipis, lalu kembali menatap ke arah ombak yang sedang asik menggulung.


"lu udah tahu ke mana Haki pergi" tanya Karin tangannya merogoh tasnya.


Kahi hanya menggeleng, wajahnya murung karena tak tahu ke mana perginya lelaki itu. "dia mau ketemu kakak lu" Jawab Karin singkat, Karin menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan isi chatt dari Haki.


Kahi dengan cepat menoleh, menatap tak percaya pada Karin yang duduk di sebelahnya. "apa, untuk apa" tanyanya lirih.


"untuk meminta restu dari kakak lu lah" Karin menepuk pundaknya keras. "dia serius sama lu, masa lu nggak tahu" Karin bahkan menahan tawanya karena melihat wajah terkejutnya.


"tapi bukannya kalian berdua, pacaran" Karin tak lagi bisa menahan tawanya, dia tergelak dengan keras. "itu cuma buat ngerjain lu kok. Haki adik sepupu gue. Mana boleh pacaran. Haha"


"sepupu, kenapa aku baru tahu. Lalu kapan Haki kembali, kenapa dia tak memberitahuku dulu" dia bangkit dari duduknya, lalu tangannya mengepal erat.


"kapan dia kembali, entahlah. Tapi Haki nggak pernah lupa sama lu. Dia serius sama lu, sejak dulu cuma lu yang bisa buat dia bahagia. Jadi jangan ragu buat terima dia" Ujar Karin. Wanita itu lalu pergi meninggalkan Kahi, masuk kembali ke dalam mobilnya.


Saat itu juga tiba-tiba ponselnya bergetar. Menandakan adanya panggilan masuk. Kahi menekan tombol hijau. "hallo mba Lia" sapanya dengan lesu.


"Kahi, gawat" teriakan dari Lia membuatnya harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"ada apa sih mba, coba bicara pelan-pelan biar aku ngerti, mba"


"Haki datang ke rumah, sekarang sedang duduk di depan mas Juan. Sepertinya mas Juan sudah merestui kalian berdua, Hi. Tadi dia sempat memukul perut Haki, tapi mas Juan langsung meluk dia. Hi, selamat ya, aku ikut bahagia"


Kahi tak lagi bisa mengatakan apapun, dia menangkup mulutnya. Sedangkan matanya sudah tak sanggup menahan air mata kebahagiaan. Dia tahu alasan lelaki itu susah dihubungi. Alasan yang membuatnya kini menangis bahagia.

__ADS_1


*


Dia sungguh tak sabar menunggu lelaki itu memberitahukan tentang kabar bahagia itu padanya. Dia sudah menunggu di rumahnya dengan tak sabar.


Tepat setelah penantiannya selama seharian ini menunggu. Lelaki itu datang ke rumahnya. Aku akan pura-pura marah nanti, pikirnya saat sudah di depan pintu.


"maaf, aku pergi tanpa memberitahumu. Boleh aku masuk" kata Haki dengan wajah murung, ketika dia membukakan pintu untuk Haki.


Kenapa wajahnya murung, jangan jangan mba Lia salah kasih info lagi.


"ya aku ngerti kok. Masuklah, mau minum sesuatu" Haki hanya memandangnya sendu tak menjawab pertanyaan darinya.


*


"ada apa, nggak biasanya kamu jadi diam begini. Ada masalah" dia meletakkan secangkir teh hangat di depan Haki. Sementara lelaki itu hanya mengangkat kepalanya sebentar, lalu kembali menunduk lagi.


"aku menemui bang Juan" Haki meremas kedua tangannya "terus, abang bilang apa" tanya Kahi lagi sembari mendudukan dirinya di sofa sebelah Haki.


"maaf ya, mungkin perjuanganku belum cukup besar untuk mendapatkan kamu" tiba-tiba suasana berubah menjadi hening.


"ini, ini apa" Kahi mengangkat kotak kecil di tangannya. Haki tak menjawabnya, dia turun dari sofa. Lalu berlutut sambil menggenggam tangan Kahi.


"seperti janjiku sama kamu. Juga janjiku pada bang Juan. Aku akan menikahi kamu. Menjadikan kamu satu-satunya wanita yang akan menjadi istri, juga ibu dari anak anakku nanti. Jadi, menikahlah denganku, Hi. Jadi teman hidupku selamanya" kata Haki dengan lembut.


Setetes air matanya jatuh tepat di atas tangan yang sedang menggenggam kotak kecil itu. Buru-buru Haki menyeka bulir air mata yang bersiap jatuh lagi.


"kenapa menangis, kamu tidak suka. Kamu tidak mau menikah denganku" Kahi menggeleng cepat. Haki tersenyum senang, kemudian dia bangkit dan memeluk tubuh Kahi dengan erat. "terima kasih, sayang" ujar Haki dengan mata yang sudah sama berairnya.


*


Persiapan pernikahan yang sudah lama direncanakan oleh Haki, membuatnya tak lagi pusing memikirkan resepsinya. Mereka sepakat tak mengadakan resepsi mewah, hanya mengundang keluarga juga teman dekat saja.


"kamu yakin nggak mau pesta" Haki menyodorkan spaghetti ke depannya. "nggak perlulah, yang penting keluarga sama teman kita kumpul juga sudah cukup" katanya sembari menyendok spaghetti.


"hari ini kamu ke butik duluan ya. Aku harus tanda tangan berkas di kantor, nanti aku nyusul kamu" ujar Haki tangannya menarik kursi, lalu dia mendudukan dirinya.

__ADS_1


"aku boleh ikut ke kantor kamu" tanya Kahi. "yakin, waktu kemarin aku mgajakin ikut ke kantor. Kamu nggak mau" Haki balik bertanya.


"kalau waktu itu, aku emang belum siap" ujarnya dengan mulut penuh spaghetti. Haki meraih tisue di atas meja, kemudian membantu membersihkan bibirnya dengan hati-hati.


"ya sudah, kamu habiskan dulu makanannya. Nanti kita ke kantorku dulu baru ke butik" Kahi mengangguk setuju.


*


Tak lama mereka sudah berada di kantor Haki. Bangunan tiga lantai yang menyatu dengan hotel milik Haki juga. Mereka melewati beberapa kubikel tempat karyawannya bekerja di lantai tiga, lalu masuk ke dalam ruangan kantornya.


Ruangan itu memiliki dinding kaca, yang langsung memperlihatkan pemandangan laut di bawahnya. Juga meja kerja besar di sudut ruangan. Kahi dengan cepat berjalan mendekat ke dinding kaca. Melihat pemandangan yang hanya bisa dilihat di atas sana.


"waw, tempat ini benar-benar menakjubkan. Keren banget" pujinya dengan senang. Haki tersenyum tipis, dia mendekat ke meja kerjanya. Lalu tak lama dia sudah berkutat dengan beberapa dokumen di atas meja.


Tok tok tok


Ceklek


Dua orang itu menoleh pada pintu yang terbuka. Karin datang dengan membawa map di tangannya, juga senyuman yang mengembang di wajahnya. "haii, gue ganggu nggak nih" katanya dengan ceria di ambang pintu.


"nggak kok mba, masuk aja" pinta Kahi.


Ketika Haki dan Karin sibuk dengan pekerjaan mereka berdua. Kahi menyibukkan diri dengan membaca majalah bisnis koleksi Haki. Karena terlalu lama dan terlalu asik membaca, dia tak menyadari jika Karin sudah keluar ruangan itu sejak tadi.


Haki melangkah pelan ke arahnya, lalu duduk di sampingnya tanpa suara. "kamu baca apa sih serius banget. Aku bahkan dilupakan" Haki merebut majalah di tangannya. "isssh, aku lagi asik nih" rengeknya dengan suara manja.


Haki menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri untuk tidak menyerang wanita yang sedang bergelayut manja padanya. "kamu belum selesai ya, kita jadi ke butik nggak. Aku pengen tidur, ngantuk" katanya dengan tangan yang sedang mengucek salah satu matanya. Kahi menutup majalah lalu meletakkannya kembali di atas meja.


"hmmm, kalau begitu kamu tidurlah. Aku masih ada dokumen yang harus kuperiksa" ujar Haki sembari mengelus pucuk kepalanya lembut.


"ya sudah sana gih, aku mau rebahan" usirnya sambil mendorong tubuh Haki pelan. "jangan di sini, tidur di kamarku" Haki menunjuk pintu di sebelah lemari besar.


Kahi mengernyitkan keningnya, "kamar tidur, di kantor" tanyanya heran bercampur bingung. Haki mengangguk lalu dengan sekali angkat tubuh kecilnya sudah berada di gendongan lelaki itu. "aku kayaknya butuh olahraga juga sebentar" ujar Haki dengan seringai di bibirnya.


"apa, nggak boleh. Aku kan mau coba baju pengantin. Nggak mau, turunin aku sekarang"

__ADS_1


__ADS_2