
Rumah sakit X
Sejak kejadian kecelakaan beruntun di simpang lampu merah, yang memakan banyak korban. Hampir sebagian korban dilarikan ke rumah sakit x, tempat Gemma bekerja karena jaraknya dekat dengan lokasi.
Gemma yang datang dengan ambulans dan satu korban, langsung bertugas di bagian IGD. Meski sebenarnya dia masih libur bekerja. Dibantu rekan dokter lainnya, dan para perawat. Hingga menjelang senja seluruh pasien sudah berada di ruang perawatan. Dia sendiri sudah pulang setelah menyerahkan semua catatan pasien kepada Juan. Dokter jaga di lantai tiga, tempat korban kecelakaan di rawat.
"dokter Gemma keren banget ya, padahal hari ini dia libur " seorang perawat yang berada di balik bagian informasi pasien." kau tahu, hatinya bahkan seperti kapas. Lembut" sela perawat lainnya. "iya, udah baik, pintar yang paling penting itu ganteng banget" perawat lain menambahkan.
"ehem" para perawat tadi melongokkan kepalanya kompak ke arah sumber suara. "selamat" mereka kompak mengelus dada saat menyadari pemilik suara. "kalian kira dokter Gemma ya" Juan menyerahkan catatan pasien pada salah seorang perawat. "dokter Juan kira kita takut ketahuan" celetuk perawat di belakang monitor komputer.
"serius, padahal kalo pacar dokter Gemma tahu, kalian semua puji-puji pacarnya. Bakal di keeekkk" Juan mengarahkan tangannya di leher, seperti sedang memotong. Para perawat memandang satu sama lain lalu mulai tertawa bersamaan. "dokter Juan, jangan bercanda deh. Nggak lucu" sela seorang dokter wanita cantik yang baru saja datang.
"dokter Nilam, masih belum nyerah " kali ini Juan menyandarkan satu siku tangannya di meja setinggi dada." omongan dokter Juan kadang suka bohong, jadi kita bingung bedainnya." dokter Nilam menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "tuh kan, kita juga nggak percaya sama dokter Juan" kata para perawat wanita kompak.
"kapan aku suka bohong yah, cewek cewek cantik " Juan memutar kepalanya melihat semua wanita di sana." barusan dokter bohong loh" Nilam menyeringai. Yang berhasil membungkam bibir Juan.
"dokter Nilam, ada urusan apa nih ke lantai 3" Juan kembali menyeringai, "emangnya nggak boleh, bukan urusan dokter Juan ya" Juan menahan tawanya. "ehem, sekedar info nih. Gemma udah pulang" Juna melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Kembali ke ruang perawatan untuk mengecek kondisi pasien.
"ehem, bener sus" tanya Nilam pelan, perawat di sana kompak mengangguk.
***
Pagi di minggu pagi kawasan perumahan milik Juan, Kahi sedang menikmati udara pagi di balkon kamarnya. Sesekali melihat ke arah jalanan sekitar depan rumah. Kadang juga melempar pandangan ke bawah, di taman depan rumah. Di mana sang abang sedang merangkap menjadi tukang kebun dadakan. Sedangkan kakak iparnya, sedang menemani sang anak bermain di atas rumput. Yang sedang dipangkas oleh sang ayah.
__ADS_1
Lama dia berdiam di balkon, hanya menunggu dalam diam. Cukup lama menunggu tapi belum juga seseorang yang sedang dinantikan muncul. Dia yang masih memakai setelan trening dan kaos hitam polos bekas tidur semalam. Mulai jenuh, mulai bosan menunggu di balkon. Sekali lagi memperhatikan jalanan sekitar, lalu masuk ke dalam kamar.
Menyambar sepatu olahraga terdekat, lalu memakainya cepat. Setengah berlari saat menuruni anak tangga, melewati keluarganya yang sedang bersantai di rumput taman.
Lalu membuka gerbang khusus untuk orang. Melihat ke sekitar lagi, sudahnya dia mulai berlari dengan kecepatan sedang.
Sepanjang lari dari rumah sampai taman kompleks, dia belum juga berjumpai orang itu. Mulai lelah karena berlari, Kahi mendudukan dirinya di kursi taman. Kursi yang terbuat dari besi, banyak berjajar di sekitar taman itu..
Tiba-tiba banyak rombongan ibu-ibu dan remaja putri kompleks melewati Kahi yang sedang duduk. "pak polisi gantengnya lagi olahraga loh jeng, ayo buruan. biar dapet tempat paling depan" "ayo jeng" obrolan dua ibu-ibu berhasil mencuri perhatian darinya, dia melihat arah kemana mereka semua pergi.
Musik senam aerobik terdengar jelas di telinga Kahi, sejak memutuskan untuk mengikuti ibu-ibu tadi. Lapangan futsal di taman kompleks sudah berubah jadi lautan ibu-ibu. Ia harus menyelinap dari macam betina yang merasa terancam tempatnya.
Di sinilah dia, dalam jarak 5 meter dengan pria itu. Ikut berbaris di tengah lautan sejenisnya. Seperti yang lain, hanya fokus pada instruktur senam aerobik yang berada di barisan paling depan. Tapi saat pria itu memutar tubuhnya, dia membeku di tempat. Bukan karena siapa orang itu, tapi karena tatapannya langsung dikunci oleh mata pria itu.
Usai senam, kahi berniat membeli air mineral di pinggir taman. Tapi sialnya, ia tak membawa uang sepeser pun. Ia memilih mendudukan dirinya di atas rumput hijau, di bawah pohon ringdang. Meluruskan kakinya yang mulai sakit, akibat terlalu bersemangat senam.
Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebotol air mineral dingin, persis di depan mata Kahi. "cepat ambil, tanganku mulai kram" menggoyangkan botol minum di depan Kahi, "eh, makasih" Kahi langsung menyambar botol itu. "jadi ada apa" Haki ikut mendudukan diri di atas rumput. Lalu menatap Kahi lekat, seolah takut hilang jika tak dilihat.
"terimakasih" katanya cepat. "untuk apa ya" Haki berpura-pura tak tahu. Yang malah mendapat tatapan tajam dari orang disebelahnya. "ah, jadi bukan kamu ya, kalau begitu aku permisi" dia bangkit hendak pergi dari sana, tapi sebuah tangan menghentikannya berdiri llu menariknya pelan sampai Kahi kembali terduduk.
Dua orang di bawah pohon ringdang itu, hanya diam tak ada yang memulai berbicara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri, terlebih Haki yang tak tahu kenapa menahan Kahi untuk tidak pergi. Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskanya pelan.
"sejak kapan jadi instruktur aerobik " pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulut mungil Kahi." hmm, sejak pindah ke daerah sini" jawabnya pelan. Kahi menatap lurus ke depan, melihat sekelompok anak sedang Bermain di lapangan bekas senam tadi.
__ADS_1
"aku cuma mau berterima kasih, Ki. Mungkin kalo kamu nggak muncul. Mereka pikir aku salah satu korban kecelakaan " Kahi menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya dari Haki yang sejak tadi menatapnya. Haki tersenyum tipis menanggapi omongannya, dia mengangkat wajahnya lalu memberanikan dirinys untuk balik menatap Haki.
" Kahi " panggilan seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua pada sosok yang tengah berdiri di depan Kahi." mas Gemma, kapan datang " Kahi bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang kekasih yang masih menunjukkan wajah tak sukanya pada Haki.
"udah dari tadi ya" kali ini dia sudah berhasil berdiri sejajar dengan Gemma, "ayo pulang" Kahi meringis merasakan tangannya sakit karena Gemma menariknya dengan kasar.
Saat mereka baru berjalan beberapa langkah, ada tangan lain yang mencengkram lengan Gemma kuat.
"lepaskan " Haki mengeraskan rahangnya dan menatap Gemma tajam." anda siapa ya, jangan ikut campur " Gemma membalas cengkraman tangannya dengan tangan miliknya yang bebas tak kalah kuat. Lalu menghempaskan tangan Haki kuat, mereka berdua melanjutkan berjalan menjauhi Haki.
"mas sakit" kali Kahi berhasil melepaskan lengannya dari tangan Gemma. Ia kembali meringis saat melihat pergelangan tangannya memerah. "mas mau apa datang ke sini" ujar Kahi marah, Gemma membeku di tempat pasalnya Kahi tak pernah menggunakan nada kesal padanya.
"aku khawatir, Hi. Kamu pergi setelah aku bilang untuk menunggu" ujar Gemma pelan, tapi tak berhasil mengembalikan perasaan dongkol Kahi.
"apa harus mas nyakitin aku" Gemma menatap lekat wanita di depannya, "aku sakit mas, traumaku kambuh. Tapi kamu bentak aku di sana" matanya mulai memanas. "aku nggak bentak kamu sayang" Gemma mencoba meraih tangan Kahi, tapi sayangnya Kahi berhasil menghindar.
Saat ini air mata sudah berhasil jatuh bebas di pipi putihnya. "aku khawatir sama kamu, tapi aku juga nggak bisa tinggalin pasienku. Ini tugasku sebagai dokter. Tapi waktu aku lihat kamu digendong orang lain, aku nggak bisa. Di sini sakit" Gemma mengarahkan tangan kanan Kahi di bagian dadanya,.
"ditambah lagi, barusan aku lihat kamu duduk di sana. Bareng orang yang sama. Dia menatap kamu penuh perasaan. Aku nggak suka sayang" Kahi tak bisa lagi mencegah air matanya, kedua pipinya sudah basah sejak tadi. Ia menarik nafas lalu menghembuskanya. Melangkah maju sampai wajahnya menempel di dada milik Gemma.
"maaf mas" ucapnya dengan suara parau. Lalu Gemma membalas Kahi dengan pelukan. Menatap wajah di bawahnya yang juga sedang menatapnya dengan wajah berlinang air mata. "sudah jangan nangis" buru-buru dia menyeka air mata yang masih keluar dari mata Kahi.
Pemandangan itu semua tak lepas dari manik mata mikik seseorang yang sedang berdiri jauh dari mereka berdua. Dia mengepalkan kedua tangannya erat, sampai ujung kukunya berwarna putih. Lalu dia berbalik dan pergi begitu saja.
__ADS_1