Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
40.


__ADS_3

Flashback


2 hari yang lalu


Siang itu Kahi sedang menikmati jus mangga favoritnya di ruang kerja. Siang itu entah kenapa lebih panas dari hari biasa. Untuk mengusir kebosanannya, dia bermain dengan ponselnya. Berselancar ke dunia maya. Untuk sekedar mencari informasi terkini, lalu membuka media sosialnya. Yang sudah lama dia tinggalkan.


Tok tok


"mba, maaf ganggu" Ika muncul dengan canggung. "ada apa, Ka" tanyanya dengan ramah. Ika nampak salah tingkah sebelum mengatakannya. Kahi yang menyadari itu, meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu melipat kedua tangannya di atas meja.


"kenapa, kamu mau ngomong apa" Ika menggaruk rambutnya yang tak gatal, yang semakin membuat Kahi mengernyitkan keningnya. "itu mba, ada pak dokter...


Sebelum Ika menyelesaikan kalimatnya, dirinya sudah berlari menuruni anak tangga. Lalu berhenti tepat di depan seorang lelaki yang mengenakan setelan jas berwarna hitam. Kahi mencoba mengatur nafasnya yang berantakan.


"hai bagaimana kabarmu" Gemma melambai ke arahnya dengan senyuman yang selalu menarik bagi Kahi. "mau apa kamu datang lagi" kahi berteriak di depan Gemma. "aku akan meluruskan masalah ini sebelum benar-benar pergi"


*


Kahi duduk dengan gusar di depan lelaki yang masih sedikit memiliki tempat di hatinya."apa yang harus diluruskan" ia memberanikan diri untuk bertanya. Sementara itu Gemma hanya tersenyum. Tapi kemudian senyum itu lenyap dengan cepat.


"aku memang akan pergi. tapi sebenarnya, aku ingin kamu ikut bersamaku" Kahi terdiam, tak bisa mencerna maksud dari ucapan Gemma. "Juan memaksaku untuk memilih, pergi atau tetap bersamamu. Maaf aku memilih tetap pergi, bukan karena aku tak mencintaimu. Aku tak ingin Juan membenciku dan juga kamu" jelas Gemma lagi.


"kenapa baru sekarang. Kenapa mas tidak memberitahukan ini padaku saat mas memilih pergi. Kupikir mas serius sama aku" Gemma tersentak, dia menggeleng kecil. "aku serius, tapi hubungan keluarga jauh lebih penting. Aku tidak bisa memperjuangkanmu, ini demi kebaikan kita semua"


"kalau begitu apa bedanya sekarang, setelah kamu meluruskan ini semua. Tidak memperbaiki keadaan bukan, justru sekarang kamu memperkeruh hubunganku dan kakakku" Kahi berdiri, tangannya terangkat mengarah pada pintu keluar kafe.


"silahkan anda keluar, saya harap jangan lagi anda muncul dihadapan saya. Permisi"


Gemma menghela nafasnya panjang, dengan perlahan dia bangun dari duduknya. Lalu beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya tadi, tanpa menoleh ke belakang lagi.

__ADS_1


Flashback off


Lia menepuk pelan punggung tangan Kahi, lalu menggenggamnya dengan lembut. "coba bicarakan dulu sama mas Juan ya. Mungkin mas Juan punya alasan lain"


"apa bisa, sejak ayah meninggal. Abang jadi lelaki yang keras kepala, susah merubah apa yang sudah keluar dari mulutnya"


"oh iya, kenapa setiap bareng aku mas jadi manja. Nggak ada tuh keras kepala" kilah Lia.


"abang takut ditinggal mba kali, makanya jadi lembek" canda Kahi sembari mengangkat kedua bahunya.


"hahaha, ya udah istirahat gih. Aku mau nengok abangmu" Lia beranjak menuju pintu kamar. Melambai sebentar lalu membuka pintu dan menutupnya.


Sementara Kahi membongkar isi tas, mencari barang yang diberikan oleh Ikal tadi. foto berukuran 4x6, yang dia selipkan sembarang di dalam tasnya. Dia melihat foto itu, foto dirinya semasa SMA. Dengan seorang lelaki yang memakai seragam sama sepertinya. Ikal bilang lelaki di dalam foto itu adalah Haki.


Dia akan menanyakan nanti pada Lia, jika benar mereka pernah menjalin hubungan. Pasti wanita itu tahu cerita mereka berdua. Kahi meletakkan lembar foto itu ke dalam laci nakas, lalu dia ke kamar mandi. Berniat membersihkan diri, agar menyegarkan pikirannya dari begitu banyak masalah.


**


Sarapan pagi yang biasanya ramai oleh obrolan juga tawa dari Juna. Sekarang hening, hanya terdengar suara denting sendok bertemu piring. Juan menghentikan acara makannya, melihat kedua wanita yang masih sibuk dengan sendok ditangannya.


"apa kalian mendiamkanku" kedua wanita itu melihat ke arahnya sekilas, lalu kembali melanjutkan makannya. "kalian benar-benar mendiamkanku, baiklah kalau begitu. Aku berangkat sekarang"


Tak sampai dua langkah Lia bangkit untuk mengantar kepergian sang suami. Sementara Kahi melanjutkan makannya, sesekali melihat ke arah ruang tamu. Memastikan sang kakak benar-benar pergi.


"kamu ada yang mau ditanyain ya, gih buruan ditanya. Mumpung mas Juan udah jalan" ujar Lia sembari kembali mendudukan dirinya di kursinya tadi.


Kahi meletakkan sendoknya di piring, tangannya merogoh saku di celananya. Kemudian mengangsurkan selembar foto dari sakunya ke depan Lia. "mba tahu nggak, itu foto siapa" tanya Kahi dengan serius.


Lia melihat foto itu sekilas lalu dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Kahi. Kepalanya mengangguk pelan, "tahu" jawabnya pelan.

__ADS_1


"jadi, cowok itu Haki kan" tebak Kahi. Yang justru membuat Lia menelan salivanya keras. "apa dulu kami sedekat itu, atau memang benar yang dibilang Haki. Dulu aku sama Haki pacaran"


Lia semakin tersudut karena pertanyaan darinya, sedangkan dirinya semakin yakin tentang kebenaran yang coba disembunyikan Lia.


"eh, sebenarnya iya. Dulu, waktu kita masih SMA" kata Lia tergagap. Kahi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sedang matanya tak henti melihat sang kakak ipar.


"bisa ceritakan, versi lengkapnya" Lia jadi semakin salah tingkah, dia benar-benar bingung. Haruskah dia menceritakan kisah mereka berdua. Atau membuat cerita baru, dia buru-buru menggeleng.


"kenapa, mba nggak tahu ceritanya. Atau harus kita bicarakan ini antar sahabat. Bukan lagi adik kakak ipar" Lia membelalakan kedua matanya kaget.


"apa maksudnya, Hi" tanya Lia dengan nada bergetar. "bukannya kamu sahabatku, bisakan. Memberitahukan aku tentang semua ini" Kahi menghela nafasnya lelah.


"aku kehilangan ingatan tentang seseorang, seseorang yang sangat mencintaiku. Dan sekarang aku juga merasakan hal yang sama. Mencintainya, tapi tak bisa mengingat seperti apa masalalu kami. Hanya tentang perlakuan kasar darinya yang aku tahu. Semua terasa aneh buatku, jika memang yang dia lakukan padaku itu benar. Tapi kenapa aku tak merasa terluka, justru. Justru karena dia melepasku sekarang. Aku terluka" bahu Kahi bergetar, kedua matanya tak lagi bisa menahan air matanya.


Lia menggenggam tangannya di atas meja, menyalurkan kehangatan untuk dirinya. Kahi menunduk, menyembunyikan perasaannya yang sangat hancur.


"aku akan menceritakan semuanya, tapi. Berjanjilah untuk terus bahagia" Kahi mengangkat wajahnya, untuk melihat wajah penuh keseriusan Lia. Dia menarik dua sudut di bibirnya, lalu mengangguk dengan cepat. Menyetujui untuk terus hidup bahagia.


**


Kahi sedang berlari mengejar mobil di depannya, mobil jenis mini bus itu melaju dengan kecepatan kencang. Setelah sampai di kantor Haki, dia mendapat kenyataan jika lelaki itu sudah dipecat secara tidak terhormat. Meski akhirnya Juan mengalah, mencabut tuntutannya. Tapi lelaki itu enggan menemuinya.


"Haki, tolong berhenti... " entah sudah berapa kali dia berteriak, tapi tak menghentikan mobil itu. Yang justru semakin menambah kecepatan. Kahi menghentikan larinya, karena tersandung kakinya sendiri. Yang membuatnya terjatuh begitu saja di jalanan.


"Haki, aku mencintaimu. Bisakah kamu tetap bersamaku" katanya frustrasi ditengah tangisnya.


Mungkin langit sedang bersedih, menyaksikan kisah cintanya yang sangat menyedihkan. Hujan deras tiba-tiba turun, membuatnya tak bisa lagi menghindar. Air hujan mengepungnya, sejauh mata memandang hanya kumpulan air. Yang membentuk seperti tirai putih.


Kahi masih menangis, saat tiba-tiba sebuah mobil yang tadi dia kejar berhenti. Tepat di jarak yang tak jauh darinya, samar dia bisa melihat seseorang turun dari mobil. Lalu berjalan pelan ke arahnya.

__ADS_1


Haki menekuk lututnya, sedangkan kedua tangannya terangkat. Untuk menyentuh bahu Kahi yang sudah badah kuyup. Dia menarik pelan tubuh kecil yang bergetar itu, hingga kepala Kahi jatuh tepat berada di dadanya.


Tangis Kahi kembali pecah, tangannya mencengkram erat kemeja yang dipakai Haki. Sementara lelaki itu mengecup pucuk kepalanya lama. Tangannya pun tak ingin melepas pelukannya.


__ADS_2