
Gemma masih terjaga, untuk memastikan tangan Kahi tak menyerang kepalanya lagi. Satu alasan lainnya, karena wanita yang ada dalam pelukkannya ini. Tertidur dengan nyaman, seperti bayi yang menyukai pelukan dari ibunya.
Tangan kirinya menepuk pelan lengan Kahi. Agar wanita yang dicintai olehnya semakin terlelap.
"ada apa, sayang. Kenapa belum tidur " dia bertanya saat mendapati mata milik Kahi terbuka."aku cuma mau pastiin, kalau mas masih di sini" ujar Kahi. Hati Gemma sedikit tercubit, dengan perasaan bahagia. Ia mengecup kepala yang tertutup kain perban itu.
"malam ini aku ada di sini, untuk kamu" Gemma menangkup wajah Kahi dengan tangan kirinya. Kahi menempelkan tangan kanannya di atas punggung tangan Gemma. Merasakan kehangatan dari tangan pria yang mencintainya.
Ia mendongak memandang wajah pria yang juga sedang menatapnya penuh cinta. "gombal, kata-kata kamu sama kaya abangku" katanya cemberut. "hah, apa Juan suka merayu. Wah ini berita besar" ujar Gemma sambil tersenyum. Dia mendapatkan cubitan kecil di bagian perutnya oleh Kahi. "aduh, sakit. Yang" ujarnya bercanda. "jangan kasih tahu abang, kalau aku yang bilang ya" Kahi kembali mendongak untuk melihat wajah tampan pria itu.
"ah, sepertinya itu ide bagus. Apa Juan akan marah nanti" Gemma menyeringai, mengangkat dua alisnya bersamaan. "jangan ya" Kahi merengek seperti anak kecil pada Gemma. Yang langsung membuat pria itu membeku. Merasakan perasaan bahagia, saat melihat wajah menggemaskan kekasihnya.
"boleh aku menciummu" kata Gemma pelan. Jantungnya berdetak sangatlah kencang. "hah apa" Kahi terkejut bukan main. Diapun berusaha mengatur detak jantungnya agar tidak terdengar oleh Gemma. Dia menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Tapi kemudian kepalanya reflek mengangguk sekali. Seperti memberikan lampu hijau pada Gemma.
Dengan gugup pria itu, meraih dagu Kahi. Mengangkatnya sedikit agar wajah wanitanya bisa dia lihat. Kahi sendiri sangat panik, bukan karena takut. Tapi dia menyadari sesuatu, dirinya bahkan belum mandi seharian ini. Atau mungkin selama dia di rawat.
Gemma mendekatkan wajahnya, membuat Kahi dengan gugup menutup wajahnya. Sebelum itu semua terjadi. Pintu ruangan perawatan sudah terlebih dulu dibuka oleh seseorang.
"wah, kau pikir ini kamar pribadi kalian " seorang dokter jaga mengejutkan mereka berdua."Fai, kau kan bisa mengetuk pintu dulu" kilah Gemma sembari menurunkan tangannya. Dia berusaha untuk bangun dari posisinya sekarang.
Tapi kedua tangan Kahi meremas kemeja yang dia pakai. "tidak perlu turun, aku hanya sebentar. Kalian bisa melanjutkannya lagi" ujar dokter bernama Fai itu.
Kahi menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Gemma. Sejak kedatangan Fai, yang memergoki dirinya dan Gemma. Dia benar-benar malu. "sayang, si brengsek itu sudah pergi" Gemma menepuk punggungnya. Tapi kahi tak kunjung mengangkat kepalanya.
"ada apa, apa kau malu karena ada orang lain yang melihat" tanya Gemma lembut. Kahi mendongak menunjukkan wajah malunya pada Gemma.
Gemma tersenyum padanya, "haruskah kita meneruskan yang tadi" katanya bercanda. Satu pukulan mendarat di dadanya sebagai jawaban. Gemma tertawa pelan, lalu dengan sebelah tangan dia mengangkat dagu Kahi.
Dengan cepat dia menempelkan bibirnya di atas bibir pucat milik Kahi. Hanya sebentar tapi mampu membuat dua orang itu, menyembunyikan semburat merah di pipi mereka. Gemma merapatkan pelukkannya, memberikan kehangatan pada wanitanya.
"tidurlah, aku akan menjagamu" kata Gemma pelan. Kahi mengangguk di dalam pelukan Gemma. Mereka berdua sama-sama memejamkan kedua mata. Siap berperang dengan batin mereka sendiri. Atau siap dengan mimpi-mimpi indah mereka. Yang jelas detak jantung Gemma sangat jelas terdengar oleh Kahi. Seakan memberitahu jika bukan hanya dia yang merasakan perasaan ini.
*
__ADS_1
Menjelang pagi, Gemma terbangun karena keringat yang membasahi seluruh tubuh Kahi. Dia mengelap keringat dingin di kening kekasihnya, yang sepertinya sedang bermimpi buruk. Wajah damai Kahi berubah gelisah. Tiba-tiba Kahi tersentak, terbangun dari tidurnya.
"mas" panggilnya lirih. "kamu cuma mimpi sayang, aku di sini. Ayo tidur lagi" Gemma mengeratkan pelukkannya. Sampai Kahi kembali tertidur. Setelah Kahi terlelap, dengan perlahan Gemma melepas pelukannya. Sekarang dia membutuhkan air dingin, untuk meredam panas di seluruh tubuhnya.
Berjalan pelan ke arah kamar mandi, lalu masuk dan menutup pintu tanpa suara. "aku harus cepat-cepat menikahinya. Sebelum aku mati membeku karena air dingin" katanya pada dirinya sendiri.
**
"nanti siang, aku ke sini. Jangan khawatir ya. Juan juga ada kok" kata Gemma, saat akan keluar dari kamar rawat Kahi. Dia mengangguk lemas, dia bukan tak suka Gemma pergi bekerja. Tapi lebih tak suka pada sang abang, yang pasti akan menggunakan waktu menjaga dirinya untuk tidur. Seperti saat ini. Pria satu anak itu sudah terlelap di ranjang khusus.
Dia menghela nafas memandang lelaki yang dua tahun lebih tua darinya itu. "abang bahkan tidur, mas. Aku akan mati bosan di sini" ujar Kahi murung. Gemma menarik dua sudut di bibirnya. Membentuk senyuman yang manis bagi siapapun yang melihatnya.
"nanti sehabis minum obat, kamu juga akan tidur. Jadi sekarang minum obat dulu ya" Gemma mengangsurkan beberapa obat di tempat khusus. Tak lama semua obat sudah ditelan olehnya.
"tidur ya, aku harus pergi sekarang " Gemma bangkit dari duduknya. Menyambar tas slempang miliknya. "sampai ketemu nanti siang" Gemma melambai di ambang pintu. Dia membalas lambaian tangan kekasihnya. Kemudian memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tiba-tiba saja datang.
*
"Gemma" Gemma berhenti berjalan, saat seseorang memanggilnya. Dia yang baru selesai melakukan prosedur penyelamatan di ruang operasi, masih memakai setelan lengkap. Seragam berwarna hijau yang semakin membuat dirinya terlihat tampan.
"maaf, tapi aku tidak bisa" dia berbalik meninggalkan Nilam yang sedang kesal karena penolakan darinya. "tunggu dulu, hanya sebentar saja. Kebetulan mamaku bikin bekal banyak buatmu juga" Nilam menyusul langkah Gemma. Lalu menghadangnya dengan mengangkat kotak bekal itu tinggi.
"maaf Nilam, kekasihku sedang menunggu sekarang. Kau bisa mengajak orang lain" ujar Gemma datar. Pria itu melanjutkan langkahnya meninggalkan Nilam yang sedang kesal. Dia mengeratkan pegangannya pada kotak bekal miliknya. Kemudian berbalik lalu pergi menjauh dengan perasaan yang hancur. Mendapat penolakan dari pria yang dicintai olehnya, membuat Nilam marah juga sedih secara bersamaan.
Dia terus berjalan, tak peduli dengan tatapan ingin tahu dari orang yang melihatnya. Terus berjalan menyusuri koridor di lantai satu sampai menembus ke taman yang luas di bagian luar rumah sakit.
Nilam mendaratkan tubuhnya pada kursi besi yang terletak di taman itu. Meletakkan kotak bekal di sebelahnya. Lalu menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sudah sangat berair. Bahunya bergerak naik turun. Dia sedang menangisi kisah cintanya. Selama ini dia sudah berjuang untuk mendapatkan Gemma. Tapi dokter ahli bedah itu tidak pernah melihatnya meski sebentar.
Cukup lama Nilam menangisi kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Sampai tiba-tiba seseorang menyodorkan sapu tangan padanya. Dia mengangkat kepalanya menatap seseorang yang sedang berdiri di depannya.
**
Gemma mebuka pintu ruang perawatan Kahi pelan, lalu melihat ke dalam. Dalam ruangan itu sudah ada Lia yang sedang menyuapi Kahi. Sementara Juan sedang menyantap makan siang di sofa.
__ADS_1
"Ma, ayo makan dulu. Lia bawa banyak makanan buat kita" Juan berbicara dengan mulut penuh oleh makanan. "siap. Gue lihat Kahi dulu" dia mengacungkan ibu jarinya ke arah Juan.
"hai... " Gemma mengelus pipi Kahi yang mengembung, terisi oleh bubur yang sedang dia makan. Kahi hanya membalasnya dengan senyuman aneh karena mulut yang masih penuh oleh makanan.
"biar aku saja" Gemma mengambil alih sendok dari Lia. "silahkan" Lia berbalik ke arah tempat sang suami yang sedang menyantap masakan buatannya.
"kamu tidak bekerja " kata Kahi pelan.
"bekerja, sekarang kan jam makan siang" jelas Gemma. Dia kembali menyuapi bubur ke mulut Kahi. Mengelap sisa bubur di sudut bibir Kahi, lalu membantu kekasihnya minum dengan memegangi gelasnya.
Tok tok tok
"sepertinya mereka sudah datang" Juan meletakkan sendoknya di atas piring. Lalu
Berjalan cepat untuk membuka pintu. Sementara tiga orang dewasa lainnya, sedang memandang satu sama lain. Berharap ada yang tahu siapa yang berdiri di luar pintu. Tapi Lia mengedikkan bahunya, memberitahu jika dia pun tidak tahu.
Ceklek
"silahkan masuk bapak-bapak" Juan mempersilahkan beberapa orang masuk ke dalam ruang rawat Kahi. Dari banyaknya orang yang datang hanya satu orang yang Kahi kenal. Orang itu juga yang menghapiri tempat tidurnyanya.
"om Edo" senyum merekah di wajahnya saat menyadari pria paruhbaya itu pengacara keluarganya. "maaf ya om baru bisa jenguk kamu, om baru dapat kabar dari abangmu kemarin. Emang keterlaluan si Juan, adiknya masuk rumah sakit malah nggak ngasih tahu om" kata Edo menjelaskan.
Kahi semakin tersenyum lebar, "aku ngerti kok om, makasih sudah menjengukku" ujarnya senang. "ah kamu habiskan dulu makananmu. Kami akan menunggumu"
"dia sudah selesai makan pak. Anda bisa melanjutkan obrolan kalian" Gemma mencegah Edo agar tak pergi dari tempatnya. "benarkah" tanya Edo pada dua orang di hadapannya. "hmm om bisa bicara sekarang" kata Kahi cepat.
"kalau begitu aku keluar sekarang saja" sekarang giliran Gemma yang hendak meninggalkan dua orang befa generasi itu untuk berbincang. Tapi belum juga dia beranjak dari tempatnya, tangan kanan Kahi sudah mencengkram lengan Gemma.
"mas tetap di sini" Gemma melihat wajah penuh harap di wajah Kahi. Lalu dia melempar pandangannya pada pria paruhbaya di seberangnya. "tentu, anda bisa tetap di sini" Edo menarik sudut di bibirnya, tersenyum pada dua orang di depannya.
"jadi apa yang om Edo mau sampaikan " Kahi langsung bertanya pada pengacara tanpa menunggu persetujuan dari Gemma untuk tetap di situ."sebenarnya yang akan menyampaikan laporan penyelidikan bukan om. Tapi langsung dari kepolisian. Tunggu sebentar ya, kebetulan orangnya sedang menerima telepon tadi " jelas Edo.
Usai Edo berbicara, seseorang masuk lagi ke dalam ruangan itu. Dia pria berseragam polisi, seperti satu orang lain yang masuk bersama Edo. Kahi tak mengenal orang itu, tapi dirinya seperti tidak asing drngan wajah itu.
__ADS_1
"nah itu dia, enam hari yang lalu kalian pernah bertemu. Dia polisi yang bertugas menyelidiki kasus ini" kahi mengangguk sopan pada pria yang masih berdiri membeku di tempatnya tadi.