
Bip bip bip
Alarm di ponselnya sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu, tapi pria yang sedang terbaring di atas kasur berukuran besar itu belum juga terbangun. Suara alarm yang semakin sering akhirnya berhasil membangunkannya. Tangannya meraba ranjang di sebelahnya. Kosong, tak berpenghuni.
Lalu dia bangkit dari tidurnya, mematikan alarm di ponselnya. Kemudian melangkah ke arah jendela, menyibakkan tirai besar yang menutup seluruh jendela. Ia memejamkan matanya menikmati sinar matahari yang sedang menyapanya.
Sekilas kejadian semalam sampai pagi dini hari muncul kembali. Ia meraba sudut bibirnya, masih nyeri. Tapi juga berhasil membuatnya mengingat ciuman antara dirinya dan Kahi.
Ia tertawa pelan, setidaknya usaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Kahi ada peningkatan. Dia berbalik menuju kamar mandi, bersiap untuk berangkat bekerja.
*
"iya, aku udah sarapan. Hm... "
"mau aku jemput berangkatnya"
"nggak usah, nanti siang biar aku di anter pak Urip"
"benar nggak apa-apa, maaf ya"
"iya, sudah dulu ya. Sampai ketemu nanti"
Tuutt tuuut
Kahi memandang layar persegi di depannya, ia usai menerima panggilan dari Gemma. Lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya, memandang ke luar jendela. Langit pagi yang cerah, tapi hatinya bahkan berkabut.
Dia tak tahu bagaimana cara mengakhiri hubungannya dengan Gemma. Semalam setelah adegan ciumannya dan Haki. Ia yakin hatinya memang masih pada orang yang sama. Tapi bukan berarti ia menerima Haki kembali, justru logikanya yang bekerja sekarang.
*
"selamat siang" ia menyapa pengunjung kafe yang baru datang, kafe di siang hari pasti ramai. Jadilah dia bertugas di meja pemesanan.
"ditunggu pesanannya ya, terima kasih " Kahi menyerahkan bukti pembayaran pada pengunjung di seberang meja pemesanan. Dia kembali di sibukan dengan membantu karyawannya, menerima daftar pesanan dari para pengunjung.
"permisi, apa pemilik kafe ini ada" dua pria memakai setelan jas menghampiri Kahi di meja pemesanan. "iya, saya pemilik dari kafe ini, pak. Ada yang bisa saya bantu"
"kami pengacara dari pemilik tanah dan bangunan ini sebelumnya, menurut klien kami. Mereka tidak pernah menjual tanah dan bangunan ini pada siapapun. Termasuk anda" jelas salah seorang yang berdiri paling depan.
Kahi sedikit bingung, pasalnya ia membeli bangunan dan tanah ini sudah lama. Kenapa baru ada masalah seperti ini sekarang, setelah kafenya sudah berjalan bertahun-tahun.
"kita bicara di ruangan saya pak" Dia memimpin jalan ke lantai tiga, di ikuti dua orang pria tadi di belakangnya. Beberapa pengunjung yang mendengar pembicaraan pria tadi, ikut bergunjing dengan yang lain.
Berita tentang pria yang menggugat Kahi, tentang surat jual beli tanah kafe tersebar luas. Mereka menyayangkan hal itu terjadi pada kafe.
__ADS_1
**
"ada apa" pertanyaan dari Juan tak direspon oleh kahi, ia sedang sibuk membongkar brangkas milik juan. Mencari keberadaan bukti jual beli dan sertifikat tanah kafe.
"abang, simpan di mana sertifikat tanah kafe" tanyanya sedang tangan dan matanya tak berhenti dari tumpukan surat di depannya.
"kan kamu yang simpan, abang bahkan cuma lihat dua kali" ujar Juan di belakangnya. "tapi aku nggak simpan, bang. Semua surat penting pasti abang yang simpan" ia masih membaca satu persatu lembaran di pangkuannya.
"tunggu dulu, bukannya dulu kamu bilang. Mereka mau salin bukti pembayaran sebagai bukti jual beli. Ingatkan" dia berhenti membaca, lalu meletakkan map itu sembarang. Ia kemudian bangkit, berlari keluar dari kamar Juan. Lalu masuk ke dalam kamarnya, membuka laci laci di meja kerja.
"akhirnya, kamu ketemu" dia mencium map berwarna navy itu, mendekapnya erat di dadanya. "gimana ketemu nggak" tanya Juan yang baru datang. Ia mengangguk semangat diiringi senyuman di bibirnya.
"kamu mau ke mana" Juan berteriak saat sang adik berlari melewati tempatnya berdiri. "om Edo, bang" teriak Kahi.
"tungguin, abang ikut dek" Juan berlari di belakangnya yang hendak masuk ke mobil, "buruan, nggak ada waktu bang" ujarnya sambil duduk di kursi penumpang.
***
Kahi terduduk diam di kursi belakang, usahanya bertemu notaris kenalan pengacara keluarganya. Justru membuatnya marah dan juga merasa paling bodoh. Ia yang sebelumnya yakin, sekarang malah tak bersemangat lagi.
Dia masih mengingat ucapan notaris tadi, bahkan sang abang sampai harus mengulangi pertanyaannya. Yang hasilnya memang sama. Sertifikat dan akta jual beli tanah kafe miliknya semuanya palsu.
"sudah nggak usah sedih, om Edo kan mau bantu buat lapor balik ke polisi. Di sini yang ditipukan kamu bukannya mereka. Jadi tenang saja" ujar Juan menenangkan. Tapi tak ada satupun kata-kata Juan dapat ia dengar. Dia terlalu takut itu semua terjadi, bagaimana nasib karyawannya nanti jika dia ternyata kalah.
"mau abang tanyain dulu" tanya Juan sembari melirik ke samping, tempat duduk sang adik. "nggak usah, nanti aku tanya sendiri" dia masih memandang keluar jendela, otaknya sedang penuh oleh banyak pertanyaan.
"kamu mau balik ke kafe atau ke rumah " Juan membelai surai adiknya, adik yang sejak kecil tak pernah lepas darinya."ke kafe, anak-anak udah nungguin. Bang" ujarnya pelan.
"pak Urip, ke kafe dulu ya" perintah Juan pada supir yang sudah bekerja sejak mereka kecil. "baik mas"
*
Kafe sore ini sepi, memang sengaja ditutup. Sejak makan siang berakhir. Semua karyawan berkumpul di lantai satu, menyusun Meja-meja menjadi lebih panjang. Sedangkan mereka duduk mengelilingi meja. Mereka sama-sama tak tahu apa sebab bos mereka meminta tutup lebih awal. Hanya berita angin yang mereka dengar, itu pun belum ada konfirmasi dari bos mereka.
"mba Kahi" Ika yang pertama melihat dia turun dari mobil, disusul teman-temannya ikut melihat ke arah pintu masuk. Ria maju menyambut Kedatangannya, memeluk sahabat dan juga bos nya itu. Kahi membalas pelukan dari Ria.
"sorry buat teman-teman semua, untuk sementara sampai penyelidikan ini berakhir. Kalian tidak perlu bekerja dulu" jelasnya.
"kenapa mba, ada apa sebenarnya " sela karyawannya, dia memandang pada wajah wajah ingin tahu. Tapi saat ini dia tak mau membawa orang lain dalam urusan ini.
"gaji bulan ini akan di transfer penuh, kalau bulan depan kalian belum bisa kembali bekerja di sini. Saya akan membayar uang pesangon kalian. Jadi kalau ada yang mau cari kerja di tempat lain, silahkan " usai mengatakannya dia menaiki anak tangga menuju lantai tiga, ruangan kerjanya.
Lelah sudah pasti, tapi dia tak boleh menyerah sekarang. Masa depan kafenya ada di tangannya, dia sudah pernah kehilangan mimpinya dulu. Satu-satunya yang tersisa dari mimpinya hanyalah kafe ini.
__ADS_1
*Drrrrtt Drrrrtt
"halo*"
"ya om Edo"
"Hi, bisa datang ke kantor polisi di daerah xx. Om tunggu di sini"
"bisa om, aku langsung ke sana" dia berbalik menuruni anak tangga. Lalu melewati karyawannya yang juga sedang keluar dari pintu kafe. Dia melihat kesekeliling, tak ada mobil taksi atau ojek di sekitar nya. Hampir saja dia berlari untuk mencari taksi di dekat jalan besar. Tapi suara karyawan di bagian pengiriman menghentikan dia.
"mba ayo naik" pria itu mengangsurkan helm di depan Kahi, tanpa menunggu lama ia menerimanya. Memasang helm di kepalanya, lalu menaiki motor matik sejuta umat milik Didi.
Di belakang mereka, para karyawan dan sahabatnya sedang tersenyum. Mereka tak akan membiarkan bos mereka susah sendirian. Biarlah kalau wanita keras kepala itu menolak bantuan mereka. Setidaknya mereka akan tetap mendukung di belakangnya.
*
Motor metik sejuta umat, membelah kemacetan di jalanan protokol. Di belakang Kahi berpegangan pada jaket milik Didi yang berterbangan. Melambai-lambai, karena tak dikancingkan. Sedangkan Didi terlihat meliuk-liukkan badannya mengikuti alur gerakan motor miliknya.
"Di, kantor polisi xx. Awas kelewatan " Dia harus berteriak agar Didi mendengarnya. Sudah biasa Didi berada di jalanan mengendarai motor sejuta umatnya. Tapi sudah biasa juga, Didi tak mendengar panggilan telepon. Alasannya, pakai helm jadi tak mendengar.
" udah keliatan mba, bentaran nyampe" suara Didi tak kalah keras dari suara motor berkenalpot besar. Menggelegar.
"saya dengar, Di" katanya menimpali suara motor besar di sampingnya.
Ciiiiiittt
Motor itu mengerem dadakan, bahkan Didi menggunakan rem depan. Yang mengakibatkan dia dan Didi hampir terjungkal ke depan, kalau saja dia tak memegang pegangan besi di bagian dudukan belakang.
"Di, saya belum mau mati loh" ujarnya saat menyerahkan helm yang tadi ia pakai pada Didi. "saya juga mba" balas Didi. "juga apa Di" katanya cepat.
"belum pengen mati mba" ujar Didi sambil tersenyum lebar. Tas selempang miliknya mendarat sempurna di kepala Didi. Untungnya pria kurus itu masih mengenakan helm.
"makasih ya, kamu balik aja. Nanti saya naik taksi. Nih" katanya sembari menyerahkan lembaran uang. "makasih mba, tapi saya ikhlas kok" wajah polos Didi bahkan berhasil membuat Kahi tak bisa menahan tawa.
"ambil, saya masuk dulu" dia pergi begitu saja, setelah meletakkan uang tadi di tangan Didi.
Dari jauh dia bisa melihat pengacara keluarganya, sedang berbincang dengan salah seorang polisi. Tapi sayangnya wajah polisi itu tak terlihat karena dia membelakangi dirinya.
"om Edo" panggilnya, dua orang yang sedang berbincang itu kompak menoleh ke arahnya.
"sini, Hi" pria paruhbaya yang dipanggil Edo itu Melambai, memintanya untuk mendekat.
Tapi sekarang dia seperti tak bisa bergerak, tatapan tajam pria di sebelah Edo berhasil membuatnya beku.
__ADS_1
Oh Tuhan, aku lupa dia bekerja di sini.