Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
8.


__ADS_3

Sejak sampai rumah, Kahi langsung keluar dari mobil melarikan diri. Satu yang dia sesali, mulut abangnya itu benar-benar memalukan. Kahi yang adiknya sendiri bahkan dijelek-jelekan di depan mantan adiknya sendiri.


Aaiiisssh Malunya aku, kahi


Kahi naik tangga setengah berlari, dia ingin cepat-cepat mencuci mukanya agar menghilangkan rasa panas di pipinya. Malunya sudah di tingkatan teratas saat ini, disusul Juan yang turun dari mobil sembari berterima kasih pada Haki. Sempat menawari untuk mampir sejenak tapi Haki menolak dengan halus beralasan akan lanjut berpatroli.


"mas,... "


"astaga" Juan sampai mundur karena terkejut saat menyadari Lia sudah berdiri di sampingnya.


"naik mobil siapa? Mobil kita mana? "


" loh kok malah gk di jawab, mas"


"nebeng sama Haki, kebetulan tadi aku ditilang sama rekannya Haki. Eh kebetulan banget Haki juga mau patroli, jadi ya nebeng sampe Rs. Gk taunya dia juga nawarin buat nganter pulang. Kan lumayan" begitu jelas Juan saat Lia sekali lagi mendesaknya.


"Haki, dia Polisi?" tanya Lia lagi sembari mengangsurkan teh untuk Juan. Kini mereka sedang berada di meja makan.


"iya, sudah bintang berapa gitu, lupa" jawab Juan.


"oooh"


***


Seminggu sejak kejadian alergi udang itu, Kahi sudah kembali bekerja lagi. Tentunya terbebas dari bayangan seseorang dari masalalu yang terus saja mengganggu hidupnya. Bukannya dia sudah jelas melarang pria itu untuk datang lagi, tapi mengapa pria itu dengan mudah berada di sekitar kahi dalam satu minggu yang lalu.


Hari ini, kafe tidak seramai biasanya karena cuaca diawal tahun masih sering turun hujan. Menyebabkan sebagian pelanggan kafe lebih memilih untuk berada di rumah setelah pulang bekerja.


Jadi untuk mengusir kejenuhan karena pekerjaanya juga sudah selesai sejak sejam yang lalu, Kahi memutuskan membuat menu baru untuk kafe miliknya. Di bantu oleh Chef Pastry bernama Ria, mereka berdua di sibukan dengan membuat menu baru yang pastinya tak ada di kafe lainnya.


"Gimana, ini yang paling oke kalo menurut aku" ujar Ria sang chef pastry.


"iya nih, enak. Rasa manis juga gk bikin eneg" jawab Kahi saat mencicipi desert buatan Ria untuk kesekian kali.


"kita promosiin pas weekend, pasti akan boom" Ria memperagakan gerakan Bom meledak.


"setuju, biar aku minta Yoga bikin design promosi cake nya, oh iya. Kudengar kau akan menikah bulan depan, apa itu benar? "


Ria mengangguk antusias, bahkan diiringi senyum merekah di bibirnya.


"bukannya kamu tidak sedang dalam hubungan dengan siapa pun ya, apa aku tertinggal berita penting" tanya kahi lagi,


Ria berpindah posisi menjadi duduk di kursi bar. Senyuman masih terlihat di wajahnya, pipinya sedikit merona tapi binar matanya menunjukkan kalau pernikahan inilah yang ia mau dari segala hubungan. Maka tanpa melepas senyum di bibirnya dia memberitahu Kahi siapa pria beruntung itu.


"namanya Irham, dia sekarang bekerja sebagai guru di SMA kami dulu. Kita sama-sama satu angkatan dulu, tapi bahkan sampai lulus sekolah aku nggak kenal sama dia."

__ADS_1


Ria menjeda sejenak, dia menatap kahi yang berdiri di seberangnya.


"dia ngelamar aku bulan lalu, Hi. Dia bilang jatuh cinta pada pandangan pertama sama aku. Tapi dulu dia gk berani ngomong karena aku udah punya pacar. Tapi terakhir dia ketemu aku, dia langsung ngelamar aku."


"tunggu, bukannya itu terlalu cepat. Kamu bahkan baru 26 tahun"


"diusiaku sekarang aku sudah harus menikah, Hi. Ibuku selalu menyuruhku untuk cepat-cepat menikah. Setidaknya aku akan segera terbebas dari pertanyaan itu"


"ah... Jadi itu juga alasan kenapa Lia selalu bertanya mana pacarku, bahkan tanteku juga menanyakan hal itu juga"


"bukan itu juga sih, aku cuma mau anakku tidak menganggap aku neneknya karena melahirkan dia saat usiaku sudah tua" canda Ria diiringi gelak tawa mereka berdua.


"jadi kau kapan akan menikah? " tanya Ria saat menghentikan tawa nya.


"yaaaa, jangan jadi seperti tanteku dong . Kau bahkan lebih muda dariku, kau bahkan tidak memanggilku kakak."


"tapi kau bahkan lebih mirip anak kecilkan" sergah Ria


"ha ha ha" keduanya tertawa bersama yang mengundang rasa penasaran dari beberapa orang yang berada di bagian pantry.


* *


Hujan masih setia mengguyur tanah di akhir pekan di ujung bulan Januari, tapi kali ini suasana kafe sedang ramai karena ada menu baru dengan harga spesial. Sudah sejak siang hari antrian masih memenuhi selasar kafe, bahkan ojek online mengantri panjang untuk membeli pesanan para pelanggan yang tak sempat datang. Untungnya chef pastry dan asisten sudah membuat lebih dari cukup untuk stok sampai sore hari. Jadi hanya para pelayan yang nampak kewalahan melayani para pelanggan.


"maaf ya aku terlambat, kalian sudah makan siang? " tanya kahi yang langsung mengambil posisi di balik meja pemesanan.


" kalau begitu biar aku urus di sini, kau makan sianglah dulu. Nanti gantian dengan yang lain ya"


"iya mba, kalau begitu saya makan dulu mba" pamit pelayan yang sejak datang langsung berdiri di meja pemesanan bernama Ika.


"ya pergilah, "


"silahkan pesanannya" ujar Kahi pada pelanggan di seberang meja pemesanan.


Cukup lama Kahi berdiri di sana, sampai menjelang malam dia masih berada di bagian pemesanan. Hingga kedatangan seseorang yang tak di harapkan mengejutkan nya.


"silahkan, mau pesan apa kak? "


"bisakah kau istirahat" ujar pria itu,


Kahi mengerjapkan matanya mencoba mengenali pria itu, terakhir mereka bertemu saat dirinya sedang terkena alergi udang.


"eh, mas Gemma "


" yup, bisakah kau istirahat sebentar "

__ADS_1


" ya, tunggulah sebentar. Ika, ka tolong gantiin dulu ya" perintah Kahi pada pelayan yang tadi ia gantikan.


*


"cobalah, " Kahi meletakkan cake ke depan Gemma yang sedang memperhatikannya sedari tadi.


" sepertinya enak" Gemma menyuapkan sepotong cake ke mulutnya. Sedikit mengernyitkan keningnya saat merasakan manis yang beda dari kebanyakan cake.


"bukankah ini luar biasa, manis nya pas aku suka" ujar Gemma yang menyuapkan cake untuk ke tiga kalinya.


"terimakasih,"


Senyuman Kahi seketika membuat Gemma terpukau, perlahan dia mengembalikan sendok yang sedang di genggamnya. Menatap seseorang yang memiliki kadar manis yang sesungguhnya.


Manisnya, kurasa aku akan terserang diabetes kalau terlalu sering melihat senyummu, Hi. Gemma


"mas, sorry ada apa ya? " kahi seketika mengembalikan Gemma ke dunia nyata.


" ehem, aku tadinya mau mengajakmu keluar. Tapi Juan bilang kamu di kafe, jadi ya di sinilah aku sekarang" jelas Gemma


"ah begitu ya, tapi maaf mas. Aku tidak bisa pergi. Karyawanku membutuhkan bantuanku sekarang"


"iya aku tahu, jadi beri aku 30 menit. Kau juga bisa beristirahat sebentar"


"boleh juga, hahaha" mereka berdua tertawa bersama.


Setelah Gemma pamit untuk pulang, sekarang Kahi menggantikan salah seorang karyawannya menjadi pelayan. Ramainya pengunjung membuat kursi-kursi tambahan di setiap meja, yang akhirnya menyulitkan kahi melewati setiap meja.


Brakk


Karena tak berhati-hati Kahi menjatuhkan nampan berisi minuman ke salah seorang pengunjung.


"hei, Punya mata nggak sih" teriak seorang pengunjung perempuan yang terkena tumpahan minuman.


"maaf kak, saya tidak berhati-hati tadi... "ujar Kahi tulus meminta maaf.


"tahu tidak, pakaian ini bahkan lebih mahal dari baju yang kamu pakai." perempuan itu mulai menunjuk Kahi dengan emosi.


"maafkan saya, saya pasti akan menggantinya"


"halah, bahkan gaji kamu nggak akan bisa beli baju yang sama persis kaya ini." perempuan itu meraih gelas minuman di mejanya dan dengan cepat menyiram ke arah Kahi. Orang orang terkejut melihat kejadian itu semua.


Bahkan Kahi masih diam di tempatnya, hingga seseorang meletakkan jaket di bahu kecil milik kahi.


Kahi melihat punggung pria yang kini memunggunginya, menghalangi perempuan di depannya untuk kembali menyerangnya.

__ADS_1


__ADS_2