Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
2.


__ADS_3

Semakin malam pengunjung di Kafe milik Kahi semakin banyak, kebanyakan adalah orang-orang yang memesan untuk acara hitung mundur ke tahun yang baru. Semua karyawannya hanya bisa merayakan pergantian tahun dengan teman teman di kafe.


Mereka harus banting tulang demi keluarga, tidak peduli tahun baru atau bahkan akhir pekan yang sering dihabiskan di tempat kafe miliknya.


Sedang kahi sendiri lebih suka membantu karyawannya, ketimbang pesta yang masih bisa dilakukan setiap saat bersama keluarganya. Ia dan sang kakak tidak pernah merayakan hal hal semacam ini sejak kecil, kedua orang tua mereka selalu marah. Jika kedua anaknya pergi keluar atau mengadakan pesta tengah malam yang akan berakibat pada kesehatan mereka.


Bukan hanya alasan itu saja, kahi juga tak memiliki sahabat selain kakak ipar yang merangkap sahabatnya. Alhasil pesta atau perayaan pasti mereka lakukan dirumah dengan sederhana.


Saat ini semua pengunjung tengah duduk di meja masing masing, hanya sesekali mereka menambahkan pesanan. Sehingga kahi dan yang lainnya bisa duduk istirahat, sekedar minum atau makan bergantian dengan yang lain.


Seseorang tiba-tiba menyentuh pundaknya saat kahi sedang berbicara dengan pelayan di meja bar.


"ya, ada yang bisa saya bantu" tanya kahi sopan, dia berbalik untuk melihat orang di belakangnya.


"ah maaf, apa anda Kahila Julie" tanya balik wanita di depan Kahi dengan lembut.


Kahi nampak terkejut, ia menilai penampilan seorang wanita yang baru saja bertanya padanya. Ia mengangguk dengan sopan menjawab nya dengan senyum.


"ya, saya Kahila Julie, maaf anda" kata Kahi sopan.


"aku Bianca, Bianca William. Teman SMAmu, kau ingat" Kata wanita yang bernama Bianca itu.


Kahi membulatkan matanya, perlahan ia meraih pingiran meja bar di sampingnya. Dia terlalu terkejut bertemu dengan wanita itu, bukan hanya cantik tapi juga ia adalah wanita yang sangat cerdas. Mengingat kenangan tentang wanita itu akan membuka kenangan lain yang sudah ia kubur lama.


"Bianca" seseorang berteriak memanggil Bianca. Wanita di depan Kahi melambai sebentar pada orang yang memanggilnya tadi.


"Kahi, maaf aku harus kembali ke sana. Bisa kamu ikut bergabung dengan kami. Sudah lama aku juga ingin ngobrol denganmu. Ada banyak cerita yang kamu lewatkan. Ah, Haki juga ingin sekali bertemu denganmu" ujar Bianca dengan lembut menggenggam tangan Kahi, melihat tak ada respon dari Kahi lantas Bianca melangkahkan kaki menuju meja tempat teman-temannya berada.

__ADS_1


Bianca dan Haki, apa mereka masih bersama.


Lama kahi berdiam di tempatnya, hingga pelayan yang sejak tadi ia ajak bicara menegurnya dengan sopan. Menghancurkan perasaan tak tenang kembali ke dunia nyata. Ia melirik sebentar meja tempat Bianca berada dan mendapati seseorang yang tengah menatapnya tajam.


Lelaki dengan alis mata tebal, hidung mancung dan rahang yang tegas ditambah bibir tebal yang sangat terpahat indah. Tak lupa mata yang sejak tadi memandangnya tajam, menunjukan sikap tegas dari sang pemilik kornea mata.


Lelaki dengan setelan kemeja putih yang terlihat sedikit kusut tak mengurangi nilai keindahan dari pemakainya, lengannya digulung sampai siku menunjukan otot- otot yang terlatih tengah memegang segelas kopi Americano. Kahi meneguk salivanya kasar, menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh pikiran aneh yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya.


Dengan tergesa naik kelantai tiga melewati beberapa meja penuh pengunjung yang menyapanya ramah. Ia ingin cepat-cepat menghentikan degup jantung yang mendadak cepat tak beraturan itu, saat menyadari matanya bertemu pandang dengan mata tajam pria itu.


Ya Tuhan


Sampainya di ruangan berukuran setengah kali luas kafenya itu kahi buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Ia berjalan menuju sofa yang disediakan khusus untuknya. Mengacak-acak rambut yang sedari tadi digerai itu lantas berteriak frustasi.


Ia tak pernah membayangkan akan bertemu lagi dengan lelaki itu, sudah 19 tahun ia yakin sudah benar-benar lupa. Tapi saat menatap mata tajam itu semua keyakinannya seakan menguap bersama dengan kepercayaan diri nya.


Lebih dari 15 menit, waktu juga sudah menunjukan hampir ke tengah malam. Kahi yakin bisa melawati ini semua meski harus bersembunyi, hingga keyakinanya dipatahkan pernyataan sang pegawai.


Yang memberitahukan bahwa wanita tadi menunggunya di lantai dua bersama teman-temannya.


Berulangkali Kahi menarik nafas menenangkan pikirannya yang semakin tak terkontrol itu. Ini kelemahannya, panik saat menghadapi masalah. Meski dibilang pintar ia adalah tipe wanita yang sangat mudah panik.


Sebelum membuka pintu ia merapihkan kemeja katun berwarna baby pink yang iya kenakan. Melangkah pasti menuruni anak tangga dan tersenyum ramah saat beberapa pengunjung yang menyapanya.


Kini sampailah iya di meja bernomor 21, dengan orang-orang yang tengah berdiri memunggunginya sambil menghitung mundur.


5 4 3 2 1

__ADS_1


Doorr doorrr


Suara teriakan bergabung dengan suara kembang api yang mereka semua nyalakan. Malam itu langit berubah jadi banyak warna karna kembang api, tapi bahkan isi kepala kahi sudah semakin kacau saat menyadari seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Entah sejak kapan lelaki itu ada disana, hanya berdiam saja mampu membuat Kahi berpikiran aneh.


Bahkan untuk bernafas saja ia takut, apalagi kalau gerak geriknya ditangkap oleh dua mata tajam tadi. Selesai acara itu, sedikit demi sedikit para pengunjung meninggalkan kafe.


Bianca dengan teman-temannya masih berbincang hangat, membiarkan Kahi duduk di kursi meja sebelah mereka dengan seseorang yang sejak tadi hanya diam memandanginya.


"apa kabarmu"Hanya itu yang kemudian keluar dari mulut lelaki itu, kahi sempat menahan nafas saat lelaki itu berbicara.


"ah ya, aku baik" jawab Kahi dengan terbata bata. Kedua tangannya meremas ujung kemeja yang dia pakai.


"kau sudah menikah" tanya lelaki itu lagi. Mata tajamnya masih menatap lekat ke arah Kahi.


"apa, menikah. Oh iya, aku sudah menikah" jawab Kahi cepat. Dia mengangkat wajahnya untuk melihat reaksi lelaki di depannya. Tapi sayangnya lelaki itu bahkan tidak memindahkan matanya. Jadinya kedua mata Kahi bertemu dengan mata lelaki itu.


"ah maaf, aku harus kembali bekerja" kata Kahi sembari berusaha bangkit. Dia benar-benar sedang menyembunyikan perasaan salah tingkahnya.


"bukannya kamu pemilik kafe ini" ucapan lelaki itu membuatnya membeku di tempatnya. Dia tertswa kecil, lalu duduk kembali.


"haha, benar juga aku pemiliknya" kata Kahi pelan. Lelaki di depannya masih menatap ke arahnya dengan tajam. Matanya bahkan seperti bisa memotong apapun jadi berkeping-keping.


"dan kamu belum menikah, kenapa kamu harus bohong" ujar pelaku itu datar. Kahi mengangkat kepalanya, lalu mendengus sebentar.


"ya aku belum menikah, kenapa. Kamu senang kan. Wah, setelah lama tidak bertemu kamu masih bisa mengejekku. Kamu pikir aku senang jadi perawan tua hah" kata Kahi kencang. Semua orang yang masih berada di lantai dua, mendengar ucapan Kahi. Mereka menutup mulutnya agar tidak tertawa.


Termasuk lelaki di depannya yang menunduk, menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia kembali mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"ya aku senang kamu belum menikah" kata lelaki itu. Kahi mendengus kesal mendengarnya.


__ADS_2