Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
32.


__ADS_3

"dia sedang tertidur. Jadi jangan terlalu khawatir. Sebaiknya lu pulang, ini sudah malam" kata Juan di ambang pintu kamar Kahi, menghalangi Haki untuk melihat ke dalam kamar yang sudah temaram itu.


"ya sudah, bang. Saya permisi. Bang" pamit Haki dengan enggan. Juan mengangguk lalu tangannya mempersilahkan agar Haki berjalan lebih dulu. Dengan diantar oleh Juan sampai di depan gerbang rumah Juan.


"gue baru tahu kalian sudah baikan" kata Juan di saat mereka sudah sampai di depan gerbang. "maksudnya apa ya, bang" tanyanya bingung. "terakhir Kahi nangis semalam, terus selama tiga hari dia nggak mau makan, selama itu juga dia ngurung diri di kamar. Itu setelah lu nganterin dia pulang dari kantor polisi kan" Juan menatap tajam ke arahnya.


Haki terkejut mengetahui cerita Juan barusan, dia tidak menyangka jika Kahi akan sehancur itu. "abang tahu sesuatu" katanya dengan gemetar. "sampai Kahi memilih untuk lompat dari balkon kamarnya, gue pasti cari tahu sebabnya. Sebelumnya gue biarin lu dekat sama adik gue. Tapi gue enggak peduli tentang itu. Yang gue mau, mulai sekarang gue melarang lu mendekati adik gue" kata Juan dengan tegas.


"kenapa. Kenapa abang melarang saya. Sejak kapan abang membatasi Kahi berhubungan dengan saya" kata Haki tergagap.


"sejak terakhir kali gue lihat Kahi menyesal ketemu lu lagi" suara Juan meninggi seiring dengan pintu gerbang yang tertutup.


"saya tidak akan mundur, bang. Meski abang tidak menerima saya" kata Haki, dia berbalik lalu berjalan ke arah rumahnya.


*


Hari berlalu begitu cepat, sejak Juan melarang Haki untuk menemui Kahi. Sejak saat itu juga dia meminta sang supir untuk selalu mengikuti adiknya. Baginya kesalahan terakhir kali yang mengakibatkan dia hampir kehilangan sang adik. Tidak akan terulang lagi.


Dengan mengenalkan teman, atau kenalan yang masih single pada Kahi. Mengatur kencan buta dengan pengusaha muda atau para juniornya di rumah sakit. Seperti saat ini, Juan dengan sengaja mengatur kencan buta sang adik.


"aku punya perusahaan ekspedisi di banyak kota, juga bisnis properti. Semua aku kerjakan sendiri" kata seorang lelaki yang duduk di seberang tempat Kahi duduk. Lelaki itu terus tersenyum dan terlalu banyak bicara.


"wah, hebat ya" pujian dari Kahi semakin membuat lelaki itu, terus menyobongkan dirinya. "aku juga punya yayasan panti asuhan atas namaku" tambah lelaki itu.


"kau bisa mengelola semua sendirian, itu bukannya satu hal yang mustahil. Bagaimana kau ke beberapa tempat dalam sehari, apa itu bisa" celetuk Kahi dengan senyum mengejek di wajahnya.

__ADS_1


"ka kalau itu, tentu saja ada karyawanku yang berkerja. Membantuku mengelola bisnisku"


"oh, begitu" Kahi memutar bola matanya jengah. Sudah dua jam dia mendengar ocehan lelaki di depannya itu. Sekarang dia benar-benar sudah tidak tahan lagi, cacing di perutnya bahkan sudah berontak sejak tadi.


"ngomong-ngomong, aku harus balik ke kafe sekarang. Hmm, ada rapat sama chef di sana. Sorry ya, aku duluan" kata Kahi seraya meninggalkan tempat duduknya. Sementara lelaki itu hanya ternganga menatap kepergian Kahi yang begitu cepat.


*


"haaah, untung dia nggak ngejar, bisa mati kelaparan kalo cuma minum kopi. Lagian aneh ngomong terus, mulutnya sampe berbusa" gerutu Kahi di dalam bus, sepanjang perjalanan pulang ke kafe. Dia sangat lelah dan lapar. Satu kombinasi yang pas untuk tidur, apalagi pendingin di bus persis berada di atas kepalanya.


Dia berusaha dengan keras menahan rasa kantuk yang datang, setelah bus berhenti di halte dekat kafenya. Kahi berlari dengan kencang, agar cepat sampai di kafe.


"ha, hu... " Kahi menarik dan mengeluarkan nafas dengan teratur. Mengatur nafasnya setelah berlarian tadi."mba abis lari ya" tanya Ika, dia mengangguk lalu meraih gelas air putih yang di sodorkan oleh Ika.


"thank ya, aku mau naik dulu" pamit Kahi saat menyerahkan gelas kosong pada Ika. "iya mba" baru dua langkah Kahi berbalik. "kenapa mba, ada yang lupa" tanya Ika sopan.


*


Hari ini berakhir dengan cepat, seperti hari sebelumnya. Dia pulang dijemput oleh supir, pria paruhbaya yang masih setia pada keluarga Kahi. Perjalanan menuju rumah tak memakan waktu lama. Dia langsung masuk ke kamarnya, mengistirahatkan tubuhnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, dia keluar menuju balkon. Menatap ke langit yang penuh bintang. Lalu menghela nafas panjang. Usaha sang abang yang mengenalkan dia pada teman dan juga juniornya di rumah sakit. Tidak membantu melupakan seseorang, hanya membuatnya memiliki kesibukan ganda.


"kenapa juga abang repot-repot ngenalin cowok. Emang aku kurang laku" katanya dengan lirih. "bukan kurang laku, kamu nggak berusaha cari. Umur kamu bahkan harusnya sudah punya anak 5" sela Lia dari balik punggung Kahi. "oh ya. Terus gimana sama mba. Anaknya sudah lima" ledeknya.


Lia tertawa pelan, lalu buru-buru membuang pandangannya ke arah Kahi. "kamu bisa nolak tentang kencan buta itu, kamu punya kehidupan sendiri. Abang kamu memang ingin yang terbaik buat kamu. Tapi aku selalu nggak setuju kalau kamu terlalu ikutin kemauan abang kamu, bahagia itu buat kamu sendiri" ujar Lia.

__ADS_1


Dia berdecak lalu memeluk tubuhnya sendiri, karena hawa dingin yang menyentuh kulitnya. "aku nggak punya pilihan, bahagia itu bisa lihat abang bahagia" katanya dengan lembut.


"tapi kamu bisa cari kebahagiaan kamu sendiri. Bersama orang yang benar-benar kamu cintai dan juga mencintaimu. Bukan memaksa untuk mencintai" Lia menepuk pelan pundaknya. Kemudian berbalik meninggalkannya sendirian.


Sementara dia kembali menatap gelapnya malam. Mengadu pada bintang, betapa rumitnya hidupnya saat ini. Setelah bertemu dengan Gemma, dia belum bertemu lagi dengan lelaki yang sepertinya.


*


Minggu pagi, Kahi memutuskan untuk berlari santai di taman kompleks perumahan. Bersama beberapa orang yang melakukan kegiatan yang sama dengannya. Lalu dia berhenti di kumpulan ibu-ibu yang sedang bersenam.


Musik dari pengeras suara, terdengar dari tempatnya berdiri. Tepat berada di barisan paling belakang, sedangkan jumlah orang yang mengikuti senam itu tidak terhitung lagi.


Matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa, dia mensrik sudut bibirnya. Membentuk senyuman lebar, lalu tertawa kecil. Buru-buru dia menutup mulutnya, sebelum semua orang melihatnya aneh.


"sejak kapan dia jadi instruktur senam" katanya lirih. Akhirnya dia mengikuti senam bersama puluhan ibu-ibu. Sesekali tertawa saat melihat lelaki yang menjadi pusat perhatian semua wanita di sana.


*


Prok prok


Kahi bertepuk tangan di depan Haki, lelaki yang sedang menenggak air dari botol minum itu tersedak. "maaf, maaf" ujar Kahi panik. Dia mengangsurkan sapu tangan miliknya untuk Haki. Lelaki yang masih terbatuk itu, mendongak lalu menunduk untuk melihat sapu tangan berwarna putih. Haki meraihnya, lalu menggunakan sapu tangan itu untuk mengelap bibirnya.


"terima kasih, nanti aku akan kembalikan" katanya pelan. Kahi tersenyum lalu mengangguk. "boleh duduk di situ" tanyanya menunjuk sisi kursi besi yang kosong. Haki mengangguk, sedikit bergeser memberikan ruang untuk Kahi.


"polisi juga instruktur senam, aku baru tahu kamu bahkan punya tulang lunak. Lues banget padahal badan kamu, oke banget" Kahi mengangkat dua ibu jari tangannya. Mengarahkan pada Haki. Yang berhasil membuat lelaki itu menahan untuk tidak tersenyum.

__ADS_1


"tidak ada salahnya kan. Hari minggu pagi cari kesibukan tapi tetap sehat" jelas Haki cepat.


Kahi memutar tubuhnya, hingga menghadap ke arah Haki. Membuat lelaki itu reflek ikut menghadap ke arah Kahi.


__ADS_2