
Tubuh tegap milik Haki seketika melemas. Terjatuh di atas tubuh wanita yang sedang menikmati sentuhan lembut darinya. Wajah Haki tepat berada di ceruk leher Kahi. Lalu samar terdengar nafas yang teratur di telinganya. Sepertinya lelaki itu tertidur, setelah meminum obat tadi. Tak Dia mencoba melihat wajah damai yang sedang tertidur di atas tubuhnya dengan nyaman.
Perlahan dia menggerakkan tubuhnya, dengan kekuatan yang dia punya untuk bergeser. Memindahkan tubuh besar lelaki itu dengan bersusah payah. Yang berakhir dengan tubuhnya tersungkur membentur kaki sofa.
"kamu ini manusia apa gunung. Berat banget sih" kesalnya saat membenarkan kaki Haki yang menjuntai, dengan dua tangannya kaki itu diletakkan di atas sofa lain.
Usai membenarkan posisi Haki, dia mendudukan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Lalu menghela nafas panjang. Dia melihat ke arah jam di ponsel miliknya. Sudah hampir pukul 9 malam. Tidak mungkin dia meninggalkan lelaki itu sendirian. Atau menghantarkan Haki pulang ke rumahnya. Dia bahkan tidak tahu di mana letak rumahnya.
*
"iya, aku nggak bisa pulang malam ini. Bang. Banyak laporan di kafe yang harus aku periksa" kata Kahi.
"kamu bisa bawa pulang kan, nggak perlu ngerjain di sana. Apalagi kamu sendirian, Hi"
"ada yang lain kok. Abang tenang saja, ya"
"ya sudah, kamu jangan lupa makan"
"iya, bye abang"
Kahi menoleh ke sofa, tempat lelaki itu masih terpejam. Sekarang sudah menjelang kafe tutup. Tapi dia tidak tega membangunkan Haki. Demam yang tak kunjung turun, membuatnya beberapa kali mengompres kening Haki. Jadi dia memutuskan untuk bermalam di kafe. Sekalian merawat gunung besar itu.
Kali ini dia berjongkok di sebelah lelaki itu. Memandang ke arah wajah tampan Haki. Hatinya memang masih ada nama Gemma, tapi entah kenapa setiap bersama dengan lelaki itu. Dia seakan sudah bersama dengannya sejak lama. Nyaman juga merasa terlindungi.
*
__ADS_1
Tengah malam Haki terbangun, dia melihat ke sekeliling. Menyadari jika dia masih di ruang kerja Kahi. Tapi tidak melihat keberadaan wanita itu. Haki menyentuh kain basar di atas keningnya, handuk kecil yang digunakan Kahi untuk mengompres dirinya tadi. Dia mencoba untuk bangkit, saat itulah dia melihatnya. Sedang tertidur dengan posisi yang tak nyaman.
Punggungnya bersandar di kaki sofa, sedang kakinya dia biarkan tertekuk. Kepalanya terkulai, benar-benar sangat tidak nyaman saat tidur dalam posisi itu. Kedua tangannya memeluk kakinya. Menghindari hawa dingin dari pendingin ruangan. Sementara selimut tebal menutupi tubuh Haki. Dengan perlahan dia bangun, lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan tubuh Kahi.
Haki tersenyum, tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Perlahan dia mengangkat tubuh mungil itu. Memindahkan ke sofa, tempat dia tertidur tadi.
Dengan perlahan dia ikut berbaring di ruang kosong di sofa. Membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukkannya. Menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Kahi. Kemudian menarik selimut yang terjatuh di lantai. Menutupi tubuh mungil itu dan tubuhnya sendiri.
Di kembali terpejam, berharap ini tidak akan segera berakhir. Malam yang indah yang dia lalui selama masa hidupnya. Tidak akan pernah tergantikan. Semoga usahanya mengembalikan ingatan Kahi tidak berhasil. Tetapi wanita itu akan mencintainya tanpa peduli masa lalu mereka. Jadi dia tidak perlu menghilang atau menghindari Kahi.
*
Cahaya matahari masuk melalui jendela berlapis kaca di dinding ruang kerja Kahi. Membuat sang pemilik ruangan menggeliat di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan tangannya meraba sesuatu yang keras di depannya.
Dia membulatkan kedua matanya, menyadari tangan satunya berada di daerah terlarang. Dengan panik dia berusaha bangun dari posisinya sekarang.
Karena terburu-buru, juga karena tidak berhati-hati. Tiba-tiba tubuhnya tertarik oleh Haki yang sudah terjatuh di lantai. Lalu menimpa dada bidang Haki. Membuat lelaki itu mengerang karena rasa sakit tertimpa tubuhnya.
"maaf maaf" katanya panik. Lagi-lagi karena tidak berhati-hati Kahi menginjak daerah terlarang milik Haki. "aaaggggrrrh" "maaf, maaf ya. Apa itu sakit" kata Kahi dengan cemas.
Lelaki itu menekuk lututnya, menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan rasa panas dan perih yang bercampur di satu tempat. Tangannya memukul-mukul lantai, menyalurkan rasa kesal dan sakitnya pada lantai.
Kahi yang panik juga tidak tahu harus bagaimana. Hanya berjongkok di sisi Haki yang terus mengerang. Beberapa kali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Juga menggigit ujung kukunya. Sangat cemas tapi tak tahu harus berbuat apa.
**
__ADS_1
Dua manusia itu sedang terduduk diam di sofa yang berbeda. Jika Haki sedang memijat pangkal hidungnya, sakit bekas demamnya masih ada. Ditambah kejadian tak terduga yang hampir menghancurkan masa depannya.
Sementara Kahi, sejak tadi hanya menunduk. Menyembunyikan rasa bersalahnya. Tak berani bertanya atau bersuara terlebih dulu. "aku harus pulang" ujar Haki tiba-tiba. Dia berdiri dengan tegap, meraih jaket dan baju seragamnya yang tergeletak di sofa.
Kahi berdiri dengan terkejut. "ke mana" katanya dengan bingung. "aku akan pulang ke rumah. Lalu melanjutkan untuk beristirahat. Selain demam semalam. Sekarang ada yang harus di istirahatkan" katanya frustrasi.
"maaf, aku benar-benar tidak sengaja" kata Kahi dengan lirih. "bisakah kamu tetap di sini, setidaknya setelah sarapan" Haki mengulum bibirnya, agar tak tersenyum demi melihat wanita di depannya. Dia kembali mendudukan tubuhnya, lalu membuang muka agar Kahi tidak melihat wajahnya.
"tunggu sebentar ya, aku akan siapkan sarapan untukmu. Tidak akan lama" kata Kahi dengan cepat sembari berjalan menjauhi dirinya. Dia hanya mengiringi langkah Kahi sampai menghilang di balik pintu dengan ujung matanya. Setelah wanita itu tak ada, Haki menarik dua sudut bibirnya. Membentuk senyuman yang lebar.
*
Setelah memakan sarapan yang dibuat oleh Kahi. Haki meminjam kamar mandi khusus untuk Kahi. Membersihkan diri dengan peralatan mandi milik Kahi tanpa khawatir. Menyisir rambutnya yang sudah berantakan. Juga mengenakan parfum yang ada di kamar mandi. Semuanya yang dia pakai beraroma khas Kahi.
Saat membuka pintu kamar mandi, Kahi sudah berdiri di depan pintu. Menyambutnya dengan canggung. Lalu mengantarkan lelaki itu sampai di depan pintu keluar kafe yang belum buka.
Haki memutar tubuhnya, lalu melangkah mendekat ke arah Kahi. Memeluk wanita itu dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya. Kahi mengangkat tangannya, menepuk dan menelusuri punggung milik Haki. Tak lama Haki melepas pelukkannya, beralih memegang lengan Kahi.
"Kahi" "hmmm" mata mereka bertemu.
"kau harus ingat ini, aku sungguh mencintaimu. Dulu juga sekarang. Jadi percayalah padaku, aku bersungguh-sungguh" katanya dengan lembut. Tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Kahi.
"aku percaya" ujar Kahi pelan. Haki menghentikan tangannya yang sedang mengelus pipi Kahi. Sementara wanita itu, menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sudah sangat merah.
Haki kembali menarik Kahi ke dalam pelukkannya, lalu mengecup pucuk kepala Kahi lama. Beralih pada kening, kemudian turun mengecup kedua mata Kahi bergantian. Yang terakhir dia mengecup bibir ranum itu lama. Lembut dan juga pelan, kedua tangan Kahi berpindah ke pinggang Haki. Meremas baju seragam miliknya dengan erat. Sedangkan kedua matanya terpejam, semenjak ciumannya dengan Haki dia semakin lihai membalas ciuman lelaki itu.
__ADS_1