
Pagi sekali Kahi terbangun karena merasakan sakit di perutnya. Dia melihat ke jam dinding yang tergantung di dinding samping tempat tidur. Masih pukul setengah enam pagi, karena rasa sakit yang semakin melilit. "pantas, perutku protes" katanya pelan.
Dia akhirnya bangun dari tidurnya, menuruni anak tangga untuk menuju ke dapur. Tangannya menarik pegangan lemari es, yang ternyata belum terisi oleh apapun. Kahi menghela nafasnya panjang.
Lalu menepuk keningnya singkat, ia ingat tak membeli apapun untuk mengisi lemari es kemarin. Kemudian dia beralih menuju teras depan rumahnya. Masih sedikit gelap, tapi di luar ternyata sudah ramai. Banyak orang berlari pagi di sekitar jalanan depan rumahnya. Karena rasa lapar yang semakin mengganggunya. Kahi memberanikan dirinya untuk bertanya, pada seseorang yang akan melewati dirinya nanti.
Buru-buru Kahi berjalan ke arah pinggir jalan, saat tak jauh dari tempatnya berdiri ada orang yang akan berlari melewatinya. "permisi, maaf mau tanya" tanyanya pada seorang wanita. Sementara itu merasa dirinya dipanggil, wanita itu pun menghentikan larinya, kemudian menoleh ke arah Kahi.
"maaf mau tanya, di sekitar sini, ada restoran yang sudah buka nggak ya" tanya Kahi dengan sopan. Wanita itu terdiam, hanya menatap dengan sinis ke arah Kahi.
"kamu orang baru" kata wanita itu singkat. Kahi mengernyitkan keningnya, "eh maksudnya kamu baru pindah" katanya membenarkan perkataannya tadi. "ah, iya. saya baru pindah ke sini. Jadi belum tahu restoran dekat sini" jawabnya dengan ramah.
"di sana" Telunjuk wanita itu mengarah ke jalan yang sudah ramai orang. Tak ada nada sopan seperti yang dilakukan oleh Kahi tadi. Bahkan wanita itu langsung melanjutkan larinya lagi. Tak membiarkan Kahi mengganggu acara lari paginya.
"ah, terima... " Kahi menghela nafasnya, mengurungkan niatnya untuk berterima kasih pada wanita tadi. Kahi berbalik untuk mengunci pintu rumah. Lalu berjalan ke arah yang sama, jalan yang ditunjuk oleh wanita itu.
Setelah berjalan sekitar 5 menit, Kahi akhirnya menemukan restoran 24 jam yang sudah buka. Tanpa menunggu cacing di perutnya kembali protes, dia melangkah cepat ke restoran di depannya.
"selamat pagi" sapa pelayan di bagian pemesanan. "selamat pagi" Kahi membalas sapaan pelayan tadi. "anda ingin memesan sesuatu, nona" tanya pelayan tadi sambil tersenyum ramah.
"hmm, tunggu sebentar ya" ujar Kahi, matanya fokus membaca daftar menu di layar besar yang menyala. "sandwich tuna dan coklat panas, take away saja"
"baik, mohon ditunggu sebentar" sementara menunggu sang pelayan menyiapkan pesanannya. Kahi Melihat-lihat ke sekeliling ruangan restoran. Matanya tiba-tiba menangkap seseorang yang sangat dia kenali, sedang berbincang dengan seorang wanita di bagian luar restoran.
Dia yang tidak percaya akan menemukan lelaki itu secepat ini, hampir melupakan sarapan yang dia pesan. Jika pelayan tadi tak menghentikan dirinya. Usai membayar pesanannya, Kahi buru-buru keluar restoran. Untuk memastikan jika penglihatannya tak salah.
__ADS_1
Sayangnya dua orang tadi sudah lebih dulu pergi, sebelum dia keluar restoran. "sial, aku terlambat" gerutunya. Akhirnya dengan menahan rasa penasarannya, di berbalik menuju ke jalan arah rumahnya berada.
Sepanjang jalan Kahi terus berpikir, siapa wanita di depan lelaki yang dia rindukan itu. Pikirannya sudah mengarah pada hal-hal aneh. Bagaimana jika wanita tadi itu, kekasih, tunangan atau yang paling mengerikan. Wanita itu ternyata istrinya. Dia menendang kesal angin kosong di depannya.
*
Selesai membersihkan dirinya, Kahi langsung keluar dari rumahnya. Dengan mengendarai motor maticnya, dia kembali ke restoran tadi pagi. Hanya berada di luar restoran, melihat ke segala arah. Siapa tahu hari ini masih keberuntungannya. Bisa berjumpa dengan lelaki yang dicintainya.
Tapi setelah lebih dari dua jam duduk di atas motor, menunggu keajaiban datang lagi. Nyatanya dia malah jadi bahan tontonan orang yang keluar masuk restoran. Jika cantik, dia memanglah cantik. Tapi kali ini Kahi memakai setelan berwarna hitam. Dengan topi dan juga kacamata. Di siang yang semakin panas, pakaiannya bahkan membuat orang kegerahan.
Menyadari hal itu, Kahi menarik ujung topinya untuk menutupi separuh wajahnya. Lalu tangannya memutar kunci motor, dengan hati-hati dia meninggalkan tempat itu. Kemudian mengendarai motornya di sepanjang jalan pinggir pantai berpasir putih.
Kahi menghentikan motornya tepat di depan mini market. Ia akan berbelanja kebutuhannya untuk beberapa hari kedepan. Tak butuh waktu lama baginya untuk mencari semua yang dibutuhkan. Kahi kembali mengendarai motornya kembali ke rumah. Saat ini dia tak memiliki tujuan harus mencari lelaki itu ke mana dulu. Hanya tahu jika lelaki itu berada di daerah ini.
**
Benar dugaan Kahi, kini setelah dia berlari jauh dari rumahnya sampai ke tepi pantai. Kahi akhirnya menemukan lelaki itu. Ia menghentikan langkahnya, saat tiba-tiba dia melihat Haki dengan seorang wanita. Wanita yang baru saja datang menghampiri Haki. Memeluknya dengan mesra. Mereka tampak sangat akrab. Bahkan beberapa Kahi bisa melihat Haki tersenyum karena ucapan wanita itu.
Kahi panik saat tak sengaja matanya bertemu dengan mata Haki. Dia berusaha untuk berbalik, lalu berlari cepat meninggalkan pantai. Tanpa dia sadari, Haki juga menyadari kehadiran dirinya lalu mengejarnya.
Sementara itu, wanita yang tadi bersama Haki tersenyum tipis. Kemudian ikut menyusul mereka berdua sambil mengepalkan kedua tangannya.
*
"Hi, tunggu" tangan Haki berhasil meraih lengannya. Tapi tak menghentikan Kahi untuk tetap menghindar. Menyembunyikan matanya yang sudah sangat berair. "Kahi tolong berhenti dulu" usaha Haki berhasil, Kahi berhenti meski tak melihat ke arahnya.
__ADS_1
"tolong lepas" katanya dengan dingin. Haki langsung melepas tangannya. Merasa tak ada lagi tangan yang mencengkramnya. Kahi melanjutkan larinya. Dia sangat marah juga kecewa. Sudah lama dia sangat ingin menemui lelaki itu, tapi hatinya tak terima dengan kenyataan yang ada.
Kahi terus menghapus air mata yang jatuh di pipinya, hingga tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan. Lalu terjatuh dengan sangat keras di atas pasir pantai. Haki yang melihatnya, berlari kencang ke arahnya. "Kahi" begitu teriakan Haki terdengar, Kahi berusaha bangkit kembali.
Tapi luka di telapak tangannya sangat menyakitkan. "aww, sial" umpatnya kesal, karena tak lagi bisa berdiri sendiri. Kahi pasrah saja saat tangan Haki membantunya bangun. Juga membersihkan sisa pasir di celana treningnya.
"ada yang sakit nggak" tanya Haki panik. Kahi tetap bergeming, perlahan dia menyembunyikan kedua telapak tangannya. "Haki" wanita tadi menautkan tangannya pada lengan Haki. Yang langsung membuat rasa tak nyaman, rasa nyeri di dadanya.
Haki yang melihat perubahan ekspresi dari Kahi, mengerti kenapa wanita ini memilih lari tadi. Dia menunduk menyembunyikan senyum tipis di bibirnya. "siapa, Ki" suara orang di sebelahnya membuatnya mendongak.
"dia Kahi, Rin" kata Haki, tangannya menunjuk ke arah depannya. "hai, aku Karin. Pacar Haki" kata wanita di samping Haki.
Deg
Kahi benar-benar seperti tak merasakan apapun. Dia terlalu terkejut, juga tidak bisa menerima kenyataan. Tiba-tiba pandangannya jadi buram, lalu berubah menjadi gelap. "Kahi, Kahi" teriakan Haki tak lagi terdengar olehnya. Dia jatuh pingsan ke dalam pelukan Haki.
*
Kahi terbangun di atas ranjang berukuran king size, dia memegang kepalanya. Merasakan denyut di dalam kepalanya. Lalu matanya melihat ke sekeliling. Menyadari dirinya tidak sedang berada di kamar miliknya sendiri.
Ceklek
Pintu yang terbuka tiba-tiba, membuat dirinya kembali memejamkan kedua matanya. "dia masih tidur, aku langsung pulang deh, kalau perlu apa apa kabari ya" suara wanita tadi. Kahi mengernyitkan keningnya, di mana dia sekarang.
Setelah pintu kembali tertutup, dan suara langkah mendekat. Kahi semakin memejamkan matanya, berpura-pura masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
"aku tahu, kamu sudah sadar. Jadi bangunlah"