
Kahi terbangun di atas ranjang miliknya, dia terperanjat saat sudah menyadari di mana dia sekarang. Terakhir dia berada di punggung Haki. Lelaki yang tiba-tiba datang di saat dia sedang menangisi Gemma.
Ceklek
Tubuh kecil Juna masuk ke kamarnya bersama sang ibu yang muncul belakang Juna. Lia tersenyum ke arahnya. Sementara sang keponakan sedang berusaha untuk menaiki ranjangnya.
"sudah bangun, gimana perasaanmu" tanya Lia sambil mengangkat Juna, lalu meletakkan anaknya itu di atas pangkuannya. "perasaan apa" tanya balik Kahi pada Lia.
Lia tertawa pelan, lalu tangannya terulur menyentuh pucuk kepala Kahi. "gimana perasaannya bisa digendong polisi ganteng" satu alis Lia terangkat. Menggoda adik iparnya yang masih berada di balik selimut itu.
"perasaan digendong siapa ih. Biasa aja" Kahi menarik ujung selimut menutupi wajahnya. Agar Lia tidak melihat semburat merah di pipinya.
"malu nih, ketahuan kalo lagi senang" goda Lia lagi. Kahi meraih bantal di bawah kepalanya, lalu melemparnya tepat di lengan Lia. "keluar deh, mba. Aku mau tidur" katanya kemudian.
"jadi, langsung move on ya" tanya Lia sembari mengangkat Juna lalu berjalan ke arah pintu. Kahi terdiam di balik selimut, dia sedang merenung. Apa benar yang Lia katakan, jika dirinya sudah bisa melupakan Gemma.
Tapi kenyataannya dia masih merindukan lelaki itu, masih ada namanya di hatinya. Nyeri yang selalu dirasakan saat mengingat lelaki itu.
"aagggrrh" Kahi berteriak. Kedua kakinya menendang selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
*
Seperti malam kemarin, siang ini Kahi pun berangkat dengan menaiki bus umum. Membiasakan dirinya dengan rutinitas tak biasa. Sejak dulu dia tak pernah jauh dari supir yang akan mengantar jemputnya.
Begitu juga saat kuliah dulu sang ayah mempekerjakan seorang supir khusus untuknya.
"oke, aku bisa" katanya saat menyusuri jalan kompleks perumahan Juan. Meski siang ini sangatlah terik, dia masih bisa berjalan dengan santai.
Saat sampai di halte tak ada seorang pun yang ikut menunggu bus datang. Dia sendirian di sana, di bawah atap halte yang melindunginya dari terik matahari.
*
__ADS_1
"hai, gimana. Aman terkendali" tanya Ria di depan bar saat Kahi baru sampai. Dia menggeleng cepat, lalu meraih botol air di tangan Ika. "panasnya dunia, hari ini luar biasa panas" ujarnya setelah meneguk air mineral.
Ria tertawa pelan, dia menepuk pundak Ria. Lalu berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya. Meletakkan tas selempang miliknya di atas meja kerja. Lantas membuka lemari pakaian yang khusus dia sediakan.
Mengganti pakaiannya yang penuh keringat dengan seragam karyawan kafe khusus miliknya. Usai merapihkan penampilannya, dia kembali turun untuk menjadi penerima pesanan. Seperti biasanya, bergantian dengan karyawannya yang lain.
*
"kalau punya mata dipake dong. Jalan lihat-lihat dong. Lu pikir baju mahal gue bisa lu beli pake gaji lu" teriakan seorang pelanggan di lantai dua menarik perhatian beberapa orang. Termasuk dirinya, dia menaiki anak tangga. Bermaksud untuk mencegah hal buruk terjadi.
"maaf bu saya nggak sengaja" Kata Ika dengan sopan. Ika terus menunduk di depan wanita yang berpenampilan sangat mewah.
"panggil bos elu, gue akan minta bos elu buat pecat lu. Sekalian minta ganti rugi karena sudah tumpahin jus ke baju gue. Cepat panggil" wanita itu kembali berteriak dengan kasar. Kahi yang baru sampai juga mendengar ucapan wanita barusan.
"maaf, ibu. Ada apa ya" tanya Kahi sopan.
"panggil bos kalian, gue mau minta ganti rugi" wanita itu masih menggunakan nada yang keras dan kasar.
"saya ibu. Ibu bisa bicara sama saya" sela Kahi.
"saya bosnya bu. Ibu tolong tenang dulu. Kita bisa obrolin ini baik-baik" tangan Kahi terangkat mencoba untuk menenangkan wanita itu.
Plak plak
"karyawan kok ngaku-ngaku bos. Itu hukuman karena berani bohong sama gue" kata wanita itu dengan kasar. Kahi memegangi kedua pipinya yang terasa panas itu, sementara Ika berdiri memegangi Kahi yang sempat terhuyung.
"makanya jangan suka bohong, di suruh panggil bosnya malah ngaku jadi bos"
Ika mendengus kasar, dia maju menghalangi wanita itu yang sedang bersiap mendorong Kahi. Ika dengan geram menarik rambut wanita kasar itu. Hingga membuat wanita itu memekik kesakitan. Wanita itu balas menarik rambut ika. Mereka berdua sama-sama tidak bisa di hentikan.
Kahi berusaha menarik tangan wanita itu, sementara dia Ika ditarik oleh karyawan yang lain. Mereka saling memaki dan mencakar. Alhasil usaha orang-orang yang ingin merelai mereka gagal.
__ADS_1
Kahi kembali maju, menarik lengan wanita tadi dengan kuat. Tapi tenaganya kalah besar, dia merasakan tubuhnya terdorong ke samping. Membuat keningnya terbentur tepi meja. Semua orang sekarang berganti menolong Kahi. Dan membiarkan dua wanita itu terus bergelut.
**
Tiga wanita duduk di depan seorang polisi wanita. Kening Kahi sudah tertutup oleh pembalut luka kecil. Ika dengan rambut dan baju yang berantakan. Sedangkan wanita kasar tadi mendapat perhatian lebih dari polisi wanita bernama Utari.
Tatanan rambut yang berantakan, dandanannya juga berantakan. Apalagi gaun yang dia pakai banyak yang sobek.
"jadi siapa yang korbannya" tanya Utari pada ketiganya. Dua lawan satu, Kahi dan Ika menunjuk pada wanita kasar itu. Sementara wanita itu menunjuk pada ika.
Utari menghela nafasnya, lalu berganti melihat wanita di depannya. "saya korbannya ibu polisi. Lihat sendiri, penampilan saya yang paling berantakan" ujar wanita kasar itu dengan nada sedih.
"bu, dia sudah menampar bos saya. Terus dorong bos saya sampe keningnya dapat perban" Ika melanjutkan dengan emosi. "mana ada bos make seragam karyawan" sindir wanita itu lagi.
Ika menatap wanita di sebelahnya dengan kesal. "saya akan meminta keterangan kalian satu persatu. Jadi jangan ada yang coba berbohong, karena justru akan menyulitkan kalian" kata Utari tegas.
Mereka mendapat giliran di introgasi oleh Utari. Dua orang bos dan karyawannya memberikan keterangan sesuai dengan apa yang terjadi di lokasi. Sementara wanita kasar itu, memberikan keterangan berlebihan. Tidak sesuai dengan pernyataan dari Kahi dan Ika.
Deru langkah kaki menuruni anak tangga, di dengar oleh semua orang yang berada di lantai satu itu. Termasuk tiga wanita yang sedang di introgasi oleh Utari.
Haki muncul di balik pintu, lelaki itu berjalan cepat ke arah Kahi. Lalu mencangkup wajah Kahi dengan kedua tangannya. Perlakuan Haki yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh penghuni lantai satu itu.
"ini kenapa, kamu dipukul siapa" tanya Haki. Dua tangan Kahi sibuk memukul lengan kekar Haki. Memintanya untuk melepas wajahnya, tapi si pemilik lengan itu sedang menatap tajam ke arah dua orang di sebelah Kahi.
"lepas" kata Kahi. Dia terus menggerakkan kepalanya, menjadikan pipinya semakin terlihat bulat.
"jadi kalian berdua, siapa yang sudah melukai kekasihku" ucapan Haki membuat dua orang yang sedang di introgasi Utari membuka mulutnya lebar. Terkejut juga takut. Jika Ika dia baru tahu jika bosnya sudah memiliki pacar baru.
Sementara wanita kasar itu sedang berusaha menutupi wajahnya agar tidak dilihat oleh mata tajam Haki. Utari sendiri sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. Terlalu dramatis usaha keras Haki, padahal dia tahu wanita yang sedang meronta-ronta itu hanya mantan kekasihnya.
"Ki sana pergi. Jangan mempersulit mereka. Lu pergi aja deh" Kata Utari tegas.
__ADS_1
"gue di sini, gue mau tahu siapa yang udah bikin kening mulus pacar gue pake plester luka" kata Haki cepat tanpa mengalihkan tatapannya dari dua orang di samping Kahi.
Ika menggerakkan jarinya, untuk menunjuk ke arah sampingnya. Sedangkan wanita kasar tadi sedang bersusah payah menelan salivanya.