
Reuni SMA Kahi dan Lia masih sekitar tiga bulanan, tapi para panitia sudah dari jauh jauh hari menghubungi satu persatu para pengisi acara yang keseluruhan berada jauh dari daerah SMA mereka. Bahkan Kahi yang tak menyangka malah masuk ke dalam daftar pemain drama musikal.
"sorry, tapi aku beneran nggak bisa" saat ini Kahi sedang menghubungi ketua panitia reuni SMAnya. "ya, tolong cari orang lain saja. Sorry" lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"ada apa? " Gemma meraih tangan Kahi untuk duduk di sofa. Kahi memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan sang kekasih," SMA ku ngadain acara Reuni besar-besaran. Terus mereka masukin namaku ke daftar pengisi acara tanpa persetujuan dari aku" jelas Kahi.
"terus kenapa nggak mau ikutan jadi pengisi acara" Gemma merapihkan anak rambut di wajah kahi. Kahi menggeleng cepat "nggak mau aja" dia memajukan bibirnya, masih sebal karena ulah panitia reuni. "ya sudah, jangan merengut gini dong. Kamu makin cantik jadinya" Gemma meraih dagu Kahi pelan menghadap ke arahnya. Dia tersenyum lembut pada Kahi. "jadi aku nggak cantik" ujar Kahi semakin memajukan bibirnya yang langsung mendapat gelak tawa dari Gemma.
"haha," Gemma masih tertawa "iiissshh" Kahi menggelengkan kepalanya untuk melepaskan tangan Gemma di dagunya. "jadi tambah cantik kan" "bohong kan" Kahi mencubit perut Gemma, yang langsung mengaduh bercampur tawa keras.
"mas, kok tumben hari kerja ke sini" tanya Kahi saat keduanya sudah berhenti tertawa. Gemma berhenti dari kegiatannya membaca majalah milik Kahi lalu meletakkannya di atas meja. "sekarang, rumah sakit tambah beberapa dokter di bagian bedah. Jadi aku nggak full kerja seminggu. Bisa begini sama kamu, bisa ada waktu buat jalan berdua sama kamu juga" Gemma meraih tangan kanan Kahi pelan, mengelus punggung tangannya pelan.
Kahi menatapnya binar, "pas banget" Kahi tersenyum miring. "pas apa" Gemma ikut tersenyum miring. Yang justru berhasil membuat gelak tawa dari Kahi. "kok ketawa sih, ada yang lucu" Kahi menggeleng cepat tapi tawanya masih terdengar. "maaf maaf, aku susah berhenti kalo udah ketawa" dia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya.
*
Usai makan siang bersama di sebuah restoran di mall terdekat kafe milik Kahi, mereka berdua kembali berjalan-jalan di dalam mall sampai menjelang sore hari. Bagi Gemma, ia hanya ingin memberikan waktunya untuk sang kekasih yang baru di pacari sekitar tiga bulan.
"udah sore nih, pulang yuk", "cape ya" Gemma mengelus pucuk kepala Kahi. "lumayan sih, lagian udah sore juga" ia menarik lengan Gemma setengah menyeret pria itu untuk lekas pergi dari sana.
__ADS_1
Di dalam mobil milik Gemma, Kahi hentinya mengeluh pada sang pacar. Sudahsejak tadi mereka terjebak kemacetan di jam pulang kantor. "kamu tidur aja, nanti aku bangunin kalo udah sampe" ia mengelus pucuk kepala kahi untuk kesekian kali. Berharap usahanya berhasil, karena sejak tadi mulut mungil itu terus menggerutu. Kahi menggeleng lalu memperbaiki posisi duduknya jadi miring menghadap Gemma.
"tahu nggak kenapa aku nggak mau nyetir sendiri " ia kembali ke posisi duduknya semula, menghadap ke jalanan depan." kenapa" kata Gemma cepat. "aku punya trauma" Gemma menatap wanita di sebelahnya dengan tak percaya.
"dulu, waktu ayah masih hidup. Aku sama ayah pernah kecelakaan yang mengakibatkan ayah meninggal. Sejak saat itu aku takut nyetir sendirian. Bukan cuma itu. Lihat banyak mobil di jalanan selalu ngingetin aku tentang kecelakaan itu" jelas Kahi.
"kamu udah coba sembuhin" tanya Gemma sembari fokus pada jalanan di depannya.
"sudah, beberapa kali malah. Tapi belum juga ada perubahan " Gemma melihat ke samping kirinya sebentar lalu kembali fokus pada jalanan." aku bisa bantu kamu, kalo Kamu mau" kata Gemma yakin. "gratis kan"
"iya, khusus buat pacarku" kali ini tangan Gemma mengelus pipi kanan milik Kahi. Ia tersenyum lebar demi untuk melihat binaran di wajah sang kekasih. Mobil masih melaju dengan kecepatan lambat, karena mereka berada di persimpangan lampu merah rawan kemacetan.
Suara klakson dan tabrakan hebat terjadi persih di depan persimpangan lampu merah di depan mobil mereka. "kecelakaan mas" Kahi yang mengintip dari kaca sebelah yang ia buka berseru pada Gemma. "aku parkirin mobil di depan, kamu tetap di mobil ya" lalu mobil berhenti tepat di depan mini market di sebelah kiri jalan. Usai mematikan mesin mobil, Gemma langsung keluar dari mobil dengan berlari.
Kahi yang gelisah jika di dalam mobil sendiri, nekat menyusul Gemma di balik banyaknya orang yang berkerumun. Di tempatnya berdiri, ia bisa melihat sang kekasih sudah menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Kemeja berwarna biru sudah bercampur darah dari seorang korban yang tengah di tolongnya.
Kecelakaan beruntun antara mini bus dan bus kota, mengakibatkan badan bus terguling sedangkan mini bus ringsek di bagian depan. Kahi meremas mini dress yang dia kenakan, teriakan orang minta tolong bercampur dengan suara tangis. Ini mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam, saat ia harus kehilangan sang ayah.
Orang-orang berusaha menolong mengeluarkan korban dari badan bus yang terguling, beruntungnya mobil ambulans berdatangan bertepatan dengan kedatangan petugas kepolisian. Ia melangkah ke arah Gemma yang sedang memberikan pertolongan pertama pada seorang pria paruhbaya baya, yang terluka di kedua kakinya akibat terjepit.
__ADS_1
Ia berdiam di sisi Gemma yang masih sibuk mengikat alat yang di berikan oleh petugas ambulans. "apa yang kamu lakukan, Hi. Cepat kembali ke mobil" Gemma mengeraskan suaranya. "mas. .." ia yang sedang dalam kondisi tak baik, karena traumanya malah mendapat bentakan dari Gemma.
"kembalilah ke mobil, tunggulah di sana" kali ini Gemma membentaknya di depan orang banyak. Ia bukan tak mau kembali ke mobil. Tapi sekarang tubuhnya sudah gemetar hebat, bahkan keringat dingin sudah sejak tadi bercucuran.
Gemma membantu pria tadi naik ke tandu lalu mendorongnya bersama petugas lain, tak mempetdulikan Kahi yang sudah kehilangan keseimbangan. Kedua kakinya seperti tak mampu berdiri, begitu juga dengan matanya yang mulai mengabur.
Tak punya pilihan bagi Kahi, ia harus kembali ke mobil untuk menghilangkan rasa takutnya. Tapi baru berbalik dia sudah limbung. Beruntungnya, dia belum mendarat di atas kerasnya aspal jalan. Melainkan di dada seseorang yang langsung sigap menggendongnya ala bridel. Ia pikir Gemma kembali padanya, menolongnya tapi nyatanya dia adalah orang yang berbeda.
\*
Saat bangun yang pertama dilihat olehnya adalah, wajah keingintahuan Lia yang sedang menatapnya. "apa yang lu rasain sekarang, pusing? Mual? Atau lapar " baru juga membuka mata, Lia sudah memberondong Kahi dengan pertanyaan
"ini hari apa, mba" kahi mengerjapkan matanya melihat ke sekeliling, mencari sesuatu. "ini hari selasa. Lu nyari apa?"
"ponsel pintarku. Tahu nggak " tanpa sadar Lia malah ikut melihat ke sekeliling tanpa perduli." lu naroh di mana? " kahi menggeleng cepet." siapa yang antar aku pulang "
__ADS_1
"kenapa" ia kembali berbaring di ranjang miliknya. "mau tau aja" "nanti juga tau sendiri"