
Kedatangan dua orang itu mengagetkan mereka yang sedang asik menikmati sarapan pagi di atas rumput hijau. Bukan karena tangan mereka berdua yang saling bertautan. Tapi karena wajah keduanya yang terlihat berseri-seri.
Buru-buru Juan meletakkan roti tawar selai strawberry ke tangan Lia, lalu menyusul dua orang tadi ke dalam rumah. Lia juga melakukan hal yang sama, meraih Juna dalam gendongnya menyusul suaminya.
"mas tunggu di sini dulu ya. Aku mau mandi " kahi melepas tangannya dari genggaman Gemma, lantas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Sedang Gemma sendiri memilih untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"pagi amat lu datengnya" Juan yang baru datang juga mendudukan diri di sofa miliknya. "emang nggak boleh" Gemma tak mau kalah dari sahabatnya itu. "jiah, lu kalo ngapel yang bener aja. Masih pagi malih" ujar Juan menambahkan. "nggak ada yang ngatur kalo ngapel kudu malam hari, Bambang" Gemma menyeringai, sahabat rasa musuh kalau sudah saling menggunakan nama orang lain untuk panggilan mereka.
"iiiisssh, jomblo lebih dari seumur hidup macam lu, mana tahu aturan ngapel lu" Juan tak mau kalah dari dokter yang menjadi idola di rumah sakitnya. "abang, bisa diem nggak. Awas kalo pacarku malah pulang gara-gara abang" Kahi berteriak dari lantai dua depan kamarnya. Ternyata sejak tadi dia belum masuk ke kamar.
Gemma tak bisa menahan tawanya kali ini, gelak tawa langsung di dengar oleh Lia yang baru masuk lewat pintu ruang tamu. "muka mas kenapa" Juan yang sedang cemberut dengan cepat merubah wajahnya jadi tersenyum. "nggak apa-apa, sini Juna sama papa. Kamu tolong buatin minum buat tamunya Kahi ya" Lia mengangguk sambil menyerahkan Juna ke gendongan sang suami.
"lu udah sarapan" Juan mendudukan dirinya dan Juna di atas permadani di tengah ruangan. "sudah, sebelum ke sini. Oh iya, Gimana keadaan pasien korban kecelakaan yang dirawat di lantai tiga" Gemma ikut mendudukan diri di sebelah Juan.
Melihat anak balita di depannya yang sedang memainkan maianan miliknya.
"semua terkendali, pasien juga lebih cepat pulih. Kemarin saja tinggal beberapa orang yang masih dirawat " dia mengangguk setuju dengan penjelasan dari Juan." silahkan bapak-bapak" Lia meletakkan baki berisi 4 gelas orange jus dan 1 mangkuk besar berisi camilan. Lalu dia ikut bergabung di atas permadani.
*
"maaf ya aku harus ke rumah sakit secepatnya, ada operasi darurat. Terus dokter bedah lain tidak ada yang stanby. Kita bisa pergi lain waktu kan" ia sudah mendengar alasan Gemma hampir ke tiga kalinya, saat perjalanan yang baru separuh jalan menuju mall. "iya mas. Aku ngerti kok" ia sudah tak mengerti lagi bagaimana caranya menutupi kekesalannya. Jadilah di sini dia sekarang, berdiri di pinggir jalan raya. Cukup lama berdiri, dia sendiri bingung ingin menggunakan kendaraan macam apa.
Hampir 10 menit berlalu dia masih duduk di bangku yang ada di sepanjang jalan, tapi ia masih enggan membawa kakinya untuk berjalan atau menggunakan tangan kanannya untuk memanggil kendaraan. Tapi saat melihat angkutan umum seperti bus. Kahi mulai beranjak menuju halte paling terdekat dengan tempatnya duduk.
"maaf, boleh duduk di sini" ucap seorang dengan sopan di sebelah Kahi. "silahkan" Kahi bergeser ke bangku sebelah jendela. "terimakasih" ujar orang itu lagi. Kahi membalas dengan senyuman pada orang itu.
"eh, apa kau Kahila Julie dari SMA X" merasa namanya disebut oleh orang tadi, kahi menoleh ke samping untuk kembali melihat orang tersebut. "iya benar, anda" "aku Dita, yang sering dipanggil tomboy" sela wanita bernama Dita. Kahi membuka matanya lebar, "kau benar-benar Dita" dia menatap lekat wanita di sampingnya itu dengan tak percaya. Pasalnya wanita yang dulu tomboy dengan potongan rambut pria.
Tapi Dita yang ini sangatlah faminim, dengan potongan rambut panjang sebahu dan dress pendek. "aku sudah menikah" Dita mengangkat jari kirinya, tepatnya jari manis yang berhias cincin emas. "ah benarkah. Kapan? Kenapa kau tak mengundangku" senyum lebar mengembang di bibir Dita, "aku menikah di kota B, 10 tahun lalu" jelas Dita singkat.
"yang benar, kalau begitu anakmu ada berapa" dia memutar tubuhnya untuk memudahkan berbicara dengan Dita.
__ADS_1
"anakku sudah 3, lelaki semua" Dita mengangkat tiga jarinya ke atas. "yang bener, Ta" Dita mengangguk semangat. "ini ke empat" lalu mengelus perutnya yang sedikit buncit. Mata Kahi berbinar memandang perut buncit Dita.
"Boleh ngelus nggak ", ia mengeluarkan tangannya di depan perut Dita." boleh " setelah mendapat persetujuan dari Dita, ia mulai mengelus perut yang sedikit buncit itu.
Ia tersenyum senang.
" mau ke mana, Ta" tanya Kahi saat Dita bersiap turun. "jemput anak, Hi. Aku duluan ya. Bye" "bye"
Usai Dita turun, tak lama bus yang dinaiki oleh Kahi juga sampai di persimpangan jalan menuju Kafenya. Dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Kafenya, siang ini matahari sedang benar-benar terik. Menjadikan siang itu panas sekali, ia sampai di kafe dengan bulir keringat di keningnya.
"Ka, bagi minum ya" Kahi menyambar gelas berisi jus di atas nampan yang sedang di bawa oleh ika. "haus mba" ujar ika setelah dia berhasil meminum jus sampai tandas. "iya, panas banget juga. Aku ke atas dulu ya" ika hanya tersenyum padanya tanpa menjawabnya
Drrrrtt Drrrrtt
Ponsel miliknya bergetar di atas meja kerja, ia yang sedang memeriksa beberapa laporan keuangan terpaksa menghentikan kegiatannya.
Tanpa melihat siapa yang sedang menghubunginya, Kahi langsung menekan tombol hijau lalu menjepit ponselnya di antara bahu dan telinga. Hingga suara dari orang di seberang telepon, berhasil membuat ia menjauhkan ponselnya demi untuk melihat layar ponselnya.
"hallo tante Tiar" katanya lembut.
"kamu udah tiga bulan lebih nggak ke rumah tante, Hi. Juan sama Lia aja bulan kemaren ke rumah. Kamu masih nganggep tante nggak sih, Hi"
"maaf tante, aku lagi banyak kerjaan di kafe. Jadi belum sempat main"
"kamu pikir, kamu doang yang sibuk. Sore ini tante tunggu di rumah, mumpung ada Dea sama anak-anaknya"
"tapi tante"
"kalo kamu masih menganggap tante keluar kamu, dateng sore ini. Atau jangan pernah ketemu tante lagi"
Tuut tuuut
__ADS_1
Ia menatap ponselnya dengan nanar, meraup wajahnya dengan kasar. Lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Menatap langit-langit ruangan kerjanya, menerawang entah kemana. Lalu meraih kembali ponselnya, mengeser-geser dan mengetik sesuatu di layar ponselnya. Lalu meletakkan ponselnya kembali telinganya. Hingga nada teratur yang terdengar.
Tuuut tuuut
Ia mematikan paksa ponselnya, lalu meraih tas selempang miliknya yang berada di atas meja kerjanya. Sambil berlari dia menuruni anak tangga, berbicara sebentar dengan salah satu karyawannya. Kemudian berjalan keluar kafe sembari menelpon seseorang.
"mba bisa temenin aku ke rumah tante Tiar" katanya sembari berusaha menghentikan taxi yang lewat di depannya. Sialnya tak ada satupun taxi yang kosong.
"sorry lagi di rumah mama, Hi. Mama lagi sakit, udah dulu ya"
Tuuut Tuuut
Sekali lagi dia melambaikan tangannya saat ada taksi berada di jalan depannya, tapi seperti tadi taksi itu ada penumpangnya. Mungkin kebanyakan dari mereka memilih taxi untuk menghindari panas.
Ia akhirnya memilih memesan taksi online lewat aplikasi di ponselnya, tapi baru juga membuka aplikasi sebuah mobil dengan merk terkenal. Sudah berhenti di depannya.
Ia mencoba mengabaikan mobil itu, kembali fokus pada aplikasi pemesanan taksi online.
Tiinn
Suara klakson mobil di depannya, membuat Kahi semakin penasaran untuk melihat orang di dalam mobil. Tiba-tiba kaca mobil di depan Kahi terbuka secara perlahan, menampilkan sosok pria di dalam mobil. Yang sangat dikenal olehnya.
"mau kemana" tanya pria itu, tapi ia tak begitu peduli dengan pria di dalam mobil.
"mau kuantar" dia masih sibuk dengan ponselnya untuk memesan taksi online, tapi hari ini sepertinya bukan hari keberuntungan untuknya. Tak ada satu pun driver yang menerima pesanannya.
Tiinn tiinn
Ia mulai jengah dengan pria di balik kemudi mobil berwarna putih itu, tawaran yang menggiurkan. Tapi jika bukan pria itu yang memberikan tumpangan. Cukup lama berdiam di tempatnya untuk menunggu driver lain menerima pesanannya.
Akhirnya setelah berdiri lebih dari 15 menit, ia terpaksa masuk ke mobil di depannya. Meski sebenarnya dia enggan hanya berdua dengan lelaki itu di dalam mobil. Tapi hari menjelang sore, sudah tak ada pilihan lain.
__ADS_1