
Kahi merutuki kebodohannya yang memakai pakaian dengan warna senada dengan Haki. Beberapa kali dia mendengus kesal, karena ulah bodohnya. Tangannya melempar tas popok ke arah Haki yang juga sedang menatapnya binar.
Kakinya sempat bergerak, untuk kembali masuk ke dalam apartemennya. Tapi dia mengurungkan kembali niat itu. Karena jika harus kembali berganti pakaian, bisa bisa mereka akan datang terlambat dari janji yang sudah dibuat dengan dokter.
Kahi mengangkat kedua bahu, tak peduli lagi. Kedua kakinya melangkah. "ayo, kita bisa telat kalau kamu terus berdiri di sana" gerutunya karena lelaki itu malah terdiam di tempatnya.
"kau yakin akan tetap berangkat dengan pakaian itu" Haki menggerakkan kakinya, memotong langkah Kahi. Lalu kedua matanya melihat Kahi dari atas hingga ke bawah.
Kahi mengikuti arah pandangan mata Haki. Tak ada yang salah dengan dress yang dia pakai. Dress kemeja dengan gaya vintage kotak kotak, lengan pendek. Dan dengan motif serut di pinggang. Yang memiliki warna dan corak sama dengan kemeja yang dipakai Haki biru muda. Sedangkan bayi Akasia mengenakan romper berwarna putih, dengan tulisan I Love Mom & Dad besar di bagian badannya.
Jika orang lain yang melihat, mereka dikira keluarga yang sempurna. Sepasang suami istri yang tampan dan cantik, dengan satu anak yang juga tak kalah tampan seperti ayahnya. Sayangnya, mereka hanya dua orang yang berusaha menjadi orang tua bagi bayi mereka. Tanpa ada status apapun yang mengikat mereka berdua.
"sudah, ayo berangkat" dia melangkah cepat bersama sang bayi yang berada didekapannya, melewati Haki yang masih terpesona dengan penampilan ibu dan bayi itu.
"kita seperti keluarga yang harmonis, Hi" gumamnya sembari mempercepat langkahnya. Tangannya sibuk mengaitkan selempang tas popok ke lehernya hingga jatuh di bahu.
"berikan padaku, biar aku saja yang menggendong Aka" kedua tangannya meraih tubuh gembul bayi di lengan Kahi. Kemudian memindahkannya ke dalam gendongannya.
Mereka berjalan beriringan memasuki lift apartemen, lalu menuju mobil Haki yang terparkir apik di lantai dasar apartemen.
Setelah mengembalikan bayinya pada sang ibu, Haki membukakan pintu mobil untuk Kahi. Lalu dia berputar menuju pintu mobil dibaguan kemudi.
*
Kahi berdiri di depan loket pendaftaran. Dia masih menggendong bayinya sambil menunggu Haki datang dari toilet.
Setelah mendapat nomor antrian, dia membawa bayinya untuk mencari Haki. Tangannya sudah pegal karena terlalu lama menggendong Aka. Juga tas yang popok yang menambah beban tangannya. Sementara lelaki yang mengenakan kemeja dengan corak sama dengannya, belum juga datang.
__ADS_1
Kahi memaksakan untuk mencari lelaki itu. Setelah berjalan sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri tadi, dia berhasil menemukan lelaki itu berada.
Di sana lelaki itu, di kursi tunggu yang sudah penuh oleh kebanyakan ibu-ibu, juga para pengunjung rumah sakit yang kebanyakan perempuan. Haki duduk dengan sangat canggung. Kahi bisa melihat dengan jelas, bagaimana wanita di sebelah kiri dan kanan Haki membuat lelaki itu terpaksa menjawab pertanyaan dari mereka.
Dia melangkah cepat, membelah orang orang yang sedang duduk di sana. Kemudian meletakkan bayi Aka dengan lembut di pangkuan lelaki itu. Sontak saja, aksinya menarik perhatian dua wanita di samping Haki dan di sekitar mereka.
Kahi berdiri dengan mata tajam yang siap merobek apapun yang dia lihat. Dia memutar matanya jengah dengan ekspresi wajah wanita di sana yang seolah terkejut dengan status Haki.
"sayang, kita sudah dapat nomornya. Ayo pindah ke poli anak" Kahi berusaha membuat suaranya semanja mungkin. Seakan memberi kejelasan akan status mereka berdua.
Sementara lelaki itu mengulum bibirnya. Mengangguk, lalu berdiri. Dengan sebelah tangannya dia mendekap tubuh bayi Aka digendongannya. Sebelah tangannya lagi meraih jemari tangan Kahi.
Yang sontak membuat wanita itu terkejut dengan perbuatannya. Sempat ingin menarik tangannya dari genggaman Haki. Tapi kemudian dia mengurungkannya. Saat dia melihat tatapan iri dan juga jengah para wanita di sana.
*
Kahi menghentakkan tangannya. Hingga terlepas dari genggaman Haki. Dia merebut bayinya, lalu mendudukan dirinya di kursi tunggu.
Dia mengambil tempat di sebelah wanita itu. Lalu meletakkan tas popok bayi Aka di pangkuannya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan berukuran besar itu berisi banyak orang yang sedang menunggu.
Lebih tepatnya pasangan suami istri dan anak mereka. Matanya menangkap pemandangan yang aneh baginya. Hampir semua pasang mata menatap ke arahnya.
Haki menoleh ke arah Kahi. Wanita yang masih sibuk memegangi botol susu yang sedang diisap oleh bayi Aka. Tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Dia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Kahi. "orang orang kayanya lihatin kita deh" bisiknya.
Kahi mendongak, memutar kepalanya untuk melihat sekilas. Lalu menoleh ke arah Haki dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"iya kan" Kahi mengedikkan bahunya, kemudian kembali fokus pada bayi di dalam dekapannya.
"cuma perasaan kamu saja kali" ujar Kahi datar. Haki kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Kahi. "beneran, Hi. Lihat saja tuh" katanya lirih.
Sebuah tepukan di bahunya, membuat Haki menoleh ke arah orang di sebelahnya. Lelaki itu mengernyitkan keningnya saat melihat seorang wanita paruhbaya, dan anak balita duduk di pangkuannya.
"mas sama istrinya serasi banget. Cantik sama ganteng. Saya jadi ingat waktu awal nikah dulu" kata wanita paruhbaya itu.
Haki tersenyum tipis, dia mengangguk pelan. "terima kasih, bu" katanya dengan sopan.
"saya dulu juga suka pake baju yang warnanya samaan. Tapi suami saya seringnya malah marah. Katanya norak"
"iyalah norak, kalau macam bapak yang garang begini disuruh pakai baju warna pink" sela seorang pria paruhbaya di sebelah wanita itu.
"ya gini suami saya. Kampungan, mas" wanita paruhbaya itu mendelik ke arah sang suami.
*
Sejak disuntik hingga keluar dari ruangan dokter. Bayi Aka terus menangis. Suara isak yang terdengar sangat pilu, karena rasa sakit. Membuat dua orang tua muda itu ikut
"apa seperti ini yang bayi lain rasakan" Haki menyuarakan pertanyaan yang sejak tadi ada di kepalanya. Dia merasa dadanya sakit karena tangisan bayinya yang sepertinya sangat kesakitan. Dia sempat berpikir, jika saja bisa dia ingin menggantikan rasa sakit itu padanya.
"susunya sudah habis" Haki membulatkan kedua matanya menatap susu kosong di tangan Kahi. "stok di botol memang habis"
"terus gimana dong, kita masih jauh dari apartemen kan. Semua stok susunya ada di sana" katanya dengan panik.
"tidak perlu" Haki tiba-tiba menginjak rem, "apa, kenapa. Aka akan terus menangis kalau tak ada susu" protes Haki dengan nada tinggi.
__ADS_1
Kahi yang terkejut karena hampir terjungkal. Menatap tajam ke arahnya. Dia memperbaiki posisi duduknya dan juga bayi di pangkuannya.
"kamu gila ya, kamu bisa membuat kita semua celaka" katanya geram. "maaf, aku akan lebih berhati-hati lagi" sesalnya.