
Di sinilah mereka sekarang, di pusat perbelanjaan terbesar dekat komplek perumahan Kahi. Mereka menikmati kegiatan berbelanja, memilih barang-barang yang dibutuhkan untuk persediaan seminggu.
Lia tengah sibuk memilih daging ayam, sedangkan Kahi tengah bermain dengan Juna yang duduk di atas troli berisi belanjaan.
Sesekali mereka tertawa berdua, memilih snack favorit bersama untuk di makan di rumah.
Lebih dari satu jam lebih mereka berbelanja kebutuhan untuk makan siang hari ini dan untuk persediaan selama seminggu kedepan.
Lebih banyak kebutuhan milik Juna yang di beli seperti susu san popok. Kini mereka sedang meletakkan semua belanjaan di bagasi mobil yang di kendarai oleh Lia sendiri.
"mama, mau es krim " ujar Juna dengan logat cadelnya.
"mau es krim ya, tunggu sebentar ya"
"Juna sama aku aja mba, di seberang sana kayaknya itu kedai es krim deh" ucap Kahi sambil menunjuk kedai di seberang jalan.
"boleh deh, Juna sama aunty ya. Nanti mama nyusul" kata Lia.
"iya mama" Juna terlihat sangat senang.
"let's go Juna"
Kahi menggandeng juna di sebelah kanannya untuk menyeberang, namun sayang arus lalu lintas pagi itu sedang sangat ramai kendaraan bermotor. Cukup lama menunggu lengang, tapi masih belum juga lengang.
Hingga seorang lelaki mengendarai motor berhenti di pinggir jalan, berada persis di sebelah Kahi berdiri. Dia yang masih mengenakan helm sempat membuat kahi takut, namun justru pria itu berusaha membantu menyebrangkan Kahi dan Juna.
Karena kahi masih diam di tempat, lelaki itu memberanikan diri meraih tangan kiri Kahi yang bebas. Kahi yang tak menyadari nya, masih saja mencoba mengingat pria yang sepertinya ia kenali wajahnya di balik helm meski hanya terlihat sekilas.
Saat tiba di seberang jalan, lelaki itu melepas tangannya dan pergi begitu saja menghampiri motor yang ditinggalkan di pinggir jalan. Sementara Kahi, membeku di tempatnya. Dia masih terus melihat lelaki itu sampai motornya tak terlihat lagi.
Di seberang jalan tempat tadi kahi berdiri, Lia sudah mengambil foto mereka bertiga saat menyebrang. Ini moment langka dalam hidupnya bisa melihat Kahi dengan lelaki yang sama bergandengan tangan lagi. Sudah lebih dari
***
Makanan sudah tersaji di atas meja makan, sedangkan tamu dan juga kakak Kahi sendiri belum datang. Dia sudah mengenakan dress sebawah lutut pilihan Lia. Mengenakan make up natural, menjadikan dia terlihat lebih segar.
__ADS_1
Meski jam belum menunjukkan jam makan siang, tapi tiga orang di rumah itu sudah rapih.
"Mba Lia, mereka jadi dateng nggak sih" tanyanya, dia sudah sangat bosan duduk manis di sofa ruang keluarga.
"tunggu bentaran, Hi. Ajakin Juna main aja dulu. Gue liat ke depan ya" Lia bangkit lalu berjalan pelan ke arah pintu keluar.
"hmm" Kahi berpindah jadi duduk di bawah. Di atas permadani, bermain bersama Juna.
Selang 5 menit kemudian terdengar suara mobil lebih dari satu terpakir di halaman rumah yang memang cukup untuk beberapa mobil.
Menyusul suara orang berbicara semakin mendekat ke arah Kahi dan Juna yang sedang duduk lesehan di ruang keluarga.
"nah itu dia Kahi, Ma. " kata Juan yang datang dengan seorang pria tampan berbadan tinggi dan memiliki senyuman yang sangat manis bagi Kahi.
Di belakang Juan, Lia datang dengan 4 orang lain yang sepertinya teman-teman Juan di Rs. Mereka semua tersenyum ramah padanya, dia pun membalas dengan senyuman juga.
"hai, ganteng" seorang wanita usia kisaran berkepala 4 itu langsung mendekati Juna yang sedang bergelayut manja pada Kahi.
"mba Rara, apa kabar. Gea ngga di ajak" Tanya Kahi yang sudah cukup mengenal sahabat abangnya sejak kuliah. Wanita seumuran dengan sang kakak tersenyum kecil.
"wah baru tau kalo lagi hamil lagi"
Kata Kahi dan Lia kompak
"tokcer bener si Jaelani" ujar Juan yang tengah membawa toples isi snack untuk tamunya.
"oh jelas dong" sekarang yang menjawab pria yang berstatus suami Rara.
"Hi, kenalin nih. Spesialis bedah terbaik dan terkenal Rs Xx Gemma Irawan Perkasa" kali ini Juan mengenalkan pria yang tadi masuk bersamanya.
"jangan berlebihan, Juan. Gk sehebat dan seterkenal elu lah" jawab Gemma malu malu.
Obrolan terus berlanjut di meja makan. Kahi dan Gemma hanya sesekali berbincang yang selalu di timpali candaan dari yang lainnya.
"oh ya, Kahi sudah punya pacar belum nih" suami Rara bertanya padanya. Dia terkejut atas pertanyaan dari sahabat abangnya itu. Mungkin bukan rahasia lagi, jika dia sudah lama tidak menjalin hubungan dengan siapapun.
__ADS_1
"jangan ditanya begitu lah, malu anaknya kan" Rara menyikut lengan suaminya. "aku masih betah buat sendiri mas Jay" jawab Kahi cepat. Semua orang menatap ke arah Kahi lalu bergantian ke arah Gemma.
"pas banget, gimana menurut kamu. Dokter yang ini" suami Rara menunjuk ke arah Gemma yang masih asik menikmati makan siangnya.
"gimana apanya ya mas" katanya bingung. Rara, Juan, Lia dan seorang lagi bernama Doni tertawa bersama. Sementara Gemma menatap heran pada yang lainnya. Lalu matanya bertemu dengan manik mata milik Kahi.
Mereka berdua menunduk bersama, Kahi menyembunyikan semburat merah di pipinya. Sedangkan Gemma bingung harus bersikap bagaimana.
*
Obrolan makan siang berpindah ke meja ruang tamu. Dua orang yang masih menyandang status single itu, duduk di kursi yang berdekatan. Ulah Juan yang meminta Kahi duduk di dekat Gemma.
"ah maaf jadi kamu lulusan universitas B di kota M" tanya Gemma setelah mereka sedikit mengobrol tadi. Kahi mengangguk sekali, dia menarik sudut bibirnya. "ambil jurusan apa" tanya Gemma lagi.
"ambil ekonomi, mas. Mas sendiri satu universitas sama abang ya"
"iya, aku adik tingkatnya Juan. Juniornya dulu di kampus. Tapi juga junior di rumah sakit. Dunia memang sempit ya" Gemma tertawa kecil.
"dia senior abang sekarang, Hi. Kamu nggak tahu aja, dia banyak fansnya. Abang kalah kalo masalah itu. Jadi dia senior abang sekarang" Sela Juan.
Mereka berdua ikut berdiri, saat melihat yang lainnya berdiri. Jam makan siang sebentar lagi habis, jadi para dokter itu kembali ke rumah sakit. Sedangkan Lia sedang menidurkan Juna di kamarnya.
Tinggal Kahi seorang diri yang sedang membereskan sisa makan siang tadi. Dia meraih ponsel miliknya di atas meja makan. Di layar yang sedang menyala itu, ada kontak nomor baru yang belum diberi nama. Ntah kapan lelaki tadi meminta nomor ponselnya, dia tak ingat.
Usai membereskan sisa makan siang, kahi menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk beristirahat sebentar. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tangannya mengangkat ponsel yang masih menyala, yang masih menampilkan nomor yang belum di beri nama pemiliknya.
Dia menghela nafas panjang, sudah saatnya dia melupakan masa lalu yang melukainya. Usianya tak muda lagi untuk selalu memilih. Dia memilih untuk tidur sekarang, dan melupakan satu hal. Nomor ponsel Gemma belum dia simpan.
***
Malam hari nya di ruang keluarga, semua sedang bermain bersama Juna yang tak henti henti berlarian membawa mainan. Sesekali Kahi membalas pesan yang masuk ke ponselnya. Dia melihat lihat sosial medianya yang sudah lama diabaikan.
Drrrrtt Drrrrtt
"hallo"
__ADS_1
"aku di depan rumahmu"