Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
21.


__ADS_3

Tok tok tok


Ceklek


Lia masuk ke dalam kamar milik Kahi, meletakkan makanan yang dia bawa ke atas nakas. Lalu melangkah ke sisi diding kaca, menyibakkan tirai besar yang menghalangi cahaya matahari dari luar.


Sementara Kahi sendiri sedang duduk, di samping ranjangnya. Tatapan matanya kosong, wajahnya bahkan sangat pucat. Dia hanya duduk bersandar selama tiga hari ini, menghukum dirinya sendiri. Menghindari bertemu siapapun, selalu di dalam kamarnya selama tiga hari pula.


"mau makan, Hi" Lia berjongkok dihadapannya, melipat kedua tangannya di atas lutut. Menyeimbangkan tingginya dengan Kahi. Tak ada tanggapan dari adik iparnya itu, hanya tatapan sayu dari matanya.


"aku suapin ya" entah sejak kapan, Lia merubah gaya bahasa pada adik iparnya ini. Mungkin sejak tiga hari lalu. Saat menjelang tengah malam, Kahi pulang dengan wajah penuh air mata. Menangis lama sampai Kahi tidurpun, air matanya kadang masih menetes.


Juan bahkan berusaha membawa adiknya ke rumah sakit. Memaksanya dengan menggendong Kahi, tapi yang terjadi malah Kahi memintanya tak melakukan apapun. Membiarkan dirinya yang menanggung dosa sendiri, menutup rapat-rapat dari siapapun. Dia menutup mata, telinga bahkan mulutnya.


"ayo makan, Hi" dia tak sanggup lagi menahan air mata yang sejak kemarin dia tahan. Dia mencoba kuat untuk suami dan adik iparnya. Dia bisa saja tegar saat sesuatu yang buruk terjadi pada adik kandungnya. Tapi baginya Kahi adalah segalanya.


Lia meletakkan piring di tangannya, di depan Kahi. Dengan kasar dia menghapus air matanya. Lalu kembali memegang piring tadi, menyendokkan bubur dengan jumlah sedikit. Dengan menahan isak tangisnya, dia menyodorkan sendok itu ke depan mulut Kahi.


Satu sendok masuk ke mulut Kahi, meski enggan mengunyah. Lia sudah sangat senang karena dia mau makan. Suapan berikutnya pun kembali dia makan. Tapi mata yang sejak tadi berkaca-kaca, tak mampu menahan lagi.


"kenapa, ada yang sakit" Lia menghapus air mata di pipinya, dengan ibu jari tangan kanannya. Tapi yang terjadi justru air terus keluar dari mata sembabnya.


"eeeeeeekkk" suara tangis Juna, membuat Lia dengan cepat bangkit dan berlari ke arah kamar di sebelah kamar Kahi. Dia meraih putranya dalam gendongannya, lalu kembali masuk ke dalam kamar Kahi.


Lia melihat ke tempat terakhir Kahi duduk, kosong dia tak ada di sana."eeeeeekkkk" "cupcup anak mama, sebentar ya kita cari tante dulu" Ujar Lia menenangkan putranya.


Lalu dia membuka pintu kamar mandi, melihat ke sekelilingnya. Kosong, dengan panik dia yang masih menggendong anaknya. Setengah berlari ke arah balkon di balik dinding kaca. Menggeser paksa pintu kaca dengan sebelah tangannya.

__ADS_1


"Kahi, jangan" dia menjerit saat tepat di depan matanya, Kahi melompat dari pembatas balkon. "Kahi..." tangisnya pecah saat melihat ke bawah, adik iparnya sudah tergeletak di atas paping blok halaman rumahnya.


**


"kamu tenang dulu, biar Juna ikut tenang juga" Juan mencoba menenangkan istrinya di depan ruang operasi, sedangkan sang anak yang digendong olehnya tak berhenti menangis sejak mereka datang tadi.


Flashback


Diapun sangat kacau, tiba-tiba Lia berteriak histeris saat dia mengangkat sambungan teleponnya. Lalu kabar yang dia dengar dari suara Lia bercampur tangis Juna. Berhasil membuatnya terkulai lemas, beruntung di sekitarnya berdiri ada orang lain.


Jadi saat mobil Lia yang dengan sembarangan berhenti di depan IGD, dia yang panik langsung menggendong sang adik. Tapi tuhan tak membiarkannya melakukan kesalahan saat hendak melakukan pertolongan. Tangannya gemetar hebat. Jadilah dokter lain yang meneruskan menolong Kahi.


Dia pikir itu akan selesai dengan cepat, saat teman seprofesinya memberitahukan ada cedera di bagian otak adiknya. Dia yang tak siap menerima berita itu, hampir tumbang jika tak ada dinding di sampingnya untuk berpegang. Juan menghampiri sang istri, memintanya untuk membawa pulang Juna. Tapi Lia menolak, bahkan tangis wanita yang sudah dinikahinya selama 8 tahun itu sangat menyedihkan.


Saat mereka bertiga menunggu di depan IGD, suara derap langkah dengan cepat mendekati mereka. Gemma datang dengan panik, pakaian bekas melakukan operasi masih melekat di tubuhnya. Bagaimana dia tak panik, saat seorang perawat membicarakan soal adik Juan yang terluka.


Dia tak tahu seberapa parah luka itu saat dia dengan cepat meninggalkan rekannya selesai melakukan operasi. Lebih memilih menuruni anak tangga, dari lantai 6 sampai lantai satu. Membiarkan keringat membasahi seluruh tubuhnya.


Juan bergeming, dia akui dirinya menutupi berita tentang Kahi pada kekasih adiknya sendiri.


"Juan, kau mendengarku kan" Gemma berteriak di depan sahabatnya yang sedang terduduk di lantai. Merasa Juan tak memberi jawaban, lantas Gemma menerobos pintu IGD. Mencari tahu sendiri kondisi sebenarnya kekasih hatinya.


"kalian menunggu apalagi, pasien ini harus cepat di operasi" Gemma tak terima saat dokter yang menangani Kahi tadi, mengatakan jika operasi akan di lakukan dua jam lagi. "maaf dok, tapi saat ini ruang operasi sedang penuh. Kami hanya mengikuti prosedur" ujar dokter itu.


"kau mau cari mati, hah. Bawa sekarang juga ke ruang operasi. Aku yang akan menanganinya. Kau dengar itu" Dia sudah tak tahan berdebat hal tak penting dengan dokter baru di tempatnya bekerja. "ba baik dokter" dokter tadi dengan cepat memindahkan brangkar Kahi di bantu petugas lain ke ruang operasi.


Flashback off

__ADS_1


**


Gemma dan seorang dokter ahli bedah lainnya dibantu para petugas medis, sedang melakukan operasi untuk Kahi. Dia sebenarnya sangat panik saat ini, bagaimana dia tak panik saat kekasihnya bergantung padanya. Hidup dan mati ada di tangannya dan tuhan.


"kau harus bertahan, sayang" katanya pelan, tapi masih bisa didengar oleh yang lainnya.


Mereka kembali fokus dengan operasi yang dilakukan dibagian kepala Kahi.


**


"Juan, biar mama bawa Juna pulang dulu. Kamu yang sabar ya, mama titip Lia juga. Nanti kalau operasinya sudah selesai tolong kamu kabari mama ya" kata mama Ine, mertu Juan. Dia sangat berterima kasih pada mertuanya, meski jauh tapi dua orang tua Lia dengan sabar datang ke rumah sakit untuk menolongnya mengambil dan menjaga Juna.


"iya ma, makasih ya ma. Aku nitip Juna dulu. Nanti sebisa mungkin biar Lia juga pulang " Juan mengantar kedua mertuanya samoai di depan pintu lift, lalu kembali ke kursi tunggu ruang operasi bersama Lia.


Operasi berjalan cukup lama, memakan waktu hampir 5 jam lamanya. Gemma keluar dari pintu depan ruang operasi untuk bertemu dengan Juan.


"operasi berjalan dengan lancar, sekarang kita hanya perlu berdoa dan menyerahkan semuanya pada tuhan. Tapi lu punya hutang penjelasan tentang ini sama gue " katanya sebelum kembali masuk ke ruang operasi.


**


"tiga hari lalu, kahi pulang sambil nangis. Dia nggak mau ngomong apa apa. Dia cuma nangis sampai tertidur di pelukan Lia. Terus selama tiga hari ini, dia terus ngurung diri di kamar. Nggak mau makan bahkan nolak saat gue mau bawa ke dokter " jelas Juan pada Gemma.


Mereka kini berada di depan dinding kaca pembatas, ruang ICU tempat Kahi sedang dirawat.


"gue pikir ini cuma masalah tanah kafe yang masih sengketa, jadi gue biarin dulu. Tapi waktu Lia bilang, kalau Kahi loncat dari balkon. Ini semua jadi membingungkan. Dia nggak akan ambil tindakan nekat seperti ini, Ma" dia meraup wajahnya, lalu mengusap kasar dengan kedua tangannya.


"gue takut kehilangan Kahi, Ma. Dia satu-satunya harta berharga bagi ayah dan ibu. Dia salah satu tiang di hidup gue selain Lia dan Juna. Gue nggak bisa bayangin hal buruk terjadi sama dia, Ma" Juan tertunduk lesu, tangan kanannya menempel pada kaca pembatas ruangan. Sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya agar tak menangis di depan sang adik.

__ADS_1


"lu tenangin diri lu dan Lia dulu. Biar gue yang jaga Kahi" Ujar Gemma sembari menepuk pundak Juan pelan. "gue nggak bisa tenang, Ma. Gue cuma mau lihat dia bahagia, Ma" Gemma ikut mengangguk setuju. Dia juga berharap hal yang sama seperti Juan.


,


__ADS_2