Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
17.


__ADS_3

Kahi benar-benar menyesal menumpang mobil milik Haki. Apalagi setelah melihat wajah penasaran dua orang di depannya. Tantenya dan Dea kakak sepupunya, menilai Haki dari atas ke bawah seperti tak pernah melihat mahluk tampan.


"Hi, kok diem aja. Ajak masuk dong pacarnya" tantenya bahkan menganggap Haki, pacarnya. Dia melempar tatapan tajam ke arah Haki yang menampilkan cengiran di wajahnya. "ayo masuk, pacar" Kahi yang sedang melepas sepatu yang dia pakai, langsung melempar satu sepatunya ke arah Haki.


**


"ayo diminum nak Haki, ini ada cemilan juga" Tiar menyuguhkan teh hangat dan dua toples cemilan di atas meja. "iya tante, terima kasih" Haki mengangguk sopan. Seluruh mata di ruang tamu hanya tertuju pada satu orang, dia yang sore ini mengenakan kemeja lengan pendek, dan celana berbahan kain.


"sudah berapa lama pacaran sama Kahi " tanya Tiar yang duduk di depannya."nggak pacaran" "sudah lama, tante" jawab dua orang yang sedang duduk bersebelahan. Haki mendapat cubitan di perut sebelah kirinya, dia melirik Kahi yang juga sedang melirik dengan ujung mata miliknya.


"eh, cuma temen tante. Bukan pacar " kahi menggerakkan tangannya di depan wajahnya. Lalu tersenyum ke arah sang tante. "loh tante kira kalian pacaran, padahal cocok gituloh" wajah Tiar sedikit kecewa mendapati kenyataan sebenarnya. "Kahi ini perawan tua, nak Haki. Padahal tante rajin ngenalin dia sama anak temen-temen tante. Eh tetap nggak mau. Nggak tahu mau nyari calon suami kayak gimana"


"nak Haki sendiri apa sudah ada calon " Tiar menatap wajah pria muda di depannya dengan antusias. Haki menggeleng cepat lalu menunduk menyembunyikan senyumnya."sebenarnya sudah ada, tan. Tapi saya nggak yakin orangnya mau sama saya" ujarnya yang langsung mendapatkan tatapan tak percaya dari semua orang.


"loh masih ada yang nolak nak Haki, ganteng gini kok. Terus yang paling penting sudah mapan" tapi mereka kompak mengangguk setuju. Kahi yang merasa dicueki, mulai tenang karena tak ada pertanyaan yang membuatnya mati kutu. Mereka semua berbincang asik sampai waktu menjelang makan malam.


"nak Haki makan malam di sini ya. Tante sudah nyiapin makanan banyak buat kalian berdua juga. Ini pertama kalinya Kahi bawa temen cowok. Yang bener-bener temen " ajak Tiar pada Haki yang sedang mengajak main anak Dea. Sedangkan Kahi sudah terlebih dulu berada di dapur. Membantu Dea menyiapkan makanan di atas meja makan.


"kamu kenapa nggak pacaran sama Haki aja, Hi" tanya Dea sembari meletakkan piring di atas meja makan. Ia hanya menggeleng tak ingin menceritakan semuanya. "eh kan kata Lia, kamu udah punya pacar ya" Dea menyenggol lengan Kahi dengan lengannya. Kaki ini Kahi tersenyum malu. "dokter bedah, mba. Temannya abang dari kuliah dulu" katanya malu.


"ayo nak Haki, ayo masuk" dua orang yang sedang menata mangkuk berisi sayur dan lauk itu menoleh kompak, kahi bahkan berusaha keras menahan tawanya. Saat melihat Haki yang sedang menggendong dua putri kembar Dea ditangan kanan kirinya. "eeettt Bila Bela duduk, oke. Om Hakinya mau makan" ia dengan sigap meraih satu anak Dea, sedangkan Dea meraih yang satunya.

__ADS_1


Semua orang menikmati makan malam, dengan dengan dengannya dengannya ambulans cloudy penuh canda tawa. Kehangatan seperti ini yang selalu Haki rindukan, sejak kematian ayah dan ibunya. Ia menatap Kahi yang duduk di seberangnya, wanita itu sesekali membantu menyuapi Bila. Ia pernah membayangkan memiliki keluarga kecil bersama Kahi. Sebelum semua kesalahan yang ia lakukan menghancurkan semua impiannya.


"nak, mau nambah lauknya " suara Tiar mengembalikan hayalan Haki kembali ke dunia nyata. "sudah tante, saya sudah kenyang. Terima kasih" Haki menundukan kepalanya, untuk menutupi wajahnya yang sangay merah. Sepertinya semua orang tahu kalau dia sedang melamun.


"porsi makanmu bahkan lebih sedikit dariku. Apa semua polisi porsi makannya sepertimu" ia melihat tumpukan nasi dan lauk di atas piring Kahi. "aku sedang diet" katanya cepat.


"kenapa harus berdiet, badanmu itu oke" Dea membentuk bulatan dari jari telunjuk dan ibu jari, lalu ketiga jari lainnya di biarkan berdiri.


"eh, ini cara polisi untuk menghemat waktu saat makan" dia tergagap saat mengatakannya. Dan berhasil membuat tiga wanita dewasa itu tertawa kompak.


**


Selama perjalanan pulang dari rumah tantenya, Kahi terus terlelap di kursi penumpang sebelah Haki. Beberapa kali kepalanya terantuk jendela mobil, karena tertidur dalam posisi duduk. Haki yang Menyadari itu, menepikan mobilnya sebentar. Lalu memperbaiki kepala Kahi agar tidak terantuk lagi. Mengatur posisi tempat duduk, dalam mode tiduran. Agar memudahkan Kahi saat tidur.


Sesekali melirik ke samping, memastikan wanita di sampingnya tidak terganggu. Saat akan memasuki blok mereka, Kahi tiba-tiba terbangun. Karena goncangan mobil yang disebabkan banyak polisi tidur di beberapa titik jalan.


"udah sampai ya" ia melongokkan kepalanya mencoba mengenali daerah yang dilalui mobil saat ini. " sebentar lagi" kata Haki pelan, sembari mengacak rambutnya. Yang memang sudah berantakan sejak ia bangun tidur.


"kasih tau kalau udah sampe" ia merebahkan tubuhnya lagi. Enggan membuka matanya. "kan tinggal belok" ujar Haki. "hmmm" sahutnya.


**

__ADS_1


"gawat" kata Kahi, ia dengan tergesa melepas sabuk pengaman tanpa melepas matanya dari mobil yang sedang terparkir di depan gerbang rumah abangnya. "kenapa" tanya Haki yang juga ikut melihat mobil itu. "aku turun ya, makasih" dengan buru-buru dia turun dari mobil milik Haki tanpa menoleh padanya.


Setengah berlari ia menghampiri mobil milik Gemma, lalu mengetuk kaca mobil tiga kali. Tak lama kaca mobil turun secara perlahan, memperlihatkan Gemma yang tampak mengeraskan rahangnya. Karena melihat kekasihnya turun dari mobil seseorang. Apalagi orang itu mantan pacar kekasihnya. Seperti yang dia dengar dari pembicaraan Juan satu jam lalu.


"udah lama" tanya Kahi masih berdiri di tempatnya tadi. " kamu dari mana" kata Gemma datar, ia melirik menggunakan ujung matanya. Saat mobil Haki tak kunjung meninggalkan jalanan depan rumah Juan.


"dari rumah tante Tiar, mas" "sama siapa" ia meneguk kasar salivanya. "sama temen mas. Tetangga juga. Rumahnya di sana" katanya pelan. Tiba-tiba Gemma membuka pintu mobilnya, karena terkejut Kahi sampai mundur beberapa langkah.


"mas, mau ngapain " ia panik saat Gemma berjalan menuju mobil milik Haki, apalagi Haki juga keluar dari mobilnya."mas, udah mas" ia menarik lengan Gemma dengan kedua tangannya. Tapi tenaganya kalah kuat dengan Gemma, ia malah seperti sedang menarik pohon.


"mas, udah ya" ia berbisik di sebelah kiri Gemma sambil melihat ke arah Haki. Tak sangka Gemma menarik ujung kerah kemeja yang dipakai Haki. "jangan mendekati Kahi lagi. Ini buat lu"


Buuaakkk


Pukulan Gemma tepat bersarang di perut Haki. "massss, udah mas. Jangan" Kahi memeluk Gemma dari samping. Ia histeris melihat Gemma kembali maju ke arah Haki yang sudah tersungkur. Mengerang sambil memegangi perutnya.


"mass sudah" ia berteriak saat Gemma kembali menyerang Haki. Secara membabi buta. Tak membiarkan lawannya membalas serangannya.


Bagi Gemma, miliknya tak bisa di miliki orang lain. Meski dia harus melakukan apapun. Tadi saat tak sengaja mendengar pembicaraan Juan dengan sang istri, yang mengabarkan Kahi pergi bersama pria lain, pria yang pernah mengisi hati Kahi. Ia amat marah sekarang, bahkan teriakan Kahi tak menghentikan dirinya.


Beberapa kali pukulan mengarah ke perut dan wajah Haki, Gemma seperti gelap mata. Usai menghajarnya. Gemma menarik kasar Kahi, membuka pagar rumah Juan. Lalu menyuruhnya masuk. Menghapus air mata yang tanpa izin jatuh di pipi Kahi.

__ADS_1


"masuklah, cepat istirahat. Selamat malam" kata Gemma lembut sambil mengelus pipi Kahi dengan ibu jarinya. Meski masih terisak, ia mengangguk pasrah. Lalu menutup gerbang yang juga ditutup oleh Gemma.


__ADS_2