
Wajah lega dan senang terpancar jelas di pada Kahi dan juga orang terdekatnya. Gemma yang berdiri di sampingnya tidak berhenti menggenggam tangannya, menyalurkan kenyamanan untuknya.
"syukurlah, kalau begitu kafe bisa kembali di buka" Juan bersuara saat Haki selesai memberikan informasi dari hasil penyelidikannya.
"apa orang itu sudah ditangkap" tanya Kahi pada pria yang berdiri di ujung tempat tidurnya.
Semua orang melihat ke arah Haki, menunggu dengan sabar polisi itu berbicara. Tapi nyatanya, Haki yang terdiam sedang menatap lurus ke arah orang yang sedang bertanya tadi.
"maaf pak, apa pelaku sudah di amankan" kali ini Edo yang berdiri paling dekat dengannya yang bertanya. Membuyarkan lamunannya.
"kami sudah mengantongi lokasi pelaku. Setelah dari sini kami akan meluncur ke lokasi untuk melakukan penangkapan" ujarnya datar. Matanya masih fokus pada wanita yang sejak enam hari lalu susah untuk dihubungi olehnya.
Mereka yang mengerti arah pembicaraan ini mengangguk paham. Tapi bagi Gemma, dia tidak mengikuti arah pembicaraan mereka. Dia hanya fokus pada apa yang sedang terjadi di depannya. Pria yang memakai seragam polisi itu, tengah menatap Kahi dengan berbeda.
"kalau begitu kami akan langsung undur diri, kebetulan om juga harus menjemput tante kalian. Untuk selanjutnya kepolisian yang akan mengurus" Edo berpamitan pada Juan yang berada di sebelahnya.
"terima kasih banyak ya om. Kami benar-benar bersyukur punya om yang terbaik" kata Juan yang langsung mendapat senggolan dari Lia. Edo tertawa kencang menyadari sikap berlebihan yang ditunjukkan oleh Juan. Dia menepuk pelan bahu Juan, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Lia, Kahi dan Gemma.
Rombongan Edo dan polisi yang datang bersamaan tadi sudah pergi sejak setengah jam lalu. Begitu juga Gemma yang kembali ke lantai 6.
Kahi yang sedang berusaha keras mengingat pria yang diam-diam menatapnya tadi, tidak memberinya ingatan apapun. Malah sakit di kepalanya kembali menyerang, membuatnya harus menekan kepadanya kuat - kuat.
"aaaggggrrr" erengan kesakitannya terdengar oleh Lia yang berada di dalam kamar mandi. Dengan panik Lia keluar kamar mandi, "Hi, jangan ditekan Hi. Sebentar aku panggilkan dokter jaga" Lia berlari keluar, berteriak memanggil dokter atau perawat yang ada di sana.
**
Haki berada di kamar mandi dengan shower menyala di atas kepalanya. Dia dalam kondisi yang buruk saat ini. Terlebih saat mendapati jika pemilik hatinya bersikap seolah tidak mengenal dirinya. Di bawah air yang terus terjatuh menimpa kepalanya, Haki menggeram lalu kedua tangannya mengepal. Menjadikan tembok kamar mandi miliknya sebagai sasaran tinjuannya.
Dia masih mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya. Saat menerima laporan dari juniornya jika pelaku penipuan sudah di tangkap. Jemari tangannya bermain di atas layar persegi itu.
"hallo" suara di seberang teleponnya membuat dia kembali melihat layar ponselnya. Benar, dia sedang menghubungi Kahi. Tapi suara lelaki yang mengangkat panggilan dari nya.
__ADS_1
"maaf bukannya ini ponsel milik Kahila Julie" dia sedang menyesali kenapa harus menghubungi orang sakit di jam tengah malam seperti ini.
"benar, ada yang bisa saya bantu. Kahi sedang tertidur"
"tidak ada, maaf saya sudah mengganggu" Dia melempar sembarang ponselnya ke atas ranjang. Lalu berbalik membuka lemari besar di sudut kamar. Menarik celana dan kaos oblong untuk dia kenakan.
Di atas kasur besarnya, meski sudah lewat tengah malam ia belum juga tertidur. Pikirannya melayang-layang ke tempat lain. Sedang menerka-nerka sesuatu yang terjadi pada Kahi sebelum kecelakaan.
Apa yang terjadi pada wanita yang dia cintai itu. Dengan gelisah dia kembali bangkit dari kasurnya. Lalu membuka pintu kamarnya dan keluar. Sekarang dia membutuhkan air untuk minumnya.
*
"aku ingin jalan-jalan" kahi merengek pada dua orang di depannya. Gemma dan Juan hanya saling memandang. Sejak Gemma datang Kahi bersikeras ingin berjalan-jalan sendirian.
"boleh, tapi harus ada salah satu dari kami yang menemani kamu" ujar Juan. Bibir Kahi secara otomatis membentuk senyuman. Dia mengangguk semangat "oke" katanya semangat.
"bukannya tadi kamu bilang nggak mau kita temani" tanya Juan pada adiknya yang sedang dibantu oleh Gemma untuk duduk di kursi roda. "kelamaan abang, lagian abang yang nggak peka" kata Kahi.
"ya Tuhan aku di bilang nggak peka, sekarang dibilang bodoh lagi. Kalian berdua cocok ya, sama-sama jahat sama gue" Juan sibuk bicara pada mereka yang dengan santainya melenggang keluar begitu saja. "kalian benar-benar jahat" Juan berteriak pada mereka berdua.
*
Sepasang kekasih itu sedang menikmati cahaya pagi di taman rumah sakit. Membiarkan angin membawa daun daun yang jatuh terbawa angin. Kahi menghirup udara segar dengan senang.
Gemma melepas jaket yang sedang dia pakai, lalu meletakkannya di punggung Kahi. Untuk melindungi Kahi dari angin yang terlalu dingin.
"terima kasih " dia tersenyum pada Gemma. "terima kasih kembali" Gemma menoleh ke arahnya lalu membalas senyumannya.
"aku ingin cepat pulang" katanya dengan riang. Tangannya ikut menari di udara, merasakan udara bebas di taman.
"tunggu sebentar" Gemma menoleh, memasang wajah serius padanya. "tunggu sampai kamu benar-benar sembuh. Sampai aku bisa dengan tenang jauh dari kamu" di ujung kalimat Gemma menyentuh ujung hidung Kahi.
__ADS_1
"emangnya kamu mau ke mana" tanya Kahi.
Gemma mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari bertatapan langsung dengannya. Cukup lama hening, Gemma memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Kahi. Sampai kehadiran seseorang mengintrupsi keheningan di antara mereka.
"bukankah anda polisi kemarin" Kahi menunjuk pria tak jauh dari tempat mereka. Gemma ikut melihat ke mana arah yang ditunjuk olehnya.
"kita bisa bicara" ujar Haki serius. Tidak ada senyum atau ekspresi dari wajahnya. Kahi menoleh ke samping meminta persetujuan dari Gemma. Sementara Gemma hanya menatap lelaki di depannya tak suka.
"hanya berdua denganmu" tambah Haki dengan cepat. "aku akan membeli minum di sana" Gemma menunjuk minimarket seberang taman. Ia mengangguk membiarkan Gemma melangkah menjauh, meninggalkan dirinya dengan orang lain.
"silahkan pak" Kahi menggeser duduknya agar Haki bisa duduk di kursi sebelahnya.
*
"jadi anda ingin bicara tentang apa" dia memberanikan untuk memulai berbicara pada lelaki yang ada di sebelahnya.
Haki menoleh, berusaha sekuat mungkin menahan diri untuk tidak memeluk wanita di sampingnya. "apa kamu tidak mengingatku" nada suaranya bergetar, menahan rasa panas di matanya.
"saya ingat anda, polisi yang menyelidiki kasus kafe saya" ujarnya dengan lembut.
Haki menghela nafas, "kamu lupa, kita pernah satu SMA. dan kita pernah" "Kahi, kamu harus kembali ke dalam. Ini sudah terlalu lama" Gemma menyela kalimat Haki. "tapi kami belum sempat berbicara" ujar Kahi pelan.
Gemma tak mengindahkan ucapan Kahi. Dia membantu Kahi untuk duduk di kursi rodanya. "tolong biarkan kami bicara sebentar" Haki menahan kursi roda. Lalu berdiri di hadapan Gemma.
"bukankah anda sudah bicara tadi" tukas Gemma. Sementara lelaki di hadapannya sedang mengeraskan rahangnya. Mencengkram kursi roda lebih kuat. Kahi melihat buku-buku jari yang memutih milik Haki. Lalu mendongak untuk melihat wajahnya.
"anda bisa katakan apa yang anda ingin katakan. Di sini, sekarang" Gemma menaikkan suaranya lebih tinggi.
Haki menggeram kesal pada orang yang menantangnya secara tak langsung "anda tidak berhak ikut campur, anda bukan siapa siapa Kahi" jawab Haki cepat.
"bukannya anda orang lain di sini, saya kekasihnya dan saya akan menikahinya" jelas Gemma dengan marah. Haki berdecak, dia memang tidak memiliki hak untuk meminta lebih. Tangan yang sedang mencengkram kursi roda dia lepas. Lalu dia mengambil 1 langkah mundur. Membiarkan Gemma membawa pergi cintanya.
__ADS_1
Setelah Kahi menjauh, dia berteriak frustrasi. Memaki dirinya sendiri lalu berjalan dengan lesu menuju mobil miliknya.