Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
42.


__ADS_3

2 Tahun Kemudian


Di koridor rumah sakit X, disalah satu lantai. Terdengar suara jeritan juga tangis bayi yang berhasil membuat beberapa orang menangis haru. Setelah dokter mengabarkan kondisi Lia paska melahirkan anak keduanya. Juan tak hentinya bersyukur, dia menciumi Juna yang masih berada digendongannya.


Kedua orang tua Lia pun sedang saling memeluk, merasakan kebahagiaan karena mereka mendapat seorang cucu lagi. Yang sudah ditunggu sejak lama, setelah kelahiran cucu pertama mereka Juna.


Tiba-tiba suara derap langkah kaki mendekat ke arah mereka berdua. "Aunty Hihi" teriakan Juna menyambut wanita yang dipanggil 'Aunty Hihi' itu. Sontak Juan dan kedua mertuanya menoleh ke arah datangnya suara derap langkah itu.


"maaf ya telat, gimana kondisi mba Lia sama anaknya" katanya panik, sementara tangannya meraih Juna ke dalam gendongannya. "selamat, dua-duanya selamat" kata Juan dengan bahagia. Senyum mengembang di bibir Kahi, atas berita bahagia yang baru dia dengar.


"aku mau lihat, bang" katanya dengan tak sabar. "tunggu sebentar, nanti perawat kabarin kita kalau Lia sudah dipindah ruangan" ucap Juan.


Kahi mengangguk semangat, dia berpaling pada sang ponakan yang sedang digendongnya. "yeey, Juna punya adik bayi" katanya dengan suara seperti anak kecil. "yey, hahaha" kata Juna menirukan ucapan Kahi.


*


Mereka kini berada di kamar rawat Lia, menunggu dengan sabar bayi mungil Lia dipindahkan. "Kahi" tangan Lia melambai padanya yang sedang berdiri di dekat sofa.


"kenapa, mba" Kahi mendekati ranjang. "kamu sekarang bisa melakukannya, tanpa harus menunggu lagi" kata Lia dengan parau. Kahi dan Juan memandang satu sama lain, tak mengerti ke mana arah pembicaraan Lia.


"aku mendukungmu penuh, Hi. Dan orang ini tidak akan bisa mencegahmu lagi" Lia menggunakan dagunya untuk menunjuk ke arah Juan. Merasa jika dirinya sedang disinggung oleh Lia, Juan mengangkat kedua bahunya tak peduli.


"itu benar, bang" tanya Kahi antusias. "apa" jawab Juan datar. "abang, biarin aku buat nyari Haki. Abang setuju" Kahi kembali bertanya pada sang kakak. Kali ini Juan sedikit enggan menjawab, Juan melirik sebentar ke arah Lia. Yang sedang memberikan tatapan tajam ke arahnya.


"ya, kau bisa mencari lelaki sialan itu" "mas Juan" gertakan Lia membuat lelaki di depannya menciut. "iya, kau bisa mencari Haki. Lalu kalian bisa bersama. Tapi jika dia belum menikah ya" kata Juan dengan malas.


"mas Juan, stop deh. Jangan bikin Kahi jadi pesimis dong" gertakan dari sang istri lagi-lagi membuat nyali Juan menciut. Lelaki itu mengangkat dua jarinya, lalu tersenyum ke arah sang istri.

__ADS_1


Ceklek


"permisi, suami ibu Lia. Bisa ke ruangan bayi. Bayinya sudah boleh dibawa kemari" suara perawat berhasil membuat semua orang di dalam ruangan itu antusias.


Tak lama Juan kembali dengan menggendong anak keduanya, dengan sangat berhati-hati meletakan bayi merah itu ke sisi tempat tidur Lia. Semua sangat terharu melihat bayi cantik itu. Terutama pasangan lanjut usia, orang tua dari Lia yang menangis haru sejak tadi.


**


Setelah tiga hari berada di rumah sakit, akhirnya hari ini Lia dan bayinya bisa di bawa pulang. Kahi juga para karyawan kafenya sengaja berkumpul di rumah Juan. Merayakan kelahiran anggota keluarga baru Juan.


Usai acara perayaan kecil, mereka undur diri masing masing. Sementara di kamar Kahi, dia sedang menata pakaiannya ke dalam koper besar. Untuk menyiapkan perjalanan liburan yang dia sudah tunggu-tunggu selama setahun terakhir. Setelah mengetahui di mana lelaki yang dicintainya.


Tok tok tok


Ceklek


"hampir, sedikit lagi" kata Kahi. Tangannya tak henti memasukkan barang yang dia perlukan ke dalam koper. "mas Juan sudah siapin tempat tinggal. Untuk kamu selama di sana" ujar Lia.


Kahi menghentikan tangannya, dia mendongak untuk melihat sang kakak ipar. "abang, siapin tempat buat aku" tanyanya dengan pelan. "iya, juga motor" kata Lia sambil tersenyum.


Dengan cepat Kahi memeluk tubuh Lia, lalu dia ke luar kamarnya. Setengah berlari dia masuk ke pintu kamar di samping kamarnya.


Kemudian memeluk tubuh tegap Juan, yang sedang terkejut karena Kedatangannya yang tiba-tiba.


"abang, terimakasih banyak. Maaf selama ini aku sudah bikin abang khawatir" katanya dengan tangan yang semakin memeluk sang kakak dengan erat. Tangan Juan terangkat, menyentuh punggungnya. "jangan lupa tetap menghubungi abang ya, atau abang jemput paksa kamu untuk pulang" mereka berdua tergelak bersama.


Tak menyadari ada bayi mungil yang sedang tertidur di atas tempat tidur. Terusik oleh tawa mereka. "abang, Rintan bangun" kata Kahi panik. "iya benar juga, kamu sih berisik. Gih panggilin Lia" Juan dengan sigap berjalan ke arah tempat tidur. "siap komandan, hehe"

__ADS_1


**


Mobil yang membawa Kahi sedang berjalan pelan memasuki halaman rumah berukuran sedang. Dengan cepat dia keluar dari dalam mobil untuk lebih leluasa melihat rumah yang akan dia tempati.


Rumah sederhana dengan banyak tanaman, membuatnya semakin senang berada di sana. "saya permisi, bu" suara dari supir yang mengantarnya. Kahi melihat pada barang-barang miliknya di depan pintu rumah.


"ah iya, terimakasih banyak pak. Ini untuk bapak" Kahi memberikan amplop untuk supir itu. Setelah sang supir pergi dengan mobilnya, Kahi membuka pintu dengan kunci yang sudah dia bawa sejak sang supir memberinya tadi.


Dia sangat menyukai design rumah itu, perabotan yang sudah tersusun rapih. Juga furnitur yang sudah mengisi sudut ruangan, membuatnya tak sabar ingin mencoba semuanya. Kakinya melangkah menuju sudut ruangan, yang difungsikan sebagai dapur. Tangannya menyentuh perabotan di sana dengan hati-hati.


Kahi sedang berdiri di ruang keluarga saat ini, terdapat jendela berukuran besar yang mencuri perhatiannya. Kahi melangkah untuk melihat jendela besar itu. Yang tertutup oleh tirai besar, tangannya menyingkap sedikit tirai untuk melihat apa yang ada di luar jendela.


Di dinding seberangnya lagi terdapat televisi berukuran besar serta sofa sedang. Yang kembali membuatnya mengagumi design rumah yang sangat indah itu, kakinya kembali melangkah. Kali ini pada salah satu pintu berwarna putih. Dia memutar gagang pintu, lalu masuk secara perlahan.


"wah, cantiknya" katanya saat melihat pemandangan di luar jendela kamar. Dari kamarnya, Kahi bisa melihat pantai berpasir putih. Juga pohon nyiur yang tumbuh sepanjang pantai. Dia berdiri dengan senyuman yang tak pudar memandang cantiknya pemandangan di depannya.


Tin tin


Suara klakson mobil mengintrupsinya, membuatnya harus menyudahi kegiatannya. Dengan semangat dia turun untuk melihat siapa yang sudah menganggunya.


"ibu Kahila Julie, saya dari dealer motor. Mau mengantar motor milik anda" kata seorang lelaki paruhbaya yang sedang berdiri di depan mobil baknya. "iya pak, terimakasih" ucapnya dengan sopan.


Dua orang lelaki yang mengantar motor miliknya, sedang menurunkan motor dari atas bak mobil. Sementara dirinya sendiri, sedang mengirim pesan pada Juan. Memastikan jika dirinya tak membuat sang kakak khawatir.


*


Setelah dia menerima kunci dan juga surat motor, Kahi mencoba untuk mengendarai motor itu langsung. Menikmati sore hari di jalanan dekat pantai sambil mengendarai motor miliknya dengan santai. Tak sampai jauh, dia kembali memutar motornya kembali ke jalan yang sudah dia lalui tadi. Menyapa penduduk yang tak sengaja bertemu dengannya di jalan.

__ADS_1


Kahi benar-benar menikmati liburannya yang baru sehari, dia lupa apa tujuan sebenarnya. Terlalu senang berada di tempat yang sangat indah. Hingga tak terasa hari sudah semakin gelap, saat dia sampai di halaman rumahnya.


__ADS_2