
Lima bulan kemudian
Sidang pengadilan memutuskan tanah dan bangunan Kafe sah atas nama milik Kahi. Setelah Kahi menunggu lebih dari 5 bulan lamanya kafe kembali dibuka.
Sore ini seluruh karyawan kafe berkumpul, untuk merayakan dibukanya kembali kafe. Juan dan keluarga kecilnya pun ikut berkumpul, ikut meramaikan acara. Meski dia sangat senang akhirnya kafe kembali dibuka. Tapi jauh di hati yang paling dalam, dia mengharapkan seseorang datang. Seseorang yang sudah menghilang lebih dari 5 bulan. Bagai ditelan bumi, bahkan keluarga mengaku tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
Dia melangkah mendekati jendela yang terbuka itu, menghela nafas panjang lalu membuang pandangannya ke arah luar. Dari atas dia bisa melihat halaman depan Kafe dan juga jalanan di sekitarnya.
Cukup lama dia dalam posisi yang sama, hanya memandang ke jalanan di bawahnya. Sampai kehadiran seseorang sedang berdiri di sebelah mobil berwarna hitam. Dia mengenali postur tubuh orang itu, cara berdiri dan juga gaya berpakaian.
Sebelum orang itu menyadari Kahi melihatnya, dia sudah berjalan menuruni tangga dengan cepat. Mengabaikan orang yang memanggilnya. Mendorong pintu kafe dengan kuat, lalu berlari ke arah mobil yang sedang berjalan pelan meninggalkan jalan depan kafe.
"mas Gemma... Mas Gemma... " Kahi berteriak sambil terus berlari mengejar mobil itu. Membuat Juan dan yang lainnya, ikut menoleh ke arah Kahi.
"tolong berhenti, mas berhenti" dia terus berlari menggunakan kekuatan kakinya yang semakin terasa ngilu. Pada akhirnya mobil itu terus melaju meninggalkan dirinya yang belum berhenti berlari.
Dia tersandung kakinya sendiri, lalu tersungkur ke aspal. Membuatnya mengerang kesakitan, meski terasa sakit dia kembali bangkit. Berjalan terseok-seok, tapi kemudian kembali terjatuh.
Juan datang menyusulnya, meraih tubuhnya yang masih terduduk di jalan. Membantunya berdiri dan membawanya ke dalam pelukkannya.
*
Kamar miliknya masih gelap meski matahari sudah tinggi. Kahi sedang tertidur setelah menangis semalaman. Juan yang memberitahu tentang Gemma, jika lelaki itu akan melepaskan dirinya.
Gemma ingin mengakhiri hubungan mereka, lalu pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Begitu yang Juan dengar langsung dari Gemma. Tapi bukannya lelaki itu mencintainya, kenapa sekarang dia ingin melepas Kahi.
Semua benar-benar menganggu pikirannya, dia harus bertemu lelaki itu. Dan meminta penjelasan dari mulut Gemma langsung. Seenaknya mengakhiri hubungan, tanpa bertemu atau berbicara langsung dengannya.
__ADS_1
Ceklek
Lia membawa segelas susu panas dan sepiring pancake kesukaannya, lalu meletakkannya di atas nakas. Lia melangkah cepat untuk membuka tirai besar yang menutupi seluruh dinding kaca.
"mba tutup lagi" katanya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Tidak membiarkan cahaya matahari mengenai wajahnya.
Plak
"aaawww, sakit mba" meski tangannya sibuk mengelus pahanya yang terkena pukulan tangan Lia. Dia tidak melepas selimut itu sama sekali. "ayo bangun, ini udah jam 10. Kamu kan harus buka kafe. Hari ini pasti bakalan sibuk banget" Lia berusaha menarik ujung selimut itu, tapi kedua tangannya memegang kuat selimut agar tidak mudah dibuka.
"lima menit deh" katanya di balik selimut. "enggak, udah dari tadi dibangunin tapi malah tidur lagi. Sekarang udah waktunya bangun. Kerja, emang masih kurang selama ini jadi pengangguran" Lia tak henti mengomel padanya, sedangkan kedua tangannya sibuk membereskan pakaian Kahi yang berserakan.
"ya ampun, tidur lagi. Bangun Hi bangun. Perawan tua bangun" kata Lia dengan keras. Dia akhirnya mendudukan dirinya, meski dia masih sangat mengantuk.
"minum terus di makan" Lia menyodorkan nampan di depannya. Dia melirik ke arah Lia sebentar. Makanan di depannya adalah favoritnya, tapi rasanya dia sudah kehilangan nafsu makannya. "aku nggak laper" ujarnya pelan.
"inikan kesukaan kamu. Semua baru aku buat" sela Lia sembari duduk di tepi ranjang. Dia menggeleng cepat, menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya. "enggak nafsu makan" katanya seraya berjalan ke arah kamar mandi.
"bukannya nggak mau makan, tapi badanku ini udah terlalu melar" ujar Lia pelan. Dia lalu meminum susu hangat hingga habis setengah. Usai menyantap sepotong pancake Lia keluar dari kamar Kahi.
*
Seperti 5 bulan lalu, kafe kembali ramai di jam-jam tertentu. Seperti saat jam makan siang ini. Semua dibuat sibuk dengan banyaknya pengunjung yang datang. Di balik meja pemesanan Kahi tersenyum saat melihat pemandangan ini lagi.
Dia merogoh sakunya, lalu meraih ponselnya. Membaca pesan di aplikasi pengirim pesan. Lebih banyak pesan dari Lia dan juga Juan. Dia sedang asik membalas pesan dari mereka, sampai tidak menyadari seseorang berdiri di depannya.
"ah maaf, anda ingin memesan sesuatu... " dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Saat tahu lelaki di depannya sedang menatapnya dalam.
__ADS_1
" ehem, maaf bapak ingin memesan sesuatu" tanyanya lagi. "hei biar aku saja yang memesan untuk dia. Loh kamu bukannya, pacar Haki" lelaki ceking itu menyeringai mendapati bahwa dua orang di depannya sedang salah tingkah.
"bukan, anda salah orang. Silahkan mau pesan apa" kepalanya menggeleng cepat. "oh jadi begitu, kalau begitu aku mau kopi americano dua. Terus. Kau mau apa" tanya ikal pada Haki yang masih terdiam.
"tidak ada" jawab Haki, dia lalu pergi ke arah meja yang kosong di sudut ruangan. "ya itu saja" kata Ikal cepat. "baik, semuanya jadi 80k" ujar Kahi ramah.
*
Setelah mendapat pesanan mereka, Ikal menyusul sang sahabat yang sedang asik dengan ponselnya. "lu bilangnya mau traktir gue makan. Ini malah gue yang bayarin kopi" kata Ikal kesal. Dia mendorong cangkir kopi ke depan Haki. Lalu menyeruput kopi di cangkir miliknya sendiri.
"kita di sini buat makan siang kan. Bukan cuma minum kopi. Kalo gitu mending ngopi di kantor, murah. Dapat banyak" tambah Ikal lagi. Haki mengangkat kepalanya untuk melihat orang di depannya.
"berisik tahu" sergah Haki. Dia ikut menyeruput kopinya sendiri. Menikmati setiap rasa yang menyapa lidahnya.
"oh iya, lu udah dapat info soal pelaku pembunuhan berantai itu. Korbannya udah banyak. Tapi pelakunya nggak ninggalin jejak apapun. Ini bukan cuma pembunuhan biasa, Ki" kata Ikal, lelaki ceking itu bergidik ngeri di ujung kalimatnya.
"orang yang dengar lu ngomongin pembunuhan, bakal muntah Kal. Nafsu makan mereka bakal hilang, ganti jadi eneg. Kaya ngeliat muka lu. Bikin eneg" sarkas Haki.
"sembarangan lu. Gini-gini mantan gue banyak. Nah lu, ganteng doang tapi susah move on" Ikal meninggikan suaranya, hingga sebagian pengunjung kafe mendengar ucapan Ikal. Mereka menertawakan Haki secara terang-terangan.
Dua orang polisi itu saling adu tonjok di lengan mereka. Menyadari jika semua orang melihat ke arah mereka berdua. Terlebih Haki yang sangat kesal pada sahabatnya itu.
Tak
Kahi meletakkan sepiring besar kentang goreng di meja Haki. Dua orang itu saling pandang, merasa tidak memesan kentang goreng. "ada yang membelikan kalian kentang goreng, cepat habiskan dan segera pergi dari sini" kata Kahi dingin. Lalu dia meninggalkan mereka dan kembali ke tempatnya tadi.
Sebenarnya dia sangat jengkel pada dua orang polisi itu. Suara mereka bahkan mengalahkan suara speaker di kafenya, keras dan nyaring. Apalagi dengan lelaki berbadan tegak dan tampan itu.
__ADS_1
Dia yang berniat memakan kentang goreng tadi, kehilangan nafsu makannya saat Ikal dengan keras menyinggung tentang dirinya. Jadilah sepiring besar kentang goreng itu dia taruh di atas meja mereka.
"makan tuh, biar nggak berisik" katanya pelan saat sudah berada di balik meja pemesanan.