Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
54.


__ADS_3

Di sini Haki sekarang berada. Di depan pintu bertuliskan angka 2000. Telapak tangannya menyentuh pintu itu lama. Sedang air matanya sudah keluar sedari tadi. Seolah ia bisa menyalurkan rasa bersalahnya pada pintu yang tertutup itu.


Tangannya mengepal hendak mengetuk pintu, tapi kemudian dia menariknya lagi. Haki menghela nafasnya. Dia mendongak, mencegah cairan bening agar tak kembali terjatuh.


Dengan bersusah payah dia akhirnya bisa menemukan di mana Kahi. Tapi semuanya seakan tak memberinya kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dirinya. Lelaki menyeka kasar air mata yang terus jatuh di pipinya.


Haki dengan perlahan berbalik, kakinya melangkah menjauhi tempatnya berdiri tadi. Dengan terseok-seok dia berjalan menuju mobilnya. Lalu masuk ke dalam mobil. Kemudian dia tidak lagi sanggup menahan tangisnya lagi. Haki menangis pilu sembari menelungkupkan wajahnya di atas lipatan kedua tangannya di kemudi mobil.


Rasa bersalahnya tidak lagi bisa diperbaiki. Sekarang Kahi sedang mengandung janinnya. Tapi wanita itu pasti tidak akan sudi menerimanya kembali. Dia benar-benar bingung.


Cukup lama dia terus menangis, hingga ketukan di kaca mobilnya mengalihkan perhatiannya. Dari tempatnya duduk, Haki bisa melihat dengan jelas siapa yang mengetuk kaca mobilnya.


Dengan cepat dia membuka pintu mobilnya. Lalu ia bisa melihat dengan jelas jika wanita yang sedang berdiri di depannya sedang tersenyum padanya. Seperti mimpi baginya, Haki melangkah cepat ke arah wanita itu. Memeluknya dengan erat, mengecupi keningnya lama. "maafkan aku, Hi. Aku minta maaf" katanya lirih.


*


Mereka berdua memutuskan untuk berpindah ke restoran terdekat. Menuruti kemauan dari wanita itu, Haki tak bersuara sejak mereka masuk ke dalam restoran. Haki terus tersenyum di depan Kahi yang justru sedang memasang wajah datar.


Setelah memesan makanan untuk mereka berdua. Kahi justru sibuk melihat ke luar kaca restoran, seolah tak ingin melihat ke arah Haki. Sementara Haki menghela nafasnya, dia tak tahu harus memulai percakapan dengan kalimat apa. "maaf Hi"


"bagaimana kamu bisa tahu aku tinggal di sini" pertanyaan yang juga dia tahu jawabannya, tapi seakan mulutnya sulit untuk mengatakannya.


"dengarkan aku baik-baik, Haki. Kalau kamu sudah tahu kebenaran tentang aku, aku mohon ini jadi terakhir kalinya kita bertemu" katanya dengan datar.


Haki menelan salivanya dengan susah. Ia memberanikan dirinya untuk menatap tepat di mata Kahi. "bukankah aku harus bertanggung jawab" tanya Haki dengan berhati-hati.

__ADS_1


Kahi menggeleng cepat, "aku tidak pernah memintamu untuk bertanggung jawab" ujar Kahi dengan sombong. Haki mengepalkan kedua tangannya kuat setelah mendengar ucapan dari wanita itu.


"dia anakku, suatu saat dia akan bertanya tentangku. Dan juga pasti akan membutuhkanku" katanya dengan rahang mengeras.


"dia tidak akan pernah membutuhkanmu, selama aku ada di sisinya" Kahi merogoh dompetnya, kemudian meletakkan uang di atas meja. Tanpa menunggu makanan yang dipesan datang, Kahi langsung keluar restoran meninggalkan Haki yang sangat kesal padanya.


Dia terus berjalan cepat kembali ke unit apartemennya. Kahi tidak mau Haki kembali mengejarnya. Dia sudah bersusah payah melupakan Haki dengan fokus pada kehamilannya.


Dia pun sudah bisa menerima kenyataan menyakitkan yang terjadi padanya. Tapi tadi saat Ria memberitahu dirinya, jika Haki sedang mencarinya. Hatinya sedikit tersentuh dengan usaha Haki yang rela menunggu berhari hari di kafe.


Tapi di satu sisi dia takut hatinya kembali tersakiti. Kahi menyeka air matanya kasar saat masuk ke dalam lift.


Ia buru buru menekan tombol ke lantai tempatnya tinggal. Tapi sebuah tangan menghentikan pintu lift itu menutup. Haki berdiri dengan wajah yang sangat merah. Dia ikut masuk ke dalam lift yang sama dengan Kahi. Kemudian dengan sekali angkat, tubuh wanita itu sudah berada di gendongannya.


Sementara Kahi sangat terkejut saat tubuhnya di angkat oleh Haki. "apa yang mau kamu lakukan" teriaknya sembari berusaha untuk melepaskan dirinya dari gendongan Haki.


"berapa kode aksesnya" tanya Haki dengan cepat. "hah, untuk apa kamu menanyakan itu" Haki justru semakin mengencangkan tangan yang menopang tubuh kecilnya.


"beritahu atau kita akan tetap seperti ini" Kahi menggeleng cepat tapi kemudian mengangguk. "aku saja yang membuka pintu. Kamu bisa menurunkan tubuhku kan" bujuknya sembari melihat wajah lelaki itu.


"kamu bisa melakukan itu, tanpa harus turun dari gendonganku" kata Haki dengan tegas. Tak lagi ingin menyanggah perkataan Haki, Kahi akhirnya menekan kode untuk masuk ke dalam kamarnya.


Bukannya menurunkan Kahi, Haki terus membawa wanita itu hingga ke meja makan. Kemudian mendudukan Kahi di atas meja makan.


Seperti sedang berada di rumahnya sendiri. Haki membongkar kantong plastik yang dia bawa tadi. Kemudian memindahkan makanan ke atas piring.

__ADS_1


"makanlah, kau sudah membelinya tadi. Jadi sekarang kau harus makan" perintah Haki sembari menyodorkan piring berisi makanan di samping Kahi.


"iya nanti aku akan memakannya. Sebaiknya sekarang kamu keluar. Ini sudah larut malam" katanya sembari berusaha turun dari atas meja.


"makanlah, aku akan keluar setelah melihatmu menghabiskan makananmu" kata Haki sambil mendudukan dirinya. "iya. Aku akan makan. Kau juga makanlah" katanya dengan kesal.


Mereka berdua sedang menikmati makan larut malam dengan hening. Tak ada yang memulai bersuara, mereka terlalu sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing.


Setelah menghabiskan makanannya, Kahi langsung membersihkan bekas piringnya dan piring Haki. Sedangkan lelaki itu sedang menatap punggung Kahi dengan sendu. Dia melangkah mendekati tubuh wanita itu yang masih asik mencuci piring.


Tangannya menyelinap hingga melingkar di perut Kahi. Sontak pelukan yang tiba-tiba membuat Kahi terkejut. "tolong lepas" pintanya datar. "sebentar, hanya sebentar saja" pinta Haki sembari meletakkan dagunya di atas pundak Kahi.


Kahi bisa merasakan hangat nafas yang menyapu telinga hingga sebagian wajahnya. Dia menelan ludahnya pelan. Merasakan aliran listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya. Dia pernah menyangkal, tak lagi mencintai lelaki yang kini sedang memeluknya. Tapi saat ini, hatinya berkata sebaliknya.


Jantungnya berdetak tak beraturan. Dia memejamkan matanya. Lalu membukanya kembali. Kedua tangannya meletakkan piring bersih di atas rak. Kemudian ia mematikan keran air.


Kahi melepas tangan Haki yang sedang menyentuh perutnya lembut. Dia memutar tubuhnya tanpa melepas tangan Haki. Kepalanya mendongak untuk menatap manik mata Haki.


"pulanglah. Aku tidak akan merubah keputusanku. Aku tidak akan memintamu bertanggung jawab. Aku bisa membesarkan dia sendiri. Kau bisa kembali tanpa rasa bersalah sekarang" katanya dengan lembut.


"biarkan aku bertanggung jawab, Hi. Aku tak bisa membiarkan kamu membesarkan dia sendirian. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu"


*


Hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Tak membuat langkah kaki lelaki itu berhenti, dia terus menerobos derasnya hujan hingga sampai di samping mobilnya.

__ADS_1


Haki bersandar pada pintu mobilnya. Kepalanya mendongak, membiarkan air hujan memijat wajahnya. Semakin lama tubuhnya jatuh terduduk di samping mobilnya.


__ADS_2