Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
56.


__ADS_3

Pagi harinya Kahi terbangun di kamar yang asing untuknya. Dia berusaha untuk mengingat kenapa dia bisa tidur di kamar ini. Tapi sialnya dia tak mengingat apapun. Matanya melihat ke sekeliling kamar. Berusaha mengenali tempat itu dari pajangan di dinding.


"kamu sudah bangun" sebuah suara mendekat ke arahnya. "kenapa saya bisa di sini, ini di mana" tanya Kahi tak sabar.


"maaf Hi, aku tidak punya pilihan lain. Terpaksa aku dan Ikal membawamu ke sini" Karin mendudukan dirinya di tepi ranjang. "apa. Maksudnya"


"kamu akan mengerti nanti. Sekarang makanlah sarapanmu dulu" ujar Karin sembari menyodorkan nampan berisi sarapan untuk Kahi.


"mba bisa kasih tahu saya dulu. Atau saya tidak akan memakan sarapan ini" ancaman dari Kahi berhasil membuat Karin tampak panik.


"baiklah, ini rumah Haki. Dan ini kamarku. Aku ingin kamu bertemu Haki meski hanya sebentar. Tolong lihatlah dia. Sekarang kamu bisa makan dulu sarapanmu. Kalau Haki tahu calon ibu dan calon anaknya tak mau sarapan, dia akan semakin menyalahkan dirinya" jelas Karin.


Kahi meraih nampan di atas ranjang, lalu memindahkan nampan itu di atas pahanya. Dia memakan sarapan paginya tanpa bersuara. Otaknya terlalu sibuk berpikir, tentang bagaimana dia akan bersikap pada Haki nanti.


*


Kahi memutar gagang pintu di depannya dengan perlahan, seolah tak ingin menganggu orang di dalam kamar itu. Dengan perlahan pintu terbuka, dia menoleh ke arah Karin yang sedang bersandar di dinding dengan lesu.


Karin mengangguk padanya dengan murung. Setelah itu Kahi melangkah pelan memasuki kamar yang sangat gelap. Seperti kata Karin tadi, Kahi langsung berjalan ke jendela untuk menyibakkan tirai besar.


Setelah tirai itu terbuka, cahaya matahari langsung memberi penerangan ke dalam kamar itu. Kahi menelan salivanya dengan susah. Dia berputar secara perlahan.


Kini ia bisa melihat dengan jelas lelaki yang tengah meringkuk di atas tempat tidur. Lelaki itu tidur tanpa menggunakan selimut tebal yang sudah tergeletak di lantai, mungkin terkena tendangan dari lelaki itu. Padahal kamar itu cukup dingin karena pendingin ruang yang menyala.


Kakinya secara reflek berjalan ke arah tempat tidur. Dengan perut besarnya Kahi cukup sulit untuk memungut selimut yang teronggok di lantai.


Tangannya menarik selimut hingga ke leher. Menutupi seluruh tubuh lelaki itu, menyisakan kepalanya yang menyembul keluar selimut. Kahi mendudukan dirinya di tepi ranjang dengan berhati-hati.


Tangannya terulur menyentuh rambut lelaki itu yang menutupi sebagian wajahnya. Merasa ada pergerakan, Kahi menarik tangannya dengan cepat.


Lelaki itu hanya menggeliat, lalu mengganti posisi tidurnya. Saat itulah Kahi melihat selembar foto terlepas dari tangan lelaki itu. Kahi mengambilnya, kemudian melihatnya lebih dekat.

__ADS_1


"ini benar fotoku. Ternyata mba Karin tidak berbohong" katanya lirih. Dia lantas meninggalkan kamar itu dan menutup pintu kamar kembali.


"ada apa, kenapa kamu malah keluar" tanya Karin dengan khawatir. "saya tidak bisa melakukannya, tolong antar saya kembali pulang"


"Hi. Aku pasti akan mengantarmu pulang. Jangan khawatir" bujuk Karin.


Brakk


"Haki"


Dua wanita itu bergegas membuka pintu kamar Haki. "Ki, lagi ngapain" tanya Karin sembari mencegah Haki yang sedang membongkar laci nakas.


"di mana, di mana foto Kahi. Tadi aku memeluknya, tapi sekarang sudah tidak ada. Di mana foto Kahi" kata Haki dengan histeris.


"tenanglah dulu, biar gue yang cari. Ok" Karin mendorong tubuh Haki yang lebih besar darinya untuk kembali duduk di atas tempat tidur. "tenang ya, gue yang cari fotonya" Karin melihat ke arah Kahi yang masih berdiri di ambang pintu.


Menyadari jika Karin sedang menatapnya, memintanya untuk mendekat ke tempat Karin sekarang. Kahi mengangguk pelan, lalu dia melangkah dengan hati-hati ke tempat Karin.


"tolong Hi, aku akan menunggu di luar kamar" bisik Karin tepat saat dia sudah berada di sebelah Karin. Kahi hanya diam, sampai Karin kembali menutup pintu pelan.


Kahi berdiri tepat di depan Haki yang sedang menunduk, sementara kepalanya diletakkan di atas lipatan kedua tangannya.


Merasa seseorang sedang berdiri di depannya, Haki mendongak sedikit. Dan membuat sebagian rambutnya menutupi hampir setengah wajahnya.


"Kahi, itu kamu" katanya sembari mengusap matanya. "benar, itu kamu "katanya lagi sembari bangkit lalu meraih kedua tangan Kahi.


*


Tangannya tidak berhenti mengelus perut buncit Kahi. Mulutnya tidak berhenti berbicara pada janin di dalam perut Kahi. Dia terus saja tersenyum lebar, wajah penuh dengan jambang dan kumis itu tampak senang.


"sayang, maaf ya papa banyak salah sama mama kamu. Jadi sekarang papa baru bisa ngobrol sama kamu" katanya dengan riang.

__ADS_1


"Haki, cukup" bentak Kahi. Haki tersentak kaget mendengar suara yang terkesan dingin dari mulut Kahi.


Haki melepas tangannya dari perut buncit Kahi. "maaf, aku terlalu senang kamu datang" ucapnya.


"Mba Karin yang memintaku untuk menemuimu. Setelah ini aku akan pulang. Aku harap kamu bisa mengerti" ujar Kahi ketus.


"aku minta maaf, Hi. Aku tidak bisa hidup tanpamu" sekali lagi Haki berusaha meraih kedua tangannya.


"aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa bersamamu lagi, Haki. Tolong biarkan aku hidup dengan anakku tanpa harus mengingat masa lalu" Kahi menyentak tangannya yang sudah dipegang oleh Haki. Dengan cepat dia berjalan keluar kamar, lalu menarik tangan Karin yang sedang bersandar di dekat pintu.


*


Haki berlari cepat memotong laju mobil yang ditumpangi oleh Kahi. Dan berhasil membuat mobil itu berhenti mendadak, untuk menghindari menabrak tubuh lelaki itu.


"ada apa, mba" tanya Kahi panik. Karin langsung turun dari mobilnya, lalu berjalan ke bagian depan mobil. Kahi pun ikut turun dari mobil. .


"Haki, lu nggak apa-apa kan" Karin membantu Haki untuk berdiri. Tak ada luka serius di tubuhnya, hanya luka goresan di telapak tangannya. Tapi wajah lelaki dewasa itu terlihat pucat pasi.


Dengan tertatih Haki berjalan menghampiri Kahi yang sedang berdiri di samping pintu mobil. Belum sempat lelaki itu menggapai tubuh yang menegang karena terkejut. Haki jatuh pingsan.


Kejadian itu sangat cepat terjadi di depan matanya. Hingga dia tidak menyadari Haki jatuh tepat di depannya. Setelah Karin yang berteriak baru membuatnya sadar.


Kahi hanya membantu Karin mendudukan tubuh besar Haki ke dalam mobil. Lalu dia menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Haki. Secara tidak sadar tangannya membelai rambut yang menutupi wajah Haki. Hingga wajah pucat itu terlihat jelas.


Apa dia sedang sakit, pikirnya. Tangannya berpindah ke dahi, benar saja kening lelaki itu panas. "Haki demam, mba. Sepertinya demamnya tinggi" katanya dengan panik.


"Haki demam, jangan khawatir sebentar lagi kita sampai rumah sakit" Karin kembali fokus pada kemudinya. Sementara Kahi fokus pada jalanan yang sedang dilalui oleh mobil mereka. Dan berdoa dalam hati, semoga lelaki itu dapat disembuhkan.


*


Kahi mengelus perut buncitnya dengan dahi berkerut. "ada apa, apa kamu baik-baik saja" Karin menghampirinya dengan khawatir. "aku hanya lelah" Kahi tersenyum pada Karin yang tampak sama lelahnya.

__ADS_1


"Haki harus di rawat, dokter bilang dia kekurangan gizi. Juga asam lambung yang naik jadi sebab kenapa dia tak sadarkan diri. Aku akan meminta Ikal menjemputmu" kata Karin sembari memijat pangkal hidungnya.


"aku boleh melihat Haki dulu" tanyanya.


__ADS_2