
Kahi masuk ke dalam ruang perawatan Haki, setelah Karin bersama dengan dokter keluar dari sana. Dia melihat lelaki itu sedang terbaring lemah di atas tempat tidur pesakitan. Jarum infus terpasang di punggung tangannya.
Sesaat Kahi hanya duduk dan terdiam. Tapi kemudian satu tangannya mengelus perut besarnya, yang kini memasuki bulan ke delapan. Satu tangannya lagi mengelus pelan punggung tangan Haki yang tidak di pasang jarum infus.
"aku harus pulang, tapi melihatmu terbaring lemah seperti ini. Jujur hatiku sakit. Ku kira kamu akan hidup bahagia dengan wanita itu. Tapi melihatmu pagi ini, dengan semua yang terjadi pada dirimu. Aku marah, aku kecewa. Kamu tetap ayah dari janin ini, aku tidak akan lupa tentang itu" ia menghela nafas panjang, tangannya menyeka air mata yang lancang menetes di atas pipinya.
"cepatlah sembuh, mungkin aku terlalu egois selama ini. Jika benar kau tidak melakukan apa pun malam itu. Kenapa kau tak membuktikannya padaku juga pada bang Juan. Kalau saja sejak dulu kamu melakukan hal itu" Kahi menghentikan ucapannya saat mendengar suara pintu terbuka.
"Ikal sudah datang, kamu mau pulang sekarang" kata Karin yang datang bersama Ikal di belakangnya.
Kahi tersenyum sembari mengangguk, dia lantas bangkit dari tempatnya duduk. Tapi tiba-tiba dia merasakan nyeri di perutnya. Dia kembali mendudukan dirinya.
"aagggrrh, perutku sakit" tangannya menyentuh perut buncitnya. Jeritan Kahi membuat dua orang itu panik, beruntung Ikal dengan cepat mengangkat tubuhnya. Membawanya menuju IGD yang kebetulan berada di lantai yang sama.
*
Beruntung bagi Kahi, janin di dalam kandungannya baik baik saja. Meski dia harus istirahat dulu di rumah sakit. Akibat kelelahan yang berlebihan, juga stress yang dia alami. Yang artinya dia belum bisa kembali pulang.
Sekarang ini dia masih terbaring di IGD,
"maaf, Hi. Kalau saja aku tak memaksamu ke sini. Kau akan tetap baik-baik saja" Karin terus saja meminta maaf kepadanya. Meski dia sudah menyuruh Karin untuk berhenti mengatakan maaf.
"aku sudah memaafkan mba. Tapi kenapa masih terus bilang maaf sih, mba tenang saja, aku baik-baik saja" katanya dengan lembut.
"Hi, aku harus kembali ke ruang perawatan Haki. Dokter ingin bertemu denganku. Kamu tidak apa-apa kan" ujar Karin sambil menepuk keningnya pelan, dia baru mengingat pesan perawat di depan kamar Haki tadi. Sebelum Kahi kesakitan dan di bawa ke IGD.
Kahi mengangguk, dia tersenyum pada Karin. "pergilah, mba. Aku baik-baik saja" pinta Kahi.
__ADS_1
"aku akan meminta Ikal untuk menemani kamu. Kurasa dia tidak memiliki kesibukan apapun sekarang. Kalau begitu aku pergi ya" dia melambai seiring dengan Karin yang menghilang di balik pintu.
"sayang, kamu ingin bersama dengan ayahmu, kamu ingin dekat dengan dia. Jadi sekarang kamu protes pada ibu" ujar Kahi lirih sembari mengelus perut buncitnya lembut.
*
Karin masuk ke ruang rawat Haki, tanpa mengeluarkan suara. Dia menghampiri Ikal yang sedang duduk dengan berpangku tangan di sofa.
"melamun" tanyanya singkat. "tidak, hanya sedang berpikir" jawab Ikal. Lelaki itu kemudian membenarkan posisi duduknya.
"bisa temani Kahi sebentar. Aku harus bertemu dokter" ucapnya dengan wajah murung. "ada apa, kenapa wajahmu jadi murung" tanya Ikal sembari menatap wajah Karin.
Wanita itu hanya mengedikkan bahunya, "aku hanya bingung, aku membawa Kahi ke sini tanpa memberi tahu siapapun. Juga dengan cara yang salah. Gimana kalau kakaknya yang galak itu melaporkan kita berdua. Dia bisa mengira kita menculik Kahi kan" kata Karin yang tampak semakin murung.
Ikal lantas berdiri, lalu menghampiri Karin yang masih berdiri di seberangnya. Dia mengangkat tangannya, kemudian menepuk pucuk kepala Karin pelan.
"tenanglah, aku sudah urus itu semua. Kamu tidak perlu cemas. Aku temani Kahi ya" pamitnya dengan tersenyum tipis. Karin hanya mengangguk sekali, ujung matanya mengiringi langkah Ikal sampai menghilang di balik pintu.
*
Meski sempat menolak untuk satu ruangan dengan Haki. Kahi pun tak bisa lagi menolak setelah melihat wajah lelah seorang Karina Wijaya. Saat dia di pindahkan ke ruang VIP, Haki juga sudah berada di sana. Lelaki itu masih belum sadarkan diri.
Jadilah saat Haki akhirnya terbangun tengah malam, dia sangat terkejut juga senang mendapati seseorang yang dia cintai. Sedang berbaring di tempat tidur sebelahnya.
Kedua matanya bisa melihat dengan jelas, jika wanita itu kesulitan tidur. Karena sudah beberapa kali merubah posisinya, meski matanya terpejam.
Perlahan Haki mencoba untuk duduk di atas ranjang. Dengan berhati-hati kakinya menuruni tempat tidur. Merasa ada pergerakan dari tempat tidur Haki. Kahi membuka matanya, lantas berbalik untuk melihat apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"kamu mau ke mana" tanya Kahi dingin. Haki terkejut karena tertangkap basah sedang berusaha menuruni tempat tidur. "eh, apa tidurmu tidak nyaman" tanya Haki balik sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"iya" jawabnya singkat.
"apa yang membuatmu tak nyaman" kini Haki sudah berhasil turun dari tempat tidurnya, lantas berdiri di sebelah tempat tidur Kahi.
Jari telunjuk Kahi mengarah kepadanya. "kamu" ujarnya dengan kesal. "tapi ada Karin juga, di sana" sekarang giliran Haki yang menggunakan telunjuknya, menunjuk sosok yang sedang terlelap di atas sofa.
"tapi kenapa kamu diinfus. Apa kamu sakit" bukannya menjawab pertanyaan dari Haki, Kahi justru kembali berbalik. "Kahi, kamu sakit. Apa anak kita baik-baik saja"
"diamlah, aku ingin tidur" Kahi menggertaknya pelan. "ah, maaf. Tidurlah. Selamat malam"
*
Kahi bersusah payah menelan salivanya, saat melihat Haki melahap makanan yang dibawa oleh Karin. Padahal dia juga mendapatkan makanan yang sama. Dia menggigit ujung sendok sedari tadi. Kedua matanya mengikuti setiap gerakan tangan Haki, yang sedang menyendokan makanan ke dalam mulutnya.
"kamu menghabiskan semuanya" protesnya saat tak ada sisa makanan di atas piring Haki. Tanpa merasa bersalah, Haki menunjuk mulutnya yang masih mengunyah. "masih, di sini" katanya dengan mulut penuh makanan.
"iiyuh, jorok"
"kamu masih mau, aku akan meminta Karin membeli lagi" senyum mengembang di bibirnya saat dia mendengar ucapan dari Haki.
"tunggu ya" katanya sembari meraih ponselnya, lalu menekan tombol panggil untuk menghubungi Karin. "tolong belikan makanan yang tadi, sekarang" perintahnya dengan cepat.
*
Bunyi ponsel yang terantuk dengan keras di atas meja, sontak membuat lelaki di depan Karin terkejut. "ada apa" tanya lelaki yang duduk di depannya. "ada tugas darurat" jawabnya sambil merapihkan berkas di depannya.
__ADS_1
"tapi kita kan belum sempat rapat, Rin" protesan dari lelaki yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu tidak dia dengarkan. Dengan cepat dia keluar dari restoran hotel Haki, kemudian berlari ke arah mobilnya berada.
"gue ini sekertaris atau asisten pribadinya sih. Kalau nanti mereka balikan. Gue minta cuti satu bulan, biar tahu rasa si Bae" gerutunya sembari mengendarai mobilnya.