Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
44.


__ADS_3

Kahi sedang duduk di meja makan, menunggu dengan sabar lelaki yang masih mengenakan pakaian olahraga itu. Membuat sarapan untuknya. Kahi bahkan sangat terpesona, hanya karena melihat punggung Haki. Mulut Kahi sampai terbuka, dia benar-benar menikmati pemandangan di depannya.


Lelaki itu masih sibuk dengan alat masaknya. Dia menyadari Kahi yang melihatnya dengan wajah aneh, tapi dia membiarkan saja wanita itu tetap pada posisi yang sama.


"tutup mulutmu, nanti ada lalat yang masuk" katanya tanpa melihat ke arah Kahi. "haah, oh" Kahi benar-benar malu, ternyata dia ketahuan sedang terang-terangam melihat Haki.


Tiba-tiba Haki menyentuh sudut bibirnya. Deg, tiba-tiba juga jantungnya berdetak kencang. "apa ini, kamu mengeluarkan air liur" canda Haki dengan mengulum bibirnya. Seketika kedua bola mata Kahi membulat. Tangannya terangkat, lalu dengan kasar mengelap ujung bibirnya.


"hahah, lihat. wajahmu benar-benar menggemaskan" gelak tawa dari lelaki di depannya, membuatnya sadar jika dirinya sedang dikerjai.


Haki meletakkan sepiring penuh sandwich tuna di depan Kahi. "makanlah, kau pingsan tadi karena belum sarapan" kata Haki yang berusaha menahan untuk tak tertawa. "aku mau pulang" ujarnya dengan lantang.


"makanlah dulu, nanti aku akan mengantarmu pulang" kata Haki, tangannya menahan pundaknya yang sudah setengah berdiri.


"aku benar-benar ingin pulang" teriak Kahi. Sementara Haki memejamkan matanya, lalu menghela nafasnya panjang. Dia menarik lagi tangannya, lalu beranjak menuju pintu rumah.


"kau bisa pulang sekarang" kata Haki dengan kesal di samping pintu. Kahi tak menyangka lelaki itu akan dengan cepat menyuruhnya pulang. Aku hanya bercanda, begitu pikirnya. Kakinya dengan perlahan melangkah mendekati pintu.


Saat dirinya melewati tubuh tinggi tegap yang sedang berdiri di samping pintu. Tiba-tiba Haki menarik tubuhnya, lalu memeluk tubuh mungilnya dari belakang.


"aku merindukanmu" bisik Haki tepat di telinganya. Nafas hangat yang menyapu telinga dan lehernya. Membuat wanita itu seketika memejamkan matanya.


Pelukan hangat dari lelaki yang sangat dia rindukan. Juga aroma parfum yang sangat dia sukai. Entah sudah sejak kapan dia menyukai aroma itu. Aroma musk bercampur keringat dari Haki yang selalu dia rindukan.


"aku harus pulang" katanya dengan lirih. Haki menggelengkan kepalanya di ceruk leher Kahi. "nanti pacarmu marah" katanya lagi. Terdengar dengusan dari lelaki yang memeluknya. "makan sarapanmu dulu, nanti aku antar pulang" Kahi menoleh sedikit untuk melihat wajah Haki.

__ADS_1


Tapi waktu yang tak tepat, justru membuat bibirnya menempel singkat di bibir Haki. Dua orang yang terkejut, sama-sama menjauhkan dirinya. "maaf, aku pulang saja" dia menggaruk tengkuk lehernya. Merasakan canggung yang melebihi tadi.


"tidak boleh, kamu harus makan dulu" meski terus menolak, tetap saja dia tak bisa lagi menghindar. Dia dengan patuh duduk di tempatnya tadi. Menyantap sandwich kesukaannya dengan pelan.


*


Bukannya langsung mengantarnya pulang, malah Kahi harus menunggu lelaki itu mandi terlebih dulu. Setelah Haki masuk ke dalam kamarnya, dengan cepat Kahi mengibas tangannya di depan wajahnya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasakan panas di wajahnya.


"wah, kenapa tiba-tiba jadi panas sekali" katanya pada diri sendiri. Tak lama Haki keluar dengan pakaian casual. Menghampiri dirinya yang sedang melihat-lihat isi rumah milik Haki. "maaf lama menunggu" kata Haki. "tak apa" dia melambai dengan senang.


*


Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu sebentar itu, membuat kahi mendengus. Tak menyangka rumahnya tak jauh dari rumah Haki. "tahu begini aku bisa jalan kaki kan" katanya dengan kesal saat turun dari mobil Haki.


"maaf, kupikir kamu menginap di hotel" ujar Haki dengan pelan. "ya sudah, sana pulanglah" Katanya kesal. Merasa jika Kahi marah padanya, Haki memutuskan untuk tetap tinggal.


"iya, setidaknya beri aku minum, kau tahu aku sudah menghabiskan semua stok rotiku untukmu" kata Haki dengan keras. "apa, kamu tidak ikhlas memberiku makan. Ya sudah, cepat masuk" meski kesal Kahi tetap membiarkan lelaki itu masuk ke rumahnya.


"tunggu di sini, aku akan ambilkan air untukmu" ujarnya sambil berjalan ke arah dapur. "iya, aku mau yang dingin" kata Haki dengan senang. Senyuman mengembang di wajahnya sejak tadi.


"minumlah, setelah itu cepat pulang. Hari ini aku sibuk sekali" gerutunya saat meletakkan segelas besar air putih dingin. "kau kan pengangguran, apa yang membuatmu sibuk" ledek Haki.


"itu semua karenamu, coba saja kamu tidak pergi. Aku tidak perlu jadi pengangguran sekarang. Aku juga tidak perlu bangun pagi hari ini. Gara gara mencarimu, aku lupa membersihkan rumah. Jadi sekarang pergilah" jelas Kahi. Setelah mengatakannya, dia kembali masuk ke dapur.


Mengumpulkan peralatan masaknya yang berantakan. Lalu meletakkannya di wastafel. Dia tak menyadari jika lelaki yang sedang berada di ruang tamu mendekat ke arah dapur.

__ADS_1


"oh astaga, kamu mengagetkanku" Kahi terkejut saat dia berbalik dan wajahnya hampir membentur dada bidang Haki. Dia mendongak lalu mendapati jika Haki sedang menatapnya dengan hangat.


Dia memundurkan tubuhnya sampai membentur wastafel. Sedangkan tangan Haki menguncinya, tepat di sisi kiri dan kanan. Mengurungnya agar tidak pergi ke mana-mana.


Tubuh Haki semakin menghimpitnya, tak ada lagi jarak diantara mereka berdua. Hanya air wastafel yang lupa dia matikan, juga beda mati di ruangan dapur ikut menjadi saksi. Dua manusia yang kembali di satukan oleh takdir.


*


Haki menempelkan keningnya pada wanita yang masih tersenggal karena kehabisan nafas. Dia tersenyum sambil mengelus dua pipi mulus Kahi. Saat ini tak ada lagi yang bisa mencegahnya untuk terus bersama dengan wanita yang dia cintai.


Haki menarik kepalanya menjauh, lalu dengan pelan dia mengecup keningnya lama. Satu tangannya menarik pinggang Kahi pelan. Membawanya dalam pelukan yang selama ini Kahi rindukan.


"terima kasih sudah mencariku selama ini" bisiknya dengan pelan. "kamu tahu, aku mencarimu selama ini" tanya Kahi.


"tentu saja, aku tahu semuanya" katanya membanggakan dirinya. "oh jadi tahu, tapi kenapa kamu nggak mau ketemu aku. Karena sudah punya pacar baru ya" kahi memukul dadanya dengan kencang. Dia hanya meringis merasakan dadanya dipukul oleh Kahi.


"lepas" kata Kahi dengan keras. Dia menggeleng, malah semakin mengencangkan tangannya. "lepas ih, aku nggak bisa nafas" Kahi terus bergerak, mendorong tubuh tegap milik Haki.


Tapi tiap kali dia mencoba berontak, justru lelaki itu semakin mengencangkan pelukkannya. "aagggrrh, aku nyerah hah" ujarnya dengan nafas yang ngos ngosan. Dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya, Haki mengecup pipinya dengan kuat. Sekali lagi membuatnya susah bergerak dan bernafas.


*


Dari dapur mereka berpindah ke lantai dua. Di ruang keluarga, Kahi duduk sambil memegang remot tv. Sedangkan Haki tiduran dengan paha Kahi sebagai bantalnya. Jika Kahi fokus pada film di tv besar di depannya. Dirinya sibuk dengan ponselnya, memeriksa pekerjaan dari ponsel pintar miliknya.


"apa filmnya bagus" tanya Haki ditengah kesibukannya memeriksa laporan di ponselnya. "hmmm, lumayan" jawab Kahi singkat.

__ADS_1


"maaf ya, aku harus memeriksa laporan keuangan perusahaan" dia melihat ke atas, untuk melihat wajah Kahi yang sedang serius melihat tv. "tak apa, aku juga sedang sibuk" kata Kahi tak peduli.


"lihat aku" "hah, kenapa" Kahi sama sekali tak memindahkan matanya dari layar besar di depannya. Merasa dirinya tak lebih menarik dari layar besar itu, Haki bangun dari posisinya tadi. Dia memutar kepala Kahi hingga menghadap ke arahnya.


__ADS_2