Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
62.


__ADS_3

Haki dengan sangat berhati-hati mencoba mengambil bayi mungil di tangan perawat. "tidak apa apa pak. Lakukan dengan sangat lembut" ucapan perawat justru semakin membuatnya gugup. Jantungnya berdetak semakin cepat, saat bayi kecil itu terus menangis dan menggeliat di gendongan perawat.


Ketika tangannya berhasil membawa bayi itu hingga berada di gendongannya. Haki merasakan kehangatan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Bayi kecil dan lembut itu sedang menggeliat di dalam kain yang membungkusnya.


Haki tersenyum dengan lembut, dia menatap bayi dalam gendongnya dengan hangat. "hai anak papa yang tampan" sapanya dengan lirih.


Bayi kecil itu seperti tahu jika sedang bersama dengan sang ayah. Dia terus tertidur dengan nyenyak di lengannya. Padahal saat dia datang tadi, bayi itu sedang menangis.


"kamu benar-benar sangat kecil dan juga lembut. Kamu juga mirip seperti ibumu, kalian sama sama menggemaskan" katanya dengan nada lembut.


"kita akan bertemu lagi setelah ibumu bangun. Tidur yang nyenyak ya, sayang" Haki menyerahkan bayinya kembali pada perawat tadi. Sementara dia berjalan keluar dari ruangan perawatan bayi. Bersama perasaan haru yang baru dia rasakan.


*


Malam harinya, setelah melalui siang yang sangat melelahkan baginya. Haki mendudukan dirinya di kursi yang tersedia di samping tempat tidur Kahi. Ada Juan di sofa, lelaki itu memilih untuk tetap di rumah sakit. Meski sang istri terus memintanya untuk pulang.


"tidak pulang" tanya Juan dingin. "saya tetap di sini, bang" ia berusaha untuk sopan pada lelaki yang sangat membenci dirinya itu.


"kau tidak dibutuhkan lagi kan. Kalau pun Kahi terbangun, dia akan mengusirmu. Untuk orang yang sudah mengecewakan dia. Kau hanya sampah" dia masih berusaha untuk tetap tenang. Tak peduli betapa menyakitkan ucapan Juan nanti.


"saya akan tetap di sini, bang. Walaupun nanti, Kahi akan meminta saya untuk pergi. Saya akan tetap di sisinya demi bayi kami" katanya dengan tegas. Juan tertawa miris seolah sedang mengejeknya.


"kita lihat saja nanti. Apa semua perkataanmu akan kau tepati. Tapi yang jelas Kahi pasti tidak akan menerimamu kembali" ujar Juan dengan dingin.


Tak lama ruangan itu kembali hening. Dua lelaki itu memilih sibuk dengan urusan sendiri. Haki sibuk mengamati seorang wanita yang masih belum sadarkan diri, yang terbaring di depannya. Sementara Juan dengan segala cara agar bisa menyingkirkan Haki dari dunia sang adik.


*


Setelah Kahi sadarkan diri. Dia tidak memiliki waktu, dan juga tempat di sisi wanita itu lagi. Kahi seolah membangun tembok tinggi. Agar dia tak bisa menjangkau wanita itu dan bayinya.


Tepatnya Juan yang membuat dinding itu, dia jadi semakin sulit berada di dekat Kahi. Dia pulang ke apartemennya dengan lesu. Sudah tiga hari dia terus datang ke rumah sakit. Tapi selalu kembali dengan kecewa.


Haki mendudukan dirinya di atas tempat tidurnya. Matanya nyalang memandang ke langit langit kamar tidurnya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Tapi tetap saja dia tak mampu. Baru saja dia merasa senang. Tapi sekarang dia harus kembali bersedih.

__ADS_1


Sementara itu di ruang perawatannya. Kahi sedang duduk di depan Juan yang tampak menahan amarahnya. "abang, tolong berhenti mencampuri kehidupanku lagi" katanya dengan tegas.


"kau menolakku ikut campur urusanmu. Aku ini kakakmu, Kahi. Kau lupa" gertakan Juan seolah tak membuatnya takut.


"aku tidak lupa siapa abang. Aku berusaha untuk selalu menghormati abang. Tapi terakhir kali kita bicara, adalah saat abang memintaku untuk keluar dari rumah abang. Aku rasa abang masih ingat dengan jelas saat itu. Sejak saat itu juga, aku tidak ingin abang mengatur hidupku lagi. Jadi, aku minta abang untuk tidak melarang Haki menemui bayinya"


Juan mengeraskan rahangnya. Dia menatap Kahi dengan tatapan tajam. "aku kira kau masih adik kecilku yang penurut. Ternyata kamu sudah berubah menjadi wanita yang tegas, dan juga kejam pada kakakmu sendiri. Baik. Aku tidak akan mencampuri keputusanmu. Tapi jangan meminta pertolonganku lagi, jika lelaki itu membuatmu kecewa lagi" Juan lantas berdiri, kemudian meninggalkan Kahi seorang diri bersama sang bayi.


*


Hari ke 4 Kahi sudah diizinkan untuk pulang bersama bayinya. Dia yang sudah menyiapkan rencana untuk kehidupannya dan bayi kecilnya. Memutuskan untuk tetap tinggal di apartemen miliki nya.


Saat malam menjelang, Kahi tidak mendapati orang yang sedang dia tunggu tak kunjung datang. Dia meraih ponselnya di atas nakas. Lalu mengetikkan sesuatu di layar persegi itu. Tak lama dia meletakkan ponselnya di telinganya, Kahi sedang menghubungi seseorang di ponselnya.


"hallo Kahi" suara khas Haki terdengar riang.


"hari ini kamu tidak datang" tanyanya dengan sangat pelan. Dia tak ingin mengganggu tidur Lia juga bayinya.


"maaf, Hi. Hari ini aku harus mengurus pekerjaanku" suara Haki terdengar menyesal.


"ada apa, kamu membutuhkan sesuatu. Aku akan menyempatkan untuk datang ke rumah sakit" tanyanya dengan panik.


"hmm, besok aku dan bayi kita akan pulang" Kahi menggigit bibir bawahnya.


"bayi kita. Apa kamu sudah menerimaku kembali. Kahi, tolong beritahu aku"


"sebenarnya, aku tidak menerimamu kembali. Hanya saja, aku akan mengizinkan kamu untuk melihat dan merawat bayiku. Apa kamu keberatan"


"oh, jadi begitu. Tentu aku sama sekali tidak keberatan. Aku sangat bahagia mendengarnya, terimakasih untuk mengizinkan aku melihat bayi kita. Aku tidak akan meminta lebih darimu lagi. Aku sangat bersyukur, karena kamu membiarkan aku merawatnya juga"


"hmm, besok siang aku keluar rumah sakit. Pastikan kamu sudah di sini" Kahi berusaha untuk tetap tenang. Agar Haki tak berpikir aneh tentangnya.


"pasti, aku akan di sana sebelum makan siang. Kamu jangan khawatir, aku akan menyiapkan limausine untuk menjemput kalian"

__ADS_1


"tak perlu menggunakan mobil mewah seperti itu. Kamu akan menarik perhatian orang banyak nanti. Pokoknya sampai jumpa besok"


"sampai jumpa besok, Kahi. Sekarang tidurlah"


*


Sebelum jam makan siang


Lia sedang membantu Kahi mengemas barang barang Kahi dan juga bayinya. Ibu dari dua anak itu terus tersenyum hangat, saat melihat interaksi Kahi yang berusaha untuk mengajak sang bayi bicara.


"kamu yakin ingin kembali ke apartemenmu" tanyanya tanpa menghentikan kegiatan mengemas barang ke dalam koper. "aku yakin mba" jawab Kahi singkat.


"tapi, bukankah Haki ada di sana" Kahi menoleh pada sang kakak ipar, yang masih sibuk mengemas. "iya, aku tahu"


Lia menghentikan tangannya yang sedang melipat baju. Kemudian melangkah ke arah Kahi yang sedang memangku bayinya.


"terus, kamu nggak apa-apa. Kamu nggak menghindari dia lagi. Bukannya abang kamu melarang kamu balik lagi ke apartemen kamu" Lia mendudukan dirinya di tepi ranjang di hadapan Kahi.


"dia adalah ayah bayi ini, mba. Aku sudah berusaha untuk menghindar dari dia selama ini. Tapi tetap tidak bisa. Aku tahu dia sudah beberapa kali menyakitiku. Tapi aaku tidak akan memisahkan mereka berdua. Kami memang tidak bisa bersama. Tapi bayi ini tidak boleh kehilangan kasih sayang dari dia. Aku tidak ingin menyakiti bayi kecil ini, mba. Biarlah, aku yang tersakiti selama ini" ujar Kahi tanpa melihat ke arahnya.


"aku mendukung apapun keputusan kamu, Hi. Tapi apa kamu bisa menjalani hari-hari kamu tanpa tersakiti lagi. Kamu bahkan harus menerima lelaki itu datang, untuk menemui bayimu"


Kahi mengangkat wajahnya, untuk melihat ke arah Lia. Dia tersenyum, seolah meyakinkan pada Lia. Jika dia sanggup menjalani hidupnya nanti.


"aku pasti baik-baik saja, mba. Tolong jangan khawatirkan aku lagi ya. Mba sudah banyak berkorban untuk hidupku. Sudah saatnya mba berhenti khawatir" bujuknya sembari tersenyum.


Lia mengangguk semangat. Dia buru buru menyeka air matanya yang sudah terlanjur jatuh di pipinya. "ya sudah. Aku pasti tetap di pihak kamu. Apapun keputusan kamu, Hi. Oh iya, kamu sudah kasih kabar Haki buat jemput kamu" Kahi kembali mengangguk.


"terus dia bilang apa" tanya Lia dengan binar matanya. "dia bilang mau jemput" jawabnya cepat. Lia senang mendengar ucapan Kahi. Dia kembali melanjutkan kegiatannya mengemas barang barang Kahi.


"dia bilang mau jemput pakai limausine" Lia membulatkan kedua matanya, lalu menolehkan kepalanya cepat ke arah Kahi. Sebelum dirinya sempat melontarkan pertanyaannya. Seseorang membuka pintu dengan pelan.


Ceklek

__ADS_1


Lia dan Kahi menoleh kompak ke arah pintu yang terbuka. Di ambang pintu, Haki sedang berdiri dengan wajah yang berseri.


"sudah siap" katanya dengan riang.


__ADS_2