Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu

Hai Kahi, Aku Masih Mencintaimu
49.


__ADS_3

"abang kan nggak perlu sampai nyuruh bodyguard juga. Aku sudah besar, terus mba Lia kan ikut" Kahi terus menggerutu karena sang kakak tak mengizinkan dirinya pergi ke butik dengan Lia. "Haki bisa menemui di butik" Juan melipat kedua tangannya di depan dada.


"apa salahnya, dia kan calon suamiku" ujarnya tak ingin mengalah. "ikuti apa kataku, atau pernikahan kalian batal" ancaman dari sang kakak membuatnya mendengus kesal.


"kalau sampai pernikahanku batal, aku nggak mau nikah seumur hidup" ancamnya balik. "sudah dong, ini kapan berangkatnya kalau kalian ribut terus" Lia datang melerai adik kakak yang sedang menyulut peperangan.


"bilangin suami mba tuh, kalau sampai pernikahanku batal. Awas dia" katanya dengan kesal, kemudian dia berjalan mendahului Lia keluar rumah. "makanya jangan terlalu keras sama Kahi, nanti kamu sendiri yang menyesal" Lia meninggalkan sang suami yang sedang kesal.


*


Kahi dan Lia datang tepat setelah Haki tiba di butik, lelaki itu tetap bersembunyi. Memastikan jika Juan tak mengikuti mereka berdua. Saat dia melihat seorang wanita lagi diantara Kahi dan Lia. Haki baru tahu jika Juan akan sangat berlebihan seperti ini.


Dia berpikir sebentar sebelum dua orang itu masuk ke ruang ganti. Dia tersenyum lebar, lalu dengan cepat meninggalkan tempat persembunyiannya tadi.


*


"silahkan nona, anda bisa mengganti baju anda di ruangan itu" salah seorang petugas butik mengarahkan Kahi pada pintu di salah satu sudut ruangan.


"terima kasih" katanya dengan ramah. "aku ganti baju dulu, mba. Tunggu di sini ya" Lia mengangguk lalu kembali sibuk melihat gaun cantik yang tergantung rapi.


Kahi masuk ke ruang ganti berukuran 2 x 3 meter. Dia membuka satu persatu bajunya, lalu memakai gaun pengantin yang di bawa petugas butik tadi.


Saat selesai mengenakan gaun pengantinnya, Kahi kesulitan mengancingkan gaunnya. Dia berusaha meraih punggungnya, tapi usahanya gagal. Kahi hampir berteriak memanggil Lia saat merasakan tangan seseorang menyentuh punggungnya.


Dia berbalik dengan cepat, lalu memukul lengan lelaki di depannya yang sedang tersenyum lembut kepadanya. "ssshhhtt, nanti Lia dengar" bisik lelaki itu di telinganya.


Haki memutar kembali tubuh kecil Kahi hingga membelakanginya. Lalu tangannya mengancingkan satu persatu kancing gaun pengantin Kahi. Saat melihat pundak mulus wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Haki tak bisa untuk tidak mengecup pundak belakang Kahi pelan. Hingga membuat wanita itu berjengit, merasakan geli juga jantung yang tiba-tiba berdegup kencang.

__ADS_1


"kamu benar-benar sangat cantik, aku sudah tak sabar menunggu minggu depan" katanya dengan lirih di belakang telinga Kahi.


"bagaimana kamu bisa di sini, tadi aku tidak melihat kamu ada di sini" Kahi mengernyitkan keningnya. "aku bersembunyi di dalam sana" ujar Haki berusaha untuk jujur. "apa, di dalam lemari" tanyanya dengan heran.


"yup, demi untuk bertemu dengan wanita yang ku cintai" Haki menangkup wajahnya dengan gemas. "kamu benar-benar tidak sabaran ya"


Haki tertawa terbahak sesaat, tapi kemudian dia menghentikan tawanya ketika mendengar suara seseorang. "Kahi, sudahkah. Kenapa lama ganti bajunya sih. Butuh bantuan nggak" Lia berteriak di depan pintu ruang ganti.


"sudah mba, sebentar lagi keluar" katanya sembari membekap mulut Haki. "ya sudah buruan. Aku mau lihat" "iya"


*


"aku keluar ya" Kahi melepas tangannya dari mulut Haki. "nanti dulu" kata Haki dengan tangannya yang langsung menarik pinggangnya.


"apa lagi, nanti kamu ketahuan" ujarnya pelan. Haki menggeleng, lalu tersenyum tipis. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Kahi. Dengan cepat dia mengecup bibir lembut wanita itu.


Dengan lembut dan perlahan Haki mengecup, juga menyesapnya. Dia benar-benar ingin menyalurkan rasa rindunya pada Kahi. Sebelum dia kembali susah untuk menemui Kahi selama 6 hari lagi.


"sudah, kamu bisa keluar sekarang" Haki memutar tubuh yang masih membeku itu menghadap ke arah pintu. Lalu dia kembali masuk ke dalam lemari. Tapi saat dia akan menutup pintu lemari, sebuah tangan menghentikannya.


"aku akan membuat mereka sibuk, nanti kamu bisa keluar dengan perlahan" usai mengatakannya Kahi mengecup bibirnya singkat. Kemudian berjalan dengan tertatih menuju pintu. Haki tersenyum tipis, lalu dengan perlahan dia keluar dari dalam lemari.


*


Kahi terus tersenyum sendirian, setelah pertemuan tak terduga tadi. Lia bahkan sampai menggeleng kepalanya sudah tak peduli lagi. Setelah pergi ke butik, mereka langsung kembali ke rumah. Mereka mengkhawatirkan dua anak kecil Lia, yang pasti akan mencari sang ibu.


Tapi dugaan mereka berdua salah, bayi kecil Lia sedang terlelap dengan sang kakak juga ayahnya. "apa. Kenapa mereka bertiga tidur di sini" tanya Lia pada seorang bodyguard yang sedang mengumpulkan mainan Juna. Lia buru buru mengangkat bayinya, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.


"tuan terlalu lelah untuk memindahkan dua anaknya. Sedangkan saya harus mengumpulkan maianan yang berserakan ini" bodyguard itu mengeluh, sembari tangannya tidak berhenti mengumpulkan lego yang berserakan.

__ADS_1


"semoga anda bisa menyelesaikan itu semua. Semangat" Kahi tersenyum senang melihat lelaki bertubuh besar dan berotot sedang berjongkok. Memunguti maianan milik Juna yang tersebar ke seluruh ruangan.


*


6 hari menuju hari pernikahan mereka berdua, serasa berjalan sangatlah lama. Jika Kahi menyikapi hal itu dengan biasa, lain halnya dengan Haki. Lelaki itu benar-benar merasa tegang. Efek dari rasa tegang itu, pekerjaannya jadi berantakan.


Haki memijat pangkal hidungnya, seharian hanya mendengar komplain dari para klien membuatnya pening.


"kenapa jadi begini, profesional dong Ki. Kalau nggak yang ada klien kita bakal kabur semua. Lu baru mau nikah saja sudah begini. Kemarin waktu dua tahun jauh dari Kahi, lu malah bisa bangun hotel ini dari nol" Karin terus memarahinya, meski dia sudah meminta maaf dengan tulus pada klien yang kecewa.


"gue takut, takut gue malah nggak bisa bahagiain Kahi, Kar. Gimana kalau nanti dia malah nangis terus bareng gue. Gimana kalau gue malah kecewain dia" Haki meluapkan semua rasa gelisah yang membuatnya tegang pada Karin.


"buat apa lu takut tentang itu semua sekarang. Jangan takut, tapi buktikan kalau lu bisa buat Kahi bahagia. Kalian berdua sudah sama-sama dewasa, gue rasa lu tahu maksud gue" nasihat dari Karin justru semakin membuatnya ragu dan gelisah.


"biasanya orang yang mau menikah, pasti akan ada ujiannya. Mungkin sekarang lu termasuk lagi diuji, jangan mikirin yang nggak pasti. Ini bukan waktunya buat nyerah, Ki" ujar Karin dengan tegas. Selesai mengatakannya, Karin keluar dari ruang kerjanya.


Membiarkan Haki dengan rasa gelisah dan takutnya. Sendirian di dalam ruangan bernuansa abu-abu itu. Haki melirik jam tangannya, lalu dengan cepat dia berdiri. Mengambil ponsel juga kunci mobilnya, kemudian berjalan keluar kantornya.


Mobil Haki melaju dengan kecepatan tinggi memecah jalanan yang sepi. Lelaki yang berada dibalik kemudi sedang membutuhkan solusi, solusi yang tak dia dapat dari siapapun.


Mobilnya berbelok ke kanan jalan, lalu memasuki basement sebuah tempat hiburan malam. Dia keluar dari mobilnya menuju lift, tangannya menekan tombol 3.


Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di tempat itu. Ruangan yang temaram dengan musik keras memekakkan telinga. Juga kumpulan orang-orang yang bergerak mengikuti alunan musik.


"hoii, Haki" seorang lelaki memanggilnya, membuatnya berjalan cepat ke arah orang itu. "apa kabar, Ki. Tumben lu ke sini" tanya orang itu sembari menepuk pundaknya.


"gue butuh ketenangan, Ricky" Jawabnya datar. "ketenangan, oke. Ikut gue" ajak lelaki bernama Ricky itu.


Mereka berdua melewati lorong dengan pencahayaan minim. Melewati beberapa pasang orang yang sedang sekedar mengobrol, atau juga sedang bercumbu. Haki tak peduli, dia hanya butuh ketenangan.

__ADS_1


Entah ketenangan seperti apa yang akan dia dapat di tempat seperti itu.


__ADS_2