
Semalaman Kahi tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena bayi Aka yang terus menangis. Bayi Aka baru tertidur saat menjelang pagi. Dan dia sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Itulah kenapa dia memanggil Haki pagi-pagi sekali. Bahkan lelaki itu terheran heran melihat penampilan Kahi yang sangat kacau.
"kamu belum tidur" pertanyaan Haki hanya dijawab dengan anggukan dan dengusan darinya. "pantes saja, wajahmu kacau sekali"
"makanya aku memanggilmu pagi pagi sekali. Aka baru saja tidur, dan aku juga butuh tidur. Aku khawatir dia akan terbangun sebentar lagi. Jadi tolong jaga dia" Kahi beberapa kali harus menutup mulutnya karena menguap. Dia bergerak dengan perlahan untuk melihat kondisi bayi Aka.
"apa dia tidak tidur juga semalam" tanya Haki dengan lirih setelah melihat mata bayinya yang terlihat lebih besar dari biasanya.
"iya, pahanya sedikit bengkak. Bekas jarum suntikan kemarin. Tapi ini sudah jauh lebih baik kok, aku tinggal tidur dulu ya" jelasnya tak kalah lirih.
"iya, tidurlah"
Seperti perkiraan Kahi, bayi Aka terbangun begitu Haki mendudukan dirinya di sofa. Untunglah dia yang sudah mulai terbiasa mengurus bayi Aka itu tidak terlalu kesusahan.
Setelah kembali menidurkan Aka, Haki beranjak ke dapur. Mengisi gelas dengan air dingin, lalu meneguknya sampai tandas. Matanya melihat ke sekeliling. Dan menemukan tumpukan cucian piring di wastafel yang masih kotor.
Tak ingin membuat Kahi terlalu lelah, dia memutuskan untuk mencuci piring piring itu. Selesai membereskan dapur, dia berpindah untuk membersihkan bagian lainnya.
*
Haki berkali-kali menekan tombol panggil di layar ponselnya. Berharap seseorang yang dia coba hubungi mengangkat panggilan darinya. "kamu nggak bosen dari tadi main ponsel terus" sebuah sindiran dari ibu muda yang masih setia mengenakan daster.
Tidak menghentikan tangannya yang kembali menekan tombol panggil. "aku harus menghubungi Karin, malam ini dia ada pertemuan penting" katanya tanpa mengalihkan matanya dari ponselnya.
Sementara Kahi berjalan melewatinya, melangkah menuju tempat tidur bayi di sudut ruangan itu. "kalau begitu kamu boleh pergi. Aku juga sudah jauh lebih baik" katanya
__ADS_1
"harus Karin yang datang, ini bukan tentang aku atau perusahaan" ujarnya tanpa melihat ke arah Kahi. Mendengar hal itu, Kahi langsung mendudukan dirinya di sofa yang berada di seberang Haki duduk.
"tentang apa" tanya Kahi dengan antusias. Kedua kakinya menyilang. Tangannya terlipat di atas dadanya. Wanita itu benar-benar ingin mendengar apa yang terjadi pada Karin.
"rahasia" Haki kembali menekan tombol panggil. Mengabaikan wanita yang masih belum juga mandi itu. "ayo lah, aku kan juga peduli sama mba Karin" bujuknya.
"penasaran banget" Kahi mengangguk cepat. "boleh, tapi kamu harus kembali padaku lagi"
"nggak jadi deh, terima kasih. Sekarang kamu boleh pergi" dia mendengus kesal, lalu beranjak pergi dari hadapan Haki yang sedang terkekeh melihatnya.
Haki meletakkan ponselnya di atas meja, dia berpindah ke tempat Kahi duduk tadi. Tangannya menyentuh pipi merah merona bayi Aka yang sedang tertidur. Senyum lebar tampak jelas di wajahnya. Tapi tiba-tiba dia merasakan hawa panas di tangannya yang berasal dari pipi bayi kecil itu.
Sontak saja dia meletakkan punggung tangannya di kening juga leher bayi Aka. "Kahi, cepat ke sini" teriaknya dengan sangat panik.
Suara yang terdengar panik itu, membuat wanita yang masih mengenakan daster keluar dari kamar tidurnya dengan berjalan cepat menghampiri Haki.
"39,5 demamnya tinggi. Kita bawa ke rumah sakit sekarang" katanya sembari meraih bayi mungil itu ke dalam gendongannya. "tolong ambilkan tas popok Aka" pinta Kahi sambil berjalan ke arah pintu.
"oke, tunggu aku di depan" lelaki itu berjalan cepat, menyambar tas popok yang selalu disiapkan oleh Kahi di atas lemari khusus. Kemudian dengan cepat berlari menyusul Kahi ke arah pintu.
*
Sepasang kaki jenjang nan cantik, menaiki anak tangga dengan perlahan. Telapak kaki yang tak beralas itu, seperti menari-nari di atas ratusan kelopak mawar. Menginjak dan menendang kelopak bunga mawar yang teronggok di sepanjang anak tangga.
Ujung gaun yang menjuntai terseret, menyapu kelopak mawar merah. Cahaya dari lilin yang tertata rapi di sepanjang anak tangga, menjadikan suasana semakin romantis. Karin semakin erat meremas gaun yang dia kenakan saat tiba di ujung tangga. Dia memutar tubuhnya, melihat ke sekeliling rooftop yang memiliki pemandangan cantik. Dia berdecak kagum saat melihat dekorasi yang tertata apik di rooftop itu.
__ADS_1
Senyuman terus mengembang di wajah cantiknya. Kakinya terus melangkah mendekati meja dan kursi yang terletak di tengah rooftop. Tangannya menyentuh bunga mawar merah di atas meja. Mengangkat setangkai mawar itu, lalu menghirup dalam dalam aroma dari mawar itu.
Kedua sudut di bibirnya tertarik, membentuk senyuman yang tersimpul manis. Sesaat dia hanya fokus pada mawar di tangannya. Sebelum sebuah derap langkah kaki terdengar.
Semakin dekat suara itu, semakin membuat nafasnya terasa semakin sesak. Buru buru Karin menghela nafasnya panjang, ketika sudah merasakan seseorang berdiri di belakangnya.
Setelah meyakinkan dirinya, Karin berbalik dengan cepat. Hingga tak menyadari kakinya berada di dekat kaki meja. Sayangnya tangannya kalah cepat meraih tepi meja, hingga membuatnya terhuyung. Karin menutup kedua matanya erat.
Dia membuka perlahan matanya saat merasakan tubuhnya masih menggantung. Karena kedua tangan seseorang yang menopang tubuhnya. Karin berusaha menelan salivanya dengan susah. Wajahnya mendongak, menatap wajah lelaki yang juga sedang menatapnya cemas. Untuk beberapa saat mereka berdua saling bertatapan.
Tapi buru buru Karin memutus kontak mata mereka. "kamu baik-baik saja" dengan cepat Karin mengangguk. Tubuhnya reflek melepas kedua tangan lelaki itu. Dia berdiri dengan canggung. Meski sudah berusaha menutupinya, tapi rona merah di pipinya seolah tidak bisa disembunyikan.
"aku baik-baik saja" katanya dengan tergagap. "syukurlah" entah apa yang membuat senyum lelaki itu tampak semakin manis malam ini. Lelaki itu yang selama ini mengejarnya. Memberinya rasa nyaman. Meski dia tak pernah memberinya harapan pada lelaki itu.
Sempat ragu untuk membalas senyum dari lelaki itu. Tapi tetap saja, dia tidak bisa menolak pesona dari lelaki itu.
Karin menarik kedua sudut bibirnya. Tipis sekali, hampir tak terlihat jika saja lelaki bernama Dewa tak menatapnya lekat.
"kamu suka kejutan dariku" Karin tidak mengeluarkan suara, hanya kepalanya yang bergerak naik turun, diluar kendalinya. Seperti otak juga tubuhnya hanya patuh pada ucapan Dewa.
Buru-buru dia menggeleng, mengembalikan fokusnya. Karin membuang pandangannya sembarang. Saat lelaki itu mulai mendekat ke tempatnya berdiri. Tangan Dewa menarik kursi di samping Karin. "duduklah"
*
"kamu suka kejutan dariku" Dewa bertanya tepat setelah dia meletakkan sendok di atas piringnya. Karin tersenyum dengan lembut, yang berhasil membuat lelaki bernama Dewa merasakan aliran listrik diseluruh tubuhnya.
__ADS_1
"aku punya satu lagi kejutan untukmu" Dewa meraih kotak kecil di saku dalam jasnya.